Jumat, 01 Mei 2015

LABOUR DAY


Lima belas tahun yang lalu, ketika mayday belum menjadi hari libur nasional...

Suara mesin bergemuruh seperti biasa di pabrik kayu tersebut. Asap hitam mengepul keluar melalui blower. Operator forklift wara-wiri mengoperasikan kendaraannya yang memiliki pengungkit serupa garpu itu, dari gudang bahan baku menuju gudang produksi. Teriakan mandor menginstruksikan bawahannya untuk memproduksi orderan klien beradu keras dengan suara mesin, berbanding terbalik dengan para karyawan yang mengerjakan tugasnya dalam diam.

Satu jam kemudian, suara keributan lain muncul dari arah gerbang depan. Klakson sepeda motor dibarengi teriakan orang supaya gerbang pabrik dibuka, menciutkan nyali satpam yang bertugas. Tak ingin terjadi bentrokan, manajemen pabrik mengizinkan satpam untuk membukakan gerbang.

Puluhan sepeda motor pun menyerbu masuk ke lokasi pabrik. Klaksonnya tetap dinyalakan, membuat para karyawan yang sedang bekerja teralih perhatiannya. "Berhenti kerja…berhenti kerja..!!!!!" teriak pengendara motor. Suara mesin pun terhenti. Blower dan forklift terdiam. Berganti dengan seruan lantang seseorang dari salah satu sepeda motor.

"Kawan-kawan, hari ini tanggal 1 Mei, hari buruh. Hari kita semua!!! Hari ini adalah hak bagi kita untuk tidak berproduksi, hak bagi kita untuk menikmati liburan!!! Tidak ada satu pun pabrik yang boleh beroperasi pada hari ini!!! Tidak ada satu pun buruh yang bisa dipaksa bekerja hari ini!!! Hari ini milik kita, milik buruh!!!"

Seruan yang berapi-api itu langsung disambut teriakan "HIDUP BURUH" dari semua pekerja yang berada di sana. Mereka segera melepaskan celemek kerjanya, berhamburan keluar mengambil kendaraan masing-masing, berkonvoi melakukan sweeping ke berbagai pabrik yang tetap memaksa karyawannya bekerja pada hari istimewa itu. Setelah mengumpulkan massa, mereka pun menuju alun-alun, tempat yang telah mereka janjikan sebagai titik kumpul berdemonstrasi dan berorasi. Menuntut persamaan hak. Menuntuk kenaikan upah. Menuntut perlakuan yang lebih manusiawi. Menuntut keadilan.


Kami, para buruh, saat ini bisa bernapas lega karena pemerintah -pada 29 April 2013 yang lalu- telah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Tetapi nasib kami, agaknya belum bisa menjadi prioritas keadilan, baik dari segi pembayaran upah,  pengerahan tenaga, maupun perlakuan yang lebih manusiawi.


*based on true story

Entri Populer