Suatu hari tangan kanan saya protes.
"Kamu curang!" teriaknya, "kamu curang dan
tidak berperikemanusiaan! Seenaknya saja memaksaku melakukan semua pekerjaan
yang berat. Sedangkan dia tidak melakukan apa-apa!"
Mula-mula
saya tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Belakangan saya baru tahu ternyata
dia iri pada tangan kiri saya.
"Mengapa kamu
mengatakan saya curang? Bukankah selama ini saya telah bersikap adil pada
kalian berdua?"
Priya,
demikian saya menamakan tangan kanan saya, tidak mau mendengar kata-kata saya.
Dia justru membeberkan sebab musabab keiriannya pada Ledi, tangan kiri saya.
Menurut Priya, saya sering memaksanya melakukan pekerjaan yang berat. Misalnya,
menulis PR
yang senantiasa menumpuk, atau menulis contekan dengan huruf kecil-kecil sampai
jari-jemarinya lecet. Menyuap makanan ke dalam mulut saya sampai jari-jarinya kepanasan
karena kebetulan saya suka makanan yang pedas-pedas, atau mengangkat ember
berisi air hangat untuk mandi saya, serta setumpuk tugas lainnya.
Sedangkan
Ledi, masih menurut Priya, tidak begitu sering bekerja. Paling-paling tugasnya
hanya membersihkan bagian tertentu dari tubuh saya. Akan tetapi, dia malah
diberi berbagai aksesori untuk mempercantik penampilannya. Ledi diberi cincin
emas sekian gram di jari manisnya, gelang mutiara yang melekat erat pada pergelangannya,
ditambah lagi dengan arloji buatan Swiss sehingga Ledi kelihatan semakin berkelas. Keadaan
inilah yang membuat Priya uring-uringan dan cemburu luar biasa.
"Dari kamu kecil sampai
dewasa, saya tidak pernah dihadiahkan yang namanya emas, gelang mutiara, atau
arloji buatan Swiss. Paling banter cuma karet gelang yang kamu kutip dari tong
sampah! Padahal saya kerja nonstop 24 jam! Mulai dari mencuci, memasak,
menyetrika, menulis, makan, garuk kepala, angkat beban, dan pekerjaan lain yang
membosankan! Tapi apa imbalannya, coba! Apa?"
Saya
tertawa sampai bahu saya terguncang. "Kamu terlalu berlebihan, Pri!" kata saya, "status kamu sebagai
tangan kanan mengharuskan kamu kerja lebih berat. Itu sudah dari sononyo! Sudah kodratnya! Sedangkan
Ledi, meskipun tugasnya sedikit, namun dia selalu berhubungan dengan
benda-benda kotor. Tinja, misalnya. Atau sampah, atau ingus, atau upil, atau
bangkai tikus, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu! Tapi Ledi belum
pernah tuh, protes seperti kamu!"
"Tentu saja dia tidak
protes, karena setelah melakukan pekerjaan yang kotor, dia diberi hadiah yang
bagus-bagus!"
"Wajar dong Pri, Ledi
itu kan perempuan, sama seperti saya. Dia juga perlu tampil cantik setiap hari.
Lagi pula, kan kamu juga yang bangga kalau pasangan kamu kelihatan oke. Iya
kan..."
"Ah, alasan! Banyak
cingcong!"
"Sudahlah Pri, take it easy. Jangan terlalu
memprovokasi keadaan. Ambil hikmahnya saja. Bukankah sebagai tangan kanan pergaulan
kamu menjadi lebih luas? Kamu kan sering saya perkenalkan dengan teman-teman
saya. Kamu juga sudah pernah berjabatan tangan dengan rektor saya yang kulit
tangannya halus itu. Iya kan? Dan anu, ingat nggak kamu, waktu berdesakan dalam
bis? Kamu kan
sempat menyentuh bokong cowok yang berdiri di depanku. Empuk kan? Nah, sedangkan Ledi..."
"Pokoknya saya tidak
terima dengan sikap kamu yang pilih kasih, unfair,
dan berat sebelah! Ini sama saja mengganggu hak asasi saya sebagai tangan
kanan!"
Saya
tertawa mengejek. "Lantas kenapa? Apa kamu juga merasa perlu mengadukan nasibmu ke Komnas HAM?"
Tangan
kanan saya terediam, mungkin tersinggung. Kulitnya berubah merah. Ototnya
menegang, urat-uratnya menonjol keluar, jarinya dikepal seperti menyimpan
sejuta dendam yang membara. Dan tanpa sempat diduga, tiba-tiba saja dia
memukulkan jari-jarinya ke dinding dengan sekuat tenaga. Kontan saja saya
menjerit kesakitan seraya memohon supaya dia menghentikan kegilaannya itu.
"Oke...oke...keluhanmu
saya dengarkan! Tapi tolong, hentikan tindakan tololmu ini! Kamu sama saja
dengan bunuh diri, tahu!"
Priya
akhirnya mengalah. Dia kembali normal dan mengendurkan urat syarafnya. Tiga
jarinya mengalami pendarahan. Saya yang sedang meringis kesakitan segera
menyuruh Ledi untuk mengobatinya. Tapi Ledi acuh tak acuh, mungkin merasa sakit
hati dengan celotehan Priya, mungkin juga ingin membuat Priya semakin
uring-uringan. Kontan saya memelototi Ledi sehingga tangan kiri saya itu
terpaksa mengobati Priya sambil bersungut-sungut.
Akhirnya,
berdasarkan kesepakatan bersama, Ledi dan Priya bertukar fungsi. Ledi
mengerjakan semua tugas Priya, sedangkan Priya mengerjakan tugas Ledi. Tentu
saja tangan kiri saya itu tidak dapat bekerja selincah dan setangkas Priya
karena dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat. Ledi mudah sekali letih
dan pegal-pegal. Minimal dia harus dipijat seminggu sekali. Namun semangat
juangnya sangat tinggi. Dia tidak pernah putus asa. Mungkin karena aksesorinya
tetap saya biarkan melekat padanya.
Sedangkan
Priya tidak perlu bersusah payah mempelajari tugas-tugas Ledi. Dia cepat
tanggap dan cukup gesit, terutama saat membersihkan bagian tubuh saya yang
tersembunyi. Gerakan jari-jemarinya lincah dan terarah. Dia mengerti bagian
mana yang harus diperlakukan dengan kasar dan bagian mana yang diperlakukan
dengan lebih lembut. Agaknya dia sangat senang memperoleh tugas baru, bahkan
cenderung menikmati.
Awalnya
saya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan Priya. Bagi saya, itu hal
yang biasa. Namun lama-kelamaan tindakan Priya semakin kurang ajar. Dia bukan
sekadar membersihkan, tapi juga sudah mulai berani memainkan jari-jarinya di
daerah intim kewanitaan saya. Hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan Ledi.
Tindakan ini tentu saja membuat saya naik pitam dan naik darah. Saya harus melakukan sesuatu agar tangan kanan
saya ini berhenti melakukan tindakan tidak senonoh.
Akhirnya,
ketika tindakannya semakin di luar batas, saya betul-betul
tidak bisa menahan diri.
"Bangsat! Saya sudah
menduga kalau kamu tidak bisa dipercaya, Priya!"
Dan crass...!! Kapak yang
diayunkan Ledi membabat Priya sampai putus. Saya tersenyum puas!