Kamis, 13 April 2017

PERUT*



Kalau ditanya, pilih hidup atau mati, Jarot tidak akan memilih keduanya. Dia justru akan memilih perut! Yah, perutnya sendiri! Jarot memang sangat menyayangi perutnya, melebihi sayangnya pada orang tua, teman, keluarga, rekanan, bahkan dirinya sendiri! Jarot tidak akan rela membiarkan perutnya kosong barang semenit pun! Ia bersedia membasmi apa saja yang menghalangi keinginan perutnya. Apa pun akan diusahakannya demi membahagiakan perutnya yang sejengkal itu.

"Bagiku, perut lebih dari sekadar pelengkap organ tubuh. Perut merupakan seni, suatu keindahan tersendiri. Perut adalah titipan, amanah dari Tuhan. Aku harus menjaganya sebaik mungkin,” demikian Jarot berargumen.

Tapi Lewer, karibnya, tidak setuju dengan pendapat Jarot. Lewer menganggap Jarot terlalu berlebihan, terlalu memusatkan perhatiannya pada urusan perut. Bagi Lewer, perut adalah dunia tanpa batas, yang dapat memperbudak si empunya perut apabila terlalu memanjakan perutnya. Perut harus dikuasai, harus ditekan keinginannya.

"Dunia kita adalah dunia kerja,  bukan dunia perut!” komentar Lewer, "di era globalisasi sekarang, kita dituntut untuk bersaing merebut lapangan kerja, menciptakan kreativitas, dan disiplin kerja yang mantap. Semua itu diusahakan untuk masa depan kita, bukan untuk meninabobokan perut!”

"Tapi perut adalah segalanya!” Jarot bersikeras, "kau bekerja untuk satu tujuan, yakni mencari uang. Setelah memperoleh uang, kau pasti akan menyimpannya. Nah, satu-satunya tempat yang aman untuk menyimpan uangmu itu...ya di perut!”

"Omong kosong, nonsens!” Lewer membantah, "kerja memang menjadikan manusia money oriented, tapi itu bukan berarti kita harus memanjakan perut!”

"Kita memang harus memanjakan perut,” Jarot membandel, "kau harus ingat, dulunya kau berasal dari mana. Dari perut bukan? Sembilan bulan kau terperangkap dalam perut ibumu: makan, minum, kentut, berak, semua kau lakukan di perut. Nah, tidak salah toh, apabila kita membalas semua kebaikan perut dengan mengabulkan segala yang diinginkannya?”

Lewer tertegun mendengar ucapan Jarot yang berapi-api. Dirabanya kening Jarot, diperiksanya pergelangan tangan Jarot. Lewer geleng-geleng kepala.

"Kau betul-betul tidak waras,” gumam Lewer sembari bergegas meninggalkan Jarot sebelum ketularan gilanya.

Jarot hanya angkat bahu melihat sikap Lewer. Jarot merasa pendapatnya benar. Selama ini dia melihat banyak orang yang menelantarkan perutnya. Memberikan makanan dengan dosis tertentu untuk perutnya, mengikuti program diet untuk membatasi isi perut, atau ikutan senam untuk membatasi ruang gerak perutnya. Ini betul-betul tidak adil, unfair! Bagi Jarot semua itu sia-sia, percuma. Orang terlalu mengikuti egonya, membiarkan perutnya terlantar menahan selera.

"Selagi perutku masih mampu menampung segalanya, aku tidak akan membiarkannya sengsara!” itu tekad Jarot.

"Mereka tidak adil,” Jarot berkata pada perutnya sambil melahap seporsi besar sate kambing. "Mereka sebenarnya ingin sekali melahap apa saja untuk memenuhi keinginan perutnya, tapi mereka takut dikatakan congok, jadi mereka tahan seleranya!”

Perut Jarot yang membuncit mengangguk-angguk tanda setuju. Ia senang mempunyai tuan yang mengerti segala kebutuhannya. Tidak seperti perut Lewer yang lepes, ramping, kaku, dan tidak berbentuk.

