Lima belas tahun yang lalu, ketika mayday belum menjadi hari libur nasional...
Suara mesin bergemuruh seperti biasa di pabrik kayu tersebut. Asap
hitam mengepul keluar melalui blower.
Operator forklift wara-wiri mengoperasikan kendaraannya
yang memiliki pengungkit serupa garpu itu, dari gudang bahan baku menuju
gudang produksi. Teriakan mandor menginstruksikan bawahannya untuk memproduksi
orderan klien beradu keras dengan suara mesin, berbanding terbalik dengan para
karyawan yang mengerjakan tugasnya dalam diam.
Satu
jam kemudian, suara keributan lain muncul dari arah gerbang depan. Klakson
sepeda motor dibarengi teriakan orang supaya gerbang pabrik dibuka, menciutkan
nyali satpam yang bertugas. Tak ingin terjadi bentrokan, manajemen pabrik
mengizinkan satpam untuk membukakan gerbang.
Puluhan
sepeda motor pun menyerbu masuk ke lokasi pabrik. Klaksonnya tetap dinyalakan,
membuat para karyawan yang sedang bekerja teralih perhatiannya. "Berhenti
kerja…berhenti kerja..!!!!!" teriak pengendara motor. Suara mesin pun
terhenti. Blower dan forklift terdiam. Berganti dengan seruan
lantang seseorang dari salah satu sepeda motor.
"Kawan-kawan,
hari ini tanggal 1 Mei, hari buruh. Hari kita semua!!! Hari ini adalah hak bagi
kita untuk tidak berproduksi, hak bagi kita untuk menikmati liburan!!! Tidak
ada satu pun pabrik yang boleh beroperasi pada hari ini!!! Tidak ada satu pun
buruh yang bisa dipaksa bekerja hari ini!!! Hari ini milik kita, milik
buruh!!!"
Seruan
yang berapi-api itu langsung disambut teriakan "HIDUP BURUH" dari
semua pekerja yang berada di sana. Mereka segera melepaskan celemek kerjanya,
berhamburan keluar mengambil kendaraan masing-masing, berkonvoi melakukan sweeping ke berbagai pabrik yang tetap
memaksa karyawannya bekerja pada hari istimewa itu. Setelah mengumpulkan massa,
mereka pun menuju alun-alun, tempat yang telah mereka janjikan sebagai titik
kumpul berdemonstrasi dan berorasi. Menuntut persamaan hak. Menuntuk kenaikan
upah. Menuntut perlakuan yang lebih manusiawi. Menuntut keadilan.
Kami,
para buruh, saat ini bisa bernapas lega karena pemerintah -pada 29 April 2013 yang lalu- telah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Tetapi nasib kami, agaknya
belum bisa menjadi prioritas keadilan, baik dari segi pembayaran upah, pengerahan tenaga, maupun perlakuan yang lebih
manusiawi.
*based on true story