Setiap sore, sepulang dari kantor, aku melihatnya di pertigaan jalan itu. Laki-laki yang mengenakan jaket tebal, dilapisi rompi berwarna hijau terang. Celana jin panjang yang robek di bagian lutut, tak pernah alpa ia kenakan. Tak bisa kukenali wajahnya karena kepalanya terselubung hood dan topi pet. Syal (scarf) warna gelap bercorak batik dijadikannya masker sehingga menutupi wajahnya. Kaca mata hitam semakin melengkapi penampilan misteriusnya.
Tangannya bergerak lincah ke sana ke mari. Mengatur lalu lintas agar pertigaan sempit itu tidak macet. Dengan gagah berani dia berdiri di tengah pertigaan, menghentikan kendaraan yang coba menerobos, menyilakan kendaraan yang mendapat giliran berjalan.
Dia bukan petugas resmi, pastinya. Dia mungkin seseorang yang tergerak hatinya untuk membantu para pengendara agar leluasa bergerak di pertigaan sempit itu. Dia bekerja sukarela. Para pengendaralah yang memberi dia imbalan seadanya sebagai ucapan terima kasih telah mengatur lalu lintas di jalan itu. Apalah artinya seribu atau dua ribu perak dibandingkan kepuasan yang diperoleh pengendara saat kendaraannya berjalan lancar tanpa gangguan.
Seminggu belakangan aku tak melihatnya lagi. Sosoknya kini digantikan oleh dua lelaki gendut berseragam biru tua. Di belakang rompi mereka tertulis DISHUB. Laki-laki di pertigaan, ke manakah gerangan dirimu? Di manakah kini engkau mengais rezeki?
Di negeri ini, tidak hanya rumah penduduk yang digusur, tetapi juga lahan rezekinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar