Rabu, 29 Juni 2016

OMA*

Oma, perempuan tangguh berusia 69 tahun, tinggal sendiri di rumahnya yang teduh. Anaknya yang sulung tinggal di Bandung. Semenjak menikah, hanya dua kali berkunjung. Anak kedua tinggal di sebuah desa kecil di Muarojambi, datang seminggu sekali. Anak bungsu, satu-satunya perempuan dan satu-satunya belum menikah, tinggal di Jakarta. Bekerja di sebuah bank ternama. Belum tentu datang saat hari raya, karena kesibukannya bekerja.

Oma hidup berbahagia. Tinggal di antara tetangga yang perhatian kepadanya. Setiap pagi, saat ke warung, selalu menyapa tetangga yang berpapasan dengannya. Tidak lupa menitipkan rekening listrik, air, dan gas kepada tetangga yang berbaik hati membayarkan ke loketnya. Tidak pula lupa menyisihkan uang jajan untuk anak tetangga yang telah membayarkan tagihan listrik, air, dan gasnya itu. Sore sepulang dari gereja, Oma tak absen memberikan permen kepada anak-anak yang sedang bermain di sepanjang lorong rumahnya. Dan Oma akan pulang dengan senyum di matanya diiringi ucapan terima kasih anak-anak tetangga. 

Pagi di pertengahan Ramadan, Oma tak lagi menjadi Oma. Wajahnya kelihatan begitu tua. Mata sipitnya semakin sipit memandangi anak-anak yang kebetulan bermain di depan rumahnya. "Kamu Tuhan Yesus, ya? Kamu Tuhan Yesus??" Begitu Oma menyapa sambil menunjuk anak-anak yang bermainnya tak lagi khusyuk. Oma terus menanyakan pertanyaan serupa sampai hampir tak bersuara. Mendadak Oma tak sadarkan diri. Tetangga segera mengantisipasi. Membawa Oma ke rumah sakit di dekat bandara Jambi. Hasil diagnosa dokter dinanti, anak-anak Oma dihubungi.

Oma adalah orang yang religius. Dalam ketaksadarannya, dia selalu menyebut nama Yesus. Oma mungkin rindu. Rindu pada Tuhannya, pada almarhum suaminya, pada anak-anaknya. Oma yang malang. Untung anak-anaknya segera datang. Mengecup Oma dengan sayang. Merawat Oma malam dan siang...

Oma sekarang sudah sembuh, sudah kembali ke rumahnya yang teduh. Tapi Oma tak lagi selincah dulu. Oma sering duduk termangu. "Mama segera sembuh ya, karena aku sebentar lagi menikah," demikian kata si Bungsu.


*inspired by a true story

Puasa Full

Alhamdulillah....

Memasuki hari ke-24 Ramadan, putri kecilku masih tangguh berpuasa. Belum ada bolongnya, padahal ini kali yang pertama dia belajar berpuasa full. Tahun lalu hanya kuat setengah hari, itu pun harus sering-sering dibujuk dan dirayu. Ada saja alasannya supaya berbuka dengan segera. Hauslah, sakit perutlah, pusinglah.... Tapi syukurlah, tahun ini dia kuat berpuasa sehari penuh tanpa harus dipaksa. Dibangunin sahur juga tidak banyak bertingkah. Cukup berbisik lembut di telinganya, dia akan segera terjaga. Dia (pun abangnya) juga tak pernah absen mengikuti kegiatan tahfiz yang digelar di masjid dekat rumah setiap selesai salat Asar. Puji syukur kepada Allah karena kemudahan yang diberikan kepada kami dalam mengajak anak-anak beribadah sejak dini.

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak...

Harus ada reward yang diberikan sebagai bentuk apresiasi atas ketangguhannya berpuasa. Entah berbentuk apa pun itu, yang pasti akan membuat dia semakin bersemangat dalam berpuasa. Dan reward itu dijanjikan diberikan saat akhir Ramadan nanti. Semakin dekat penghujung Ramadan, semakin semangat dia berpuasa. Sudah tak sabar lagi untuk menagih janji....



Entri Populer