September 2015
Perempuan berkerudung hitam itu terisak pelan. Bahunya terguncang pertanda tangis yang tertahan. Selembar kertas berisi hasil pemeriksaan laboratorium melekat di tangannya.
Dia kembali membaca hasil lab itu. Berharap tulisan yang ada di kertas itu tidak seperti yang dibacanya. Berharap dia salah baca. Berharap petugas lab salah ketik. Berharap petugas lab salah diagnosis.
Tetapi tak ada perubahan yang terjadi dalam tulisan di kertas itu. Ini adalah kenyataan yang terjadi. Kenyataan pahit yang harus diterimanya. Kenyataan yang sedikit pun tak pernah terbayang di benaknya. Kenyataan yang kelak memengaruhi masa depan putrinya. Putrinya yang masih berusia tujuh tahun...
Putrinya didiagnosis terpapar bakteri
diplococcus gram negatif. Bakteri yang bisa ditularkan oleh orang dewasa yang sudah berhubungan seks dan suka bergonta-ganti pasangan. Bagaimana mungkin??? Rasanya dia dan suaminya normal-normal saja, tidak ada kebiasaan yang aneh-aneh. Suaminya juga bukan tipe lelaki yang doyan "jajan" di luar. Kehidupan seksual mereka baik dan berjalan sesuai dengan ajaran agama. Lingkungan sekitar rumah mereka juga aman-aman saja. Tidak pernah mereka membiarkan putrinya bermain di sembarang tempat. Dan mereka senantiasa mengawasi putrinya itu kemana pun dia bermain. Jadi, putrinya tertular dari siapa???
Ada dua kemungkinan, demikian kata dokter spesialis kelamin tempat mereka berkonsultasi. Dari subjek (orang dewasa) langsung atau terpapar dari lingkungan yang kurang bersih. Kalau dari subjek langsung, dia meragukan itu. Karena dari perilaku putrinya tidak ada tanda-tanda trauma yang menunjukkan putrinya pernah mengalami (maaf) pelecehan seksual. Sikap putrinya biasa saja. Lincah, periang, terbuka, dan perilaku normal lainnya. Bisa jadi dari lingkungan. Mereka memang pernah berlibur dan menginap di hotel yang tidak terlalu mewah. Mungkin terpapar dari handuk hotel, kloset, atau benda lain. Tapi...kemungkinannya kecil. Dokter pasti salah, katanya. Dokter pasti salah...
Aku menepuk-nepuk bahunya. Tak tahu harus berkata apa. Perempuan itu tak lagi meneruskan ceritanya selain bergumam "dokter pasti salah, dokter pasti salah..."
Aku ikut menangis.
 |
| hasil sekret vagina menunjukkan adanya bakteri diplococcus |
Oktober 2015
Sepuluh hari kemudian aku bertemu lagi dengannya di klinik ini. Dia mengatakan bahwa dia sudah melakukan sekret vagina untuk melihat apakah sumber bakteri itu berasal dari dia. Suaminya melakukan sekret uretra. Hasil tes menunjukkan bahwa mereka negatif terpapar bakteri diplococcus. Alhamdulillah, kataku. Dia tersenyum, mengucapkan terima kasih dan berlalu dari tempat itu.
Desember 2015
Entah secara kebetulan atau tidak, aku bertemu lagi dengannya dua bulan kemudian. Masih di klinik yang sama. Matanya tidak lagi sembab seperti pertama kali kami bertemu. Dia mengatakan bahwa putrinya sekarang sedang dalam proses pengobatan. Putrinya sudah memakan tiga macam antibiotik namun hasil lab masih menunjukkan adanya bakteri yang sama yang bersarang pada alat vital putrinya. Dokter menyarankan agar bakterinya dikultur atau dalam istilah kedokteran disebut
bakterien kultur. Bakterinya dikembangbiakkan untuk mengetahui antibiotik apa yang resisten dan sensitif pada bakteri tersebut. Hasil kultur akan menunjukkan pengobatan apa yang pas bagi penyembuhan penyakit putrinya.
Pasti biaya kultur mahal, kataku. Dia mengiyakan. Ratusan ribu selalu dia keluarkan setiap kali berobat. Tetapi kesembuhan putrinya jauh lebih mahal dibandingkan angka-angka tersebut. Uang bisa dicari, katanya. Tetapi masa depan anakku jauh lebih berarti.
Petugas klinik memanggil nomor antrean. Perempuan itu bangkit dari duduknya dan memanggil seorang anak perempuan yang sedari tadi asyik menonton televisi yang ada di ruang tunggu klinik itu. Aku terkesiap. Gadis kecil berjilbab itu berjalan riang mendekati ibunya, memegang tangan ibunya, dan bersenandung kecil mengikuti gerak langkah ibunya. Anakku dikultur dulu, mbak. Aku tergagap, tak sempat membalas pamitannya. Tiba-tiba sudut mataku terasa hangat.
***
Aku melihat gadis kecil berjilbab itu. Dia sedang duduk di ruang tunggu studio 21 bersama seorang perempuan berjilbab pula. Aku menghampiri mereka, menegur mereka, berharap mereka masih mengingat aku. Si ibu langsung bangkit dan memelukku. Anakku sudah dinyatakan sembuh, katanya tanpa kuminta bercerita. Hasil kultur menunjukkan bakterinya tidak berkembang biak. Dengan kata lain, bakteri itu sudah mati, yang tinggal hanyalah flora normal, bakteri baik yang mendiami genitalia putrinya. Aku memuji kebesaran Allah. Mencium kedua pipi putrinya. Mau nonton apa, tanyaku.
The Good Dinosour...