Pacarku ada
satu. Satu di barat, satu di timur, satu di utara, dan satu di selatan.
Semuanya cantik, baik, dan, sayang padaku. Yang di barat putri seorang
konglomerat. Setiap jalan dengannya, dijamin aku nggak bakalan melarat.
Sayangnya, giginya berkarat sehingga aku agak stres berat kalau duduk
dekat-dekat. Tapi no problemlah, yang penting hartanya sudah kujerat!
Pacar yang di timur juga tergolong
orang makmur. Dia berkaca mata karena penglihatannya agak kabur. Giginya
bersih, nafasnya harum karena setelah makan selalu kumur-kumur. Tapi sayang,
badannya kelewat subur dan sudah agak berumur.
Yang di utara, juga anak orang kaya.
Tapi pelitnya, jangan ditanya. Kalau ngajak makan, selalu di kaki lima . Sering aku kesal
dibuatnya, tapi entah kenapa aku selalu cinta.
Nah, yang paling jempolan adalah
pacarku yang di selatan. Nggak doyan jajan, nggak doyan makan, nggak doyan
jalan. Yah, namanya juga anak seorang pegawai rendahan yang hidup pas-pasan.
Dia selalu menolak kalau kuajak kencan sehingga membuat aku penasaran. Tapi aku
sayang padanya karena dia sangat perhatian. Dan yang paling membanggakan, dia
masih (maaf) perawan!
Yah, itulah sedikit cerita mengenai
pacar-pacarku. Mengenai aku sendiri, tidak ada yang terlalu istimewa untuk
diceritakan. Aku cuma seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta.
Mengenai tampang dan penampilan, yah di atas rata-ratalah! Mungkin itu yang
menyebabkan banyak wanita yang tertarik padaku. Apalagi rayuanku (menurut
kawan-kawan sekantor) cukup maut juga. Dan aku bangga akan hal itu.
Bagaimanapun, itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Sudah tampang keren,
jago merayu pula, wah lengkaplah atributku sebagai “don juan”. Terima kasih
Tuhan, hidup seperti ini memang sudah lama aku idam-idamkan!
Kelebihan lain yang kumiliki adalah
pengaturan jadwal kencan yang rapi. Pacar yang di barat tidak pernah menaruh
curiga padaku padahal usia percintaan kami sudah memasuki tahun keempat. Jadwal
pertemuanku dengannya memang tidak pernah bentrok dengan yang lain, demikian
pula sebaliknya. Aku sendiri heran kenapa bisa begitu. Mungkin itu yang
dinamakan mukjizat pemberian Tuhan.
Hubungan dengan pacar yang di timur
sebenarnya masih agak kabur. Mungkin karena dia sudah agak berumur maka
frekuensi pertemuan kami kurang teratur. Biasanya kami berkencan kalau dia
memang betul-betul kesepian dan butuh teman bermain catur sebelum tidur.
Hubungan dengan pacar yang di utara
baru memasuki bulan ke lima .
Meski begitu, kami sudah seperti kenal lama. Dia memang cukup agresif orangnya
sehingga aku sudah tahu titik kelemahannya.
Pacar yang di selatan baru kukenal
beberapa bulan belakangan. Terhadapnya aku agak sungkan dan segan, soalnya dia
wanita yang sopan. Sepertinya, dia lebih kutargetkan untuk masa depan dan bukan
sekadar pacaran. Ah, itu tidak jadi persoalan. Yang penting jadwal kencanku
tidak pernah bentrokan. Benar-benar suatu keajaiban, bukan?
Suatu kali, pacar yang di barat
nelpon ke kantor. Katanya, dia kangen dan ingin bertemu. Kami memang hampir
tiga bulan tidak berkirim kabar. Masalahnya, dia sedang merampungkan skripsi
dan tidak mau diganggu. Aku oke-oke saja karena dengan begitu aku lebih leluasa
kencan dengan yang lain. Sekarang dia menghubungiku dan membawa kabar gembira.
Katanya dia akan diwisuda hari Sabtu depan. Aku diminta datang sebagai
pendamping. Oke, aku menyanggupi.
Ketika pulang dari kantor, aku
bertemu dengan pacar yang di utara. Aku agak kaget juga, soalnya nggak biasanya
dia mau singgah. Rupanya, dia juga bawa kabar gembira.
"Kamu ingat, tanggal 23 hari apa?"
tanyanya. Aku diam sembari berpikir.
"Hari Sabtu," jawabku
sekenanya. Dia cemberut dan menyebutku pikun.
"Pikun apanya?" protesku,
"tanggal 23 memang hari Sabtu!"
"Hari Sabtu sih hari Sabtu,
tapi tepatnya hari apa?"
Lama aku mengingat. Oh, rupanya hari
ulang tahun anjing kesayangannya. Untuk itu dia mengundangku supaya datang. Aku
diberi kehormatan untuk memotong tumpeng dan menyajikannya buat si anjing.
Sial, umpatku. Tapi aku mengiyakan.
Tiba di rumah, aku gelisah. Entah
kenapa aku ingin bertemu si selatan. Beberapa jam tidak merasakan kelembutannya
membuat aku pusing. Karena itu, setelah makan siang, aku bersiap-siap. Namun,
niat itu tertunda. Baru saja mengunci kamar kos, pacar yang di timur alias si
tante subur, tiba-tiba muncul. Dia mengajak aku ke pusat kebugaran hari Sabtu
depan, tempat dia biasa latihan senam. Tentu saja aku tak bisa menolak karena
andilnya cukup besar juga dalam kehidupanku.
Aku baru bisa ke selatan setelah hari
agak sorean. Tapi sial, niatku tidak juga kesampaian. Rumah si selatan sepi,
tak ada tanda-tanda kehidupan. Kata tetangga, mereka balik kampung karena ada
saudara yang selamatan. Pulang ke rumah baru Sabtu depan. Sialan, umpatku
melepas kekesalan.
Membuang suntuk, aku pelesiran ke
mal. Sekalian cari hadiah buat anjing si utara yang akan berulang tahun. Lagi
asyik-asyiknya, mataku menangkap sebuah pemandangan indah. Seorang gadis cantik
bermata sayu tengah menatapku. Dia tersenyum, aku tergoda. Kudekati dia. Kami
berkenalan. Kuajak dia kencan. Oke, Sabtu depan, katanya. Dia memberikan
alamatnya. Oo… ternyata dia tinggal di wilayah tenggara kotaku. Cukup jauh,
tapi tak mengapa. Yang penting sekarang, aku punya pacar satu. Di tenggara.
Ya, sampai sekarang pacarku cuma
satu. Satu di barat, satu di timur, satu di utara, satu di selatan, satu di
tenggara …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar