Senin, 30 Januari 2017

Cium Cubit yang Kurindu


Dia menciumku. Pipi kanan, pipi kiri, dahi, dan dagu. Setelah itu mencubitku. Pipi kanan, pipi kiri, telinga kanan, telinga kiri. Tak puas sampai di situ, siku kanan dan siku kiri pun jadi sasaran cubitan. Kadang-kadang ditambah bonus mengulum daun telingaku. Selalu seperti itu. Setiap hari. Setiap waktu. Menjengkelkan memang. Apalagi kalau dia melakukan itu saat aku lagi asyik menonton acara kesayangan di teve.

Tak mungkin aku melarangnya. Tak mungkin aku mencegahnya, apalagi memarahinya melakukan kebiasaan itu. Aku justru merindukan dia melakukan itu. Pernah suatu kali dia terbaring di rumah sakit karena terkena DBD. Tak lagi ada dia lakukan itu. Tak mencium. Tak mencubit. Apalagi mengulum daun telingaku. Dia hanya terbaring lemah. Mengeluhkan tangannya yang pegal karena jarum infus yang mendesak masuk. Mengeluhkan bibirnya yang kering karena kekurangan cairan. Mengeluhkan kepalanya yang terasa berat.

Jadi sekarang, saat dia sudah pulih, kebiasaan itu berulang kembali. Cium cubit menjengkelkan yang kunanti dan kurindu. Saat dia terbangun dari tidur, saat aku kembali dari kantor, saat kami berangkat tidur, cium cubit jadi tradisi yang ditunggu.

Tak mungkin aku melarangnya. Tak mungkin aku mencegahnya. Karena kelak, saat dia dewasa, bisa saja aku kehilangan momen itu. 💖💋😘

Kamis, 26 Januari 2017

Perempuan Itu (2)


Dia jauh lebih sibuk dan repot sekarang. Yah, semenjak diterima bekerja di sebuah perusahaan asuransi, perempuan itu tak lagi punya waktu berkumpul dengan ibu-ibu tetangga yang doyan ngerumpi sore-sore. Pagi-pagi dia bangun, mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah, menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya, menjemur pakaian yang sudah dicucinya tadi malam, dan seabrek pekerjaan lainnya. Dia akan mandi dan mempercantik diri setelah semuanya selesai.

Anak-anaknya yang baik dan pengertian, akan sabar menanti perempuan itu selesai berdandan. Mereka akan diantar ke sekolah tepat pukul 07.00. Waktu yang sangat mepet untuk pergi ke sekolah. Tapi anak-anak mengerti perjuangan dan pengorbanan perempuan itu. Mereka tahu perempuan itu banting tulang untuk menafkahi mereka. Pergi pagi dan baru pulang menjelang isya. Mereka tidak pernah protes atau tidak boleh protes. 

Pagi itu mungkin hari yang sial bagi perempuan itu. Sepeda motor kesayangannya tidak kunjung menyala meski sudah berkali-kali distarter. Waktu berjalan terus. Anak-anak mulai gelisah. Hukuman karena terlambat datang ke sekolah sudah terbayang di mata. Perempuan itu tak kalah gelisah. Wajahnya mulai memerah menahan amarah. Diliriknya anak sulungnya yang juga meliriknya. Melalui pandangan mata, mereka berkomunikasi. Perempuan itu menyerah.

Si sulung memasuki rumah. Tak lama dia keluar dengan diikuti seorang laki-laki bertelanjang dada yang mengucek-ucek mata. Di bibirnya terselip rokok yang baru menyala. Perempuan itu menyingkir saat laki-laki bertelanjang dada mencoba menghidupkan sepeda motor. Sekali diengkol, sepeda motor langsung menyala. Brum...bruuumm...

Laki-laki bertelanjang dada masuk ke rumah, mungkin meneruskan mimpinya yang tertunda. Perempuan itu segera berangkat, membonceng kedua anaknya, tanpa mengucap sepatah kata pun. Anak-anak berbicara dalam diam. 😢

Rabu, 25 Januari 2017

Sedemikian butakah cinta itu?


Dia menangis saat menelepon.
Aku dipukuli lagi, katanya. Pipiku perih dan badanku sakit semua.

Aduh, aku ngeri membayangkan keadaannya. Pastilah dia sembunyi-sembunyi menelepon aku. Menunggu suaminya berangkat ke kantor terlebih dahulu. Kemudian dengan mata sembab, pipi merah, dan tubuh membiru, dia menghubungiku.Terbata-bata dia bercerita.

Kemudian, seperti biasa, aku akan memarahinya. Mendesak dia untuk meninggalkan rumah itu, meninggalkan suaminya. Meninggalkan segala kemewahan semu yang dimilikinya. Dan seperti biasa pula ia akan mengiyakan. Memastikan padaku bahwa tekadnya sudah bulat untuk berpisah. Memastikan padaku bahwa anak-anak sudah menyetujui keputusannya.

Beberapa hari kemudian, aku menanyakan kabarnya. Berharap dia sudah melaksanakan keputusannya. Tetapi, lagi-lagi aku kecele. Dia menjawab teleponku dengan nada suara yang riang gembira. Menceritakan bahwa sang suami sudah berlutut meminta maaf, berjanji tak akan mengulangi perbuatannya. Tak ada rasa tertekan dalam suaranya. Seolah-olah dia tidak pernah mengalami penderitaan. Aku akan baik-baik saja, katanya. Lagi.

Cerita kembali berulang. Aku di rumah sakit, katanya saat menelepon. Si bungsu sakit dan harus dirawat. Aku akan menemuimu beberapa hari lagi, kataku. Aku diizinkan cuti. Dia sangat senang mendengar aku akan datang. Kami menyusun rencana untuk bertemu. Bagaimana suamimu, tanyaku. Masih seperti itu, katanya. Kadang-kadang normal, kadang-kadang kumat. Aku pasrah saja, sudah biasa, katanya lagi. Aku geleng-geleng kepala.

Dua minggu setelah itu, saat aku sudah berada di kota kelahiran, aku menerima panggilannya. Aku dicekik, katanya dengan suara serak. Dicekik pakai kabel shower di kamar mandi. Aku juga ditonjok, aku tak kuat lagi. Aku menyerah. aku ingin membuat pengaduan.

Kami janji bertemu di kafe langganan saat SMA dulu. Hatiku risau tak karuan menanti kedatangannya. Kerisauan itu berubah menjadi keharuan saat kulihat dia, sahabatku, datang dengan wajah lebam. Mata dan bibirnya bengkak. Tapi senyum khas itu tak lekang dari wajahnya. Aku memeluknya erat sambil menangis. Dia malah menyabarkan.

Aku antar dia ke kantor polisi terdekat. Aku temani dia membuat laporan. Aku yakin seyakin-yakinnya, ini adalah kali terakhir dia menderita. Ibu harus divisum, kata pak polisi. Tetapi karena hari sudah malam, petugasnya sudah pulang. Kami sarankan ibu datang Senin pagi. Mengapa menunggu Senin Pak, besok kan bisa, protesku. Besok hari Minggu, petugas tidak ada, pak polisi menjawab enteng. Aku menggeram. Karena baru pertama kali membuat pengaduan ke polisi, aku tak mengerti alurnya. Aku hanya bisa menggeram.

Hari Minggu aku meneleponnya. Mengingatkan untuk ke kantor polisi hari Senin. Jawaban yang kuterima sungguh di luar dugaan.
"Tidak jadi say... si mas sudah sadar kok, sudah minta maaf. Dia janji ga akan mengulangi. Lagi pula kasihan anak-anak kalau kami bercerai. Si sulung akan dibelikan mobil baru dan si bungsu minta liburan ke luar negeri. Ga apa-apa kok say, aku pasti baik-baik saja."

Aku terduduk lemas.


Selasa, 17 Januari 2017

Masih tanda tanya


Kau bingung. Kelihatan sekali kau bingung.
Kau gundah. Rona wajahmu menunjukkan itu.
Sampai saat ini kau mencari. Masih mencari.


Kami menanti.
Jawabannya siang ini.

Entri Populer