Berita yang kuterima dari kakak sulungku itu tentu saja mengagetkanku, padahal baru beberapa menit yang lalu aku menelepon ibu, menanyakan kabar beliau berdua, dan ibu tidak bercerita apa-apa tentang kejadian yang menimpa ayahku. Ibu ternyata merahasiakan kejadian tersebut, khawatir kalau aku jadi kepikiran. Dirahasiakan atau tidak, tentu saja aku tetap memikirkan keadaan orang tuaku. Sebagai satu-satunya anak yang jauh dari orang tua, aku kudu harus tahu keadaan kedua orang tuaku di seberang sana!
Siang kemarin, ayah mengendarai sepeda motor di jalan raya yang biasa dilaluinya. Entah karena ayah kurang konsentrasi, entah karena ngebut, entah karena matanya kurang awas, motor ayah tiba-tiba membentur lubang besar yang ada di jalan raya tersebut. Ayah langsung tersungkur, wajahnya membentur aspal. Darah mengucur dari pelipis, pipi dan tangannya luka, gigi depannya patah. Untunglah warga sekitar cepat tanggap. Mereka segera membawa beliau ke rumah sakit terdekat. Sepeda motor dititipkan di pasar swalayan yang ada di daerah itu. Seorang tukang becak, yang sempat melihat KTP ayah, berbaik hati mengabarkan kejadian itu ke rumah.
Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ayah tidak boleh lagi mengendarai motor sendirian, apalagi usia beliau sudah kepala tujuh. Pandangan, pendengaran, serta kemampuan berkendara tentu sudah berkurang sehingga potensi terjadinya kecelakaan cukup besar.
Aku, yang sudah memesan tiket untuk mudik lebaran, berencana mempercepat jadwal mudik. Namun, ibu melarang. Papa tidak apa-apa, kata beliau. Insya Allah H-2 sudah kembali ke rumah. Doakan saja.
Hanya itulah yang bisa kulakukan. Mendoakan agar ayah segera pulih. Mendoakan agar stamina ibu juga tetap fit. Mendoakan agar kami bisa berkumpul di lebaran nanti.