Kamis, 08 November 2018

UKBI DUBAS 2018

Postingan ini cukup terlambat, karena kegiatan ini sudah dilaksanakan pada Agustus dan September 2018 yang lalu. Tetapi, ada satu catatan penting yang perlu diingat, yakni kita harus memanfaatkan setiap momen untuk melariskan dagangan kita, hehehe. Hloh, maksudnya?  

Ya, sebagai salah satu kegiatan bergengsi yang dihelat kantor, Pemilihan Duta Bahasa menjadi momen untuk menyosialisasikan UKBI. Melampirkan sertifikat UKBI sebagai salah satu persyaratan peserta kegiatan ini adalah jurus jitu menjual produk unggulan Badan Bahasa ini. Hal ini terbukti dengan antusiasme peserta mendaftar dan mengikuti tes UKBI. Skor dan predikat UKBI menjadi salah satu poin yang dinilai juri Pemilihan Duta Bahasa untuk lolos ke tahap berikutnya sehingga para peserta betul-betul mempersiapkan diri sebelum mengikuti tes ini. Tim UKBI juga sibuk melayani peuji, mulai dari pendaftaran, pengujian, penilaian, pencetakan sertifikat, sampai kepada penyetoran biaya tes UKBI ke negara. Pokoknya, UKBI laris manis deh.... 









Senin, 22 Oktober 2018

ASF KUMON

Advanced Student Forum (ASF) adalah program reward tahunan yang diberikan Kumon kepada siswa Kumon yang meraih level matematika atau Bahasa Inggris lima atau tujuh tingkat lebih tinggi daripada kelasnya. Reward yang diberikan berupa medali berlogo ASF yang diletakkan dalam tabung cita-cita masa depan.

Di Provinsi Jambi, ASF dihelat pada tanggal 30 September 2018 di Hotel Aston Kota Jambi. Sebanyak 20 siswa yang berasal dari 4 gerai Kumon di Kota Jambi diundang ke pertemuan ini. Wajah-wajah ceria dan antusias memenuhi ruangan yang diseting menjadi ruang ramah anak tersebut.
Undangan menghadiri ASF
Medali perak untuk siswa yang pencapaian levelnya lima tingkat lebih tinggi
Medali dan tabung cita-cita siswa Kumon
Sungguh suatu kebanggaan bagi para siswa yang berhasil meraih penghargaan tersebut. Belajar keras yang mereka lakukan selama setahun belakangan membuahkan hasil. Tidak hanya kemampuan mereka melebihi teman-teman di kelasnya, tetapi juga apresiasi yang diberikan Kumon menjadi pemicu semangat untuk menjadi yang terbaik. Terima kasih, Kumon. Semoga anak-anak Indonesia terus menorehkan prestasi yang membanggakan bangsa.

Ucapan selamat dari pimpinan Kumon

Foto bersama pimpinan Kumon dan siswa

Para siswa yang memeroleh penghargaan ASF Kumon 2018


Selasa, 28 Agustus 2018

Flying in the Rain

Gerimis deras yang membasahi kota ini belum juga berhenti. Penerbangan yang terjadwal pukul 11.15 terpaksa diundur beberapa menit. Terbang dalam kondisi seperti ini tentu mencemaskan sebagian penumpang. Berita buruk mengenai kecelakaan pesawat menghantui beberapa penumpang. Namun mereka yakin, pesawat berlabel "bintang lima" ini memiliki prosedur operasional standar dalam menangani berbagai kemungkinan yang terjadi.

Remaja putri berusia sekitar tujuh belas tahun itu duduk dengan gelisah. Wajah putihnya terlihat bertambah putih. Tubuh kurusnya yang terbalut jaket hood seperti memohon pertolongan. Jemarinya tak henti menggulir postingan terbaru di salah satu media sosial. Sesekali dia berdehem, mencoba menyembunyikan kegelisahan.

Sesaat sebelum pesawat tinggal landas, dia menonaktifkan ponsel. Dia tutupi rambut ikalnya dengan hood. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi. Matanya dipejamkan. Napasnya diembuskan agak keras. 

Aku melirik. Baru pertama kali terbang? Tanyaku. Dia menggeleng. Lalu kenapa cemas? Aku bertanya lagi. Hujan ternyata yang membuatnya cemas. Dia trauma terbang di tengah hujan. 

Aku menepuk punggung tangannya lembut. Jangan khawatir, kataku. Berdoa saja.

Aku tidak tahu apakah dia mengikuti saranku atau tidak. Tapi aku, terus terang saja, dari awal menapaki kaki di pesawat ini sampai duduk di seat yang ditentukan, tak henti berdoa. Terbang di tengah hujan sangat tak kuharapkan. Aku trauma.

Selasa, 21 Agustus 2018

Puasa Arafah

Pukul 2.30 pagi dia sudah terjaga. Menanak nasi dan memutar tombol mesin cuci. Selagi kedua mesin itu bekerja, dia menyiapkan bahan-bahan masakan. Ikan mujahir sebelum digoreng ditaburi garam dan dilumuri air jeruk nipis. Tak lupa dibubuhi bumbu kunyit dan bawang putih agar lebih gurih. Tempe dipotong kecil-kecil berbentuk dadu. Rencananya tempe disambal dengan ikan teri. Rebusan buncis dan sawi juga disiapkan. Makan sahur hari ini tentu akan terasa nikmat dan segar dengan menu masakannya itu.

Yah, hari ini dia dan anak-anak sudah berniat berpuasa Arafah. Si sulung sudah mewanti-wanti agar dibangunkan sahur. Si bungsu tak mau ketinggalan. Semangat anak-anak membuatnya bersemangat pula bangun dinihari untuk memasak makanan kegemaran anak-anak.

Pukul 4 pagi, semua sudah kelar. Cucian sudah dikeringkan. Nasi sudah masak. Ikan mujahir sudah digoreng. Sambal tempe dan teri siap dihidangkan. Sayur bening masih mengepulkan asap ketika terhidang di atas meja makan. Teh manis panas untuk si sulung dan susu hangat untuk si bungsu telah pula tersedia. 

Bergegaslah dia membangunkan anak-anak. Anak-anaknya yang baik. Tiada susah untuk terjaga. Setelah membersihkan diri di kamar kecil, mereka menuju meja makan. Begitu melihat hidangan yang tersedia, anak-anak tersenyum suka. Terima kasih, Ayah, sahut mereka sambil mencium pipinya.

Senin, 13 Agustus 2018

Selamat Jalan, Sang Maestro

Jumat, 10 Agustus 2018, dia berpulang...

Iskandar Zakaria -kami memangginya Pak Is-, pegiat seni tradisi Kerinci yang murah senyum dan senang bersenda gurau. Kecintaannya pada warisan budaya Kerinci dibuktikan dengan kegigihannya mengoleksi dan mendokumentasi benda-benda seni yang terlupakan. Beliau bahkan rela menggunakan uang pribadi demi menyelamatkan warisan budaya itu. Rumahnya di Jalan R.A. Kartini No. 88, Sungaipenuh, Jambi, dijadikan sebagai museum tempat penyimpanan koleksi berbagai benda seni. Rumah tersebut juga dijadikan tempat berkumpul dan berlatih anggota Sanggar Seni Ilok Rupo yang dirintisnya.

Beberapa koleksi keris yang dimiliki Pak Is


Salah sebuah tameng koleksi Pak Is

Koleksi guci antik

Koleksi bebatuan dari berbagai abad
Pak Is kerap membantu kami saat riset di Kerinci. Tahun 2014, ketika kami mendokumentasikan tradisi lisan Kerinci, Pak Is adalah orang yang pertama kami tuju. Beliau yang membawa kami menemui para pegiat tradisi lisan tersebut. Demikian juga saat mendokumentasi cerita rakyat Kerinci pada tahun 2015, Pak Is tetap dimintai tolong. Perekaman kosakata Bahasa Kerinci yang kami lakukan pada tahun yang sama, juga tak luput dari tangan dinginnya. Dan Pak Is selalu menerima kami dengan tangan terbuka. Tak pernah marah atau kecewa. Tak pula jemawa.

Bertemu Pak Is sebelum mengadakan riset (2015)

Bersama Pak Is sesaat sebelum melakukan perekaman sastra lisan (2015)

Pak Is memantau persiapan perekaman kosakata Bahasa Kerinci (2015)

Satu hal yang paling aku kagumi dari Pak Is adalah beliau tidak pernah alpa mengirimkan pesan singkat berisi ucapan Selamat Idul Fitri kepada semua kontak yang ada di ponselnya. Ini menandakan beliau tak pernah lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Dan aku, adalah salah seorang yang beruntung mendapat sms rutin itu. 


Saat pertama kali bertemu Pak Is (2014)

Bersama Emak, istri Pak Is yang selalu tersenyum meskipun telah kami repotkan (2015)
Sekarang Pak Is telah tiada, menyusul istrinya yang telah terlebih dahulu meninggalkannya. Semoga segala kebaikan yang beliau lakukan selama hidup menjadi ladang amal yang membawanya ke tempat terbaik. Istirahatlah dengan tenang, Pak Is. Giliran kami yang menjaga dan memelihara tradisi daerah.

Selamat jalan, Sang Maestro😭

Jumat, 10 Agustus 2018

Mak Itam

Mak Itam terseok-seok menjunjung keranjang dagangannya. Di dalam keranjang yang terbuat dari anyaman plastik itu tersusun beberapa bungkus rempeyek kacang. Beberapa bungkus kacang goreng terselip di antara bungkusan rempeyek kacang. Terselip pula beberapa helai koran bekas yang akan dijadikannya alas duduk saat menggelar dagangannya. Plus kantong plastik untuk membungkus dagangan yang akan dibeli pembeli.

Mak Itam menggelar dagangan sederhana itu di seputar kawasan bundaran kompleks perkantoran pemkot. Dia berdagang mulai pukul 19.00. Pada jam-jam itu, terutama malam libur, ramai warga bersantai di bundaran. Biasanya mereka membeli kudapan untuk menemani malam. Di samping itu, berdagang pada jam tersebut tidak akan dirazia Satpol PP, demikian pendapat Mak Itam. Lagian, siapa pula yang tega merazia perempuan tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu mengais rezeki??

Mak Itam, perempuan yang sudah puluhan tahun menjanda, seolah tak putus rezekinya. Dagangannya selalu habis dibeli orang. Entah karena rempeyeknya enak, entah karena kasihan. Pernah suatu kali, seseorang yang mengendarai mobil bagus, memborong habis dagangannya. Ada pula yang menjadi pelanggan setia. Setiap malam selalu membeli beberapa bungkus rempeyek dan kacang goreng tanpa mengharap uang kembalian.  

Mak Itam, janda tua itu, pantang mengharap belas kasihan orang. Apa pun akan dikerjakannya asalkan halal. Pernah dia keliling kompleks perumahan menjual sayuran dengan memakai troli (kereta dorong). Karena kakinya tak tahan lagi berjalan jauh, Mak Itam banting setir menjadi pedagang kudapan.

Mak Itam, janda tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun, tak pernah mengeluh dengan keadaannya. Dia percaya, kehidupannya sudah diatur sedemikian rupa. Dia percaya, orang baik ada di mana-mana. Dia percaya, ajalnya sudah tak lama. Dia percaya, orang-orang baik akan mengurus jenazahnya bila ajalnya tiba. Dia percaya, surga itu ada.

Mak Itam, yang duduk di boncengan sepeda motorku, berhenti bercerita. Seperti biasa, dagangannya habis tak bersisa. Sudah ini belok kiri ya, Nak, rumah Mak di ujung sana, katanya. Aku mengangguk sambil menyeka air mata.

Kamis, 09 Agustus 2018

Pakde

Entah mengapa dia dipanggil Pakde. Mungkin karena dia orang Jawa dan usianya sudah lebih tua daripada rekan-rekan kerjanya. Atau juga sebagai bentuk penghormatan karena dia sudah berpengalaman merasakan asam garam kehidupan.

Pakde tak pernah marah, padahal sering dirundung oleh beberapa rekan kerja. Pakde baik dan ramah, padahal rekan kerja tak membalas kebaikannya. Pakde ringan tangan, suka membantu rekan yang kesusahan.  Laptop rekan tak terkoneksi wifi, Pakde bantu sambungkan. Laporan pekerjaan rekan mendekati tenggat, Pakde bantu selesaikan. Bensin motor rekan habis, Pakde bantu belikan. Rekan ingin minum kopi, Pakde bantu buatkan. Rekan kehabiasan uang, Pakde bantu pinjamkan. Pakde bantu ini. Pakde bantu itu. Pakde bantu semua yang dia mampu.

Pakde tak harap imbalan atas jasa yang ia berikan. Pakde yang sederhana, tak silau akan harta. Andai semua yang disebut "Pakde" seperti Pakde, tentu kita sering ditraktir makan sate.... (hehehe).

Seminggu setelah lebaran, Pakde mengundang rekan makan-makan. Istri Pakde menyiapkan hidangan sedehana menggugah selera. Pindang patin, tumis pare, goreng tahu/tempe/ikan asin, lalap timun, sambal terasi, plus kerupuk ikan. Disediakan pula jeruk manis sebagai pencuci mulut. Rekan-rekan yang datang kelaparan, makan dengan lahap. Pindang disikat. Pare dihajar. Gorengan dikeroyok. Lalapan diserang. Sambal dihantam. Hanya kerupuk dan jeruk yang tersisa. 

Setelah semua hidangan di meja makan bersih, rekan-rekan mengucapkan terima kasih, sambil melirik istri Pakde yang putih.

Besoknya di kantor, Pakde dirundung lagi 😕


Senin, 06 Agustus 2018

No More August

Tidak ada lagi perayaan. 
   Tidak ada lagi kejutan.
      Tidak ada lagi makan-makan.
         Tidak ada lagi kue berhiaskan tulisan.

Bahkan tidak ada lagi ucapan.

Itu sudah kau tinggalkan.
Karena doa dan harapan bukan sekadar ucapan.
Yang datang setiap bulan ke delapan.

Selasa, 31 Juli 2018

Tak pernah puas

Kriwil mengambil ponselnya. Tak sabar ia mengabarkan pada emak. Sepeda motor kredit telah ia dapatkan. Akad jual beli telah ditandatangani. Uang muka telah dibayarkan sekian persen. Intinya, Kriwil tak perlu lagi susah payah mengejar angkot atau mengutak-atik aplikasi ojek daring.

Kriwil mengabarkan dengan bangga dan bahagia. Emak mendengar biasa saja. Reaksi yang tak sesuai ekspektasi. Merek apa? Emak bertanya dingin. Jawaban Kriwil membuat emak tambah dingin. Keluaran tahun berapa? Emak mengharap lebih. Jawaban Kriwil membuat hati emak pedih.

Kriwil tak mengerti. Emak tak pernah memuji. Atau bersenang hati. Apa yang dicapai Kriwil dengan susah payah, tak kunjung membuat emak semringah. Saat Kriwil diterima bekerja di pabrik kayu, emak mengeluh anaknya jadi buruh. Saat Kriwil bekerja di toko, emak terduduk loyo. Saat Kriwil naik tingkat menjadi guru honorer, emak tak mau pamer.

Kok beli yang begini, bukan begitu?

Kok bekerja di sini, bukan di situ?

Kok seperti ini, bukan seperti itu?

Pertanyaan emak yang rutin. Senantiasa dijawab Kriwil selogis mungkin. Pertanyaan emak yang konyol. Tak urung membuat Kriwil merasa tolol. 

Emak maunya apa? 

Emak maunya apa sih?

Emak maunya apa sih, Mak?

Pertanyaan Kriwil yang rutin. Yang hanya tersimpan dalam batin.

Kamis, 26 Juli 2018

Kajian Literasi di Provinsi Jambi

Kajian literasi dilakukan untuk mengidentifikasi kemampuan literasi pelajar usia 15 tahun (kelas X) di Indonesia, terutama dalam hal literasi membaca. Pengumpulan data kajian ini dilakukan serentak di seluruh Indonesia pada bulan April--Mei 2018. Sekolah yang menjadi sampel kajian berjumlah sembilan sekolah di setiap provinsi dengan kriteria sudah melaksanakan UNBK mandiri tetapi belum pernah melaksanakan tes PISA (Programme for International Student Assessment).

Sekolah yang dijadikan sampel kajian literasi di Provinsi Jambi adalah SMA Negeri 2 Pelepat Ilir, SMA Negeri 3 Muarabungo, SMA Negeri 1 Jujuhan, SMA Ferdy Ferry Putra Kota Jambi, SMA Xaverius 1 Kota Jambi, SMA Negeri 1 Sungaipenuh, SMA Negeri 5 Merangin, SMA Negeri 4 Muarojambi, dan SMA Negeri 2 Muarojambi. Instrumen kajian berupa tes berbasis komputer yang terdiri atas tiga sesi, yaitu sesi tes kemampuan siswa, sesi angket siswa, dan sesi angket guru. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua sesi sekitar 2 jam. Tes yang dilakukan di sembilan sekolah sampel ini berjalan sukses dan lancar.

Berikut adalah beberapa dokumentasi yang berhubungan dengan pengumpulan data kajian literasi di Provinsi Jambi.
Siswa SMA Negeri 2 Pelepat Ilir serius mengikuti tes kajian literasi
Suasana tes di SMA Negeri 3 Muarabungo
Meskipun lelah, siswa SMA Negeri 1 Jujuhan tetap semangat mengikuti tes
Penyerahan suvenir kajian literasi kepada siswa SMA Ferdy Ferry Putra Kota Jambi
Salam literasi dari siswa SMA Xaverius 1 Kota Jambi
Siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungaipenuh yang menjadi peserta tes
Penyerahan cenderamata kepada Kepala SMA Negeri 5 Merangin
Pelaksanaan tes kajian literasi di SMA Negeri 4 Muarojambi
Siswa SMA Negeri 2 Muarojambi memperlihatkan suvenir kajian literasi
Suvenir kajian literasi berupa dompet pensil dan buku cerita rakyat Jambi
Tim kajian literasi beserta proktor SMA Ferdy Ferry Putra

Hasil tes kajian literasi sampai saat ini masih digodok di Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Semoga hasil tes kajian literasi siswa di Provinsi Jambi bagus-bagus yaa💪😍

Logo Gerakan Literasi Nasional (gln.kemdikbud.go.id)

Maskot Gerakan Literasi Nasional (gln.kemdikbud.go.id)

Senin, 09 Juli 2018

Sibolga nauli

Kota Sibolga di kejauhan


Sudah berpuluh tahun tak menginjakkan kaki ke bumi kelahiran orang tuaku. Kecantikannya tak jua luntur. Kecantikan yang tak bisa kuungkapkan lewat kata-kata. Foto-foto berikut mungkin dapat merepresentasikan keindahan wisata laut daerah ini😍 (taken by me).



Teluk Sibolga

Berlayar ke Pulau Poncan

Menikmati senja

Tempat peristirahatan

Jumat, 06 Juli 2018

Barbar

Bahwa jabatan bisa membuat orang lupa akan janjinya, itu benar. Bahwa kekuasaan dapat mendorong seseorang bertindak semena-mena, itu benar. Itu benar, itu fakta, itu nyata.

Entah apa yang membuat kami seperti itu, padahal di pundak kami banyak harapan bersandar. Harapan agar kami dapat menciptakan lingkungan kerja menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih kondusif, lebih transparan.  Harapan agar kami dapat membuat orang-orang menjadi lebih kompak, lebih peduli, lebih sejahtera. Harapan yang tak sesuai harapan. Yang sudah kami singkirkan diam-diam.

Kami tak pandai berkomunikasi, tak pandai mencari solusi, tetiba langsung eksekusi. Itu yang menyebabkan kami otoriter. Tak peduli. Masa bodoh. Tangan besi. Koboi.

Bila ada orang berdiri di tepi jurang, kami mendorongnya jatuh. Bukan menariknya menjauh.

Kami barbarian.

😈

Rabu, 04 Juli 2018

Berkah Kepulangan

Bulan apa ini ya??? Juli 2018? Wow, sudah setahun berlalu sejak postinganku terakhir. Hahayyy...lama sekali tak mengudara ternyata😃. Banyak kejadian yang sudah tak ingat lagi untuk diceritakan. Banyak canda, banyak tawa, banyak tangis yang luput terbagi. Di antara sekian banyak kisah yang luput dibagi, ada satu yang membekas. Kisah kepulanganku ke tanah kelahiran beberapa minggu lalu.

Yah, aku pulang. Bukan untuk berlebaran. Bukan pula untuk bersenang-senang. Ibu terbaring di rumah sakit. "Penyakit perempuan" yang dideritanya mengharuskan beliau untuk dioperasi. Operasi ringan memang, namun tak urung membuat aku bergegas pulang.

Begitu pesawat mendarat di tanah kelahiran, aku langsung naik kereta menuju rumah sakit. Jam di tangan menunjukkan pukul 22.30. Setengah jam kemudian aku tiba di rumah sakit dan langsung ke ruangan tempat Ibu dirawat. Ibu yang tertidur perlahan terbangun saat kucium pipinya. Terjadilah adegan film India (😭) karena Ibu tidak menyangka aku akan pulang. 

Kabar kepulangan segera viral di grup-grup wa (hallah!). Tak disangka tak dinyana, teman-teman SD, SMP, SMA, bahkan PT, silih berganti menjenguk Ibu. Ada saja yang dibawa sebagai buah tangan. Ada saja yang diceritakan. Ada saja yang dikabarkan. Dan kehadiran mereka menjadi penyejuk bagi keluarga kami. #semogaAllahmembalaskebaikankalian

Kepulangan yang membawa berkah, demikian aku menyebutnya.

Entri Populer