"Kulihat kau tumbuh semakin besar saja,” komentar perut Lewer saat dipertemukan dengan perut Jarot dalam suatu jamuan makan.

"Hidupmu sungguh beruntung, mempunyai tuan yang baik hati yang mau mengabulkan segala keinginanmu. Tidak seperti tuanku yang selektif. Apa-apa dilarang, apa-apa dilarang! Sebel!”

Perut Jarot bangga sekali mendengar pujian itu. Ia semakin makmur dengan segala kebutuhan yang diberikan Jarot. Apa yang dimintanya, pasti dikabulkan Jarot. Mau es krim, sop ayam, spaghetti, donat, daun pintu, luka bakar, dendeng uang, semua diberikan Jarot. Pendek kata, perut Jarot tidak pernah dibiarkan istirahat dari kegiatannya sehingga bentuknya semakin indah, padat, dan berisi. Jarot sendiri sangat bangga akan bentuk perutnya itu. Ia sering memamerkan perutnya ke mana-mana. Ke kantor, supermarket, kebun binatang, seminar, simposium, pantai, sauna, panti pijat, apalagi saat jamuan makan.

"Tuan Lewer sering mengingatkan supaya aku tidak minta yang macam-macam,” kata perut Lewer saat berjumpa lagi dengan perut Jarot di kolam renang, "kalau aku minta yang macam-macam, penyakit yang menyerangku akan macam-macam pula.”

Tapi perut Jarot tidak terpengaruh dengan kata-kata perut Lewer. Buktinya, perut Jarot tetap berkembang bagus meskipun diisi macam-macam. Perut Jarot tetap berada paling depan di antara perut lainnya.

Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu ketika, Jarot bertengkar dengan istrinya. Jarot mendapati istrinya selingkuh dengan sopirnya sendiri.

"Papi terlalu sibuk memikirkan kebutuhan perut Papi sehingga melupakan apa yang dibutuhkan perut Mami!" demikian istri Jarot memberikan keterangan saat ketahuan bahwa nyawa sopir Jarot telah bersarang di dalam perut istri Jarot.

Jarot garuk-garuk kepala memandangi kepergian istrinya dengan sang sopir. Ia betul-betul terpukul dengan peristiwa itu. Ia sebenarnya sagat menyayangi perempuan itu, tetapi pesona perut Jarot mengalahkan segalanya.

Buntutnya, Jarot mengadakan aksi mogok makan. Tentu saja perutnya protes. Ia bergoyang-goyang keras supaya Jarot menghentikan aksinya.

"Hentikan kegilaanmu itu Jarot, aku bisa mati karenanya! Aku butuh makan, aku perlu tumbuh! Bukankah selama ini aku yang menjadi kebanggaanmu? Aku yang membuatmu berbeda dengan yang lain? Mengapa kau lakukan ini padaku Jarot, mengapa? Kau kejam, tidak berperikemanusiaan!”

"Diam!” bentak Jarot. Mukanya merah, tensinya mungkin mencapai dua ratus.

"Beri aku makan Jarot, aku lapar!”

"Tidak ada makanan untukmu, bedebah! Apa kau tidak tahu kalau aku sedang ditimpa masalah? Apa kau tak mengerti bahwa kaulah sumber kesulitan ini?” napas Jarot sesak, jantungnya berdebar-debar.

"Aku tidak peduli dengan masalahmu! Aku cuma mau makan...makan! Beri aku makan, Jarot, beri apa saja! Apa saja!”

Jarot panik melihat perutnya yang tidak mau diam. Ia segera melahap nasi, piring, gelas, film, buku porno, uang, rumput, batu bata, dan apa saja yang ada di dekatnya!

Malam harinya, Lewer menerima kematian dari salah seorang kerabat Jarot.

"Sakit apa?”

"Komplikasi!”

*terbit di harian Waspada, 6 Des 1996

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer