Jumat, 29 Januari 2016

S U A P




         Lelaki berambut karatan itu, apakah dia sudah cukup sakti untuk menyembuhkan penyakitku? Ketika melihat papan nama di halaman rumahnya saja, hatiku sudah diliputi keraguan:

Mbah Kartak (Kareh Utak)
Dukun Serba Bisa
Menyembuhkan segala jenis penyakit :
wasir, diabetes, kanker, lambat jodoh...

        Dia bohong, pikirku. Katanya dia bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, tapi nyatanya, penyakit yang kuderita tidak tercantum di papan tersebut. Aku semakin ragu untuk melangkah tetapi seperti ada dorongan dalam hatiku untuk tetap menemui lelaki berambut karatan itu.
       "Masuklah!" ujarnya dengan suara yang sama sekali tidak dibuat-buat. Dia duduk bersila sambil mencongkel-congkel giginya. Mungkin baru selesai makan siang.
         Aku melangkah masuk dan ikut bersila persis di hadapannya. Yang membatasi kami hanyalah meja kecil yang lebih pantas disebut susunan papan yang terbuat dari papan bekas, lembab, dan terkesan lapuk. Di atas meja tersebut terletak sebuah piring sisa makanannya, sebuah apel merah yang dipenuhi bekas gigitan, segelas air yang entah putih entah cokelat warnanya. Kemudian bermacam bunga dikumpulkan dalam satu wadah.
           "Menilik dari penampilanmu, kau adalah seorang mahasiswa," lelaki berambut karatan, yang ternyata Mbah Kartak, bertanya dengan mata yang disipitkan.
            "Wah, hebat! Dari mana Mbah tahu?" tanyaku penuh kekaguman.
            Dia tersenyum mengejek, "jaketmu yang memberi tahu aku!"
          Aku terhenyak. Baru kusadari bahwa aku memang memakai jaket kebanggaan kampus. Biasalah, mahasiswa menjelang KKN selalu bergaya dengan jaket kampusnya meskipun kedodoran.
          Aku tersipu. Biasanya kalau tersipu, aku selalu malu, tetapi sekarang tersipu dongkol. Entah bagaimana itu bentuknya!
            "Penyakit apa yang kau derita, Nak?" dia bertanya penuh wibawa ibarat seorang dosen.
          "Lho, mengapa Mbah bertanya?" aku protes, "bukankah Mbah seorang dukun, yang mengetahui segala sesuatu, mengetahui yang tersirat dan tersurat, mengetahui yang tampak dan tersembunyi, meng..."
            "Anak muda,” dia memotong celotehku, "Anda seorang mahasiswa tetapi Anda kurang tanggap dengan eksistensi saya sebagai dukun!"
            Aku terpelongo. Bah, bicara apa dia?
         "Saya hanya bisa menyembuhkan segala jenis penyakit! Ingat, menyembuhkan! Sekali lagi saya tekankan, me-nyem-buh-kan! Dan kau harus menggarisbawahi bahwa makna menyembuhkan jauh berbeda dengan makna mengetahui! Cure is different from knowing! Kalau kau kurang yakin, kau bisa melihatnya di kamus !"
          Sekali lagi aku terpelongo, kali ini ditambah dengan terbelalak. Pintar juga dia bersilat lidah, persis pejabat tinggi negara yang menyatakan bahwa tenggelamnya KMP Gurita karena faktor alam semata, bukan karena sarat muatan! Dan banyak juga perbendaharaan katanya, persis sastrawan. Aku yang terlalu bodoh, atau memang dia yang pintar?
            "Jelek-jelek begini, saya pernah ngrasai jadi mahasiswa," dia menjawab segala keterpelongoan dan keterbelalakanku.
            "Apa iya Mbah? Di mana? Kapan?" sebagai seorang mahasiswa yang berminat menjadi wartawan, aku mutlak mengajukan beribu pertanyaan.
          "Kau tidak perlu bertanya tentang hal itu!" dia membentak, "yang perlu adalah pertanyaanku: apa penyakitmu? Kalau pertanyaan dibalas dengan pertanyaan, tidak akan menghasilkan jawaban! Karena sesungguhnya, pertanyaan hanya memiliki sperma, harus disatukan dengan sel telur yang dimiliki jawaban! Apabila keduanya bersatu, akan terjadi pembuahan yang menghasilkan kesimpulan!"
           Ah, teori! pikirku. Sepintas aku melihat gayanya bicara, persis sahabat dekatku yang berprofesi sebagai tentor!
            "Tapi sudahlah,"dia mengalah, "daripada berpanjang kalam, ada baiknya kau segera menjawab pertanyaanku, karena kolom buat kita terbatas!"
            Aku membenarkan pendapatnya meskipun tak seratus persen benar. Aku sebenarnya ingin berlama-lama berdebat dengannya.
            "Saya punya penyakit yang aneh, Mbah," aku memulai cerita, kali ini lebih santai. "Saya suka sekali menyuap!"
            Gantian dia yang terpelongo. Kerutan di dahinya menunjukkan kebingungan yang luar biasa.
        "Menyuap, mbah, menyuap...,” aku memberi isyarat dengan gerakan tangan seperti hendak memasukkan sesuatu ke mulut.
            "Menyuap," dia berpikir, "menyuap berarti me-N + suap. Jadi kata dasarnya suap!"
            Dia terdiam sejenak. "Sebentar!" ujarnya dan bangkit dari duduknya, masuk ke dalam ruangan yang bertirai, mungkin kamar. Selang beberapa menit, dia kembali lagi dengan kamus bahasa Indonesia di tangannya, edisi terakhir!
          "Seorang karyawan di toko buku memberikan kamus ini padaku sebagai ganti uang berobat," jelasnya tanpa kuminta.
            "Menurut kamus ini, menyuap berarti makan dengan tangan," dia menatapku.
         "Betul sekali Mbah, cuma bedanya, saya menyuap dengan uang, bukan dengan nasi!" aku menjelaskan.
            Dia terbelalak dan perlahan-lahan menyeringai. "Oo...suap...suap...," dia terkekeh.
            "Persis!" aku menjentikkan jari, "Mbah tahu, dalam setiap detak nafas, saya selalu menyuap. Saya tidak bisa melepaskan diri dari suap, saya takut, sepanjang umur hanya dihabiskan untuk menyuap. Saya takut mati dalam penyuapan, Mbah!"
            Lelaki berambut karatan itu betul-betul pendengar yang baik. Dia tidak memberikan komentar sebelum aku menyelesaikan storiku.
            "Mbah tahu, indeks prestasi saya selalu di atas 2,5, padahal saya tidak terlalu pintar. Beberapa mata kuliah yang tidak lulus dapat saya sulap menjadi lulus. Teman-teman banyak yang heran tapi saya tidak heran...ya, karena itu tadi..."
            "...suap," lelaki berambut karatan melanjutkan kalimatku yang tergantung.
            "Benar sekali Mbah! Dan Mbah harus tahu, saya berhasil masuk di perguruan tinggi tempat saya kuliah sekarang karena..."
            "..suap!"
            "Sekali waktu saya pergi ke diskotek. Tiba-tiba ada razia dan saya tertangkap karena sedang on. Daripada diberitakan media dan reputasi bapak saya tercemar, terpaksalah saya..."
            "...suap!"
            "Bahkan sewaktu hendak kemari, saya tertangkap saat operasi zebra karena ketahuan plat mobil sudah habis masa berlakunya. Tapi saya bisa berdamai dengan polisi lalin yang menangkap saya karena..."
            "...suap!"
            Aku berhenti bicara. Dia pun berhenti memotong pembicaraanku.
            "Saya ingin mati Mbah, guna menghindari suap, tapi saya takut mati sia-sia. Kalau saya hidup terus, saya takut generasi saya ikutan suap!"
            Lelaki yang disebut Mbah Kartak ini tersenyum. Lumayan bijaklah! Dia meneguk habis air di hadapannya. Padahal kupikir, dia tidak haus. Justru aku yang kehausan karena bicara panjang lebar.
            "Anak muda, kau tidak sakit!" katanya tenang, "kau justru sehat sekali, jasmani dan rohani! Kau bahkan jenius, gambaran masyarakat modern! Kalau pun kau anggap sakit maka itu bukan penyakitmu sendiri, melainkan penyakit masyarakat kita, penyakit budaya! Perlu kau ketahui, sewaktu mahasiswa, aku tidak pernah menyuap. Sekarang kau lihat hasilnya! Bertahun-tahun aku kuliah dengan harapan menjadi seorang dokter tapi cuma predikat dukun yang kusandang! Sekarang baru kumengerti taktik kehidupan. S – U – A – P ! Empat huruf inilah yang menjalankan roda kehidupan kita. Empat huruf yang sakti, lebih sakti daripada pendekar mana pun, lebih adil daripada hakim mana pun, lebih jenius daripada profesor mana pun, bahkan lebih nafsu daripada hidung belang mana pun!"
            "Jangan khawatir. Sebagai manusia normal, sah-sah saja kau membudayakan suap. Demikian juga orang yang disuap, sah-sah saja menerima suap. Namanya manusia normal! Penting juga kau ketahui, izin praktikku sebenarnya tidak ada, tapi berkat empat huruf sakti itu, aku bebas beroperasi. Ingatlah, tidak berubah nasib seseorang bila dia tidak mengubahnya, dan tidak haram sesuatu hal bila kita menghalalkannya, iya toh!"
            Untuk pertama kalinya dalam obrolan panjang ini, aku mengakui bahwa Mbah Kartak adalah dukun yang serba bisa!
                                                                                                    (Medan, 31 Jan 1996)

Kamis, 28 Januari 2016

CURHAT


Difitnah oleh teman -yang aku anggap- dekat, sudah pernah aku alami.
Dicemburui oleh teman -yang aku anggap- dekat, sudah pula aku alami.
Sudah pernah aku alami. Dulu...dulu sekali.
Dan sudah aku lupakan itu.

Tapi fitnahan itu berulang lagi sekarang.
Kecemburuan itu terjadi lagi sekarang.

Tentu aku punya salah makanya mereka lakukan ini padaku.
  
Kesalahanku adalah memaafkan mereka....
Kesalahanku adalah menenggang mereka...
Kesalahanku adalah memaklumi mereka...

Seandainya mereka dulu tak kumaafkan.
Pasti mereka tak lagi berani lakukan itu.
Tak lagi memfitnahku....
Tak lagi mencemburuiku...
Tak lagi berani padaku...

***

Pria berparas manis mulus itu menggigit bibir bawahnya. Meremukkan kertas berisi coretan hatinya.

WHAT THE HELL!!!!

Senin, 18 Januari 2016

BAYANGAN




Aku baru sadar kalau bayanganku telah lenyap. Padahal dua hari yang lalu dia masih melekat di bawah kakiku. Kami memang sempat bertengkar waktu itu. Biasalah, perbedaan prinsip. Katanya dia bosan menjadi bayanganku dan sesekali ingin menjadi bayangan orang lain. Dia sudah tidak tahan dengan kemiskinan yang kerap aku tawarkan. Aku berang waktu itu dan kukatakan dia tidak pandai bersyukur. Bagaimanapun, aku yang membesarkannya, aku yang menghidupinya, dan dia harus berterima kasih untuk itu. Dia harus loyal kepadaku.

Sekarang bayanganku hilang!

Aku memandang berkeliling, siapa tahu bayanganku terselip di antara orang yang lalu lalang di jalan ini. Aku juga mencarinya di antara bayangan mereka, mungkin saja dia asyik ngobrol dengan kenalan barunya. Bayanganku memang mudah beradaptasi dengan bayangan siapa saja. Tak peduli apakah itu bayangan rakyat kecil atau konglomerat sekalipun! Keluwesannya bergaul membuat dia populer di kalangan para bayangan.

Tetapi sekarang dia lenyap, entah kemana. Aku tergagap. Apa jadinya kalau aku tidak punya bayangan? Bisa saja aku ditertawakan orang dan tidak diterima dalam pergaulan. Aku akan tersingkir, terasing, dan dianggap aneh. Bagaimana tidak? Kalau bayanganku hilang, akulah satu-satunya ciptaan Tuhan yang tidak mempunyai bayangan! Setiap makhluk Tuhan pasti punya satu bayangan, bahkan ada yang memiliki tiga bayangan sekaligus!

Bangsat! Bayanganku betul-betul menghilang!

Aku menyusuri jalan yang pernah kami lewati, siapa tahu dia tercecer di sana. Hasilnya nihil. Aku melongok ke tong sampah, mungkin dia ngumpet di situ. Aku melirik ke dalam tas seorang gadis yang kebetulan lewat, mencari di balik dompet, merogoh ke celana dalam, tapi nothing! Dia betul-betul lenyap! Bangsat, bangsaaat...

Di tengah makianku, kulihat orang berkerumun di seberang jalan. Dadaku berdebar, jangan-jangan bayanganku dalam bahaya. Jangan-jangan dia terlibat perkelahian dengan bayangan seorang preman pasar, atau kedapatan mencolek bayangan seorang gadis. Aku bergegas ke sana dengan beribu dugaan buruk di kepala.

“Ada apa?” aku bertanya kepada seorang lelaki yang berdiri di sudut jalan.
“Walikota inspeksi mendadak hari ini?”
“Siapa?”
“Walikota”
 “Oh.”

Aku tiba-tiba berhasrat ingin melihat wajah Pak Wali lebih dekat. Kata orang, wajahnya putih bersih, tidak pernah berdebu. Pipinya kencang dan rahangnya bagus. Karena penasaran, segera saja aku menerobos masuk. Tak kupedulikan makian orang-orang. Seorang perempuan hamil menjerit karena bayangan perutnya yang buncit kuinjak tanpa sengaja. Aku buru-buru minta maaf.

Tiba di depan, aku terpana. Bukan, bukan karena halus atau bersihnya wajah Pak Wali. Bukan karena rahangnya yang bagus. Bukan karena itu. Aku justru terpana melihat bayangannya. Bayangannya sangat indah, sesuai dengan karakter walikotaku itu. Pokoknya perfect. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya, di mana ya? Busyet, itu kan bayanganku!

“Hai, ngapain kamu di situ?”
 
 Bayangan itu terkejut. Sekonyong-konyong dia menyeringai lebar.

 “Apa kau tidak lihat? Aku jadi bayangan walikota sekarang!”
 “Tapi kamu kan masih milikku. Kamu tidak berhak menjadi bayangan orang lain tanpa seizinku!”
 “Siapa bilang? Sekarang kan era reformasi, aku berhak menentukan pilihanku! Lagipula, sekali-kali aku ingin menjadi bayangan orang gedongan. Makanan cukup, fasilitas memadai, pokoknya siplah! Terus-terusan jadi bayangan kamu bikin aku muak!”
“Ternyata kamu sudah berani menghina aku!”
“Ah, siapa bilang? Aku cuma muak berada di bawah terus, diinjak-injak terus. Aku ingin posisi kami, para bayangan, pindah ke atas. Dijunjung, dihormati, bukan diinjak-injak!”
“Tapi Pak Wali juga menginjak-injak kamu!”
“Tidak, dia justru menyayangi aku. Walau aku berada di bawah, dia membiarkan aku berkembang. Lihatlah, badanku lebih besar daripadanya!”

Memang betul, bayangan Pak Wali kelihatan semakin besar. Bahkan bertambah besar. Dan tiba-tiba saja dia menarikku, melahapku sekali telan. Hap! Mampus aku! Sekarang aku menjadi bayangan bayanganku!
                                                               

Entri Populer