Jumat, 24 Februari 2017

JEN RICARDO


Jen dan Ricardo bertemu sekitar 22 atau 23 tahun yang lalu saat mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi di bagian utara Sumatra. Jen, menurut Ricardo, memiliki potensi yang mumpuni dalam mata kuliah tersebut sehingga Ricardo tak ragu memilihnya untuk menjadi pasangan saat praktik dialog berbahasa Inggris. Ricardo, menurut Jen, memiliki bakat terpendam untuk menjadi aktor sehingga dia pun mantap memilih Ricardo sebagai pasangan berdialognya. Ricardo membuat skenario dialog dalam bahasa Indonesia, Jen menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Praktik dialog yang mereka bawakan sukses dan mendapat respons yang baik dari dosen pengampu. Sejak saat itu, jadilah mereka Jen Ricardo.

Jen kerap mendengar keluh kesah Ricardo. Ricardo kerap memuji Jen. Jen kagumi Ricardo saat membaca puisi. Ricardo suka kelakar nakal yang dilontarkan Jen. Tapi Jen tak kunjung jatuh cinta pada Ricardo, pun demikian Ricardo. Ricardo bukan tipe Jen. Jen bukan tipe Ricardo. Ricardo terlalu puitis, Jen tak suka. Jen terlalu berisik, Ricardo tak suka. Mereka hanya saling menyukai saat praktik berbahasa Inggris.

Jen Ricardo sekarang menjalani kehidupan masing-masing. Jen mengabdikan diri pada negara. Ricardo menjadi jurnalis ternama. Jen bersuamikan lelaki tak puitis. Ricardo beristrikan perempuan tak berisik. Mereka terpisah di seberang lautan. Berjumpa sesekali di media sosial. Saling bertukar komentar tentang status atau foto yang diposting di facebook. 

Persahabatan memang indah untuk dikenang. Dan aku tak akan menghapus kenangan itu. Sampai saat ini dia tetap memanggilku JEN. Dan aku memanggilnya RICARDO.



* untuk sahabatku F.H. 
  "Semoga bahagia senantiasa menyertaimu dan keluarga" 💙💙💙

Kamis, 09 Februari 2017

Kapan



Kapan ya, aku bisa sabar sepertimu? Menanggapi sebuah persoalan dengan kepala dingin, tanpa harus berbicara meledak-ledak. Memahami masalah terlebih dahulu baru berkomentar. Berkomentar dengan bahasa yang santun. Bersikap elegan dalam mengutarakan isi kepala. Kapan ya??

Kapan ya, aku bisa tenang sepertimu? Mengalah saat ada perseteruan. Meminta maaf meskipun kesalahan itu bukan datang dari sendiri. Tersenyum saat ada yang menertawakan. Berprasangka baik kepada semua orang. Kapan ya??

Kapan ya, aku bisa mencintai sepertimu? Tiada pamrih saat memberi, tak perlu balas saat berbagi. 
 
Aku tak sempurna. Tapi aku selalu merasa paling sempurna. Kau tak sempurna. Tapi menurutku kau sempurna.

Selasa, 07 Februari 2017

Sandiwara

Dia menulis:

Benarlah bahwa dunia panggung sandiwara. Dan aktor yang paling mahir bersandiwara adalah kamu.

Memposting foto-foto mesra di medsos seolah-olah kamu adalah pasangan paling berbahagia di planet ini. Berbicara dengan ayat-ayat seolah-olah kamulah paling religius. Menerima apa adanya seakan-seakan kamu bahagia hidup sederhana. Menasihati orang lain seolah kamulah manusia paling bijak.

dan sandiwara yang paling menjijikkan adalah wajah sabar yang kau tunjukkan seakan kau menerima kekurangan itu...

Jumat, 03 Februari 2017

Dua Lelaki Kesayangan


Dua lelaki kesayangan
menembus sisa kabut tadi malam
lewati langit yang temaram
menuju rumah idaman
merendahkan diri pada Pemilik Alam

Dua lelaki kesayangan
terkadang jalan beriringan
tak jarang pula berlawanan
tapi sama dalam keimanan

Siang menjelang
dua lelaki kesayangan datang
keharibaan Pemilik Alam
rutinitas ditinggalkan
hiruk pikuk diabaikan

Pun demikian
saat sore dan malam
dua lelaki kesayangan
tak alpa tunaikan
perintah Pemilik Alam

Dua lelaki kesayangan
senantiasa dirindukan
seorang perempuan


Kamis, 02 Februari 2017

Abe, Si Kutu Buku


Lampu kamarnya masih terang menyala, padahal jam sudah menunjukkan pukul 21.00, waktunya untuk tidur. Entah apa yang dilakukan bocah itu di kamar. Mungkinkah asyik ber-gawai-ria? Tidak mungkin. Ayah ibu hanya mengizinkannya memegang gawai pada hari Minggu atau libur. Atau dia curi-curi kesempatan? Diam-diam mengambil gawai yang disembunyikan ayah di lemari?

Tak ingin rasa penasaran menyelimuti pikiran, ibu memutuskan masuk ke kamar bocah empat belas tahun itu. Ragu menghambat langkahnya. Kalau menerobos masuk, itu artinya ibu melanggar kesepakatan. Bukankah sudah ada perjanjian, ketuk pintu kamar sebelum masuk! Tapi kalau pintu kamar diketuk, si bocah pasti langsung menyembunyikan "sesuatu" yang masih membuatnya terjaga -apa pun itu! Ibu menjadi gelisah. Semakin penasaran.

Ibu tak peduli. Diam-diam dibukanya pintu kamar. Benar-benar tanpa suara. Di sana, di kasur biru kesayangan, tampak si bocah terlelap pulas. Di dadanya terletak buku yang sepertinya baru dibaca. ABRAHAM LINCOLN: TOKOH PENGUBAH DUNIA!


"Sukses berjalan dari satu kegagalan
ke kegagalan lain,
tanpa kita kehilangan semangat"
   (Abraham Lincoln)

Rabu, 01 Februari 2017

Trauma


Setiap melewati jalan itu, terbayang olehku peristiwa yang mengenaskan itu. Padahal, kejadiannya sudah seminggu yang lalu. Masih lekat di ingatan posisi tubuhnya yang telentang tak berdaya di tengah jalan. Darah segar menggenangi bagian kepala. Beberapa lelaki muda menyongsong menghampirinya, mengangkat tubuh lemahnya ke pinggir jalan. Darah yang menetes dari bagian kepala, menunjukkan dahsyatnya peristiwa yang dialaminya.

Aku ada di sana. Terpaku tak bergerak.

Bagaimana aku bisa membantu. Melihat genangan darah itu saja aku lemas seketika. Kakiku tak kuasa bergerak. Kekuatan tubuhku sirna. Jadilah aku hanya terpaku, memandangi orang-orang yang sibuk membantu.

Setiap melewati jalan itu, genangan darah menghantuiku. 

Berita kecelakaan itu muncul di tevisi, surat kabar, dan media sosial. Bahwa dia, perempuan muda yang kulihat telentang tak berdaya di tengah jalan, adalah korban tabrak lari. Nyawanya terenggut seketika. Teriakan histeris ibunya terekam di kamera televisi yang menayangkan berita itu.

Setiap melewati jalan itu, suara kematian menyapaku.


Entri Populer