Selasa, 28 Agustus 2018

Flying in the Rain

Gerimis deras yang membasahi kota ini belum juga berhenti. Penerbangan yang terjadwal pukul 11.15 terpaksa diundur beberapa menit. Terbang dalam kondisi seperti ini tentu mencemaskan sebagian penumpang. Berita buruk mengenai kecelakaan pesawat menghantui beberapa penumpang. Namun mereka yakin, pesawat berlabel "bintang lima" ini memiliki prosedur operasional standar dalam menangani berbagai kemungkinan yang terjadi.

Remaja putri berusia sekitar tujuh belas tahun itu duduk dengan gelisah. Wajah putihnya terlihat bertambah putih. Tubuh kurusnya yang terbalut jaket hood seperti memohon pertolongan. Jemarinya tak henti menggulir postingan terbaru di salah satu media sosial. Sesekali dia berdehem, mencoba menyembunyikan kegelisahan.

Sesaat sebelum pesawat tinggal landas, dia menonaktifkan ponsel. Dia tutupi rambut ikalnya dengan hood. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi. Matanya dipejamkan. Napasnya diembuskan agak keras. 

Aku melirik. Baru pertama kali terbang? Tanyaku. Dia menggeleng. Lalu kenapa cemas? Aku bertanya lagi. Hujan ternyata yang membuatnya cemas. Dia trauma terbang di tengah hujan. 

Aku menepuk punggung tangannya lembut. Jangan khawatir, kataku. Berdoa saja.

Aku tidak tahu apakah dia mengikuti saranku atau tidak. Tapi aku, terus terang saja, dari awal menapaki kaki di pesawat ini sampai duduk di seat yang ditentukan, tak henti berdoa. Terbang di tengah hujan sangat tak kuharapkan. Aku trauma.

Selasa, 21 Agustus 2018

Puasa Arafah

Pukul 2.30 pagi dia sudah terjaga. Menanak nasi dan memutar tombol mesin cuci. Selagi kedua mesin itu bekerja, dia menyiapkan bahan-bahan masakan. Ikan mujahir sebelum digoreng ditaburi garam dan dilumuri air jeruk nipis. Tak lupa dibubuhi bumbu kunyit dan bawang putih agar lebih gurih. Tempe dipotong kecil-kecil berbentuk dadu. Rencananya tempe disambal dengan ikan teri. Rebusan buncis dan sawi juga disiapkan. Makan sahur hari ini tentu akan terasa nikmat dan segar dengan menu masakannya itu.

Yah, hari ini dia dan anak-anak sudah berniat berpuasa Arafah. Si sulung sudah mewanti-wanti agar dibangunkan sahur. Si bungsu tak mau ketinggalan. Semangat anak-anak membuatnya bersemangat pula bangun dinihari untuk memasak makanan kegemaran anak-anak.

Pukul 4 pagi, semua sudah kelar. Cucian sudah dikeringkan. Nasi sudah masak. Ikan mujahir sudah digoreng. Sambal tempe dan teri siap dihidangkan. Sayur bening masih mengepulkan asap ketika terhidang di atas meja makan. Teh manis panas untuk si sulung dan susu hangat untuk si bungsu telah pula tersedia. 

Bergegaslah dia membangunkan anak-anak. Anak-anaknya yang baik. Tiada susah untuk terjaga. Setelah membersihkan diri di kamar kecil, mereka menuju meja makan. Begitu melihat hidangan yang tersedia, anak-anak tersenyum suka. Terima kasih, Ayah, sahut mereka sambil mencium pipinya.

Senin, 13 Agustus 2018

Selamat Jalan, Sang Maestro

Jumat, 10 Agustus 2018, dia berpulang...

Iskandar Zakaria -kami memangginya Pak Is-, pegiat seni tradisi Kerinci yang murah senyum dan senang bersenda gurau. Kecintaannya pada warisan budaya Kerinci dibuktikan dengan kegigihannya mengoleksi dan mendokumentasi benda-benda seni yang terlupakan. Beliau bahkan rela menggunakan uang pribadi demi menyelamatkan warisan budaya itu. Rumahnya di Jalan R.A. Kartini No. 88, Sungaipenuh, Jambi, dijadikan sebagai museum tempat penyimpanan koleksi berbagai benda seni. Rumah tersebut juga dijadikan tempat berkumpul dan berlatih anggota Sanggar Seni Ilok Rupo yang dirintisnya.

Beberapa koleksi keris yang dimiliki Pak Is


Salah sebuah tameng koleksi Pak Is

Koleksi guci antik

Koleksi bebatuan dari berbagai abad
Pak Is kerap membantu kami saat riset di Kerinci. Tahun 2014, ketika kami mendokumentasikan tradisi lisan Kerinci, Pak Is adalah orang yang pertama kami tuju. Beliau yang membawa kami menemui para pegiat tradisi lisan tersebut. Demikian juga saat mendokumentasi cerita rakyat Kerinci pada tahun 2015, Pak Is tetap dimintai tolong. Perekaman kosakata Bahasa Kerinci yang kami lakukan pada tahun yang sama, juga tak luput dari tangan dinginnya. Dan Pak Is selalu menerima kami dengan tangan terbuka. Tak pernah marah atau kecewa. Tak pula jemawa.

Bertemu Pak Is sebelum mengadakan riset (2015)

Bersama Pak Is sesaat sebelum melakukan perekaman sastra lisan (2015)

Pak Is memantau persiapan perekaman kosakata Bahasa Kerinci (2015)

Satu hal yang paling aku kagumi dari Pak Is adalah beliau tidak pernah alpa mengirimkan pesan singkat berisi ucapan Selamat Idul Fitri kepada semua kontak yang ada di ponselnya. Ini menandakan beliau tak pernah lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Dan aku, adalah salah seorang yang beruntung mendapat sms rutin itu. 


Saat pertama kali bertemu Pak Is (2014)

Bersama Emak, istri Pak Is yang selalu tersenyum meskipun telah kami repotkan (2015)
Sekarang Pak Is telah tiada, menyusul istrinya yang telah terlebih dahulu meninggalkannya. Semoga segala kebaikan yang beliau lakukan selama hidup menjadi ladang amal yang membawanya ke tempat terbaik. Istirahatlah dengan tenang, Pak Is. Giliran kami yang menjaga dan memelihara tradisi daerah.

Selamat jalan, Sang Maestro😭

Jumat, 10 Agustus 2018

Mak Itam

Mak Itam terseok-seok menjunjung keranjang dagangannya. Di dalam keranjang yang terbuat dari anyaman plastik itu tersusun beberapa bungkus rempeyek kacang. Beberapa bungkus kacang goreng terselip di antara bungkusan rempeyek kacang. Terselip pula beberapa helai koran bekas yang akan dijadikannya alas duduk saat menggelar dagangannya. Plus kantong plastik untuk membungkus dagangan yang akan dibeli pembeli.

Mak Itam menggelar dagangan sederhana itu di seputar kawasan bundaran kompleks perkantoran pemkot. Dia berdagang mulai pukul 19.00. Pada jam-jam itu, terutama malam libur, ramai warga bersantai di bundaran. Biasanya mereka membeli kudapan untuk menemani malam. Di samping itu, berdagang pada jam tersebut tidak akan dirazia Satpol PP, demikian pendapat Mak Itam. Lagian, siapa pula yang tega merazia perempuan tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu mengais rezeki??

Mak Itam, perempuan yang sudah puluhan tahun menjanda, seolah tak putus rezekinya. Dagangannya selalu habis dibeli orang. Entah karena rempeyeknya enak, entah karena kasihan. Pernah suatu kali, seseorang yang mengendarai mobil bagus, memborong habis dagangannya. Ada pula yang menjadi pelanggan setia. Setiap malam selalu membeli beberapa bungkus rempeyek dan kacang goreng tanpa mengharap uang kembalian.  

Mak Itam, janda tua itu, pantang mengharap belas kasihan orang. Apa pun akan dikerjakannya asalkan halal. Pernah dia keliling kompleks perumahan menjual sayuran dengan memakai troli (kereta dorong). Karena kakinya tak tahan lagi berjalan jauh, Mak Itam banting setir menjadi pedagang kudapan.

Mak Itam, janda tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun, tak pernah mengeluh dengan keadaannya. Dia percaya, kehidupannya sudah diatur sedemikian rupa. Dia percaya, orang baik ada di mana-mana. Dia percaya, ajalnya sudah tak lama. Dia percaya, orang-orang baik akan mengurus jenazahnya bila ajalnya tiba. Dia percaya, surga itu ada.

Mak Itam, yang duduk di boncengan sepeda motorku, berhenti bercerita. Seperti biasa, dagangannya habis tak bersisa. Sudah ini belok kiri ya, Nak, rumah Mak di ujung sana, katanya. Aku mengangguk sambil menyeka air mata.

Kamis, 09 Agustus 2018

Pakde

Entah mengapa dia dipanggil Pakde. Mungkin karena dia orang Jawa dan usianya sudah lebih tua daripada rekan-rekan kerjanya. Atau juga sebagai bentuk penghormatan karena dia sudah berpengalaman merasakan asam garam kehidupan.

Pakde tak pernah marah, padahal sering dirundung oleh beberapa rekan kerja. Pakde baik dan ramah, padahal rekan kerja tak membalas kebaikannya. Pakde ringan tangan, suka membantu rekan yang kesusahan.  Laptop rekan tak terkoneksi wifi, Pakde bantu sambungkan. Laporan pekerjaan rekan mendekati tenggat, Pakde bantu selesaikan. Bensin motor rekan habis, Pakde bantu belikan. Rekan ingin minum kopi, Pakde bantu buatkan. Rekan kehabiasan uang, Pakde bantu pinjamkan. Pakde bantu ini. Pakde bantu itu. Pakde bantu semua yang dia mampu.

Pakde tak harap imbalan atas jasa yang ia berikan. Pakde yang sederhana, tak silau akan harta. Andai semua yang disebut "Pakde" seperti Pakde, tentu kita sering ditraktir makan sate.... (hehehe).

Seminggu setelah lebaran, Pakde mengundang rekan makan-makan. Istri Pakde menyiapkan hidangan sedehana menggugah selera. Pindang patin, tumis pare, goreng tahu/tempe/ikan asin, lalap timun, sambal terasi, plus kerupuk ikan. Disediakan pula jeruk manis sebagai pencuci mulut. Rekan-rekan yang datang kelaparan, makan dengan lahap. Pindang disikat. Pare dihajar. Gorengan dikeroyok. Lalapan diserang. Sambal dihantam. Hanya kerupuk dan jeruk yang tersisa. 

Setelah semua hidangan di meja makan bersih, rekan-rekan mengucapkan terima kasih, sambil melirik istri Pakde yang putih.

Besoknya di kantor, Pakde dirundung lagi 😕


Senin, 06 Agustus 2018

No More August

Tidak ada lagi perayaan. 
   Tidak ada lagi kejutan.
      Tidak ada lagi makan-makan.
         Tidak ada lagi kue berhiaskan tulisan.

Bahkan tidak ada lagi ucapan.

Itu sudah kau tinggalkan.
Karena doa dan harapan bukan sekadar ucapan.
Yang datang setiap bulan ke delapan.

Entri Populer