Lelaki berambut karatan itu, apakah dia sudah
cukup sakti untuk menyembuhkan penyakitku? Ketika melihat papan nama di halaman
rumahnya saja, hatiku sudah diliputi keraguan:
Mbah Kartak (Kareh Utak)
Dukun Serba Bisa
Menyembuhkan segala jenis penyakit :
wasir, diabetes, kanker, lambat jodoh...
Dia
bohong, pikirku. Katanya dia bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, tapi
nyatanya, penyakit yang kuderita tidak tercantum di papan tersebut. Aku semakin
ragu untuk melangkah tetapi seperti ada dorongan dalam hatiku untuk tetap
menemui lelaki berambut karatan itu.
"Masuklah!" ujarnya dengan
suara yang sama sekali tidak dibuat-buat. Dia duduk bersila sambil
mencongkel-congkel giginya. Mungkin baru selesai makan siang.
Aku
melangkah masuk dan ikut bersila persis di hadapannya. Yang membatasi kami
hanyalah meja kecil yang lebih pantas disebut susunan papan yang terbuat dari
papan bekas, lembab, dan terkesan lapuk. Di atas meja tersebut terletak sebuah
piring sisa makanannya, sebuah apel merah yang dipenuhi bekas gigitan, segelas air yang entah
putih entah cokelat warnanya. Kemudian bermacam bunga dikumpulkan dalam satu wadah.
"Menilik dari
penampilanmu, kau adalah seorang mahasiswa," lelaki berambut karatan, yang ternyata Mbah Kartak, bertanya
dengan mata yang disipitkan.
"Wah, hebat! Dari
mana Mbah
tahu?"
tanyaku penuh kekaguman.
Dia
tersenyum mengejek, "jaketmu yang memberi tahu aku!"
Aku
terhenyak. Baru kusadari bahwa aku memang memakai jaket kebanggaan kampus.
Biasalah, mahasiswa menjelang KKN selalu bergaya dengan jaket kampusnya
meskipun kedodoran.
Aku
tersipu. Biasanya kalau tersipu, aku selalu malu, tetapi sekarang tersipu
dongkol. Entah bagaimana itu bentuknya!
"Penyakit apa yang
kau derita, Nak?" dia bertanya penuh
wibawa ibarat seorang dosen.
"Lho, mengapa Mbah bertanya?" aku protes, "bukankah Mbah seorang dukun, yang
mengetahui segala sesuatu, mengetahui yang tersirat dan tersurat, mengetahui
yang tampak dan tersembunyi, meng..."
"Anak muda,” dia
memotong celotehku, "Anda seorang mahasiswa tetapi Anda kurang tanggap dengan eksistensi saya sebagai dukun!"
Aku
terpelongo. Bah, bicara apa dia?
"Saya hanya bisa
menyembuhkan segala jenis penyakit! Ingat, menyembuhkan! Sekali lagi saya
tekankan, me-nyem-buh-kan! Dan kau harus menggarisbawahi bahwa makna
menyembuhkan jauh berbeda dengan makna mengetahui! Cure is different from
knowing! Kalau kau kurang yakin, kau bisa melihatnya
di kamus !"
Sekali
lagi aku terpelongo, kali ini ditambah dengan terbelalak. Pintar juga dia
bersilat lidah, persis pejabat tinggi negara yang menyatakan bahwa tenggelamnya
KMP Gurita karena faktor alam semata, bukan karena sarat muatan! Dan banyak
juga perbendaharaan katanya, persis sastrawan. Aku yang terlalu bodoh, atau
memang dia yang pintar?
"Jelek-jelek begini,
saya pernah ngrasai jadi mahasiswa," dia menjawab segala
keterpelongoan dan keterbelalakanku.
"Apa iya Mbah? Di mana? Kapan?" sebagai seorang
mahasiswa yang berminat menjadi wartawan, aku mutlak mengajukan beribu
pertanyaan.
"Kau tidak perlu
bertanya tentang hal itu!" dia membentak, "yang perlu adalah pertanyaanku: apa penyakitmu? Kalau pertanyaan
dibalas dengan pertanyaan, tidak akan menghasilkan jawaban! Karena
sesungguhnya, pertanyaan hanya memiliki sperma, harus disatukan dengan sel telur
yang dimiliki jawaban! Apabila keduanya bersatu, akan terjadi pembuahan yang
menghasilkan kesimpulan!"
Ah,
teori! pikirku. Sepintas aku melihat gayanya bicara, persis sahabat dekatku
yang berprofesi sebagai tentor!
"Tapi sudahlah,"dia mengalah, "daripada berpanjang
kalam, ada baiknya kau segera menjawab pertanyaanku, karena kolom buat kita
terbatas!"
Aku
membenarkan pendapatnya meskipun tak seratus persen benar. Aku sebenarnya ingin
berlama-lama berdebat dengannya.
"Saya punya penyakit
yang aneh, Mbah," aku memulai cerita,
kali ini lebih santai. "Saya suka sekali menyuap!"
Gantian
dia yang terpelongo. Kerutan di dahinya menunjukkan kebingungan yang luar
biasa.
"Menyuap, mbah, menyuap...,” aku memberi isyarat dengan gerakan tangan seperti
hendak memasukkan sesuatu ke mulut.
"Menyuap," dia berpikir, "menyuap berarti me-N
+ suap. Jadi kata dasarnya suap!"
Dia
terdiam sejenak. "Sebentar!" ujarnya dan bangkit dari duduknya, masuk ke dalam ruangan yang
bertirai, mungkin kamar. Selang beberapa menit, dia kembali lagi dengan kamus
bahasa Indonesia di tangannya, edisi terakhir!
"Seorang karyawan di
toko buku memberikan kamus ini padaku sebagai ganti uang berobat," jelasnya tanpa
kuminta.
"Menurut kamus ini,
menyuap berarti makan dengan tangan," dia menatapku.
"Betul sekali Mbah, cuma bedanya, saya menyuap
dengan uang, bukan dengan nasi!" aku menjelaskan.
Dia
terbelalak dan perlahan-lahan menyeringai. "Oo...suap...suap...," dia terkekeh.
"Persis!" aku menjentikkan
jari, "Mbah
tahu, dalam setiap detak nafas, saya selalu menyuap. Saya tidak bisa melepaskan
diri dari suap, saya takut, sepanjang umur hanya dihabiskan untuk menyuap. Saya takut mati
dalam penyuapan, Mbah!"
Lelaki
berambut karatan itu betul-betul pendengar yang baik. Dia tidak memberikan
komentar sebelum aku menyelesaikan storiku.
"Mbah tahu, indeks prestasi
saya selalu di atas 2,5, padahal saya tidak terlalu pintar. Beberapa mata kuliah yang tidak
lulus dapat saya sulap menjadi lulus. Teman-teman banyak yang heran tapi saya
tidak heran...ya, karena itu tadi..."
"...suap," lelaki berambut
karatan melanjutkan kalimatku yang
tergantung.
"Benar sekali Mbah! Dan Mbah harus tahu, saya
berhasil masuk di perguruan tinggi tempat saya kuliah sekarang karena..."
"..suap!"
"Sekali waktu saya
pergi ke diskotek. Tiba-tiba ada razia dan saya tertangkap karena sedang on. Daripada diberitakan media dan reputasi bapak
saya tercemar, terpaksalah saya..."
"...suap!"
"Bahkan sewaktu
hendak kemari, saya tertangkap saat operasi zebra karena ketahuan plat mobil sudah
habis masa berlakunya. Tapi saya bisa berdamai dengan polisi lalin yang
menangkap saya karena..."
"...suap!"
Aku
berhenti bicara. Dia pun berhenti memotong
pembicaraanku.
"Saya ingin mati Mbah, guna menghindari
suap, tapi saya takut mati sia-sia. Kalau saya hidup terus, saya takut generasi
saya ikutan suap!"
Lelaki
yang disebut Mbah Kartak ini tersenyum. Lumayan bijaklah! Dia meneguk habis air di
hadapannya. Padahal kupikir, dia tidak haus. Justru aku yang kehausan karena
bicara panjang lebar.
"Anak muda, kau tidak
sakit!"
katanya tenang, "kau justru sehat sekali, jasmani dan rohani! Kau bahkan jenius, gambaran masyarakat modern!
Kalau pun kau anggap sakit maka itu bukan penyakitmu sendiri, melainkan penyakit
masyarakat kita, penyakit budaya! Perlu kau ketahui, sewaktu mahasiswa, aku
tidak pernah menyuap. Sekarang kau lihat hasilnya! Bertahun-tahun aku kuliah
dengan harapan menjadi seorang dokter tapi cuma predikat dukun yang kusandang!
Sekarang baru kumengerti taktik kehidupan. S – U – A – P ! Empat huruf inilah yang
menjalankan roda kehidupan kita. Empat huruf yang sakti, lebih sakti daripada pendekar mana pun, lebih adil
daripada
hakim mana pun, lebih jenius daripada profesor mana pun, bahkan lebih nafsu daripada hidung belang mana
pun!"
"Jangan khawatir.
Sebagai manusia normal, sah-sah saja kau membudayakan suap. Demikian juga orang
yang disuap, sah-sah saja menerima suap. Namanya manusia normal! Penting juga
kau ketahui, izin praktikku sebenarnya tidak ada, tapi berkat empat huruf sakti
itu, aku bebas beroperasi. Ingatlah, tidak berubah nasib seseorang bila dia
tidak mengubahnya,
dan tidak haram sesuatu hal bila kita menghalalkannya, iya toh!"
Untuk
pertama kalinya dalam obrolan panjang ini, aku mengakui bahwa Mbah Kartak adalah dukun
yang serba bisa!
(Medan, 31
Jan 1996)