Yang namanya pungli, bagaimana pun bentuknya, susah untuk dihapuskan di negeri ini. Memungut bayaran di luar aturan yang ditetapkan, itu yang kupahami sebagai pungli. Parahnya lagi, kita sebagai mayarakat juga mendukung praktik pungli tersebut dengan alasan agar urusan lancar dan tidak ribet. Seperti yang aku alami saat memperpanjang SIM C di mobil SIM keliling yang biasa ngetem di sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Ini adalah pengalaman pertamaku memperpanjang SIM. Jadi wajar kalau aku tidak mengerti prosedur yang harus dilalui dan biaya yang harus dikeluarkan (salahku juga sih, karena kurang update).
Prosedur pertama yang harus dijalani adalah mengisi formulir permohonan perpanjangan SIM. Setelah mengisi formulir sebanyak dua halaman tersebut, aku mengantre lagi, menunggu giliran pemeriksaan kesehatan. Dari bisik-bisik orang yang mengantre, aku mendengar kalau biaya resmi perpanjangan SIM tidak sampai 100 ribu. Ternyata tidak terlalu mahal, pikirku.
Sesaat kemudian, aku mendengar namaku dipanggil. Aku bergegas mendatangi dua orang petugas yang duduk di bawah payung besar yang disediakan di tempat itu. Petugas perempuan memeriksa tekanan darah, menanyakan berat dan tinggi badan, serta menuliskan hasilnya di formulir pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, petugas laki-laki sibuk menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil.
"Ibu, ini kami berikan kartu asuransi. Biayanya 30 ribu ditambah periksa kesehatan 30 ribu. Jadi totalnya 60 ribu," petugas laki-laki menyerahkan sebuah kartu kecil berwarna biru. Asuransi kecelakaan, demikian tulisan yang tertera pada kartu itu.
Aku mengangguk. Ternyata benar, biayanya tidak sampai 100 ribu, pikirku senang. Selanjutnya aku dipersilakan naik ke mobil SIM keliling untuk difoto. Di dalam mobil sudah antre pula beberapa perempuan. Ada dua petugas laki-laki di dalam mobil. Yang satu sibuk mengetik data yang tertera di formulir permohonan, satunya lagi bertugas memanggil dan memfoto pemohon.
"Ibu-ibu mau menyetorkan sendiri biayanya ke bank atau kami yang menyetorkannya ke bank?" tanya laki-laki yang bertugas sebagai tukang foto.
Lho, ternyata di dalam sini masih ada biaya toh, pikirku. Kirain sudah selesai di luar sana.
"Emang biayanya berapa, Pak?" seorang perempuan bertanya.
"Kalau menyetor langsung 75 ribu tapi kalau kami yang menyetorkan 100 ribu," si petugas menjawab enteng. "Kita kan juga perlu membayar orang untuk antre, Bu", dalihnya.
"Kalau bayar di sini langsung dapat SIM ya, Pak?" tanya yang lain.
"Iya Bu, langsung dapat. Kalau Ibu yang bayar ke bank, harus menunjukkan bukti pembayaran barulah SIM-nya kami berikan," jelas si petugas.
Daripada capek pergi ke bank, antre, banyak memakan waktu, mending bayar di sini, demikian kata setan di kepalaku.
Jadi begitulah. Hari itu aku mengeluarkan biaya 160 ribu untuk perpanjangan SIM. Hari itu juga aku turut mendukung praktik pungli perpanjangan SIM. Tololnya aku!!!!
http://168berita.blogspot.com/2017/05/taipanqq-densus-tangkap-adik-pelaku-bom.html
BalasHapusKami tantang para bos semua yang suka bermain kartu
dengan kemungkinan menang sangat besar.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
Cukup Dengan 1 user ID sudah bisa bermain 7 Games.
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER