Senin, 19 Juni 2017

PAPA

Papa jatuh dari sepeda motor, sekarang dirawat di rumah sakit!!!

Berita yang kuterima dari kakak sulungku itu tentu saja mengagetkanku, padahal baru beberapa menit yang lalu aku menelepon ibu, menanyakan kabar beliau berdua, dan ibu tidak bercerita apa-apa tentang kejadian yang menimpa ayahku. Ibu ternyata merahasiakan kejadian tersebut, khawatir kalau aku jadi kepikiran. Dirahasiakan atau tidak, tentu saja aku tetap memikirkan keadaan orang tuaku. Sebagai satu-satunya anak yang jauh dari orang tua, aku kudu harus tahu keadaan kedua orang tuaku di seberang sana!

Siang kemarin, ayah mengendarai sepeda motor di jalan raya yang biasa dilaluinya. Entah karena ayah kurang konsentrasi, entah karena ngebut, entah karena matanya kurang awas, motor ayah tiba-tiba membentur lubang besar yang ada di jalan raya tersebut. Ayah langsung tersungkur, wajahnya membentur aspal. Darah mengucur dari pelipis, pipi dan tangannya luka, gigi depannya patah. Untunglah warga sekitar cepat tanggap. Mereka segera membawa beliau ke rumah sakit terdekat. Sepeda motor dititipkan di pasar swalayan yang ada di daerah itu. Seorang tukang becak, yang sempat melihat KTP ayah, berbaik hati mengabarkan kejadian itu ke rumah. 

 Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ayah tidak boleh lagi mengendarai motor sendirian, apalagi usia beliau sudah kepala tujuh. Pandangan, pendengaran, serta kemampuan berkendara tentu sudah berkurang sehingga potensi terjadinya kecelakaan cukup besar. 

Aku, yang sudah memesan tiket untuk mudik lebaran, berencana mempercepat jadwal mudik. Namun, ibu melarang. Papa tidak apa-apa, kata beliau. Insya Allah H-2 sudah kembali ke rumah. Doakan saja.

Hanya itulah yang bisa kulakukan. Mendoakan agar ayah segera pulih. Mendoakan agar stamina ibu juga tetap fit. Mendoakan agar kami bisa berkumpul di lebaran nanti.

Selasa, 06 Juni 2017

Pindah Malam

Selama aku tinggal di perumahan tersebut, setidaknya sudah tiga orang tetanggaku yang pindah malam. Pindah malam? Iya, pindah malam. Pindah malam maksudnya adalah pindah rumah pada malam hari. Bermacam alasan yang menyebabkan mereka pindah malam. Dan alasan tersebut biasanya berhubungan dengan "sesuatu" yang tak pantas diketahui khalayak.

Eh, puasa-puasa kok bergunjing ya???

Bukaaan, ini bukan bergunjing. Ini sekadar berbagi cerita tentang pindah malam. Aneh aja, gitu, hehehe... (ngeles.com)

Tapi beneran kok. Tetangga yang pertama tuh pindah malam sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu. Awalnya aku melihat banyak orang datang ke rumah tersebut mencari bapak yang empunya rumah. Beberapa hari kemudian, rumah tersebut sepi, tak kelihatan satu orang pun di sana. Selidik punya selidik (baca: kepo), si bapak ternyata melakukan penipuan dengan modus menjanjikan orang-orang menjadi PNS. Yang berminat diharuskan menyetor uang sekian puluh juta rupiah dan dipastikan langsung dapat NIP. Alih-alih jadi PNS, malah jadi korban penipuan. Uang yang disetor hilang melayang. Jadilah si bapak masuk daftar pencarian orang. 

Tetangga kedua yang pindah malam, lain lagi ceritanya. Tak ada angin tak ada hujan, raib aja tuh orang. Padahal, paginya masih kelihatan sarapan pakai ketan. (Hahaha, ini mah lebay). Beberapa hari kemudian, ramai orang berdatangan. Ternyata penagih utang (bahasa bulenya debt collector). Selidik punya selidik (masih dibaca: kepo), tetangga kedua punya utang di menong-menong dan tidak mampu lagi membayar.

Tetangga ketiga baruuu aja pindah malam kemarin. Dan alasannya tak patut aku paparkan di sini karena agak sensitif gitu (bah, curang...hahaha). Intinya, bila ada tetangga kamu, saudara kamu, atau kenalan kamu pindah malam, perlu dikepoi. Jangan-jangan ada sesuatu di balik kepindahan itu. 

Ah, intuisi bergunjingku memang tinggi..... 😈

Sabtu, 03 Juni 2017

Dilema Pasar Beduk

Setiap tahun, setiap Ramadan, selalu ada keramaian. Pasar beduk adalah salah satunya. Pasar yang dipenuhi pedagang yang menjajakan makanan untuk berbuka puasa, mulai makanan kecil sampai makanan berat. Pasar yang selalu dinantikan oleh perempuan pekerja seperti aku.

Sebenarnya banyak teman yang menyarankan untuk tidak membeli makanan di pasar beduk. Kata mereka, makanannya terkadang sudah tidak segar lagi. Makanan yang tidak laku dijual pada hari sebelumnya, akan dipanaskan dan dijual kembali keesokan harinya. Belum lagi harganya yang selangit. Kebersihan dan bahan-bahan yang digunakan juga kurang terjamin. Aku memang menyadari hal itu. Namun, dengan mengatasnamakan tidak punya waktu memasak setelah pulang kantor, aku tetap memilih pasar beduk sebagai tempat mencari menu berbuka puasa.

Seperti sore itu, aku kembali mengunjungi pasar beduk. Menghampiri salah satu meja yang dipenuhi beragam hidangan penggugah selera. Ada gulai ayam, malbi, urap, tempoyak, pindang, dan sebagainya. Semuanya menarik perhatian. Semuanya meminta untuk dibeli.

Mataku tertumbuk pada menu cumi saus asam manis, salah satu menu favorit anakku. Sebagai konsumen yang selektif, aku harus memastikan makanan tersebut masih segar dan baik. Oleh karena itu, tanpa ragu, aku menyendok kuah makanan tersebut dan membauinya.

"Maaf ya, Bu, ini baru dimasak toh?" ujarku.
"Masih barulah. Semua masakan yang kami jual ini baru, dak do yang dipanasin," si ibu pedagang menjawab dengan nada agak tinggi. Wajahnya terlihat gusar, mungkin tersinggung dengan tindakan yang aku lakukan. 
"Maaf Bu, saya cuma memastikan. Soalnya kemarin saya beli di sebelah sana, masakannya sudah gak segar lagi," aku menjawab sambil tersenyum, mencoba menenangkan si ibu pedagang.
"Kalu sayo yang jualan dijaminlah masih baru. Dak do dak kami nak bohong. Awak nak beli berapo porsi, sayo kasi sepuluh ribu be seporsi," dia menyendok cumi asam manis, wajahnya masih tak sedap dipandang.
"Satu porsi saja, Bu. Minta urapnya juga satu porsi," aku merasa tidak enak hati.

Beberapa pembeli berdatangan. Dia kelihatan kewalahan meladeninya.

"Buk, ini pepes apa?" seorang laki-laki berpenampilan necis menunjuk makanan yang dibungkus dengan daun pisang.
"Ikan baung. Nak beli berapo bungkus, Pak?" tanya si ibu sembari membungkus pesananku.
"Betul ini baung ya Buk? Kemarin saya beli di sini katanya pepes baung, eh pas dibuka di rumah ternyata pepes patin," si lelaki berkata tanpa perasaan. Aku melirik ke si ibu yang kembali memerah wajahnya.
"Bapak buko be dulu bungkusnyo biar dak salah," dia menyerahkan pesananku lalu mengambil sebungkus pepes patin dan membukanya dengan agak kasar. Aku buru-buru membayar pesananku, tak ingin melihat adegan selanjutnya.

Aku kembali menyusuri pasar beduk. Mencari-cari mana tahu ada makanan yang menarik minat untuk dibeli. Semua hidangan kelihatan sama. Semua wajah pedagang pun kelihatan serupa seperti si ibu pedagang cumi saus asam manis. Aku tiba-tiba kehilangan selera...

Entri Populer