Rabu, 31 Desember 2014

JBI - PLG w/ LOVE


Tak disangka tak dinyana. Tak pula ada rencana.
Dua sahabat lama, bertemu dalam belanga...uupss, sayuran kelless...

Ya. Aku dan Rahma. Teman sekelas saat SMA. Dua karakter yang sangat berbeda. Rahma yang cerewet dan aku yang kalem. Rahma yang supel dan aku yang kikuk. Hanya satu persamaan kami. Jempol tangan kami yang pendek dan lebar. Jempol yang aneh. Yang menunjukkan kami berbeda dan unik (sayang, jempol unik ini tak sempat aku abadikan).
 Jadi, ceritanya...Rahma, yang kini menetap di Palembang, mengajak anak-anaknya liburan ke Jambi, kota tempat kami berdomisili. Aku tentu menerima dengan senang hati. Mereka stay di gubuk kecil kami selama beberapa hari. Di Jambi, aku bawa mereka jalan-jalan ke Candi Muarojambi dan melihat sungai Batanghari. Tidak ada yang istimewa. Tapi Rahma dan keluarga sepertinya menikmatinya. Satu hal yang membuat kami bahagia, anak-anak kami cepat berteman dengan akrabnya.


Mutiara dan Ayra

Fitrah dan Farhan


Singkat cerita, gantian aku dan keluarga yang jalan-jalan ke Palembang, berbarengan dengan Rahma dan anak-anaknya. Kami juga menikmati menginap di pondok kecilnya yang sederhana. Tidak ada juga yang istimewa, tetapi terasa banyak cinta di dalamnya.
      

Cinta yang tak mengenal pamrih itu, semoga terus tumbuh dan tak rapuh. Jarak antara Jambi dan Palembang yang tidak begitu jauh, memungkinkan kita untuk terus memupuknya sampai usia merengkuh.
Terima kasih Rahma, yang telah membuat liburan kami kali ini menjadi sangat berarti. Keep in touch, sista!!!!

Rabu, 17 Desember 2014

YAA THABIA LUDLU

saling menjagalah, anak-anakku
dalam kebahagiaan, kesedihan,
kesepian


saling menyayangilah, anak-anakku
dalam kecukupan, kekurangan,
kepayahan



saling memahamilah, anak-anakku
dalam persaudaraan, perbedaan,
pertikaian


saling memaafkanlah, anak-anakku,
dalam kealpaan, kekhilafan,
keterbatasan


loving and caring,
anak-anakku.
yaa thabia ludlu

Selasa, 16 Desember 2014

Hot Wheels-Mania

Entah kapan tepatnya dia jatuh cinta pada benda-benda yang bernama Hot Wheels... Tapi saat itu juga, dia mulai menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajannya untuk membeli mobil-mobilan kecil yang beragam bentuk dan warna tersebut. Beberapa pernak-pernik yang berhubungan dengan itu juga dibelinya, entah itu boks penyimpanan, lintasan (track), sandal, atau baju kaos (dua yang disebut terakhir sudah kedaluwarsa untuk digunakan).




Dia juga menyisihkan uang jajannya untuk membeli majalah Hot Wheels, majalah yang khusus membahas produk tersebut dari a-z. Sampai saat ini aku biarkan saja dia mengoleksi benda-benda itu, sepanjang tidak merugikan dirinya dan orang lain. Toh, dia juga membelinya dengan anggaran dia sendiri. Semoga saja dia, si sebelas tahun kami, dapat bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.

Senin, 15 Desember 2014

Dialog


             "Bagaimana?"
“Apanya?”
“Rencana kita”
“Rencana yang mana?”
“Ah masa kamu lupa. Nanti malam katanya…”
“Oo, itu ya?”
“Iya. Bagaimana?”
“Mm…bagaimana ya? Aku bingung nih!”
“Kenapa harus bingung?”
“Anu, harus gelap ya?”
“Iya dong! Masa terang benderang, bisa ketangkap hansip nanti!”
“Aku takut gelap nih!”
“Kenapa takut? Nggak bakalan keliatan sama orang!”
“Janji?”
“Janji.”
“Aku masih ragu”.
“Kenapa?”
“Aku tidak biasa”.
“Mulai sekarang harus biasa”.
“Mana mungkin? Aku berasal dari keluarga baik-baik, tidak pernah diajarkan hal-hal yang menyimpang dari aturan…”
            “Pengecut kamu!”
“Bukan begitu, maksudku…”
“Ah, sudahlah! Aku cari yang lain saja!”
(pergi)
“Eh, tunggu Bang!”
“Apa lagi?”
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud…”
“Kamu mau tidak?”
“Ya      mau sih, tapi…”
”Mau tidak?”
(berpikir)
“Bagaimana?”
“Iya deh!”
“Nah, gitu dong! Kata orang, sekali mencoba pasti ketagihan!”
“Tapi aku tidak tahu caranya, aku belum pernah mencoba!”
“Gampang, nanti kuberi tahu. Kalau soal begini tidak perlu dipelajari, yang penting ada keberanian dan kemauan!”
“Kamu sudah pengalaman ya?”
“Hus, sembarangan kamu ngomong!”
“Lantas, kamu tahu dari mana?”
“Sudah kukatakan, dalam melakukan hal ini hanya diperlukan keberanian dan kemauan. Pengalaman tidak penting. Dari mana aku tahu, itu juga tidak penting!”
“Ya sudah, jangan marah! Ngomong-ngomong, posisinya bagaimana?”
“Aku jongkok, kamu berdiri”.
“Berdiri? Yang benar saja!Jadi, kamu di bawah aku, begitu?”
“Iya, pakai alat bantu, nanti akulah yang masukin ke lobangnya!”
“Lama tidak?”
“Lama? Gila kamu. Santai saja!”
“Setelah itu?”
“Setelah itu? Ya…lihat saja nanti! Kamu kok cerewet amat sih?”
“Maaf deh, soalnya aku gugup sekali. Jujur saja, ini pengalaman pertamaku!”
“Aku juga, tapi aku berusaha tenang karena yang kita lakukan sudah sering dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Kamu percaya?”
“Apanya?”
“Bahwa kita bukan orang pertama yang melakukannya!”
“Aku percaya!”
“Kalau begitu, tidak ada masalah lagi kan?”
“Tidak!”
“Ya sudah, sampai nanti malam, oke?”
(malam)
“Kamu sudah siap?”
”Mungkin”.
“Lho, kok mungkin?”
(tertawa)
“Entahlah, gantian aku yang gugup”.
“Alatnya mana?”
“Ini, di balik celana!”
“Keluarkan dong! Ayo cepat!”
“Ugh, susah amat! Nah, ini dia!”
“Busyet, sebesar ini muat dalam celanamu?”
“Brengsek! Diam kamu!”
“Sst…dengar!”
“Apa?”
“Suara apa itu?”
“Lho, itu kan suara…”
“Guk…guk…”
(anjing menggonggong)
“Lariii….!!!”
(terdengar teriakan)

“Hooy…maliiing!!”

Jumat, 12 Desember 2014

'Oethiet dan kopi'

Melihat teman-teman seruangan yang doyan minum kopi, aku jadi teringat Oethiet.

Oethiet itu teman sekamar aku di Pusbindiklat LIPI, Cibinong, Bogor. Saat itu kami sama-sama mengikuti diklat fungsional peneliti yang diadakan LIPI tanggal 9--30 Agustus 2014. Perawakannya langsing (eh, rada kurus,deng!!), ceria, supel, dan perhatian. Berbanding terbalik dengan aku yang pendiam, kalem, dan kurang pe-de ini (hiks...). Satu yang membuat aku kagum pada Oethiet adalah dia gak pernah alpa salat Duha!!! Duh, aku jadi minder sendiri. Dan Oethiet juga yang ngajakin aku puasa syawal ketika diklat berlangsung.
"Ini masih bulan Syawal, sayang loh, Kak, kalo kita enggak Syawalan," kata Oethiet.
Awalnya aku keberatan karena (masih) tergoda dengan menu-menu makanan yang ditawarkan pas diklat. Tapi untunglah godaan itu dapat ditepis. Aku ikut berpuasa. Selain nambah amal, sekalian nurunin berat badan, pikirku (beugh...).

Lantas, apa hubungannya dengan kopi???

Nah, itu. Si Oethiet ini doyan bingits minum kopi. Kopi selalu ada di sela-sela menu makannya. Sarapan pagi, ngopi. Istirahat pagi, ngopi. Makan siang, ngopi. Istirahat sore, ngopi. Makan malam, ngopi. Mau tidur, ngopi. Ih, coffee-freak, ya!!! Tapi anehnya, bawaannya tetap aja ngantuk di kelas. Heran!!


Pernah suatu ketika, seusai makan malam. Oethiet membawa serta cangkir kopinya (masih berisi kopi, tentu saja) ke kamar. Aku pikir dia mau lanjutin ngopi. Eh, ternyata dia tidur!! Itu kopi dianggurin sampe pagi. Pas bangun pagi, dia hirup kopi -yang sudah bermalam itu- sampai ludes!!!! Alamak!!!!
Bukan sekali itu saja si kopi bermalam di kamar kami. Dan bukan sekali itu Oethiet minum kopi yang bermalam. Tapi Oethiet pernah kena batunya. Pas bangun pagi dan mo ngirup kopi dingin itu...tiba-tiba seekor kecoa merangkak keluar dari cangkir kopinya. "Kakaaaaaakkk!" teriaknya memanggilku dengan wajah ketakutan. Rupanya dia fobia kecoa,hahaha...
Aku pikir, setelah kejadian itu, dia jera membawa kopi ke kamar. Ternyata tidak. Dasar pengopi!!!

#i'll always miss U, Oethiet

Rabu, 10 Desember 2014

Saat Kematian Begitu Dekat

Bermula pada tanggal 4 Agustus 2014.
Seorang tetanggaku -kami memanggilnya Bapak Iyan- tiba-tiba dipanggil oleh Sang Khalik. Padahal, siang itu beliau baru saja memanaskan mesin mobilnya. Bertegur sapa dengan para tetangga. Entah bagaimana, beliau tiba-tiba terjatuh di depan teras rumahnya, memanggil lirih istrinya, dan...

Tanggal 4 September 2014.
Tetanggaku yang lain -Mak Wo- baru selesai berkunjung ke rumah alm. Bapak Iyan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Telepon dari saudaranya di kampung halamannya di Sumatera Barat mengabarkan bahwa menantu laki-lakinya meninggal dunia. Mak Wo pun bergegas pulang kampung, padahal dia baru seminggu kembali ke Jambi setelah berlebaran dengan anak dan menantunya di kampung halaman.

Tanggal 4 Oktober 2014 (pagi).
Tetanggaku yang tinggal persis di depan rumah, mendapatkan kabar tak terduga dari keluarga. Abang kandungnya yang tinggal di Jakarta mendadak jatuh di kamar mandi dan tak sadarkan diri. Nyawa beliau tak tertolong lagi. Saat lebaran kemarin, si Abang memang sempat berkirim kabar dan mohon didoakan agar segala kesalahannya yang terdahulu dimaafkan...

Tanggal 4 Oktober 2014 (malam).
Sayup-sayup aku mendengar suara perempuan menangis. Saat itu pukul 21.30. Aku membangunkan suami yang sudah terlelap seusai isya. Berdua kami keluar rumah dan mendapati suara tangis itu berasal dari rumah tetangga sebelah. Saat suara tangis itu semakin keras, kami segera menuju rumah tetangga sebelah. Ternyata Oma, -tetangga sebelah itu- mendapat kabar duka cita. Anaknya yang di Bogor mengalami kecelakaan. Dia ditabrak sepeda motor saat hendak menyeberang jalan dan seketika itu juga meninggal di tempat. Padahal, siang tadi anaknya baru saja menelepon Oma dan berjanji akan ke Jambi saat Natalan nanti...

Allah Mahabesar. Allah Mahatahu. Hanya Dia yang punya kuasa untuk menguak rahasia yang tak satu pun manusia bisa menerjemahkannya!!!

Selasa, 09 Desember 2014

Pacarmania

Pacarku ada satu. Satu di barat, satu di timur, satu di utara, dan satu di selatan. Semuanya cantik, baik, dan, sayang padaku. Yang di barat putri seorang konglomerat. Setiap jalan dengannya, dijamin aku nggak bakalan melarat. Sayangnya, giginya berkarat sehingga aku agak stres berat kalau duduk dekat-dekat. Tapi no problemlah, yang penting hartanya sudah kujerat!
            Pacar yang di timur juga tergolong orang makmur. Dia berkaca mata karena penglihatannya agak kabur. Giginya bersih, nafasnya harum karena setelah makan selalu kumur-kumur. Tapi sayang, badannya kelewat subur dan sudah agak berumur.
            Yang di utara, juga anak orang kaya. Tapi pelitnya, jangan ditanya. Kalau ngajak makan, selalu di kaki lima. Sering aku kesal dibuatnya, tapi entah kenapa aku selalu cinta.
            Nah, yang paling jempolan adalah pacarku yang di selatan. Nggak doyan jajan, nggak doyan makan, nggak doyan jalan. Yah, namanya juga anak seorang pegawai rendahan yang hidup pas-pasan. Dia selalu menolak kalau kuajak kencan sehingga membuat aku penasaran. Tapi aku sayang padanya karena dia sangat perhatian. Dan yang paling membanggakan, dia masih (maaf) perawan!
            Yah, itulah sedikit cerita mengenai pacar-pacarku. Mengenai aku sendiri, tidak ada yang terlalu istimewa untuk diceritakan. Aku cuma seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta. Mengenai tampang dan penampilan, yah di atas rata-ratalah! Mungkin itu yang menyebabkan banyak wanita yang tertarik padaku. Apalagi rayuanku (menurut kawan-kawan sekantor) cukup maut juga. Dan aku bangga akan hal itu. Bagaimanapun, itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Sudah tampang keren, jago merayu pula, wah lengkaplah atributku sebagai “don juan”. Terima kasih Tuhan, hidup seperti ini memang sudah lama aku idam-idamkan!
            Kelebihan lain yang kumiliki adalah pengaturan jadwal kencan yang rapi. Pacar yang di barat tidak pernah menaruh curiga padaku padahal usia percintaan kami sudah memasuki tahun keempat. Jadwal pertemuanku dengannya memang tidak pernah bentrok dengan yang lain, demikian pula sebaliknya. Aku sendiri heran kenapa bisa begitu. Mungkin itu yang dinamakan mukjizat pemberian Tuhan.
            Hubungan dengan pacar yang di timur sebenarnya masih agak kabur. Mungkin karena dia sudah agak berumur maka frekuensi pertemuan kami kurang teratur. Biasanya kami berkencan kalau dia memang betul-betul kesepian dan butuh teman bermain catur sebelum tidur.
            Hubungan dengan pacar yang di utara baru memasuki bulan ke lima. Meski begitu, kami sudah seperti kenal lama. Dia memang cukup agresif orangnya sehingga aku sudah tahu titik kelemahannya.
            Pacar yang di selatan baru kukenal beberapa bulan belakangan. Terhadapnya aku agak sungkan dan segan, soalnya dia wanita yang sopan. Sepertinya, dia lebih kutargetkan untuk masa depan dan bukan sekadar pacaran. Ah, itu tidak jadi persoalan. Yang penting jadwal kencanku tidak pernah bentrokan. Benar-benar suatu keajaiban, bukan?
            Suatu kali, pacar yang di barat nelpon ke kantor. Katanya, dia kangen dan ingin bertemu. Kami memang hampir tiga bulan tidak berkirim kabar. Masalahnya, dia sedang merampungkan skripsi dan tidak mau diganggu. Aku oke-oke saja karena dengan begitu aku lebih leluasa kencan dengan yang lain. Sekarang dia menghubungiku dan membawa kabar gembira. Katanya dia akan diwisuda hari Sabtu depan. Aku diminta datang sebagai pendamping. Oke, aku menyanggupi.
            Ketika pulang dari kantor, aku bertemu dengan pacar yang di utara. Aku agak kaget juga, soalnya nggak biasanya dia mau singgah. Rupanya, dia juga bawa kabar gembira.
            "Kamu ingat, tanggal 23 hari apa?" tanyanya. Aku diam sembari berpikir.
            "Hari Sabtu," jawabku sekenanya. Dia cemberut dan menyebutku pikun.
            "Pikun apanya?" protesku, "tanggal 23 memang hari Sabtu!"
            "Hari Sabtu sih hari Sabtu, tapi tepatnya hari apa?"
            Lama aku mengingat. Oh, rupanya hari ulang tahun anjing kesayangannya. Untuk itu dia mengundangku supaya datang. Aku diberi kehormatan untuk memotong tumpeng dan menyajikannya buat si anjing. Sial, umpatku. Tapi aku mengiyakan.
            Tiba di rumah, aku gelisah. Entah kenapa aku ingin bertemu si selatan. Beberapa jam tidak merasakan kelembutannya membuat aku pusing. Karena itu, setelah makan siang, aku bersiap-siap. Namun, niat itu tertunda. Baru saja mengunci kamar kos, pacar yang di timur alias si tante subur, tiba-tiba muncul. Dia mengajak aku ke pusat kebugaran hari Sabtu depan, tempat dia biasa latihan senam. Tentu saja aku tak bisa menolak karena andilnya cukup besar juga dalam kehidupanku.
            Aku baru bisa ke selatan setelah hari agak sorean. Tapi sial, niatku tidak juga kesampaian. Rumah si selatan sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Kata tetangga, mereka balik kampung karena ada saudara yang selamatan. Pulang ke rumah baru Sabtu depan. Sialan, umpatku melepas kekesalan.
            Membuang suntuk, aku pelesiran ke mal. Sekalian cari hadiah buat anjing si utara yang akan berulang tahun. Lagi asyik-asyiknya, mataku menangkap sebuah pemandangan indah. Seorang gadis cantik bermata sayu tengah menatapku. Dia tersenyum, aku tergoda. Kudekati dia. Kami berkenalan. Kuajak dia kencan. Oke, Sabtu depan, katanya. Dia memberikan alamatnya. Oo… ternyata dia tinggal di wilayah tenggara kotaku. Cukup jauh, tapi tak mengapa. Yang penting sekarang, aku punya pacar satu. Di tenggara.

            Ya, sampai sekarang pacarku cuma satu. Satu di barat, satu di timur, satu di utara, satu di selatan, satu di tenggara …

LIBURAN

Musim liburan telah tiba. Tapi sampai saat ini aku belum memutuskan kami sekeluarga akan liburan ke mana. Anak-anak pengen ke Medan. Rindu ompung, katanya. Plus para sepupu yang udah setahun tidak bersua.


Pengen sih,ke medan tetapi mengingat harga tiket pesawat yang gila-gilaan (ya eyalah,peak season gitu loh!!!), semangat jadi kendor. Kalo naik bus, akan susah hati melihat anak2 yang mabok sepanjang perjalanan,ufffhh............
Entahlah. Aku belum juga memutuskan, padahal izin cuti dari atasan sudah dikantongi. Sementara suami juga tidak memberikan respons yang berarti. Haddeh..:(

Entri Populer