Selasa, 10 Februari 2015

L E P A Y

Temanku yang orang Minang mengatakan lepay itu artinya lemah. Teman yang lain, asli orang Jambi, mengatakan bahwa selain lemah, lepay juga berarti lemas atau tidak berdaya. Seseorang dikatakan lepay apabila memiliki kelainan fisik sejak lahir sehingga tidak segesit orang normal atau juga karena kelelahan setelah melakukan sesuatu.

Secara kebetulan, ada salah seorang warga di kompleks perumahan kami bernama Lepay. Perawakannya kurus, ceking, dan kelihatan tidak berdaya. Kalau menilik dari perawakannya, dia memang cocok dinamakan Lepay. Entah orang tuanya yang sengaja menamakannya demikian, entah warga sekitar yang menjulukinya, aku juga tidak begitu paham. Secara fisik, dia memang jauh dari normal. Ada yang bilang dia dilahirkan dalam keadaan "kurbul" (kurang bulan). Ada pula yang mengatakan dia sakit-sakitan terus semenjak dilahirkan. Oleh karena itu, dia menjadi -maaf- tunawicara sehingga tidak bisa berkomunikasi secara normal.

Tapi Lepay tidaklah selepay yang orang kira. Setiap hari dia bekerja mengangkut sampah yang ada di rumah warga, Dari pagi sampai sore, dia berkeliling kompleks sambil mendorong gerobak sampahnya. Berhenti di salah satu rumah dan memindahkan sampah yang ada di tong sampah ke dalam gerobaknya. Kemudian dia berpindah ke rumah yang lain dan melakukan hal yang sama. Ketika gerobak sampahnya telah penuh, dia membuangnya ke tempat pembuangan sampah yang ada di ujung kompleks. Demikianlah yang dia lakukan. Setiap pagi. Setiap sore. Setiap hari.

Ya, Lepay "The Garbageman".
Bukankah pekerjaan seperti itu membutuhkan fisik yang kuat? Stamina yang prima? Mental yang kuat? Tentu bukan orang sembarangan yang bisa dan mau melakukan itu. Dan Lepay bukan orang sembarangan. Dalam keterbatasan fisik, dia mampu melakukannya. Dalam keterbatasan berkomunikasi, dia mampu mengais rupiah. Dia tidak mau hanya menadahkan tangan, mengharap belas kasihan orang. Dia bekerja. Dia berusaha. Dia gembira. Dan dia dibutuhkan. Kehadirannya dinantikan.

(Aku salah seorang yang menantikan kehadirannya).

Lepay. Biarlah nama atau julukan itu tetap melekat pada dirinya. Tak peduli apa artinya. Yang pasti, Lepay yang kami kenal adalah Lepay yang tak lepay.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer