Dia jauh lebih sibuk dan repot sekarang. Yah, semenjak diterima bekerja di sebuah perusahaan asuransi, perempuan itu tak lagi punya waktu berkumpul dengan ibu-ibu tetangga yang doyan ngerumpi sore-sore. Pagi-pagi dia bangun, mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah, menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya, menjemur pakaian yang sudah dicucinya tadi malam, dan seabrek pekerjaan lainnya. Dia akan mandi dan mempercantik diri setelah semuanya selesai.
Anak-anaknya yang baik dan pengertian, akan sabar menanti perempuan itu selesai berdandan. Mereka akan diantar ke sekolah tepat pukul 07.00. Waktu yang sangat mepet untuk pergi ke sekolah. Tapi anak-anak mengerti perjuangan dan pengorbanan perempuan itu. Mereka tahu perempuan itu banting tulang untuk menafkahi mereka. Pergi pagi dan baru pulang menjelang isya. Mereka tidak pernah protes atau tidak boleh protes.
Pagi itu mungkin hari yang sial bagi perempuan itu. Sepeda motor kesayangannya tidak kunjung menyala meski sudah berkali-kali distarter. Waktu berjalan terus. Anak-anak mulai gelisah. Hukuman karena terlambat datang ke sekolah sudah terbayang di mata. Perempuan itu tak kalah gelisah. Wajahnya mulai memerah menahan amarah. Diliriknya anak sulungnya yang juga meliriknya. Melalui pandangan mata, mereka berkomunikasi. Perempuan itu menyerah.
Si sulung memasuki rumah. Tak lama dia keluar dengan diikuti seorang laki-laki bertelanjang dada yang mengucek-ucek mata. Di bibirnya terselip rokok yang baru menyala. Perempuan itu menyingkir saat laki-laki bertelanjang dada mencoba menghidupkan sepeda motor. Sekali diengkol, sepeda motor langsung menyala. Brum...bruuumm...
Laki-laki bertelanjang dada masuk ke rumah, mungkin meneruskan mimpinya yang tertunda. Perempuan itu segera berangkat, membonceng kedua anaknya, tanpa mengucap sepatah kata pun. Anak-anak berbicara dalam diam. 😢
Tidak ada komentar:
Posting Komentar