Senin, 10 April 2017

INEM vs MIA *



Aku menelan ludah yang terasa pahit. Kerongkonganku seperti dicekik. Berat sekali menerima kenyataan ini. Mia Audina, satu-satunya harapan Indonesia di tunggal puteri bulutangkis Olimpiade, harus menyerah pada Bang Soo-Hyun dari Korea Selatan, dua set langsung! Final yang kutonton kemarin malam melalui stasiun teve yang mengaku oke, benar-benar meremukredamkan hatiku. Kalau stasiun teve itu benar-benar oke, mengapa Mia harus kalah, mengapa Indonesia harus menelan kecewa, mengapa? Lho, apa hubungannya, ya?

Tapi aku betul-betul frustrasi. Apalagi saat pagi harinya, kusaksikan tayangan ulang pertandingan tersebut di stasiun teve yang sama. Mia memang kalah. Dia kewalahan menghadapi lawannya yang jauh lebih berpengalaman. Duh, kasihan sekali Mia. Padahal, permainan Mia cukup bagus. Stylenya tetap khas. Cuma, perbedaan di antara keduanya memang cukup mencolok.

Kupandangi Mia yang berdiri lesu di tengah lapangan. Tiba-tiba, bukan Mia yang kulihat di sana, melainkan diriku! Aku di tengah lapangan, berdiri garang menanti bola dari Bang. Langkah-langkahku pasti, tipuanku jitu, pukulanku keras! Mataku awas mengawasi gerak-gerik lawan. Aku selalu waspada meladeni permainan lawan, tidak pernah lengah. Gantian Bang yang kewalahan. Angka demi angka kuraih dengan mudah pada set pertama. Seruan penonton membuatku lebih bersemangat.

“Mia...Mia...Mia.....!!!” demikian teriak penonton berulang-ulang. Aplaus yang mereka berikan bergemuruh sehingga Universitas Georgia State, tempat pertandingan berlangsung, seakan runtuh! Aku semakin liar. Tekadku hanya satu, mengumandangkan Indonesia Raya di Atlanta!

Memasuki set kedua, staminaku mulai menurun. Gaya permainanku juga berubah jelek. Mungkin aku terlalu bersemangat saat set pertama tadi. Sebaliknya, Bang seperti mendapat “angin sorga”. Dia pintar membaca situasi, memanfaatkan penurunan staminaku untuk meraih angka. Dia menjadi gampang mengembalikan smash yang kuberikan dan balas memberikan permainan net yang mematikan! Aku kocar-kacir juga karena jangkauanku lebih pendek daripada Bang. Sorakan semangat dari penonton tak terdengar lagi. Yang ada cuma gerutuan dan cemoohan.

“Huu...Mia payah, huuu....turuuun..!”

Hatiku mulai panas. Kemana semua penghargaan dan kebanggaan yang tadinya diberikan penonton padaku? Mengapa mereka balik menjadi musuhku?

Aku tertantang. Kini bukan hanya Bang yang harus kutaklukkan, melainkan juga penonton! Diam-diam kuubah strategi permainan yang diciptakan lawan. Permainan net kuganti menjadi reli-reli panjang yang melelahkan. Yes, lawanku mulai kelihatan payah. Napasnya agak tersengal saat melayani permainan reliku. Di mataku, Bang kelihatan semakin tua. Aku tersenyum puas. Satu per satu angka mulai kuraih. Dan penonton menjadi milikku lagi.

“Hidup Miaa.....hidup Indonesiaa...!!!” teriak mereka.

Aku semakin garang. Berat badanku yang “agak lebih” tidak mempengaruhi permainanku. Sebaliknya, aku semakin lincah seperti kijang. Dan lawanku, semakin lama semakin tua. Kulihat badannya seperti bungkuk, rambutnya ubanan! Setelah pertandingan ini, lawanku memutuskan untuk “menggantung raket”. Dia ingin menghabiskan sisa umurnya dalam bentuk manusia normal, tanpa harus mempunyai beban mental. Aku tersenyum geli memikirkan khayalanku yang mengada-ada itu. Tapi Bang memang seperti harimau ompong yang mengunyah keripik pisang. Serba salah, serba sulit, serba payah!

Akhirnya set kedua berhasil kuselesaikan. Tekadku tercapai, target KONI terpenuhi, doa rakyat Indonesia terkabul. Aplaus dari penonton tiada berhenti. Ciuman yang mendarat di pipi dan keningku datang bertubi-tubi. Aku digendong rekan-rekanku di bibir lapangan. Aku terharu, aku bangga, aku bahagia.

“Ineeem....Neemm...!!”

Aku tersentak. Lamunanku buyar. Di teve, kulihat Bang Soo-Hyun menitikkan air mata saat lagu kebangsaannya dikumandangkan.

“Ineeeemm....!!”

“Ya  Nyonya, sebentaaar!!”

Nasib, pikirku. Ternyata aku masih Inem, pembantu rumah tangga yang kurang gizi, dan bukan Mia Audina!                     

*sesaat setelah menonton final bulutangkis tunggal putri, Olimpiade Atlanta, 1996                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer