Mak Itam terseok-seok menjunjung keranjang dagangannya. Di dalam keranjang yang terbuat dari anyaman plastik itu tersusun beberapa bungkus rempeyek kacang. Beberapa bungkus kacang goreng terselip di antara bungkusan rempeyek kacang. Terselip pula beberapa helai koran bekas yang akan dijadikannya alas duduk saat menggelar dagangannya. Plus kantong plastik untuk membungkus dagangan yang akan dibeli pembeli.
Mak Itam menggelar dagangan sederhana itu di seputar kawasan bundaran kompleks perkantoran pemkot. Dia berdagang mulai pukul 19.00. Pada jam-jam itu, terutama malam libur, ramai warga bersantai di bundaran. Biasanya mereka membeli kudapan untuk menemani malam. Di samping itu, berdagang pada jam tersebut tidak akan dirazia Satpol PP, demikian pendapat Mak Itam. Lagian, siapa pula yang tega merazia perempuan tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu mengais rezeki??
Mak Itam, perempuan yang sudah puluhan tahun menjanda, seolah tak putus rezekinya. Dagangannya selalu habis dibeli orang. Entah karena rempeyeknya enak, entah karena kasihan. Pernah suatu kali, seseorang yang mengendarai mobil bagus, memborong habis dagangannya. Ada pula yang menjadi pelanggan setia. Setiap malam selalu membeli beberapa bungkus rempeyek dan kacang goreng tanpa mengharap uang kembalian.
Mak Itam, janda tua itu, pantang mengharap belas kasihan orang. Apa pun akan dikerjakannya asalkan halal. Pernah dia keliling kompleks perumahan menjual sayuran dengan memakai troli (kereta dorong). Karena kakinya tak tahan lagi berjalan jauh, Mak Itam banting setir menjadi pedagang kudapan.
Mak Itam, janda tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun, tak pernah mengeluh dengan keadaannya. Dia percaya, kehidupannya sudah diatur sedemikian rupa. Dia percaya, orang baik ada di mana-mana. Dia percaya, ajalnya sudah tak lama. Dia percaya, orang-orang baik akan mengurus jenazahnya bila ajalnya tiba. Dia percaya, surga itu ada.
Mak Itam, yang duduk di boncengan sepeda motorku, berhenti bercerita. Seperti biasa, dagangannya habis tak bersisa. Sudah ini belok kiri ya, Nak, rumah Mak di ujung sana, katanya. Aku mengangguk sambil menyeka air mata.