Jen dan Ricardo bertemu sekitar 22 atau 23 tahun yang lalu saat mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi di bagian utara Sumatra. Jen, menurut Ricardo, memiliki potensi yang mumpuni dalam mata kuliah tersebut sehingga Ricardo tak ragu memilihnya untuk menjadi pasangan saat praktik dialog berbahasa Inggris. Ricardo, menurut Jen, memiliki bakat terpendam untuk menjadi aktor sehingga dia pun mantap memilih Ricardo sebagai pasangan berdialognya. Ricardo membuat skenario dialog dalam bahasa Indonesia, Jen menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Praktik dialog yang mereka bawakan sukses dan mendapat respons yang baik dari dosen pengampu. Sejak saat itu, jadilah mereka Jen Ricardo.
Jen kerap mendengar keluh kesah Ricardo. Ricardo kerap memuji Jen. Jen kagumi Ricardo saat membaca puisi. Ricardo suka kelakar nakal yang dilontarkan Jen. Tapi Jen tak kunjung jatuh cinta pada Ricardo, pun demikian Ricardo. Ricardo bukan tipe Jen. Jen bukan tipe Ricardo. Ricardo terlalu puitis, Jen tak suka. Jen terlalu berisik, Ricardo tak suka. Mereka hanya saling menyukai saat praktik berbahasa Inggris.
Jen Ricardo sekarang menjalani kehidupan masing-masing. Jen mengabdikan diri pada negara. Ricardo menjadi jurnalis ternama. Jen bersuamikan lelaki tak puitis. Ricardo beristrikan perempuan tak berisik. Mereka terpisah di seberang lautan. Berjumpa sesekali di media sosial. Saling bertukar komentar tentang status atau foto yang diposting di facebook.
Persahabatan memang indah untuk dikenang. Dan aku tak akan menghapus kenangan itu. Sampai saat ini dia tetap memanggilku JEN. Dan aku memanggilnya RICARDO.
* untuk sahabatku F.H.
"Semoga bahagia senantiasa menyertaimu dan keluarga" 💙💙💙
Tidak ada komentar:
Posting Komentar