Minggu, 21 Mei 2017

PUNGLI

Yang namanya pungli, bagaimana pun bentuknya, susah untuk dihapuskan di negeri ini. Memungut bayaran di luar aturan yang ditetapkan, itu yang kupahami sebagai pungli. Parahnya lagi, kita sebagai mayarakat juga mendukung praktik pungli tersebut dengan alasan agar urusan lancar dan tidak ribet. Seperti yang aku alami saat memperpanjang SIM C di mobil SIM keliling yang biasa ngetem di sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Ini adalah pengalaman pertamaku memperpanjang SIM. Jadi wajar kalau aku tidak mengerti prosedur yang harus dilalui dan biaya yang harus dikeluarkan (salahku juga sih, karena kurang update). 

Prosedur pertama yang harus dijalani adalah mengisi formulir permohonan perpanjangan SIM. Setelah mengisi formulir sebanyak dua halaman tersebut,  aku mengantre lagi, menunggu giliran pemeriksaan kesehatan. Dari bisik-bisik orang yang mengantre, aku mendengar kalau biaya resmi perpanjangan SIM tidak sampai 100 ribu. Ternyata tidak terlalu mahal, pikirku. 

Sesaat kemudian, aku mendengar namaku dipanggil. Aku bergegas mendatangi dua orang petugas yang duduk di bawah payung besar yang disediakan di tempat itu. Petugas perempuan memeriksa tekanan darah, menanyakan berat dan tinggi badan, serta menuliskan hasilnya di formulir pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, petugas laki-laki sibuk menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil. 

"Ibu, ini kami berikan kartu asuransi. Biayanya 30 ribu ditambah periksa kesehatan 30 ribu. Jadi totalnya 60 ribu," petugas laki-laki menyerahkan sebuah kartu kecil berwarna biru. Asuransi kecelakaan, demikian tulisan yang tertera pada kartu itu. 

Aku mengangguk. Ternyata benar, biayanya tidak sampai 100 ribu, pikirku senang. Selanjutnya aku dipersilakan naik ke mobil SIM keliling untuk difoto. Di dalam mobil sudah antre pula beberapa perempuan. Ada dua petugas laki-laki di dalam mobil. Yang satu sibuk mengetik data yang tertera di formulir permohonan, satunya lagi bertugas memanggil dan memfoto pemohon. 

"Ibu-ibu mau menyetorkan sendiri biayanya ke bank atau kami yang menyetorkannya ke bank?" tanya laki-laki yang bertugas sebagai tukang foto.

Lho, ternyata di dalam sini masih ada biaya toh, pikirku. Kirain sudah selesai di luar sana.

"Emang biayanya berapa, Pak?" seorang perempuan bertanya.

"Kalau menyetor langsung 75 ribu tapi kalau kami yang menyetorkan 100 ribu," si petugas menjawab enteng. "Kita kan juga perlu membayar orang untuk antre, Bu", dalihnya.

"Kalau bayar di sini langsung dapat SIM ya, Pak?" tanya yang lain.

"Iya Bu, langsung dapat. Kalau Ibu yang bayar ke bank, harus menunjukkan bukti pembayaran barulah SIM-nya kami berikan," jelas si petugas. 

Daripada capek pergi ke bank, antre, banyak memakan waktu, mending bayar di sini, demikian kata setan di kepalaku. 

Jadi begitulah. Hari itu aku mengeluarkan biaya 160 ribu untuk perpanjangan SIM. Hari itu juga aku turut mendukung praktik pungli perpanjangan SIM. Tololnya aku!!!!

Sabtu, 13 Mei 2017

Tukang Parkir

Ketika keluar dari pelataran parkir toko perlengkapan rumah tangga itu, perasaanku sudah tidak enak. Bukan karena barang yang kubeli hanya satu item (murah pula harganya!).... bukan, bukan karena itu. Bukan pula karena penampilanku yang saat itu gak karuan (sandal jepit, kaos pudar, wajah keringatan tanpa bedak). Jalan menuju jalan raya yang ada di depan pelataran parkir toko inilah yang membuatku ketar-ketir. Bagaimana tidak, jalannya lebih tinggi daripada jalan raya di sekitarnya. Bergelombang pula. Tentu menyusahkan bagi pengendara motor amatir dan berkaki pendek sepertiku. Apalagi aku akan menuju ke seberang jalan. Aku berani bertaruh, aku akan jatuh saat keluar dari pelataran parkir. Atau meluncur langsung ke jalan raya tanpa bisa mengendalikan laju sepeda motor saking gugupnya.   

Sepanjang pengalamanku berkendara (aku belajar naik motor tahun 2012 dan masih amatir menurutku), sudah beberapa kali aku jatuh karena tidak bisa mengendalikan kendaraan di jalan yang tinggi atau bergelombang. Aku tipe orang yang mudah gugup dan panik. Sudah lima tahun mengendarai motor, tetap saja kegugupan dan kepanikan itu melanda. Apalagi kalau menyaksikan kecelakaan di jalan raya, aku fobia. Pake banget!!!

Jadi beginilah aku. Terpaku di jalan tinggi dan bergelombang yang membatasi pelataran parkir dan jalan raya. Di depanku, kendaraan lalu lalang tiada berkesudahan. Aku bermaksud akan melaju saat jalan benar-benar sepi. Tapi tampaknya jalan itu tak akan sepi dari kendaraan.

"Ibu mau menyeberang?"
Aku menoleh. Tukang parkir yang tadi mengutip uang parkir di toko perlengkapan rumah tangga memandangku. 
"Iya, tapi tunggu sepi dulu...," jawabku sambil nyengir.
"Ayo, Bu. Biar saya tahan kendaraan yang dari sana supaya Ibu bisa menyeberang," katanya. Dia meletakkan peluit di mulutnya. Tangannya mengambil ancang-ancang hendak menahan laju kendaraan dari sebelah kanan jalan.
"Gak berani ah...," aku menolak. "Takut jatuh. Inikan jalannya tinggi. Kalau langsung jalan, saya bisa jatuh. Saya udah sering jatuh di jalan beginian...," aku malah curhat.

Tukang parkir tersenyum. Dia menawarkan bantuan untuk mengendarai motor dan membawanya ke seberang jalan. Tanpa banyak berpikir, aku mengiyakan. Kami bersiap menyeberang. Dia mengendarai motor, aku berjalan di sebelahnya. Sial bagiku, aku ketinggalan saat menyeberang. Kupandangi dia yang sudah berada di seberang dengan motor matic kesayangan. Pikiran buruk segera melintas. Bagaimana kalau dia tidak menungguku sampai ke seberang? Bagaimana kalau dia terus melaju dan kabur dengan motorku? Alamak....

Segera kutepis pikiran buruk itu. Aku menyeberang setelah ada kesempatan. Dia memberikan motor sambil tersenyum sabar.
"Terima kasih, ya...," suaraku terdengar serak.
"Sama-sama. Hati-hati ya, Bu...," suaranya terdengar ikhlas.

Aku segera melaju. Dalam hati kudoakan tukang parkir itu murah rezeki.

Entri Populer