Kursi itu melintang
dengan tenangnya di perempatan jalan sehingga arus lalu lintas menjadi macet
pada pagi yang terpanggang matahari. Suara klakson yang bersahutan dan makian
para supir angkutan menambah panas suasana. Penumpang-penumpang di bis kota
mulai gelisah. Ada yang celingak-celinguk ingin tahu, ada yang bolak-balik
melirik arloji, ada pula yang pura-pura baca buku untuk menutupi
kegelisahannya. Seorang gadis cantik sibuk melap keringatnya yang terus-menerus
mengucur di dahi, di puncak hidung, di atas bibir, di leher, di pangkal lengan,
dan selangkangan. Sementara pemuda yang duduk persis di sebelahnya, menekan
hidung kuat-kuat. Rupanya keringat gadis itu menebarkan aroma kurang sedap.
Lain di bis, lain pula di mobil pribadi.
Kemacetan seperti ini tidak terlalu mempengaruhi pemilik mobil mewah, terutama
dari segi produksi keringat. Mereka dapat menghidupkan AC mobil, mendengarkan
musik, buka baju seenaknya, dan bercinta dengan bebas. Kesempatan yang ada
memang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Agaknya demikian pula prinsip yang
dipakai oleh dua orang polisi lalu lintas yang bertugas pagi itu. Mereka tidak
terpengaruh sama sekali dengan keributan dan kekacauan yang terjadi. Mereka
justru lebih tertarik dengan kursi yang menyebabkan kemacetan tersebut.
"Kursi siapa?"
"Tidak tahu!
Seseorang pasti telah melakukan sabotase dengan meletakkan kursi di sini!"
Kedua
polisi mulai kelihatan sibuk mencatat. Mereka mengamat-amati setiap lekukan
pada kursi. Apabila ada sesuatu yang mencurigakan, mereka pun buru-buru
mencatat. Kedua polisi itu sepakat tidak akan menyentuh kursi itu supaya tidak
meninggalkan sidik jari. Bagaimanapun, kursi itu kelihatan sangat berharga dan
pemiliknya pasti bukan orang sembarangan. Keadaannya memang sudah tua, terbukti
dengan warna catnya yang memudar dan terkelupas. Akan tetapi joknya masih empuk, masih padat. Dan
sepertinya, orang akan lupa berdiri kalau sudah duduk di kursi itu.
Suasana
semakin panas. Orang-orang mulai berkerumun di perempatan, mengelilingi kursi
yang kelihatan bangga menjadi pusat perhatian masyarakat.
"Ada apa?"
"Ada kursi yang
ditinggalkan pemiliknya di tengah jalan!"
"Tega sekali!"
"Mungkin juga
pemiliknya tak sengaja meninggalkan kursi itu!"
"Kursinya lumayan
bagus!"
"Kursi itu pasti melarikan
diri dari pemiliknya!"
"Seseorang pasti
sangat kehilangan kursinya!"
"Mungkin kursi tukang
warung di pojok sana!"
"Rupanya kursi ini
yang menyebabkan kemacetan!"
Berbagai
komentar mengenai keberadaan kursi itu tumpah ruah di perempatan. Masyarakat
agaknya lupa dengan kemacetan yang terjadi. Kursi tua itu lebih menarik untuk
dibicarakan daripada berkutat dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai.
Tiba-tiba
seseorang menyeruak kerumunan masyarakat dengan paksa. Orang-orang tentu saja
mengomel panjang pendek. Bahkan ada yang memaki. Akan tetapi, seseorang itu tak
peduli. Dia terus saja menerobos sampai akhirnya tiba di dekat kursi yang
semakin gagah memamerkan joknya yang empuk.
"Hei, apa-apaan ini?"
"Bangsat, tak tahu
aturan! Pelan-pelan dong!"
"Kau ingin digebuk
ya?"
"Itu kursiku!"
Mendadak
orang-orang terdiam saat mendengar pengakuan seseorang itu. Mereka memandang ke
arah seseorang itu dan ke arah kursi secara bergantian. Tak ada kemiripan sama
sekali. Kursi itu malah mencibir tak percaya.
"Itu kursiku, sumpah!"
"Tak mungkin,
potonganmu tak pantas menjadi pemilik kursi itu!"
"Tapi aku bersumpah,
itu memang kursiku!"
"Bohong, aku tak
percaya! Kau hanya mengarang-ngarang cerita supaya bisa memiliki kursi itu.
Akulah pemilik kursi yang sah!"
Masyarakat
kembali tercengang. Sekarang sudah dua orang yang mengaku sebagai pemilik
kursi. Kedua polisi sibuk mencatat segala kejadian yang berlangsung di TKP.
Mereka berusaha keras mencari kemiripan kursi itu dengan dua orang yang
mengaku-aku sebagai pemiliknya.
"Apakah kau punya
bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa kursi itu memang kepunyaanmu?"
"Ya. Aku punya bukti!"
"Apa?"
"Kursi itu! Aku akan
memaksanya bicara supaya dia mengaku memang aku pemiliknya!"
Orang
itu mendekati kursi yang semakin menantang. Joknya yang empuk ibarat pantat
bahenol seorang gadis yang baru datang bulan. Begitu menggiurkan, begitu
merangsang. Orang itu berusaha menjangkau kursi. Anehnya, kursi terasa jauh
dari jangkauan. Semakin dekat orang itu dengan kursi, semakin jauh pula kursi
itu berada.
"Anjing! Penipu!"
"Sudah kuduga, dia
seorang pembohong!"
"Sumpah mati, itu
memang kursiku!"
Dor!
Orang itu terkapar sebelum sempat meraih kursi. Sebuah peluru bersarang tepat
di dadanya.
"Jadi benarkan, kursi
itu milikku!"
"Kau juga ingin
mampus ya?"
"Aku tak ingin mampus,
aku cuma ingin kursi itu!"
"Jangan salah, akulah
pemiliknya!"
"Bohong! Kursi itu
milikku!"
"Asu buntung! Itu
milikku!"
Orang-orang
semakin riuh. Kali ini semua mengaku sebagai pemilik kursi. Tak ketinggalan
kedua polisi itu. Bersama masyarakat, mereka berebut kursi. Tapi sungguh ajaib,
kursi itu tak terjangkau. Seakan-akan ia hanya bayangan, hanya fatamorgana.
Yang bersentuhan justru tangan orang-orang yang saling berebut. Mereka saling
genggam, saling cakar, saling remas, saling rampas. Kursi itu tenang-tenang
saja di tempatnya sementara orang saling membunuh demi jok empuk yang
ditawarkan kursi itu.
Matahari
semakin tinggi. Hari semakin terik. Suasana semakin panas. Korban berjatuhan,
lalu lintas semakin total macetnya. Mobil-mobil dilempari, rumah-rumah dibakari, anak-anak disodomi,
semua demi kursi. Masyarakat menjadi beringas, saling berteriak bahwa kursi itu
miliknya.
Raungan
sirene
menghentikan keributan massal itu. Masyarakat kembali tertib saat bupati terjun langsung ke
lokasi keributan. Seratus tangan yang melekat di tubuhnya mampu meredam gejolak
yang terjadi. Masyarakat memang sangat menghormati pejabat daerah yang satu ini
karena beliau terkenal dekat dengan masyarakat.
"Kursi yang bagus!"
"Saya yang punya,
Pak!"
"Bohong, itu punya
saya!"
"Bukan, sayalah
pemiliknya!"
"Jangan mimpi, sayalah
yang berhak atas kursi itu!"
Masyarakat
kontan terdiam setelah bupati menjatuhkan vonisnya. Mereka memang melihat kemiripan antara bupati dan kursi yang
diperebutkan itu. Mereka tak berkata apa-apa lagi saat beliau duduk di jok
empuk yang sangat pas dengan ukuran pinggulnya. Beliau ada di atas bersama
kursinya.
Lalu
lintas kembali normal.

