Aku menelan ludah yang terasa pahit.
Kerongkonganku seperti dicekik. Berat sekali menerima kenyataan ini. Mia
Audina, satu-satunya harapan Indonesia di tunggal puteri bulutangkis Olimpiade,
harus menyerah pada Bang Soo-Hyun dari Korea Selatan, dua set langsung! Final
yang kutonton kemarin malam melalui stasiun teve yang mengaku oke, benar-benar
meremukredamkan hatiku. Kalau stasiun teve itu benar-benar oke, mengapa Mia
harus kalah, mengapa Indonesia harus menelan kecewa, mengapa? Lho, apa
hubungannya, ya?
Tapi aku betul-betul frustrasi. Apalagi saat
pagi harinya, kusaksikan tayangan ulang pertandingan tersebut di stasiun teve
yang sama. Mia memang kalah. Dia kewalahan menghadapi lawannya yang jauh lebih
berpengalaman. Duh, kasihan sekali Mia. Padahal, permainan Mia cukup bagus. Stylenya tetap khas. Cuma, perbedaan di
antara keduanya memang cukup mencolok.
Kupandangi Mia yang berdiri lesu di tengah
lapangan. Tiba-tiba, bukan Mia yang kulihat di sana, melainkan diriku! Aku di
tengah lapangan, berdiri garang menanti bola dari Bang. Langkah-langkahku
pasti, tipuanku jitu, pukulanku keras! Mataku awas mengawasi gerak-gerik lawan.
Aku selalu waspada meladeni permainan lawan, tidak pernah lengah. Gantian Bang
yang kewalahan. Angka demi angka kuraih dengan mudah pada set pertama. Seruan
penonton membuatku lebih bersemangat.
“Mia...Mia...Mia.....!!!” demikian teriak
penonton berulang-ulang. Aplaus yang mereka berikan bergemuruh sehingga
Universitas Georgia State, tempat pertandingan berlangsung, seakan runtuh! Aku
semakin liar. Tekadku hanya satu, mengumandangkan Indonesia Raya di Atlanta!
Memasuki set kedua, staminaku mulai menurun.
Gaya permainanku juga berubah jelek. Mungkin aku terlalu bersemangat saat set
pertama tadi. Sebaliknya, Bang seperti mendapat “angin sorga”. Dia pintar
membaca situasi, memanfaatkan penurunan staminaku untuk meraih angka. Dia
menjadi gampang mengembalikan smash
yang kuberikan dan balas memberikan permainan net yang mematikan! Aku
kocar-kacir juga karena jangkauanku lebih pendek daripada Bang. Sorakan
semangat dari penonton tak terdengar lagi. Yang ada cuma gerutuan dan cemoohan.
“Huu...Mia payah, huuu....turuuun..!”
Hatiku mulai panas. Kemana semua penghargaan
dan kebanggaan yang tadinya diberikan penonton padaku? Mengapa mereka balik
menjadi musuhku?
Aku tertantang. Kini bukan hanya Bang yang harus
kutaklukkan, melainkan juga penonton! Diam-diam kuubah strategi permainan yang
diciptakan lawan. Permainan net kuganti menjadi reli-reli panjang yang melelahkan.
Yes, lawanku mulai kelihatan payah. Napasnya agak tersengal saat melayani
permainan reliku. Di mataku, Bang kelihatan semakin tua. Aku tersenyum puas.
Satu per satu angka mulai kuraih. Dan penonton menjadi milikku lagi.
“Hidup Miaa.....hidup Indonesiaa...!!!” teriak
mereka.
Aku semakin garang. Berat badanku yang “agak
lebih” tidak mempengaruhi permainanku. Sebaliknya, aku semakin lincah seperti
kijang. Dan lawanku, semakin lama semakin tua. Kulihat badannya seperti
bungkuk, rambutnya ubanan! Setelah pertandingan ini, lawanku memutuskan untuk
“menggantung raket”. Dia ingin menghabiskan sisa umurnya dalam bentuk manusia
normal, tanpa harus mempunyai beban mental. Aku tersenyum geli memikirkan
khayalanku yang mengada-ada itu. Tapi Bang memang seperti harimau ompong yang
mengunyah keripik pisang. Serba salah, serba sulit, serba payah!
Akhirnya set kedua berhasil kuselesaikan.
Tekadku tercapai, target KONI terpenuhi, doa rakyat Indonesia terkabul. Aplaus
dari penonton tiada berhenti. Ciuman yang mendarat di pipi dan keningku datang
bertubi-tubi. Aku digendong rekan-rekanku di bibir lapangan. Aku terharu, aku
bangga, aku bahagia.
“Ineeem....Neemm...!!”
Aku tersentak. Lamunanku buyar. Di teve,
kulihat Bang Soo-Hyun menitikkan air mata saat lagu kebangsaannya
dikumandangkan.
“Ineeeemm....!!”
“Ya Nyonya, sebentaaar!!”
Nasib, pikirku. Ternyata aku masih Inem,
pembantu rumah tangga yang kurang gizi, dan bukan Mia Audina!
*sesaat setelah menonton final bulutangkis tunggal putri, Olimpiade Atlanta, 1996
Tidak ada komentar:
Posting Komentar