Selasa, 24 Februari 2015

PROTES


           Suatu hari tangan kanan saya protes.
 "Kamu curang!" teriaknya, "kamu curang dan tidak berperikemanusiaan! Seenaknya saja memaksaku melakukan semua pekerjaan yang berat. Sedangkan dia tidak melakukan apa-apa!"
            Mula-mula saya tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Belakangan saya baru tahu ternyata dia iri pada tangan kiri saya.
            "Mengapa kamu mengatakan saya curang? Bukankah selama ini saya telah bersikap adil pada kalian berdua?"
            Priya, demikian saya menamakan tangan kanan saya, tidak mau mendengar kata-kata saya. Dia justru membeberkan sebab musabab keiriannya pada Ledi, tangan kiri saya. Menurut Priya, saya sering memaksanya melakukan pekerjaan yang berat. Misalnya, menulis PR yang senantiasa menumpuk, atau menulis contekan dengan huruf kecil-kecil sampai jari-jemarinya lecet. Menyuap makanan ke dalam mulut saya sampai jari-jarinya kepanasan karena kebetulan saya suka makanan yang pedas-pedas, atau mengangkat ember berisi air hangat untuk mandi saya, serta setumpuk tugas lainnya.
            Sedangkan Ledi, masih menurut Priya, tidak begitu sering bekerja. Paling-paling tugasnya hanya membersihkan bagian tertentu dari tubuh saya. Akan tetapi, dia malah diberi berbagai aksesori untuk mempercantik penampilannya. Ledi diberi cincin emas sekian gram di jari manisnya, gelang mutiara yang melekat erat pada pergelangannya, ditambah lagi dengan arloji buatan Swiss sehingga Ledi kelihatan semakin berkelas. Keadaan inilah yang membuat Priya uring-uringan dan cemburu luar biasa.
            "Dari kamu kecil sampai dewasa, saya tidak pernah dihadiahkan yang namanya emas, gelang mutiara, atau arloji buatan Swiss. Paling banter cuma karet gelang yang kamu kutip dari tong sampah! Padahal saya kerja nonstop 24 jam! Mulai dari mencuci, memasak, menyetrika, menulis, makan, garuk kepala, angkat beban, dan pekerjaan lain yang membosankan! Tapi apa imbalannya, coba! Apa?"
            Saya tertawa sampai bahu saya terguncang. "Kamu terlalu berlebihan, Pri!" kata saya, "status kamu sebagai tangan kanan mengharuskan kamu kerja lebih berat. Itu sudah dari sononyo! Sudah kodratnya! Sedangkan Ledi, meskipun tugasnya sedikit, namun dia selalu berhubungan dengan benda-benda kotor. Tinja, misalnya. Atau sampah, atau ingus, atau upil, atau bangkai tikus, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu! Tapi Ledi belum pernah tuh, protes seperti kamu!"
            "Tentu saja dia tidak protes, karena setelah melakukan pekerjaan yang kotor, dia diberi hadiah yang bagus-bagus!"
            "Wajar dong Pri, Ledi itu kan perempuan, sama seperti saya. Dia juga perlu tampil cantik setiap hari. Lagi pula, kan kamu juga yang bangga kalau pasangan kamu kelihatan oke. Iya kan..."
            "Ah, alasan! Banyak cingcong!"
            "Sudahlah Pri, take it easy. Jangan terlalu memprovokasi keadaan. Ambil hikmahnya saja. Bukankah sebagai tangan kanan pergaulan kamu menjadi lebih luas? Kamu kan sering saya perkenalkan dengan teman-teman saya. Kamu juga sudah pernah berjabatan tangan dengan rektor saya yang kulit tangannya halus itu. Iya kan? Dan anu, ingat nggak kamu, waktu berdesakan dalam bis? Kamu kan sempat menyentuh bokong cowok yang berdiri di depanku. Empuk kan? Nah, sedangkan Ledi..."
            "Pokoknya saya tidak terima dengan sikap kamu yang pilih kasih, unfair, dan berat sebelah! Ini sama saja mengganggu hak asasi saya sebagai tangan kanan!"
            Saya tertawa mengejek. "Lantas kenapa? Apa kamu juga merasa perlu mengadukan nasibmu ke Komnas HAM?"
            Tangan kanan saya terediam, mungkin tersinggung. Kulitnya berubah merah. Ototnya menegang, urat-uratnya menonjol keluar, jarinya dikepal seperti menyimpan sejuta dendam yang membara. Dan tanpa sempat diduga, tiba-tiba saja dia memukulkan jari-jarinya ke dinding dengan sekuat tenaga. Kontan saja saya menjerit kesakitan seraya memohon supaya dia menghentikan kegilaannya itu.
            "Oke...oke...keluhanmu saya dengarkan! Tapi tolong, hentikan tindakan tololmu ini! Kamu sama saja dengan bunuh diri, tahu!"
            Priya akhirnya mengalah. Dia kembali normal dan mengendurkan urat syarafnya. Tiga jarinya mengalami pendarahan. Saya yang sedang meringis kesakitan segera menyuruh Ledi untuk mengobatinya. Tapi Ledi acuh tak acuh, mungkin merasa sakit hati dengan celotehan Priya, mungkin juga ingin membuat Priya semakin uring-uringan. Kontan saya memelototi Ledi sehingga tangan kiri saya itu terpaksa mengobati Priya sambil bersungut-sungut.
            Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama, Ledi dan Priya bertukar fungsi. Ledi mengerjakan semua tugas Priya, sedangkan Priya mengerjakan tugas Ledi. Tentu saja tangan kiri saya itu tidak dapat bekerja selincah dan setangkas Priya karena dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat. Ledi mudah sekali letih dan pegal-pegal. Minimal dia harus dipijat seminggu sekali. Namun semangat juangnya sangat tinggi. Dia tidak pernah putus asa. Mungkin karena aksesorinya tetap saya biarkan melekat padanya.
            Sedangkan Priya tidak perlu bersusah payah mempelajari tugas-tugas Ledi. Dia cepat tanggap dan cukup gesit, terutama saat membersihkan bagian tubuh saya yang tersembunyi. Gerakan jari-jemarinya lincah dan terarah. Dia mengerti bagian mana yang harus diperlakukan dengan kasar dan bagian mana yang diperlakukan dengan lebih lembut. Agaknya dia sangat senang memperoleh tugas baru, bahkan cenderung menikmati.
            Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan Priya. Bagi saya, itu hal yang biasa. Namun lama-kelamaan tindakan Priya semakin kurang ajar. Dia bukan sekadar membersihkan, tapi juga sudah mulai berani memainkan jari-jarinya di daerah intim kewanitaan saya. Hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan Ledi. Tindakan ini tentu saja membuat saya naik pitam dan naik darah. Saya harus melakukan sesuatu agar tangan kanan saya ini berhenti melakukan tindakan tidak senonoh.
Akhirnya, ketika tindakannya semakin di luar batas, saya betul-betul tidak bisa menahan diri.
            "Bangsat! Saya sudah menduga kalau kamu tidak bisa dipercaya, Priya!"

Dan crass...!! Kapak yang diayunkan Ledi membabat Priya sampai putus. Saya tersenyum puas!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer