Kamis, 31 Desember 2015

PENGHUJUNG TAHUN


bahwa jodoh, rezeki, dan maut adalah rahasia Yang Mahakuasa....


Selalu berulang peristiwa itu. Setiap tahun. Setiap bulan. Setiap hari. Setiap detik. Setiap waktu...

Kabar menggembirakan datang dari sahabat baikku. Dia hamil anak kedua. Alhamdulillah... Kehamilan yang sangat diharapkan. Perjuangan yang ia lakukan untuk memeroleh anak kedua tidaklah sia-sia. Perjuangan yang juga pernah aku alami. Semoga Allah menyehatkan mereka, ibu dan bayinya...

Beberapa bulan berikutnya, seorang teman memposting foto-foto liburannya di Negeri Singa. Masya Allah... Negeri yang tercatat dalam bucket list-ku. Negeri yang selalu membuat penasaran. Penasaran karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat aku berdomisili, tetapi tak juga bisa aku menyentuhnya... 

Seminggu yang lalu seorang teman mengabarkan bahwa pada bulan ini dia diberikan rezeki dan kesempatan untuk umrah ke Tanah Suci. Subhanallah, alangkah beruntungnya temanku itu. Jauh sebelum aku membuat bucket list, Tanah Suci telah terpatri dalam hatiku sebagai tempat yang harus aku kunjungi. Tanah Suci adalah tanah yang aku idam-idamkan, yang aku rindukan untuk aku rangkul. Tanah yang membuat diri semakin dekat dengan-Nya.

Kemarin aku dikejutkan dengan kabar duka yang menimpa salah seorang teman. Temanku itu mengembuskan napas terakhir setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Innalillahiwainnailaihirojiuun... Padahal beberapa hari sebelumnya aku masih bertemu beliau. Masih dengan gaya khasnya yang tak mungkin aku lupa. Kematian menjemputnya tanpa permisi. Kematian menjemputnya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Kematian yang kelak mendatangiku...

Dan apalah yang diharapkan setiap mukmin selain bertemu dengan-Nya...


Jumat, 25 Desember 2015

PEAK SEASON and A WISH



Musim liburan telah tiba. Tak ada yang dia lakukan selain duduk cantik di depan televisi. Yah, keterbatasan dana memaksa dia dan keluarga mengurungkan niat untuk bepergian di liburan akhir tahun ini. Ada yang lebih penting yang akan kita lakukan tahun depan, demikian kata suaminya. Sebaiknya kita persiapkan dana untuk itu.

Untungnya anak-anak mengerti. Tak menuntut pergi liburan meskipun beberapa teman mereka menghabiskan masa liburan ke beberapa objek wisata di luar daerah. Mereka memilih bermain dengan anak tetangga yang juga kebetulan "ngetem" di rumah. Atau bermain sepeda. Menonton televisi -sama seperti dirinya- dan membaca buku-buku favorit mereka.

Suaminya, seperti biasa, banyak menghabiskan waktu ke masjid. Salat berjamaah dan membaca Alquran di sana. Oh, mengapa dia tidak bisa seperti itu?? Lebih sering memanjatkan syukur ke hadirat Yang Mahakuasa atas kesehatan dan kemudahan yang ia peroleh sepanjang tahun ini? Itu mungkin lebih baik daripada menyia-nyiakan waktu di depan teve. Tidak usah ke masjid, cukup di rumah saja. Tetapi godaan setan memang berat untuk dihindari. Kenikmatan dunia lebih mudah untuk dilakoni. Astaghfirullah...

Hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah datang pada orang-orang yang mau mengubah dirinya. Dan dia bertekad mengubah dirinya. Tidak serta-merta. Tidak sekaligus. Dari yang kecil saja dahulu. Semoga saja tekadnya terwujud. Semoga saja setannya takluk.

I wish...


Senin, 21 Desember 2015

SUATU SORE DI SUDUT PRODIA

September 2015

Perempuan berkerudung hitam itu terisak pelan. Bahunya terguncang pertanda tangis yang tertahan. Selembar kertas berisi hasil pemeriksaan laboratorium melekat di tangannya.

Dia kembali membaca hasil lab itu. Berharap tulisan yang ada di kertas itu tidak seperti yang dibacanya. Berharap dia salah baca. Berharap petugas lab salah ketik. Berharap petugas lab salah diagnosis.

Tetapi tak ada perubahan yang terjadi dalam tulisan di kertas itu. Ini adalah kenyataan yang terjadi. Kenyataan pahit yang harus diterimanya. Kenyataan yang sedikit pun tak pernah terbayang di benaknya. Kenyataan yang kelak memengaruhi masa depan putrinya. Putrinya yang masih berusia tujuh tahun...

Putrinya didiagnosis terpapar bakteri diplococcus gram negatif. Bakteri yang bisa ditularkan oleh orang dewasa yang sudah berhubungan seks dan suka bergonta-ganti pasangan. Bagaimana mungkin??? Rasanya dia dan suaminya normal-normal saja, tidak ada kebiasaan yang aneh-aneh. Suaminya juga bukan tipe lelaki yang doyan "jajan" di luar. Kehidupan seksual mereka baik dan berjalan sesuai dengan ajaran agama. Lingkungan sekitar rumah mereka juga aman-aman saja. Tidak pernah mereka membiarkan putrinya bermain di sembarang tempat. Dan mereka senantiasa mengawasi putrinya itu kemana pun dia bermain. Jadi, putrinya tertular dari siapa???

Ada dua kemungkinan, demikian kata dokter spesialis kelamin tempat mereka berkonsultasi. Dari subjek (orang dewasa) langsung atau terpapar dari lingkungan yang kurang bersih. Kalau dari subjek langsung, dia meragukan itu. Karena dari perilaku putrinya tidak ada tanda-tanda trauma yang menunjukkan putrinya pernah mengalami (maaf) pelecehan seksual. Sikap putrinya biasa saja. Lincah, periang, terbuka, dan perilaku normal lainnya. Bisa jadi dari lingkungan. Mereka memang pernah berlibur dan menginap di hotel yang tidak terlalu mewah. Mungkin terpapar dari handuk hotel, kloset, atau benda lain. Tapi...kemungkinannya kecil. Dokter pasti salah, katanya. Dokter pasti salah...

Aku menepuk-nepuk bahunya. Tak tahu harus berkata apa. Perempuan itu tak lagi meneruskan ceritanya selain bergumam "dokter pasti salah, dokter pasti salah..."

Aku ikut menangis.


hasil sekret vagina menunjukkan adanya bakteri diplococcus

Oktober 2015

Sepuluh hari kemudian aku bertemu lagi dengannya di klinik ini. Dia mengatakan bahwa dia sudah melakukan sekret vagina untuk melihat apakah sumber bakteri itu berasal dari dia. Suaminya melakukan sekret uretra. Hasil tes menunjukkan bahwa mereka negatif terpapar bakteri diplococcus. Alhamdulillah, kataku. Dia tersenyum, mengucapkan terima kasih dan berlalu dari tempat itu.


Desember 2015

Entah secara kebetulan atau tidak, aku bertemu lagi dengannya dua bulan kemudian. Masih di klinik yang sama. Matanya tidak lagi sembab seperti pertama kali kami bertemu. Dia mengatakan bahwa putrinya sekarang sedang dalam proses pengobatan. Putrinya sudah memakan tiga macam antibiotik namun hasil lab masih menunjukkan adanya bakteri yang sama yang bersarang pada alat vital putrinya. Dokter menyarankan agar bakterinya dikultur atau dalam istilah kedokteran disebut bakterien kultur. Bakterinya dikembangbiakkan untuk mengetahui antibiotik apa yang resisten dan sensitif pada bakteri tersebut. Hasil kultur akan menunjukkan pengobatan apa yang pas bagi penyembuhan penyakit putrinya.

Pasti biaya kultur mahal, kataku. Dia mengiyakan. Ratusan ribu selalu dia keluarkan setiap kali berobat. Tetapi kesembuhan putrinya jauh lebih mahal dibandingkan angka-angka tersebut. Uang bisa dicari, katanya. Tetapi masa depan anakku jauh lebih berarti.

Petugas klinik memanggil nomor antrean. Perempuan itu bangkit dari duduknya dan memanggil seorang anak perempuan yang sedari tadi asyik menonton televisi yang ada di ruang tunggu klinik itu. Aku terkesiap. Gadis kecil berjilbab itu berjalan riang mendekati ibunya, memegang tangan ibunya, dan bersenandung kecil mengikuti gerak langkah ibunya. Anakku dikultur dulu, mbak. Aku tergagap, tak sempat membalas pamitannya. Tiba-tiba sudut mataku terasa hangat.

                                                                                   ***

Aku melihat gadis kecil berjilbab itu. Dia sedang duduk di ruang tunggu studio 21 bersama seorang perempuan berjilbab pula. Aku menghampiri mereka, menegur mereka, berharap mereka masih mengingat aku. Si ibu langsung bangkit dan memelukku. Anakku sudah dinyatakan sembuh, katanya tanpa kuminta bercerita. Hasil kultur menunjukkan bakterinya tidak berkembang biak. Dengan kata lain, bakteri itu sudah mati, yang tinggal hanyalah flora normal, bakteri baik yang mendiami genitalia putrinya. Aku memuji kebesaran Allah. Mencium kedua pipi putrinya. Mau nonton apa, tanyaku. The Good Dinosour...



Minggu, 11 Oktober 2015

MAGIC HANDS


Sabtu, 10/10/15 adalah hari yang ta'kan kulupakan...

Saat itu, seperti biasa, aku menjemput putri kecilku pulang dari sekolah. Padatnya tempat parkir memaksaku untuk parkir di pinggir jalan saja, tepatnya di tepi got yang dindingnya dilapisi beton dari batu. Jalan di tepi got tersebut tidak rata dengan aspal sehingga cukup menyulitkan bagi pengendara sepeda motor amatiran seperti aku. Firasat bahwa aku akan mengalami kesulitan parkir di tempat itu sebenarnya sudah ada. Tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Benar saja. Sesaat setelah anakku tiba di tempat aku parkir, aku segera menyalakan sepeda motor. Motor langsung bergerak dan aku kehilangan keseimbangan. Motor oleng ke kiri tanpa kakiku sempat menahannya. Kami pun terjatuh. Naas bagiku, aku langsung jatuh ke got setelah sebelumnya pelipis kiriku terbentur dinding beton got yang terbuat dari bebatuan tak rata.

Darah langsung mengucur deras membasahi wajahku. Seruan Allahuakbar dan Astaghfirullah keluar dari mulutku. Beberapa orang tua murid yang ada di lokasi kejadian segera menolongku. Mengangkat tubuhku, mengangkat sepeda motor yang menindih kakiku, menempelkan jilbabku ke pelipis guna menahan derasnya darah yang mengucur di wajahku.

Magic hands.... Yah, tangan-tangan ajaib yang tak aku kenal serta-merta terulur padaku saat itu. Menolongku mengamankan sepeda motor, membawaku ke klinik terdekat, menyelamatkan aku dari kesulitan.

Di klinik, magic hands kembali menghampiriku. Petugas kesehatan dengan sigap dan trampil membersihkan luka di pelipisku. Menjahitnya dengan rapi, memberiku obat dan kata-kata yang menenangkan.

Magic hands juga hadir di lingkungan tempat aku tinggal. Bagaimana tetangga dan teman menolongku dengan tulus. Membawaku ke tukang urut karena kaki kiriku bengkak akibat tertimpa motor. Membawakan makanan agar aku bertenaga kembali. Membawakan doa dan harapan agar aku segera pulih.

Magic hands yang paling magic kutemukan di keluargaku.... Si sulung dan si bungsu bergantian memapahku kalau aku butuh ke kamar kecil. Ciuman penyemangat tak henti mendarat di pipi dan keningku (Alhamdulillah putri kecilku tidak mengalami luka sedikit pun. Dia baik-baik saja meskipun terlihat sedikit syok). Belum lagi suamiku yang siaga setiap waktu. Suami yang bertanggung jawab, yang bisa menggantikan posisiku di rumah tangga saat kesakitan menderaku. Tak pernah ada keluhan atau pancaran kelelahan yang kulihat selama ia merawatku.

Puji syukur kepada Allah, aku masih dikelilingi orang-orang yang perhatian kepadaku. Semoga Allah membalas kebaikan semua orang yang telah menolongku tanpa pamrih. Sungguh, aku tidak akan melupakan magic hands itu....

Sabtu, 19 September 2015

B E L L A


Namanya Bella. Umurnya sekitar enam tahun tapi perawakannya kecil kurus serupa anak tiga tahun kekurangan gizi. Pembawaannya ramah, lincah, dan ceria. Selalu menyapa para tetangga yang lewat di depan rumahnya. Memberikan senyum manis sembari memamerkan gusi hitamnya yang ditumbuhi deretan gigi yang tak karuan bentuknya. Kegemarannya berceloteh, tak peduli dinihari atau tengah malam. Dia hanya diam kalau sudah tertidur.

Rambutnya keriting pendek dan kasar. Berwarna kemerahan serupa karat besi yang menempel di paku. Kulitnya hitam, kering, bersisik, dan dipenuhi oleh bentolan kecil yang selalu menimbulkan rasa gatal. Tak heran bila gadis kecil itu doyan menggaruki sekujur tubuh kurusnya.

Pertama melihat perawakannya itu, orang akan segera jatuh kasihan. Orang akan berpikiran bahwa gadis kecil itu penyakitan, lemah, dan kurang gizi. Tapi hei...don't judge a book by its cover!!! Gadis itu memang kurus. Gadis itu memang kecil. Sering menggaruki bentolan-bentolan kecil di tubuhnya. Rambutnya kering berkarat. Giginya tak sempurna. Penampilannya memang seperti itu tapi jangan ditanya staminanya... Dia lincah. Lincah sekali. Berlarian mengitari rumahnya sepanjang hari (orang tuanya memang tidak pernah mengizinkannya keluar rumah). Memanjat pagar rumah dan berjalan di kisi-kisi pagar itu, sambil menggaruk-garuk tubuhnya tentu. Daya tahan matanya juga luar biasa. Kalau anak-anak tetangga biasanya tidur malam paling lambat pukul 23.00, dia masih melek dan mengoceh tentang apa saja. Mengoceh tanpa lawan bicara. Mengoceh sendirian karena kedua orang tuanya sudah tertidur terlebih dahulu, tak sanggup lagi melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Bella. Mengapa gadis secantik dan selincah dirimu bisa tumbuh seperti itu. Orang tuamu pernah bercerita bahwa kau sama seperti anak normal lainnya saat dilahirkan hingga berusia dua tahun. Memasuki tahun ketiga, kau terserang demam tinggi dan dibawa ke dokter. Setelah mengonsumsi obat-obatan dokter itulah pertumbuhanmu terhambat. Badanmu tak bertambah tinggi. Gigimu keropos habis. Bentolan kecil mulai tumbuh di sekitar kaki, tangan, dan leher. Bentolan yang membuatmu menangis karena rasa gatal yang tak tertahankan.

Orang tuamu sudah berulang membawamu ke dokter dan tak juga ada perubahan pada dirimu. Mereka mengaku pasrah dengan keadaanmu. Berusaha nrimo dengan kondisimu. Tak tahu harus menuntut dan menyalahkan siapa. Kami hanya rakyat kecil dan bodoh, kata mereka. Tak pantas bermimpi terlalu tinggi.

Dan kau Bella, pada akhirnya pun terbiasa dengan keadaanmu. Menikmati gatal-gatal di sekujur tubuhmu. Tak sungkan memamerkan gusi hitammu. Toh kau lincah melebihi anak yang normal sekalipun. Kau sehat seperti teman-teman sebayamu.

Tumbuhlah menjadi gadis cantik yang penuh percaya diri, Bella.

Minggu, 13 September 2015

ULANG TAHUN


dia sudah menandai tanggal kelahirannya itu di kalender sejak enam bulan yang lalu dengan tinta merah.

dia berharap dapat merayakan ulang tahun seperti teman-teman sekolahnya. mengundang teman-teman ke rumah, potong kue dan tiup lilin, memakai gaun yang indah, menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan membagikan bingkisan ulang tahun kepada setiap tamu yang datang. pasti akan sangat mengasyikkan karena dia akan mendapatkan kado sebanyak tamu yang datang.

pernah pula seorang teman merayakan ulang tahun di sebuah restoran siap saji. sangat meriah. ada badut, balon, makanan dan minuman yang enak, serta bingkisan berisi jajanan dan paket ayam goreng. semua anak bergembira. semua memakai pakaian bagus, apalagi yang berulang tahun. pakaiannya serupa dengan yang dipakai putri elsa di film frozen. cantik sekali.

tapi dia tahu ibunya tidak akan mengabulkan keinginannya. ibunya pernah mengatakan bahwa ulang tahun itu dirayakan dengan keluarga saja. dan kita harus berdoa, berterima kasih kepada Allah karena sudah diberikan umur dan kesehatan. sebenarnya dia tidak terlalu memahami mengapa ritual ulang tahun yang dilaluinya berbeda dengan teman-teman sekolahnya. tapi dia tidak pernah protes karena kata-kata ibu plus pelukan hangatnya membuatnya merasa tak perlu menyampaikan pertanyaan "kenapa" lagi.

jadi begitulah. saat ulang tahunnya datang lagi tahun ini, ritual itu kembali dilakukan. kecupan ibunya di pagi hari membangunkannya. ucapan selamat ulang tahun diterimanya dengan senang hati. lalu ibunya mengajaknya salat subuh dan berdoa mengucap syukur atas umur dan kesehatan yang diberikan Allah. setelah mandi dan sarapan, mereka akan memotong kue ulang tahun sederhana yang dibeli ibunya di toko kue. tanpa tiup lilin, tanpa gaun indah, tanpa nyanyian selamat ulang tahun, tanpa pesta.

tapi begitu pun dia sudah bahagia.


Senin, 07 September 2015

ÅŘŤ ATTACĶ

Dia tak akan melewatkan acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi berbayar itu. Acara yang menyajikan keterampilan melukis dan mewarnai: art attack. Saking fanatiknya, dia selalu menyetel alarm di televisi yang bertujuan untuk mengingatkannya kalau acara tersebut telah dimulai.

Acara itu sangat menyita perhatiannya. Model krayon yang bermacam-macam, cat air dan beragam bentuk kuasnya, perpaduan warna yang cerah, membuatnya betah berlama-lama memelototi televisi. Belum lagi kelucuan si pembawa acara yang kadang membuatnya tergelak. Ditambah hasil prakarya yang ditampilkan di acara itu, membuatnya berdecak kagum.

Bukan tanpa alasan dia seperti itu. Sejak berusia tiga tahun sudah kelihatan bakat "art attack"nya. Selalu mengikuti berbagai even lomba mewarnai, baik yang diselenggarakan oleh paudnya maupun pihak lain. Memang belum pernah meraih gelar juara tetapi gairah untuk bereksperimen dengan beragam warnalah yang membuatnya bersemangat.

Pernah ibunya mendaftarkannya ke sebuah sanggar lukis dengan harapan bakatnya dapat terasah lebih baik lagi. Sayang, pertemuan pertama di sanggar tersebut kurang mengena di hatinya sehingga dia terlanjur ilfeel dan tidak mau datang lagi ke sanggar itu. Alhasil dia belajar sendiri saja di rumah. Bersama program kesayangannya, art attack.




Kamis, 03 September 2015

KABUT ASAP

Kabut asap berarti liburan, yaaayy!!!!

Itu yang terbersit di benak dua sahabat karib itu. Yah, kabut asap yang rutin menyelimuti kota mereka setiap tahunnya, membawa kebahagiaan tersendiri bagi bocah-bocah yang masih berstatus pelajar sltp itu. Tidak mereka hiraukan dampak kabut asap bagi kesehatan mereka. Tidak, mereka tidak peduli itu! Yang mereka tahu, sekolah akan diliburkan setiap musim kabut asap datang.

Dan pada tahun ini, sekolah kembali diliburkan akibat kabut asap yang semakin menebal. Libur kali ini bahkan lebih panjang daripada libur kabut asap tahun lalu. Ini artinya waktu untuk menonton televisi, bermain game, atau bermedia sosial, juga akan lebih panjang. Apalagi orang tua mereka bekerja, tidak ikutan libur, berarti bebas dari pengawasan orang tua yang kadang-kadang nyinyir dan cerewet mengurusi mereka. Duh, seandainya kabut asap bisa terjadi sepanjang tahun....alangkah nikmatnya!!!

Apa yang menyebabkan kabut asap ini? Mengapa tiap tahun terjadi? Mengapa tak bisa ditanggulangi? Siapa yang harus bertanggung jawab? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentulah tidak muncul di benak mereka. Tentulah tidak paham mereka dengan ISPU dan ISPA. Tak peduli mereka apabila ISPU sudah mencapai angka tertentu, seseorang akan menderita ISPA. Tak urusan mereka itu, tak kerjaan mereka itu.

Salahkah bocah-bocah itu???


Minggu, 28 Juni 2015

Anak ayam kehilangan induk

Gadis kecilku takjub melihatnya. Takjub melihat puluhan anak ayam berbulu warna-warni yang dijual di sudut pasar bedug ini. Suara ciapan anak ayam semakin membuatnya tertarik. Gadis kecilku memandang penuh harap ke arahku. Berharap dibelikan seekor anak ayam berbulu ungu.

Aku mengecup keningnya, menolak secara halus. Kasihan anak ayam itu, kataku. Kalau kamu membelinya, dia pasti akan berpisah dengan saudara-saudaranya, dengan temannya, dengan keluarganya. Dia akan kesepian dan ketakutan.

Gadis kecil belum puas dengan penjelasanku. Dia mengatakan bahwa anak ayam itu lucu, warnanya ungu, suaranya merdu. Tahukah kamu? Aku kembali menatapnya. Suara itu bukan berarti nyanyian, bukan berarti riangan. Suara itu mungkin kesedihan, karena dia merindukan orang tuanya. Atau karena bulu yang dicat warna-warni itu membuatnya kesakitan...

Gadis kecilku mengangguk tanda mengerti. Tak lagi merengek minta dibelikan anak ayam warna-warni. Dia pun pulang dengan senang hati. Sampai di rumah, dia kaget tak mengerti. Seekor anak ayam berwarna pink wara-wiri. Ternyata itu anak ayam milik temannya yang tinggal tidak jauh dari rumah kami. Anak ayam itu sendiri, menciap-ciap sepanjang hari. Mencari-cari, mungkin mencari induknya, atau saudaranya, atau temannya...

Gadis kecilku memandang anak ayam itu dengan iba. Entah apa yang ada dalam pikirannya...

Jumat, 01 Mei 2015

LABOUR DAY


Lima belas tahun yang lalu, ketika mayday belum menjadi hari libur nasional...

Suara mesin bergemuruh seperti biasa di pabrik kayu tersebut. Asap hitam mengepul keluar melalui blower. Operator forklift wara-wiri mengoperasikan kendaraannya yang memiliki pengungkit serupa garpu itu, dari gudang bahan baku menuju gudang produksi. Teriakan mandor menginstruksikan bawahannya untuk memproduksi orderan klien beradu keras dengan suara mesin, berbanding terbalik dengan para karyawan yang mengerjakan tugasnya dalam diam.

Satu jam kemudian, suara keributan lain muncul dari arah gerbang depan. Klakson sepeda motor dibarengi teriakan orang supaya gerbang pabrik dibuka, menciutkan nyali satpam yang bertugas. Tak ingin terjadi bentrokan, manajemen pabrik mengizinkan satpam untuk membukakan gerbang.

Puluhan sepeda motor pun menyerbu masuk ke lokasi pabrik. Klaksonnya tetap dinyalakan, membuat para karyawan yang sedang bekerja teralih perhatiannya. "Berhenti kerja…berhenti kerja..!!!!!" teriak pengendara motor. Suara mesin pun terhenti. Blower dan forklift terdiam. Berganti dengan seruan lantang seseorang dari salah satu sepeda motor.

"Kawan-kawan, hari ini tanggal 1 Mei, hari buruh. Hari kita semua!!! Hari ini adalah hak bagi kita untuk tidak berproduksi, hak bagi kita untuk menikmati liburan!!! Tidak ada satu pun pabrik yang boleh beroperasi pada hari ini!!! Tidak ada satu pun buruh yang bisa dipaksa bekerja hari ini!!! Hari ini milik kita, milik buruh!!!"

Seruan yang berapi-api itu langsung disambut teriakan "HIDUP BURUH" dari semua pekerja yang berada di sana. Mereka segera melepaskan celemek kerjanya, berhamburan keluar mengambil kendaraan masing-masing, berkonvoi melakukan sweeping ke berbagai pabrik yang tetap memaksa karyawannya bekerja pada hari istimewa itu. Setelah mengumpulkan massa, mereka pun menuju alun-alun, tempat yang telah mereka janjikan sebagai titik kumpul berdemonstrasi dan berorasi. Menuntut persamaan hak. Menuntuk kenaikan upah. Menuntut perlakuan yang lebih manusiawi. Menuntut keadilan.


Kami, para buruh, saat ini bisa bernapas lega karena pemerintah -pada 29 April 2013 yang lalu- telah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Tetapi nasib kami, agaknya belum bisa menjadi prioritas keadilan, baik dari segi pembayaran upah,  pengerahan tenaga, maupun perlakuan yang lebih manusiawi.


*based on true story

Sabtu, 25 April 2015

AYYUM

Gadis kecil yang cantik. Rambutnya ikal, hitam, lebat, dan panjang. Matanya bening, hidungnya mancung, bibirnya lekuk sempurna. Perawakannya juga bagus. Postur tubuh yang tinggi, melebihi tinggi anak-anak seusianya plus padat berisi. Aku bayangkan dia sepuluh tahun ke depan. Mungkin dia bisa jadi anggota paskibra di sekolah, masuk klub basket, atau wara-wiri di atas catwalk.

Tak ada yang menyangkal kalau dia gadis kecil yang ramah. Saat bertemu orang yang lebih tua, dia akan menyapa dengan senyumnya. Saat berpapasan dengan teman sebaya, dia menegur ceria. Kalau ditanya, dia akan menjawab dengan bahasa yang sempurna. Siapa pun gemas melihatnya. Siapa pun ingin merangkulnya. Siapa pun ingin menjadi ibunya.

Tapi Ayyum, gadis kecil itu... Hidupnya tak secantik wajahnya.  Masa kecilnya tak sesempurna lekuk bibirnya. Masa depannya tak sebening matanya.

Ayah dan ibunya kerap bertengkar. Melontarkan caci maki dan sumpah serapah di hadapannya. Menendang bokongnya kalau dia merengek menginginkan sesuatu. Memaki-makinya kalau dia tidak menurut.

Belum lagi nenek yang cerewet. Selalu mengomel kalau dia tidak duduk diam di rumah. Menyeretnya pulang kalau kebetulan dia bertandang ke rumah tetangga. Menggebuk punggungnya kalau dia melawan. Mencubit pipinya kalau dia menangis.

Anak sekecil itu. Anak secantik itu. Anak sepolos itu. Mengapa tak redam kemarahan orang tuanya melihat mata bening itu. Mengapa tak luluh hati orang tuanya melihat lekuk sempurna itu. Mengapa...Mengapa???

Aku membayangkan Ayyum sepuluh tahun lagi. Apa yang akan terjadi dengannya???


Rabu, 08 April 2015

Salat Sunat Gerhana


Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah keduanya menjadi tanda dari tanda-tanda keagungan Allah, terjadinya dua gerhana (matahari dan bulan), bukan karena mati dan hidupnya seseorang. Maka apabila kamu menyaksikan gerhana matahari atau bulan, hendaklah kamu berdoa kepada Allah dan salatlah sampai gerhana selesai."

Demikianlah. Ketika gerhana bulan terjadi pada senja tanggal 4 April 2015 yang lalu, kami sekeluarga melaksanakan salat sunat gerhana untuk pertama kali. Selama ini kami hanya mengetahui tentang cara pelaksanaan salat ini melalui buku atau bacaan lain yang berkenaan dengan itu. Salatnya memang dua rakaat tapi jangan ditanya panjang surat yang dibaca. Rukuk dan sujud dilakukan empat kali dengan bacaan yang panjang pula. Bahkan, putra sulungku yang bersekolah di SMP Islam Terpadu mengatakan bahwa di zaman Rasul pernah ada jemaah yang pingsan saking lamanya pelaksanaan salat gerhana ini!! Wallahua'lam.

Rasa penasaran itu juga yang membawaku untuk ikut melaksanakan salat sunat ini. Ketika pihak masjid tempat anakku bersekolah mengedarkan undangan untuk mengikuti salat sunat gerhana, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dari sore aku sudah mempersiapkan diri, termasuk membawa bekal untuk si bungsuku yang berusia enam tahun apabila ia lelah dan bosan saat salat berlangsung.

Subhanallah!!! Aku kaget saat tiba di masjid. Jemaah membludak, persis saat melaksanakan salat tarawih di awal-awal Ramadan. Dadaku bergetar menyaksikan itu, menyaksikan bahwa di tengah zaman yang super edan ini, masih banyak umat muslim yang tergerak hatinya untuk melaksanakan ibadah yang langka ini.

Salat sunat gerhana dilaksanakan selesai salat Magrib. Benar. Pada rakaat pertama, setelah membaca Surat Al-Fatihah, imam membaca surat yang sangat panjang, yang aku tak tahu surat apa itu. Dilanjutkan dengan rukuk pertama yang aku rasakan sangat lama. Berdiri dan membaca Al-Fatihah lagi dan diikuti dengan surat yang panjang juga. Rukuk lagi. Lama. Iktidal, lama. Sujud juga lama sampai berdiri kembali untuk rakaat kedua dan mengulangi hal yang sama seperti rakaat pertama.

Sesak napas. Itu yang aku rasakan, terutama saat rukuk dan sujud. Sebagai perempuan yang cukup subur badannya, rasa sesak napas memang tak bisa aku hindarkan. Dan aku malu. Betapa selama ini ibadah salat yang aku laksanakan tak sebanding dengan kenikmatan hidup yang aku terima. Bahwa selama ini aku salat ala kadarnya, membaca surat yang ala kadarnya, sehingga ketika melaksanakan salat yang panjang seperti salat gerhana ini, aku megap-megap.

Astaghfirullah, ampun ya Allah. Tak ada yang Kau ciptakan itu sia-sia. Kalau tadinya aku sekadar ingin tahu gimana sih salat gerhana itu, sekarang aku jadinya berniat untuk memperbaiki salatku. Ingin menghapal kembali surat-surat yang agak panjang. Semoga masih ada kesempatan yang diberikan kepadaku. Pelan-pelan tapi rutin. Terima kasih ya, Allah...



Kamis, 02 April 2015

Sinyo, Kohai, dan Babe


Sinyo, Kohai, dan Babe (baca: beib),

tiga sahabat tak terpisahkan. Sama-sama menjadi buruh di sebuah perusahaan kayu, membuat ketiganya akrab dengan debu dan serbuk kayu. Sinyo merupakan operator forklift, memindahkan tumpukan kayu, baik bahan baku maupun bahan jadi, dari satu gudang ke gudang lain. Kohai adm di gudang KD (baca: kedi), mencatat berapa banyak kayu basah yang masuk ke gudang dan berapa jumlah kayu yang sudah dikeringkan. Babe adm di bagian finger joint, mencatat jumlah bal kayu join yang diproduksi dan distuffing selama delapan jam kerja yang diberlakukan di pabrik tersebut.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

pernah diam-diam "ngendon" di dalam pabrik saat jam istirahat. Padahal, jam istirahat merupakan waktu yang terlarang bagi para buruh berada di dalam pabrik. Biasanya satpam akan berkeliling pabrik, mengecek apakah masih ada pekerja yang  berada di lokasi. Untungnya, mereka luput dari pengawasan satpam sehingga mereka bisa beristirahat di dalam pabrik. Istirahat selama satu jam itu mereka pergunakan untuk makan sekaligus foto-foto. Sinyo bergaya di atas forklift tunggangannya, Kohai pura-pura mengetam kayu, dan Babe bergelantungan di pintu salah satu peti kemas yang terparkir di belakang gudang molding. Mereka tertawa-tawa tertahan, membayangkan amarah big boss pemilik pabrik bila mengetahui aksi tersebut.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

menjadi buruh adalah suatu ketidaksengajaan. Sinyo yang tamatan SLTA, awalnya bekerja di kantor pengacara. Memakai setelan rapi dan berdasi. Bekerja di ruangan ber-AC sehingga bebas dari debu. Gaji yang sedikit serta pekerjaan yang tidak menantang membuat Sinyo mengundurkan diri dan mengais rezeki di pabrik ini. Kohai lulusan D-3 Bahasa Jepang. Kemampuannya berbahasa Jepang dan menulis dalam huruf kanji tidak diragukan. Kohai baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan. Bekerja di pabrik merupakan batu loncatannya ke pekerjaan yang lebih baik. Babe seorang sarjana sastra. Mungkin satu-satunya sarjana yang menjadi buruh di pabrik itu. Babe pernah menjadi guru di berbagai sekolah, mulai SD, SMP, hingga Bimbingan Belajar. Tak satu pun yang dinikmatinya. Babe merasa tidak punya passion di bidang pengajaran sehingga dia merasa sia-sia melakukan pekerjaan itu. Ketika seorang kenalannya menawarkan pekerjaan di pabrik, Babe merasa tidak ada salahnya mencoba. Daripada tak punya pekerjaan.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

jadilah mereka bertemu dan bersahabat di pabrik itu. Saking akrabnya, mereka punya panggilan khusus: Sinyo, Kohai, Babe. Sinyo, satu-satunya pria, berkulit hitam dengan deretan gigi putih bersih, mengingatkan mereka pada Ambon manise, padahal Sinyo Jawa tulen. Jadilah dia dijuluki Sinyo, seolah-olah dia keturunan Belanda dan Ambon yang tercebur dalam genangan ter! Kohai, dalam Bahasa Jepang berarti junior, cocok untuk Kohai yang berusia paling muda di antara mereka. Matanya yang sipit dan gayanya yang cenderung kekanak-kanakan semakin mengukuhkan julukan itu. Babe, yang paling tua sekaligus paling lemah. Dia seperti mutiara yang harus dijaga erat-erat, disayangi, dilindungi. Jadilah dia Babe, kesayangan Sinyo dan Kohai.

Itu sekitar 15 tahun yang lalu.


Sekarang, ketiganya masih bersahabat dalam konteks yang berbeda. Sinyo dan Babe menjadi suami istri, hidup sederhana dengan sepasang anaknya di sebuah kota kecil. Kohai sedang getol-getolnya mengurus usaha konfeksi bersama suami dan kedua anaknya. Mereka jauh terpisah sekarang tapi mereka (pasti) masih mengenang momen kebersamaan di pabrik kayu yang penuh debu.

Sabtu, 28 Maret 2015

#pricetag

"tidak semua pekerjaan kita harus dihargai dengan uang"

Itu prinsip yang diajarkan orang tuanya yang tetap dia terapkan sampai saat ini. Mengerjakan dan melakukan sesuatu harus dibarengi dengan keikhlasan. Pun ketika menolong dan membagikan ilmu kepada orang lain, harus tanpa pamrih.  Dan dia meyakini, balasan pertolongan yang telah dia berikan kepada seseorang, tidak harus dibalas oleh orang yang bersangkutan. Balasan itu bisa datang dari siapa pun. Melalui jalan mana pun. Yang tak pernah dia bayangkan sekali pun. Karena dia percaya, Tuhan tidak tidur dan tidak berpaling dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Oleh sebab itulah, ketika suatu sore, seorang rekan kerja tiba-tiba mendatanginya dan menyodorkan amplop putih, seraya berbisik "ini tanda ucapan terima kasih atas pertolonganmu dalam acara kami kemarin", dia tersinggung. Tersinggung bukan karena ketulusan teman yang memberikan ucapan terima kasih itu. Dia tersinggung karena budaya kolot orang-orang di lingkungan kerjanya yang mengukur segala sesuatu dengan uang! Dia tak menafikan bahwa dia juga butuh uang, tapi bukan uang yang menjadi prioritasnya setelah mengerahkan tenaga dan pikiran ketika membantu orang lain.

Kepuasan batinlah yang dia harapkan. Melihat rekan-rekan kerjanya sukses –dan dia memiliki "sedikit" andil dalam kesuksesan itu, cukuplah membuatnya senang. Bahwa kesuksesan sebagian rekan kerjanya telah melampaui dirinya, tak membuatnya berkecil hati. Bahwa sebagian rekan kerja menganggapnya pecundang, taklah berarti dia orang yang kalah. Dia justru menjadi pemenang, mengalahkan budaya kolot yang mendewakan materi.
it's funny how a lot of people do the opposite:
asking for the right first before doin' the work 
                         @gnezmo's quote 
Tak ada yang lebih dia harapkan saat ini, selain bisa juga menerapkan prinsip yang sama kepada anak-anaknya!


Rabu, 25 Maret 2015

Warna Lampu Lalu-Lintas *

Ketika mengemudi mobil atau menyeberang jalan, perhatikan selalu rambu lalu-lintas. Lampu merah di lampu lalu-lintas berarti berhenti, lampu kuning berarti hati-hati, dan lampu hijau berarti jalan. Apa alasannya warna merah yang digunakan dalam lampu lalu-lintas berarti berhenti?

Alasannya adalah karena warna merah dapat dilihat dari jauh, jadi siapa pun bisa melihatnya dengan jelas. Orang yang sudah melihat warna merah dari jauh bisa bersiap untuk berhenti. Warna merah juga merupakan warna yang paling mudah dikenali oleh mata kita. Ini karena sel saraf yang mengenali warna merah jauh lebih banyak daripada sel yang berhubungan dengan warna kuning atau hijau. Di samping itu, warna darah manusia adalah merah sehingga ketika melihat warna merah, manusia langsung menghubungkannya dengan bahaya. Karena alasan-alasan inilah, warna merah, selain digunakan sebagai lampu lalu-lintas, juga digunakan untuk menandakan bahaya dan pemadam kebakaran.

Tapi, dalam atraksi matador di Spanyol, digunakan juga kain merah untuk menarik perhatian banteng. Apa banteng juga akan terpancing seperti manusia kalau melihat warna merah?

Ternyata tidak. Banteng tidak bisa membedakan warna, jadi walau melihat warna merah, banteng tidak akan terpancing. Tapi karena kain merah digoyangkan, sang banteng menganggap itu adalah gerakan menyerang sehingga dia terpancing. Alasan digunakannya kain merah adalah justru untuk menarik perhatian para penonton yang semuanya adalah manusia.

Sebaliknya, warna hijau melambangkan hutan yang lebat dan memberikan perasaan aman dan damai. Karena itu, tanda pintu keluar yang sangat diperlukan untuk menyelamatkan diri ketika keadaan darurat, menggunakan warna hijau. Maksudnya adalah untuk membuat orang yang berada dalam kondisi darurat itu merasa tenang ketika melihat tanda pintu keluar yang berwarna hijau.


*Dikutip dari Samseong Science Series: Escape from Danger 'Sains: Misi Penyelamatan', terjemahan Elex Media Komputindo

T U A


Tiba-tiba aku merasa takut pada tua! T-U-A. Tiga huruf yang mengerikan. Selalu membayangi hari-hariku. Mengikuti setiap gerakku dan tidak mau berkompromi denganku.

Apa sih, sebenarnya tua itu?

"Tua berarti loyo, kehilangan kecantikan, kehilangan energi, kekurangan nafsu biologis, berkerutnya setiap sendi kulit, pokoknya menakutkanlah!" itu pendapat salah seorang kerabatku yang gemar mempercantik diri ke salon.

"Semakin tua seseorang, semakin matanglah jiwanya!" bantah yang lain.
"Tua berarti kematian!" kerabatku meneruskan. "Tua berarti kesunyian, kesendirian, aah...pokoknya bencana!"

Tidak, aku tidak akan membiarkan tua mendatangiku, mengetuk relung hatiku, mengubah penampilanku. Tapi yang namanya tua tidak pernah mau mengerti. Dia datang juga saat pesta ulang tahunku, padahal aku tidak merasa memberinya undangan.

"Selamat ulang tahun," tegurnya.
"Siapa kau? Rasanya kau mirip denganku tapi aku tidak mengenalimu."
"Aku tua."
"Tua?"
"Ya, tua. Aku sengaja datang ke pesta ulang tahunmu."
"Untuk apa?"
"Yah, sekadar ingin tahu. Apakah kau sudah cukup tua atau belum."

Aku memandanginya. Sosoknya mirip denganku, cuma garis-garis wajahnya lebih jelas. Aku tertawa tanpa suara. "Pergilah," usirku,"aku tidak menginginkanmu di sini. Biarkan aku sendiri!"
"Sepertinya kau mengusir aku."
"Sepertinya begitu."
Dia tersenyum. "Baiklah. Tapi aku akan datang lagi nanti, percayalah!"

Itu perkenalan pertamaku dengannya.

Kini dia datang lagi. Tepat setelah lima tahun pertemuan itu. Waktu itu aku sedang asyik berolah raga, mengencangkan otot yang kendor.
"Halo, selamat pagi," tegurnya.
"Pagi."
"Masih ingat aku?"
Aku memandanginya. Sosoknya persis denganku. Berkulit kunimg langsat, rambut bergelombang, leher jenjang, dan kaki menjulang.

Tapi tidak, dia tidak persis aku. Kulitnya memang kuning langsat, tapi bersisik dan penuh keriput. Rambut gelombangnya tipis dengan warna putih di sana-sini. Lehernya jenjang namun banyak garis kehitaman.
Dan kakinya...lebih mengerikan! Kelihatan rapuh dan ringkih. Berdirinya juga tidak tegak, seolah-olah dalam tubuhnya terjadi gempa bumi yang hebat.
"Siapa kau?"
"Lupa ya?" dia terkekeh. Tawanya sangat menyakitkan telinga. "Aku tua."
"Tua?"
"Ya, tua. Aku datang menjengukmu."

Kupandangi mulutnya yang bergerak. Gusinya menghitam dan giginya tak lagi selengkap gigiku. Bibir tipisnya mengerut, dihiasi kerak di kedua ujungnya. Dan dadanya, ya Tuhan, sangat memalukan!
"Buat apa kau datang lagi?"
"Bukankah aku sudah berjanji akan datang kembali?"
"Tapi...tapi jangan sekarang!"
"Mengapa?"
"Aku tidak mau. Sungguh, jangan datangi aku lagi. Biarkanlah aku seperti ini. Muda, enerjik, cantik..."
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa?"
"Semua orang akan tua."
"Tapi aku tidak!" bentakku. Dia terkejut. Aku bergegas menutup pintu. Brak! Biar dia mengerti kalau aku tidak menyukai dan tidak menginginkannya.

Itu pertemuan keduaku dengannya.

Selang beberapa tahun, dia datang lagi. Tapi bukan saat aku joging, bukan pula saat pesta ulang tahun. Dia datang saat aku bercermin, baca koran, bahkan saat tidur. Aku merasakan kehadirannya. Dia begitu dekat, sangat dekat. Aku merasakannya di mata, leher, bibir, dada, perut, hingga ujung jari. Mataku sudah kurang awas. Untuk membaca saja aku sudah tidak bisa berlama-lama.
Dan kulit di leherku, serasa bisa ditarik-tarik. Bibirku sudah mulai mengerut dan mengering, dan dadaku...ya Tuhan, sangat memalukan!
Seluruh tubuhku gemetar merasakannya, kakiku seakan tak kuasa menahan berat tubuhku. Rapuh. Ringkih.
Sekali lagi aku menarik kulit leherku. Terasa lembut. Oh bukan, terasa lembek seperti kulit sapi.
Kutarik terus...terus...sampai emosiku memuncak. Aku menggelinjang kegelian, kesakitan, dan beribu rasa yang tak pernah aku alami.

Ahli jiwa itu memandangi ulah pasiennya. Kasihan dia, pikirnya, masih muda tapi sudah merasa tua!
                                                












Minggu, 22 Maret 2015

FENG SHUI *

Feng Shui berarti 'angin dan air'. Ini adalah aturan Cina kuno untuk meletakkan segala sesuatu -gedung, pemandangan, perabotan- dalam harmoni dengan energi alami dari alam. Ini adalah pengetahuan mengikuti energi, atau ch'i, untuk mengalir dengan bebas tanpa dibatasi.Ada banyak car membacanya. Di Cina daratan, ini dibaca 'Foong Shway'. Di Hongkong, lebih seperti 'Fun Soo-ee'. Dan bagian Barat menggunakan 'Feng Shoe-ee'.

Pengetahuan Misterius
Pengetahuan Feng Shui rumit dan berguna. Zaman dahulu, ia adalah pengetahuan rahasia, digunakan hanya untuk menguntungkan kerajaan dan yang paling tinggi di daratan. Seiring berjalannya abad, ia menjadi terkenal luas dan digunakan, khususnya di bagian Timur. Diterapkan dengan benar, ia menjanjikan meningkatnya energi, kebahagiaan, dan sukses. Namun garis ch'i tenang dan tak terlihat bersama pemandangan seperti tubuh manusia. Seorang praktisi Feng Shui akan menemukan mereka dalam cara yang berbeda, seringkali menggunakan kompas. Nyatanya, kompas pertama dikembangkan di Cina untuk tujuan ini, di abad kedua sebelum Masehi, meskipun mereka tidak digunakan untuk navigasi di Eropa sampai ratusan tahun lamanya, hingga akhir abad ke-12 setelah Masehi.

Tempat Peristirahatan Para Leluhur
Penggunaan Feng Shui yang paling awal adalah untuk menentukan kuburan. Setiap aspek dari pemandangan akan dihitung: tanggal lahir dan tanggal kematian dari yang meninggal dunia. Ini kemungkinan dilihat sebagai fungsi yang paling penting dari semuanya. Setiap orang memiliki jalan leluhurnya sendiri, terbentang dari perhitungan dari masa lalu. Bahkan bila mereka tidak mengetahui tentang mereka, mereka masih ada; hanya sebagai, untuk kebanyakan orang; sebuah garis keturunan akan memimpin masa depan. Bila sang leluhur dihormati dan tempat penguburan mereka dipilih dan ditempatkan dengan tepat, keuntungannya akan diikuti oleh generasinya.

Naga Hijau dan Harimau Putih
Ada banyak perhitungan yang dibuat saat menempatkan sebuah gedung, merancang kebun, atau mengatur kembali sebuah rumah atau kamar. Lima arahnya -Utara, Selatan, Timur, Barat, dan tengah- harus diperhitungkan. Begitu juga dengan lima elemen Cina -air, api, tanah, kayu, dan logam- dan lima makhluk simbolis yang mereka miliki. Tengah adalah tanah, dilambangkan dengan Phoenix Kuning. Timur adalah kayu, Sang Naga Hijau. Barat adalah logam, Harimau Putih. Selatan adalah api, Burung Merah, dan Utara adalah air, Kura-Kura Hitam. Juga penting untuk menghitung yin dan yang -seringkali dimengerti sebagai wanita dan pria, gelap dan terang. Mereka berdua ada di mana pun dan yang sulit adalah untuk menjaga mereka tetap seimbang. Memang rumit!


*dikutip sesuai dengan aslinya Curious Phenomena, Strange Superstitions, and Ancient Mysteries (Judy Allen)

Selasa, 17 Maret 2015

Cinderella

"have a courage and be kind"

Putri kecilku yang berusia enam tahun, tentu tidak memahami quote di film Cinderella yang barusan ditontonnya itu. Yang dia pahami, Cinderella itu princess yang baik hati dan cantik, memakai gaun pesta yang bagus, serta memiliki sepatu kaca.

Fenomenal memang. Aku sendiri telah mendengar dan menonton dongeng klasik ini semenjak kecil. Karakter Cinderella beserta ibu tiri dan kakak tirinya, bahkan tikus-tikus kecil sahabatnya, serasa akrab di telinga dan lekat di ingatan. Tetapi aku baru tahu, melalui remake film ini, kalau nama asli Cinderella itu adalah Ella. Kata cinder ditambahkan oleh kakak tirinya ketika melihat wajah Ella yang menghitam, akibat sisa pembakaran (arang) melekat di wajah Ella yag tertidur di dekat perapian dapur. Jadilah dia dijuluki Cinderella: Ella yang berabu (dalam bahasa Indonesia: Upik Abu).

Aku juga -sepertinya- bisa memahami mengapa ibu tiri Cinderella begitu kejam. Seorang janda beranak dua yang ditinggal suami dalam keadaan terlilit utang!!! Keadaan seperti ini dapat membuat seseorang stres dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dia tidak terima dengan kecantikan Cinderella yang melampaui kecantikan putri-putrinya. Cinderella juga pintar dan rajin sehingga dapat membuat lelaki mana pun jatuh hati. Ini tentu berdampak buruk pada masa depan kedua putrinya yang pemalas dan tidak memiliki kepandaian dan ketrampilan apa-apa. Sebenarnya, ketika mengetahui pangeran berniat menikahi gadis misterius pemilik sepatu kaca, ibu tiri tidak menghalangi. Dia mengizinkan Cinderella menikah dengan pangeran, dengan syarat ibu tiri dijadikan penasihat kerumahtanggaan istana dan anak-anaknya dinikahkan dengan bangsawan. Karena Cinderella menolak persyaratan itu, ibu tiri kembali memusuhinya.

Putri kecilku tentu tidak memahami apa yang aku pahami. Yang dia pahami, Cinderella harus ditonton karena cuplikannya bolak-balik muncul di Disney Channel favoritnya. Itu membuatnya penasaran. Rasa penasaran itu juga yang (mungkin) menghampiri semua penonton cilik yang memenuhi kursi bioskop. Rasa penasaran yang menguras isi kantong orang tua!!


Terlepas dari itu, ada rasa bahagia terpancar di wajah putri kecilku saat duduk di bangku bioskop. Semakin bahagia dia ketika diberikan bonus film pendek "Frozen Fever" sebelum Cinderella ditayangkan. Tawa dan ocehan penonton cilik memenuhi ruangan melihat aksi Olaf dan kawan-kawan. Tawa bening yang tidak ternilai harganya.









Kamis, 05 Maret 2015

Bu Daeng

Perempuan berperawakan kecil, kurus, dan selalu menyeret sandal jepitnya saat berjalan. Berjalan dari pintu ke pintu. Menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dia lakukan pada hari itu kepada si empunya pintu. Pekerjaan seperti mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Kalau beruntung, dia akan mendapat dua atau tiga pekerjaan sekaligus dengan imbalan yang lumayan. Imbalan yang cukup untuk mengasapi dapurnya hari itu.

Perempuan berperawakan kecil dan kurus. Kalau dia berjalan, orang sudah bisa menebak kehadirannya. Bunyi sandal jepit yang diseret adalah bukti keberadaannya. Tubuhnya memang kecil tetapi tenaganya jauh lebih besar. Makannya banyak tetapi entah kenapa badannya tetap kurus. Mungkin karena setiap hari dia bekerja. Memasak, mencuci, menyetrika, dari pintu ke pintu. Asupan yang diterima tubuhnya tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Tapi dia kelihatan sehat dan baik-baik saja. Padahal usianya sudah memasuki angka 70.

Perempuan berperawakan kecil dan kurus. Bunyi sandal jepit yang diseret "sret...sret...sret" adalah tanda kehadirannya. Rambut putihnya yang sepanjang pinggang dibiarkan tergerai. Jarinya sibuk menari-nari di sepanjang rambutnya, sekadar mencari seekor atau dua ekor kutu yang menjajah di rambut putih itu. Itu kalau di rumah. Kalau datang ke pintu-pintu, dia akan menutupi rambut kutuannya dengan jilbab sekenanya. Orang-orang sebenarnya enggan memakai tenaganya untuk bekerja. Ya, karena kebersihan diri yang kurang terjamin itu. Namun orang-orang iba. Iba dengan kehidupan perempuan gaek yang kurus dan kecil itu. Bagaimana tidak. Sangatlah tidak pantas dia membanting tulang untuk menghidupi dua anaknya yang sudah dewasa dan berpostur tegap pula. Dua anak dewasa yang marah-marah apabila makanannya belum terhidang di meja.

Konon, menurut cerita, kehidupannya dulu tidak seperti itu. Saat suaminya masih hidup, kehidupan mereka cukup mapan. Suaminya dulu bekerja di kapal asing. Berlayar berbulan-bulan dan kerap mengirimi uang berlebih untuk kebutuhan anak istrinya. Anak-anak dimanjakan. Tidak diizinkan menyentuh pekerjaan apapun. Segala keinginan dipenuhi. Tidak boleh kekurangan.

Roda berputar. Suami yang pekerja keras itu jatuh sakit. Harta terkuras untuk biaya berobat. Anak-anak semakin besar. Kebutuhan semakin membengkak. Ayah yang dibanggakan semakin lemah. Yangkuasa punya kuasa. Memanggil ayah saat kehidupan semakin rumit. Tinggallah rumah sebagai satu-satunya pusaka.  Dan anak-anak yang semakin dewasa tak punya pegangan. Tak ada keterampilan. Tak ada kemauan. Tak ada pengertian. Ibulah yang diandalkan.

Perempuan berperawakan kecil dan kurus. Orang-orang iba melihatnya. Bekerja di usia renta. Menyeret-nyeret sandal jepitnya. Menggaruk-garuk kepalanya. Orang-orang iba, tapi dia bahagia dengan keadaannya. Dia bahagia bekerja dari pintu ke pintu. Bahagia memeroleh imbalan untuk mengasapi dapurnya. Bahagia melayani anak-anak dewasanya.


#inspired by a true story

Kamis, 26 Februari 2015

NGAJI ADAT

La Bismillah itu mulai dikato
Dititahkan Nabi penghulu kito
Jadi adat jadi pusako
Supayo syerak mak nyo nyalo
Supayo adaek mak nyo nyato

Lambago itu ampat parakaro
Paratamo lambago dapo
Kaduo lambago kurung
Katigo lambago nagari
Kaampat lambago alam

Mano dikato lambago dapo
IIyo di dalam isi umah kito
Bagaimano isi rumah kito
Anak janteang suhang
Ninik mamak suhang
Depati suhang

Kelaknyo tumbouh silang salisih
Bagaimano dawahnyo
Kito dakwah dalam mufakaik
Bagaimanolah kajinyo balun baringgung
Kuaso ikang karano sisiek
Kuaso burung karano sayok

Mano ngan tinggai maknyo rendah
Mano ngan gedeang maknyo keceik
Mano ngan keceik maknyo abaih

Mano dikato lambago kurung dan nagari
Partamo depati ninik mamak
Kaduo uhang tuo cardik pandai
Ketiga alim ulamo
Kaampat hulubalang

Mano dikato lambago alam
Iyolah alam takambang jadi guru
Alam tabenteang jadi tuladan
Alam rayo jadi cuntoh

Apo dikato sko nan tigo takah
Paratamo sko depati
Kaduo sko ninik mamak
Katigo sko tangganai

Apo dikato undang yang ampat
Paratamo undang pado luhah
Kaduo undang pado nagari
Katigo undang alam nagari
Kaampat undang nan duopuluh

Mano dikato hukum nan ampat
Paratamo hukum dalam alam
Kaduo hukum la bainah
Katigo hukum lah baikrar
Kaampat hukum la basumpah

Baralih kaji kito kinai
Mano pulo kato nan ampat
Paratamo kato mandaki
Kaduo kato manurun
Katigo kato mandatea
Kaampat kato nan baliku

Mano dikato adaik nan ampat
Paratamo adaik nan diadatkan
Kaduo adat istiadat
Katigo adat kebiasaan
Kaampat adat nan basandi syarak
Syarak basandi kitabullah

Apo pulo nan dijaleang depati
Sarato ninik dengan mamak
Titien tapasang nan dititiea
Bajau nan dijaeik ngan dipakei
Jaleang tabentai ngan ditempouh
Ksaik disapleih bungkau ditateh

Jangean tajadai dalam neghoi
Padi pulauk samo satangke
Padi anok indropuro
Ngan kusauk ideak salasei
Ujoung pungko ideak batamou

Cukauk sagitou kajian kito
Lah manyerau dimuang gadeih
Badidieih bunyinyo umbak
Badebur umbak nan satai
Kiceik sudeah parago tamak
Baroih maaf ngan atai sucai


(Dikutip dari "Ngaji Adat dalam Alsikdah" oleh Iskandar Zakaria)

#ngajiadat #tradisilisan #kerinci

Selasa, 24 Februari 2015

PROTES


           Suatu hari tangan kanan saya protes.
 "Kamu curang!" teriaknya, "kamu curang dan tidak berperikemanusiaan! Seenaknya saja memaksaku melakukan semua pekerjaan yang berat. Sedangkan dia tidak melakukan apa-apa!"
            Mula-mula saya tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Belakangan saya baru tahu ternyata dia iri pada tangan kiri saya.
            "Mengapa kamu mengatakan saya curang? Bukankah selama ini saya telah bersikap adil pada kalian berdua?"
            Priya, demikian saya menamakan tangan kanan saya, tidak mau mendengar kata-kata saya. Dia justru membeberkan sebab musabab keiriannya pada Ledi, tangan kiri saya. Menurut Priya, saya sering memaksanya melakukan pekerjaan yang berat. Misalnya, menulis PR yang senantiasa menumpuk, atau menulis contekan dengan huruf kecil-kecil sampai jari-jemarinya lecet. Menyuap makanan ke dalam mulut saya sampai jari-jarinya kepanasan karena kebetulan saya suka makanan yang pedas-pedas, atau mengangkat ember berisi air hangat untuk mandi saya, serta setumpuk tugas lainnya.
            Sedangkan Ledi, masih menurut Priya, tidak begitu sering bekerja. Paling-paling tugasnya hanya membersihkan bagian tertentu dari tubuh saya. Akan tetapi, dia malah diberi berbagai aksesori untuk mempercantik penampilannya. Ledi diberi cincin emas sekian gram di jari manisnya, gelang mutiara yang melekat erat pada pergelangannya, ditambah lagi dengan arloji buatan Swiss sehingga Ledi kelihatan semakin berkelas. Keadaan inilah yang membuat Priya uring-uringan dan cemburu luar biasa.
            "Dari kamu kecil sampai dewasa, saya tidak pernah dihadiahkan yang namanya emas, gelang mutiara, atau arloji buatan Swiss. Paling banter cuma karet gelang yang kamu kutip dari tong sampah! Padahal saya kerja nonstop 24 jam! Mulai dari mencuci, memasak, menyetrika, menulis, makan, garuk kepala, angkat beban, dan pekerjaan lain yang membosankan! Tapi apa imbalannya, coba! Apa?"
            Saya tertawa sampai bahu saya terguncang. "Kamu terlalu berlebihan, Pri!" kata saya, "status kamu sebagai tangan kanan mengharuskan kamu kerja lebih berat. Itu sudah dari sononyo! Sudah kodratnya! Sedangkan Ledi, meskipun tugasnya sedikit, namun dia selalu berhubungan dengan benda-benda kotor. Tinja, misalnya. Atau sampah, atau ingus, atau upil, atau bangkai tikus, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu! Tapi Ledi belum pernah tuh, protes seperti kamu!"
            "Tentu saja dia tidak protes, karena setelah melakukan pekerjaan yang kotor, dia diberi hadiah yang bagus-bagus!"
            "Wajar dong Pri, Ledi itu kan perempuan, sama seperti saya. Dia juga perlu tampil cantik setiap hari. Lagi pula, kan kamu juga yang bangga kalau pasangan kamu kelihatan oke. Iya kan..."
            "Ah, alasan! Banyak cingcong!"
            "Sudahlah Pri, take it easy. Jangan terlalu memprovokasi keadaan. Ambil hikmahnya saja. Bukankah sebagai tangan kanan pergaulan kamu menjadi lebih luas? Kamu kan sering saya perkenalkan dengan teman-teman saya. Kamu juga sudah pernah berjabatan tangan dengan rektor saya yang kulit tangannya halus itu. Iya kan? Dan anu, ingat nggak kamu, waktu berdesakan dalam bis? Kamu kan sempat menyentuh bokong cowok yang berdiri di depanku. Empuk kan? Nah, sedangkan Ledi..."
            "Pokoknya saya tidak terima dengan sikap kamu yang pilih kasih, unfair, dan berat sebelah! Ini sama saja mengganggu hak asasi saya sebagai tangan kanan!"
            Saya tertawa mengejek. "Lantas kenapa? Apa kamu juga merasa perlu mengadukan nasibmu ke Komnas HAM?"
            Tangan kanan saya terediam, mungkin tersinggung. Kulitnya berubah merah. Ototnya menegang, urat-uratnya menonjol keluar, jarinya dikepal seperti menyimpan sejuta dendam yang membara. Dan tanpa sempat diduga, tiba-tiba saja dia memukulkan jari-jarinya ke dinding dengan sekuat tenaga. Kontan saja saya menjerit kesakitan seraya memohon supaya dia menghentikan kegilaannya itu.
            "Oke...oke...keluhanmu saya dengarkan! Tapi tolong, hentikan tindakan tololmu ini! Kamu sama saja dengan bunuh diri, tahu!"
            Priya akhirnya mengalah. Dia kembali normal dan mengendurkan urat syarafnya. Tiga jarinya mengalami pendarahan. Saya yang sedang meringis kesakitan segera menyuruh Ledi untuk mengobatinya. Tapi Ledi acuh tak acuh, mungkin merasa sakit hati dengan celotehan Priya, mungkin juga ingin membuat Priya semakin uring-uringan. Kontan saya memelototi Ledi sehingga tangan kiri saya itu terpaksa mengobati Priya sambil bersungut-sungut.
            Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama, Ledi dan Priya bertukar fungsi. Ledi mengerjakan semua tugas Priya, sedangkan Priya mengerjakan tugas Ledi. Tentu saja tangan kiri saya itu tidak dapat bekerja selincah dan setangkas Priya karena dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat. Ledi mudah sekali letih dan pegal-pegal. Minimal dia harus dipijat seminggu sekali. Namun semangat juangnya sangat tinggi. Dia tidak pernah putus asa. Mungkin karena aksesorinya tetap saya biarkan melekat padanya.
            Sedangkan Priya tidak perlu bersusah payah mempelajari tugas-tugas Ledi. Dia cepat tanggap dan cukup gesit, terutama saat membersihkan bagian tubuh saya yang tersembunyi. Gerakan jari-jemarinya lincah dan terarah. Dia mengerti bagian mana yang harus diperlakukan dengan kasar dan bagian mana yang diperlakukan dengan lebih lembut. Agaknya dia sangat senang memperoleh tugas baru, bahkan cenderung menikmati.
            Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan Priya. Bagi saya, itu hal yang biasa. Namun lama-kelamaan tindakan Priya semakin kurang ajar. Dia bukan sekadar membersihkan, tapi juga sudah mulai berani memainkan jari-jarinya di daerah intim kewanitaan saya. Hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan Ledi. Tindakan ini tentu saja membuat saya naik pitam dan naik darah. Saya harus melakukan sesuatu agar tangan kanan saya ini berhenti melakukan tindakan tidak senonoh.
Akhirnya, ketika tindakannya semakin di luar batas, saya betul-betul tidak bisa menahan diri.
            "Bangsat! Saya sudah menduga kalau kamu tidak bisa dipercaya, Priya!"

Dan crass...!! Kapak yang diayunkan Ledi membabat Priya sampai putus. Saya tersenyum puas!




Senin, 23 Februari 2015

Kerinci

Perubahan nyata yang kami rasakan saat mengunjungi Kerinci kali ini adalah akses jalan yang sudah baik. Sebelumnya, tahun 2013, saat pertama kali berkunjung ke Kerinci untuk pelaksanaan sosialisasi UKBI, jalan lintas yang dilewati sangat sangat parah tingkat kerusakannya. Kerusakan ini sangat terlihat di sepanjang daerah Muaraemat, perbatasan antara Merangin dan Kerinci. Jalan yang berlubang, berdebu, dan berkelok, mengakibatkan tidak adanya kenyamanan dalam perjalanan. Aku mual, pusing, letih, dan kapok. Akan tetapi, keletihan itu memang terbayar setelah melihat panorama Kerinci yang menawan.

Hamparan persawahan

Bukit Khayangan
Perkebunan Teh Kayu Aro


Tahun 2014 kami kembali ditugasi kantor untuk mengadakan riset di Kerinci. Akses jalan masih rusak. Parahnya, mobil travel yang kami tumpangi terjebak longsor, persis di tengah-tengah tebing dan jurang di daerah perbatasan. Mengerikan memang, tapi itu jadi pengalaman yang meyenangkan. Yang lebih menyenangkan lagi, kami berhasil merekam beberapa tradisi lisan Kerinci, seperti tari Asek, Tupai Jenjang, dan Lukah Gilo.
Perlengkapan Tari Asek

Perlengkapan Tupai Jenjang
Perlengkapan Lukah Gilo

Kini, di bulan Februari 2015, kami kembali lagi ke Kerinci. Kali ini mengadakan riset tentang berbagai cerita rakyat yang ada di daerah tersebut. Tahap pertama ini kami hanya melaksanakan survei sehingga hanya satu hari berada di Kerinci. Tanpa diduga, akses jalan sudah bagus dan mulus. Perjalanan jadi lebih aman dan nyaman. Waktu yang ditempuh juga lebih cepat dan singkat. Sebagai daerah yang memiliki aset wisata yang potensial, Kerinci wajib dan harus memiliki akses jalan yang baik.

Setibanya di Kerinci, setelah beristirahat beberapa jam di Hotel Mahkota, kami menemui Iskandar Zakaria, pegiat sastra dan budaya Kerinci. Beliau merupakan salah seorang yang peduli akan pewarisan sastra dan budaya Kerinci. Sekitar 90-an cerita rakyat sudah beliau inventarisasikan. Belum lagi berbagai artefak dan benda-benda budaya Kerinci plus tradisi, tarian, dan nyanyian Kerinci. Atas jerih payahnya tersebut, berbagai penghargaan dari pemerintah telah diterimanya.

Bersama Iskandar Zakaria dan salah satu koleksinya:
telur ayam yang berusia puluhan tahun
Batu peninggalan zaman Belanda koleksi Iskandar Zakaria

Kami berkesempatan juga mengunjungi "Telun Berasap", air terjun yang terletak di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, tepatnya di desa Telun Berasap Kecamatan Kayu Aro. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Dinamakan Telun Berasap karena lokasi di sekitar air terjun diselimuti kabut air yang menyerupai asap putih akibat derasnya air yang terhempas ke batu dan menguap. Untuk bisa mencapai air terjun, kita harus menuruni puluhan anak tangga. Menuruni puluhan anak tangga adalah pekerjaan mudah, tetapi saat menaikinya kembali (untuk kembali ke tempat pakir kendaraan) sangat melelahkan, terutama untuk orang gendut seperti aku!!!!

Telun Berasap

Puluhan anak tangga sebagai akses ke air terjun

Panorama di sekitar lokasi air terjun

Bagaimanapun, Kerinci selalu menarik untuk didatangi. Mengundang rasa penasaran untuk dijelajahi. Apalagi dengan kondisi jalan yang bagus, tentu keinginan untuk kembali semakin besar. Sekitar bulan April kami akan kembali lagi ke sana. Mudah-mudahan, selain memeroleh data riset yang memadai, kami juga berkesempatan mengunjungi objek wisatanya yang lain.

Entri Populer