Kamis, 10 November 2016
Lelaki yang tak kusebut namanya*
Aku mengenalnya saat akan mengadakan kegiatan penyuluhan kebahasaan di kota tempat dia berdomisili. Dia merupakan narahubung kami dalam mempersiapkan peserta dan tempat kegiatan. Beberapa teman yang sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya, mengatakan bahwa dia -lelaki yang tak kusebut namanya- kurang bersahabat. Dengan kata lain, ga asyik diajak kerja sama. Mungkin karena dia masih tergolong pejabat di kantornya sehingga agak jaim dengan kami yang staf biasa ini.
Awalnya aku terpengaruh dengan opini teman-teman mengenai dia. Saat pertama kali menghubunginya lewat ponsel, gambaran mengenai kejaiman itu memang terasa. Suaranya berat, sedikit parau, dan terkesan kurang bersahabat. Setiap kutanya, jawabannya to the point. No basa no basi. Persis pejabat yang baru naik daun.
Ketika akan bertemu secara langsung di lokasi kegiatan, aku ketar-ketir juga. Tidak nyaman karena bakal berhadapan dengan pejabat yang bossy seperti dia. Apalagi aku bukan tipe orang yang suka berdekat-dekat ria atau bermanis wajah ria dengan para pejabat model begitu. Duh, pasti membosankan!!!
Dan apa yang kubayangkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan!!!
Lelaki itu -yang tak kusebut namanya- jauh dari perkiraan. Perawakannya memang gemuk, parasnya dingin berwibawa, mirip pejabat kantoran yang memandang remeh bawahan. Akan tetapi, dia ramah sekali. Bicaranya santai dan penuh rasa humor. Seketika itu juga aku merasa sudah lama kenal dengannya. Perasaan ketar-ketir langsung mencair. Kami berbincang akrab seperti kawan dekat. Kerja sama pun berjalan lancar sampai kegiatan selesai.
Dan dia membawakan kami oleh-oleh sebelum kembali ke tempat asal. Terima kasih ya, Pak...
*eksotis kali judulnya, tak seperti ceritanya, hehehe...
Ibuku, Pahlawanku
Aku akan ceritakan ibuku apa adanya...
Meskipun dikenal cerewet, ibu adalah panutanku. Anak-anaknya bisa seperti sekarang karena buah dari kecerewetannya. Ibu memang tidak kenal basa-basi dalam bertutur. Apa yang tidak dia sukai, akan dicetuskannya langsung. Apa yang dia kagumi, tak kan disanjung-sanjung. Orang yang baru mengenalnya pasti memandang negatif. Namun orang yang sudah tahu wataknya, akan rindu untuk bertemu. Begitulah ibu. Tak sempurna. Apa adanya, tetapi sangat bersahaja.
Ibu tempat kami bertanya. Tempat kami berkeluh kesah. Tempat berbagi tawa. Selalu ada yang kurang bila ibu tak ada. Selalu ada yang hilang. Kecerewetan itu... Yah, kecerewetan itu dirindu saat tak bertemu ibu.
Tepat pada hari ini, Hari Pahlawan, ibu genap berusia 64 tahun. Masih ada sisa kecerewetannya. Di balik sifat cerewet itu, kata-kata bijak tetap mengalir dari mulutnya. Nasihat dan teguran, tak pernah lepas dari ucapannya. Doa-doa indah terus dipanjatkan untuk anak cucunya.
Selamat ulang tahun, Ibu...
Langganan:
Komentar (Atom)
Entri Populer
-
Man. Begitu dia sering dipanggil. Orangnya ramah, murah senyum, pada tetangga tak pernah usil. Rambutnya gondrong, rapi dikuncir dengan ...
-
Dia tak akan melewatkan acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi berbayar itu. Acara yang menyajikan keterampilan melukis dan mewarna...