Kriwil mengambil ponselnya. Tak sabar ia mengabarkan pada emak. Sepeda motor kredit telah ia dapatkan. Akad jual beli telah ditandatangani. Uang muka telah dibayarkan sekian persen. Intinya, Kriwil tak perlu lagi susah payah mengejar angkot atau mengutak-atik aplikasi ojek daring.
Kriwil mengabarkan dengan bangga dan bahagia. Emak mendengar biasa saja. Reaksi yang tak sesuai ekspektasi. Merek apa? Emak bertanya dingin. Jawaban Kriwil membuat emak tambah dingin. Keluaran tahun berapa? Emak mengharap lebih. Jawaban Kriwil membuat hati emak pedih.
Kriwil tak mengerti. Emak tak pernah memuji. Atau bersenang hati. Apa yang dicapai Kriwil dengan susah payah, tak kunjung membuat emak semringah. Saat Kriwil diterima bekerja di pabrik kayu, emak mengeluh anaknya jadi buruh. Saat Kriwil bekerja di toko, emak terduduk loyo. Saat Kriwil naik tingkat menjadi guru honorer, emak tak mau pamer.
Kok beli yang begini, bukan begitu?
Kok bekerja di sini, bukan di situ?
Kok seperti ini, bukan seperti itu?
Pertanyaan emak yang rutin. Senantiasa dijawab Kriwil selogis mungkin. Pertanyaan emak yang konyol. Tak urung membuat Kriwil merasa tolol.
Emak maunya apa?
Emak maunya apa sih?
Emak maunya apa sih, Mak?
Pertanyaan Kriwil yang rutin. Yang hanya tersimpan dalam batin.









