Selasa, 09 Desember 2014

Pacarmania

Pacarku ada satu. Satu di barat, satu di timur, satu di utara, dan satu di selatan. Semuanya cantik, baik, dan, sayang padaku. Yang di barat putri seorang konglomerat. Setiap jalan dengannya, dijamin aku nggak bakalan melarat. Sayangnya, giginya berkarat sehingga aku agak stres berat kalau duduk dekat-dekat. Tapi no problemlah, yang penting hartanya sudah kujerat!
            Pacar yang di timur juga tergolong orang makmur. Dia berkaca mata karena penglihatannya agak kabur. Giginya bersih, nafasnya harum karena setelah makan selalu kumur-kumur. Tapi sayang, badannya kelewat subur dan sudah agak berumur.
            Yang di utara, juga anak orang kaya. Tapi pelitnya, jangan ditanya. Kalau ngajak makan, selalu di kaki lima. Sering aku kesal dibuatnya, tapi entah kenapa aku selalu cinta.
            Nah, yang paling jempolan adalah pacarku yang di selatan. Nggak doyan jajan, nggak doyan makan, nggak doyan jalan. Yah, namanya juga anak seorang pegawai rendahan yang hidup pas-pasan. Dia selalu menolak kalau kuajak kencan sehingga membuat aku penasaran. Tapi aku sayang padanya karena dia sangat perhatian. Dan yang paling membanggakan, dia masih (maaf) perawan!
            Yah, itulah sedikit cerita mengenai pacar-pacarku. Mengenai aku sendiri, tidak ada yang terlalu istimewa untuk diceritakan. Aku cuma seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta. Mengenai tampang dan penampilan, yah di atas rata-ratalah! Mungkin itu yang menyebabkan banyak wanita yang tertarik padaku. Apalagi rayuanku (menurut kawan-kawan sekantor) cukup maut juga. Dan aku bangga akan hal itu. Bagaimanapun, itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Sudah tampang keren, jago merayu pula, wah lengkaplah atributku sebagai “don juan”. Terima kasih Tuhan, hidup seperti ini memang sudah lama aku idam-idamkan!
            Kelebihan lain yang kumiliki adalah pengaturan jadwal kencan yang rapi. Pacar yang di barat tidak pernah menaruh curiga padaku padahal usia percintaan kami sudah memasuki tahun keempat. Jadwal pertemuanku dengannya memang tidak pernah bentrok dengan yang lain, demikian pula sebaliknya. Aku sendiri heran kenapa bisa begitu. Mungkin itu yang dinamakan mukjizat pemberian Tuhan.
            Hubungan dengan pacar yang di timur sebenarnya masih agak kabur. Mungkin karena dia sudah agak berumur maka frekuensi pertemuan kami kurang teratur. Biasanya kami berkencan kalau dia memang betul-betul kesepian dan butuh teman bermain catur sebelum tidur.
            Hubungan dengan pacar yang di utara baru memasuki bulan ke lima. Meski begitu, kami sudah seperti kenal lama. Dia memang cukup agresif orangnya sehingga aku sudah tahu titik kelemahannya.
            Pacar yang di selatan baru kukenal beberapa bulan belakangan. Terhadapnya aku agak sungkan dan segan, soalnya dia wanita yang sopan. Sepertinya, dia lebih kutargetkan untuk masa depan dan bukan sekadar pacaran. Ah, itu tidak jadi persoalan. Yang penting jadwal kencanku tidak pernah bentrokan. Benar-benar suatu keajaiban, bukan?
            Suatu kali, pacar yang di barat nelpon ke kantor. Katanya, dia kangen dan ingin bertemu. Kami memang hampir tiga bulan tidak berkirim kabar. Masalahnya, dia sedang merampungkan skripsi dan tidak mau diganggu. Aku oke-oke saja karena dengan begitu aku lebih leluasa kencan dengan yang lain. Sekarang dia menghubungiku dan membawa kabar gembira. Katanya dia akan diwisuda hari Sabtu depan. Aku diminta datang sebagai pendamping. Oke, aku menyanggupi.
            Ketika pulang dari kantor, aku bertemu dengan pacar yang di utara. Aku agak kaget juga, soalnya nggak biasanya dia mau singgah. Rupanya, dia juga bawa kabar gembira.
            "Kamu ingat, tanggal 23 hari apa?" tanyanya. Aku diam sembari berpikir.
            "Hari Sabtu," jawabku sekenanya. Dia cemberut dan menyebutku pikun.
            "Pikun apanya?" protesku, "tanggal 23 memang hari Sabtu!"
            "Hari Sabtu sih hari Sabtu, tapi tepatnya hari apa?"
            Lama aku mengingat. Oh, rupanya hari ulang tahun anjing kesayangannya. Untuk itu dia mengundangku supaya datang. Aku diberi kehormatan untuk memotong tumpeng dan menyajikannya buat si anjing. Sial, umpatku. Tapi aku mengiyakan.
            Tiba di rumah, aku gelisah. Entah kenapa aku ingin bertemu si selatan. Beberapa jam tidak merasakan kelembutannya membuat aku pusing. Karena itu, setelah makan siang, aku bersiap-siap. Namun, niat itu tertunda. Baru saja mengunci kamar kos, pacar yang di timur alias si tante subur, tiba-tiba muncul. Dia mengajak aku ke pusat kebugaran hari Sabtu depan, tempat dia biasa latihan senam. Tentu saja aku tak bisa menolak karena andilnya cukup besar juga dalam kehidupanku.
            Aku baru bisa ke selatan setelah hari agak sorean. Tapi sial, niatku tidak juga kesampaian. Rumah si selatan sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Kata tetangga, mereka balik kampung karena ada saudara yang selamatan. Pulang ke rumah baru Sabtu depan. Sialan, umpatku melepas kekesalan.
            Membuang suntuk, aku pelesiran ke mal. Sekalian cari hadiah buat anjing si utara yang akan berulang tahun. Lagi asyik-asyiknya, mataku menangkap sebuah pemandangan indah. Seorang gadis cantik bermata sayu tengah menatapku. Dia tersenyum, aku tergoda. Kudekati dia. Kami berkenalan. Kuajak dia kencan. Oke, Sabtu depan, katanya. Dia memberikan alamatnya. Oo… ternyata dia tinggal di wilayah tenggara kotaku. Cukup jauh, tapi tak mengapa. Yang penting sekarang, aku punya pacar satu. Di tenggara.

            Ya, sampai sekarang pacarku cuma satu. Satu di barat, satu di timur, satu di utara, satu di selatan, satu di tenggara …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer