Kamis, 26 Februari 2015

NGAJI ADAT

La Bismillah itu mulai dikato
Dititahkan Nabi penghulu kito
Jadi adat jadi pusako
Supayo syerak mak nyo nyalo
Supayo adaek mak nyo nyato

Lambago itu ampat parakaro
Paratamo lambago dapo
Kaduo lambago kurung
Katigo lambago nagari
Kaampat lambago alam

Mano dikato lambago dapo
IIyo di dalam isi umah kito
Bagaimano isi rumah kito
Anak janteang suhang
Ninik mamak suhang
Depati suhang

Kelaknyo tumbouh silang salisih
Bagaimano dawahnyo
Kito dakwah dalam mufakaik
Bagaimanolah kajinyo balun baringgung
Kuaso ikang karano sisiek
Kuaso burung karano sayok

Mano ngan tinggai maknyo rendah
Mano ngan gedeang maknyo keceik
Mano ngan keceik maknyo abaih

Mano dikato lambago kurung dan nagari
Partamo depati ninik mamak
Kaduo uhang tuo cardik pandai
Ketiga alim ulamo
Kaampat hulubalang

Mano dikato lambago alam
Iyolah alam takambang jadi guru
Alam tabenteang jadi tuladan
Alam rayo jadi cuntoh

Apo dikato sko nan tigo takah
Paratamo sko depati
Kaduo sko ninik mamak
Katigo sko tangganai

Apo dikato undang yang ampat
Paratamo undang pado luhah
Kaduo undang pado nagari
Katigo undang alam nagari
Kaampat undang nan duopuluh

Mano dikato hukum nan ampat
Paratamo hukum dalam alam
Kaduo hukum la bainah
Katigo hukum lah baikrar
Kaampat hukum la basumpah

Baralih kaji kito kinai
Mano pulo kato nan ampat
Paratamo kato mandaki
Kaduo kato manurun
Katigo kato mandatea
Kaampat kato nan baliku

Mano dikato adaik nan ampat
Paratamo adaik nan diadatkan
Kaduo adat istiadat
Katigo adat kebiasaan
Kaampat adat nan basandi syarak
Syarak basandi kitabullah

Apo pulo nan dijaleang depati
Sarato ninik dengan mamak
Titien tapasang nan dititiea
Bajau nan dijaeik ngan dipakei
Jaleang tabentai ngan ditempouh
Ksaik disapleih bungkau ditateh

Jangean tajadai dalam neghoi
Padi pulauk samo satangke
Padi anok indropuro
Ngan kusauk ideak salasei
Ujoung pungko ideak batamou

Cukauk sagitou kajian kito
Lah manyerau dimuang gadeih
Badidieih bunyinyo umbak
Badebur umbak nan satai
Kiceik sudeah parago tamak
Baroih maaf ngan atai sucai


(Dikutip dari "Ngaji Adat dalam Alsikdah" oleh Iskandar Zakaria)

#ngajiadat #tradisilisan #kerinci

Selasa, 24 Februari 2015

PROTES


           Suatu hari tangan kanan saya protes.
 "Kamu curang!" teriaknya, "kamu curang dan tidak berperikemanusiaan! Seenaknya saja memaksaku melakukan semua pekerjaan yang berat. Sedangkan dia tidak melakukan apa-apa!"
            Mula-mula saya tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Belakangan saya baru tahu ternyata dia iri pada tangan kiri saya.
            "Mengapa kamu mengatakan saya curang? Bukankah selama ini saya telah bersikap adil pada kalian berdua?"
            Priya, demikian saya menamakan tangan kanan saya, tidak mau mendengar kata-kata saya. Dia justru membeberkan sebab musabab keiriannya pada Ledi, tangan kiri saya. Menurut Priya, saya sering memaksanya melakukan pekerjaan yang berat. Misalnya, menulis PR yang senantiasa menumpuk, atau menulis contekan dengan huruf kecil-kecil sampai jari-jemarinya lecet. Menyuap makanan ke dalam mulut saya sampai jari-jarinya kepanasan karena kebetulan saya suka makanan yang pedas-pedas, atau mengangkat ember berisi air hangat untuk mandi saya, serta setumpuk tugas lainnya.
            Sedangkan Ledi, masih menurut Priya, tidak begitu sering bekerja. Paling-paling tugasnya hanya membersihkan bagian tertentu dari tubuh saya. Akan tetapi, dia malah diberi berbagai aksesori untuk mempercantik penampilannya. Ledi diberi cincin emas sekian gram di jari manisnya, gelang mutiara yang melekat erat pada pergelangannya, ditambah lagi dengan arloji buatan Swiss sehingga Ledi kelihatan semakin berkelas. Keadaan inilah yang membuat Priya uring-uringan dan cemburu luar biasa.
            "Dari kamu kecil sampai dewasa, saya tidak pernah dihadiahkan yang namanya emas, gelang mutiara, atau arloji buatan Swiss. Paling banter cuma karet gelang yang kamu kutip dari tong sampah! Padahal saya kerja nonstop 24 jam! Mulai dari mencuci, memasak, menyetrika, menulis, makan, garuk kepala, angkat beban, dan pekerjaan lain yang membosankan! Tapi apa imbalannya, coba! Apa?"
            Saya tertawa sampai bahu saya terguncang. "Kamu terlalu berlebihan, Pri!" kata saya, "status kamu sebagai tangan kanan mengharuskan kamu kerja lebih berat. Itu sudah dari sononyo! Sudah kodratnya! Sedangkan Ledi, meskipun tugasnya sedikit, namun dia selalu berhubungan dengan benda-benda kotor. Tinja, misalnya. Atau sampah, atau ingus, atau upil, atau bangkai tikus, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu! Tapi Ledi belum pernah tuh, protes seperti kamu!"
            "Tentu saja dia tidak protes, karena setelah melakukan pekerjaan yang kotor, dia diberi hadiah yang bagus-bagus!"
            "Wajar dong Pri, Ledi itu kan perempuan, sama seperti saya. Dia juga perlu tampil cantik setiap hari. Lagi pula, kan kamu juga yang bangga kalau pasangan kamu kelihatan oke. Iya kan..."
            "Ah, alasan! Banyak cingcong!"
            "Sudahlah Pri, take it easy. Jangan terlalu memprovokasi keadaan. Ambil hikmahnya saja. Bukankah sebagai tangan kanan pergaulan kamu menjadi lebih luas? Kamu kan sering saya perkenalkan dengan teman-teman saya. Kamu juga sudah pernah berjabatan tangan dengan rektor saya yang kulit tangannya halus itu. Iya kan? Dan anu, ingat nggak kamu, waktu berdesakan dalam bis? Kamu kan sempat menyentuh bokong cowok yang berdiri di depanku. Empuk kan? Nah, sedangkan Ledi..."
            "Pokoknya saya tidak terima dengan sikap kamu yang pilih kasih, unfair, dan berat sebelah! Ini sama saja mengganggu hak asasi saya sebagai tangan kanan!"
            Saya tertawa mengejek. "Lantas kenapa? Apa kamu juga merasa perlu mengadukan nasibmu ke Komnas HAM?"
            Tangan kanan saya terediam, mungkin tersinggung. Kulitnya berubah merah. Ototnya menegang, urat-uratnya menonjol keluar, jarinya dikepal seperti menyimpan sejuta dendam yang membara. Dan tanpa sempat diduga, tiba-tiba saja dia memukulkan jari-jarinya ke dinding dengan sekuat tenaga. Kontan saja saya menjerit kesakitan seraya memohon supaya dia menghentikan kegilaannya itu.
            "Oke...oke...keluhanmu saya dengarkan! Tapi tolong, hentikan tindakan tololmu ini! Kamu sama saja dengan bunuh diri, tahu!"
            Priya akhirnya mengalah. Dia kembali normal dan mengendurkan urat syarafnya. Tiga jarinya mengalami pendarahan. Saya yang sedang meringis kesakitan segera menyuruh Ledi untuk mengobatinya. Tapi Ledi acuh tak acuh, mungkin merasa sakit hati dengan celotehan Priya, mungkin juga ingin membuat Priya semakin uring-uringan. Kontan saya memelototi Ledi sehingga tangan kiri saya itu terpaksa mengobati Priya sambil bersungut-sungut.
            Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama, Ledi dan Priya bertukar fungsi. Ledi mengerjakan semua tugas Priya, sedangkan Priya mengerjakan tugas Ledi. Tentu saja tangan kiri saya itu tidak dapat bekerja selincah dan setangkas Priya karena dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat. Ledi mudah sekali letih dan pegal-pegal. Minimal dia harus dipijat seminggu sekali. Namun semangat juangnya sangat tinggi. Dia tidak pernah putus asa. Mungkin karena aksesorinya tetap saya biarkan melekat padanya.
            Sedangkan Priya tidak perlu bersusah payah mempelajari tugas-tugas Ledi. Dia cepat tanggap dan cukup gesit, terutama saat membersihkan bagian tubuh saya yang tersembunyi. Gerakan jari-jemarinya lincah dan terarah. Dia mengerti bagian mana yang harus diperlakukan dengan kasar dan bagian mana yang diperlakukan dengan lebih lembut. Agaknya dia sangat senang memperoleh tugas baru, bahkan cenderung menikmati.
            Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan Priya. Bagi saya, itu hal yang biasa. Namun lama-kelamaan tindakan Priya semakin kurang ajar. Dia bukan sekadar membersihkan, tapi juga sudah mulai berani memainkan jari-jarinya di daerah intim kewanitaan saya. Hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan Ledi. Tindakan ini tentu saja membuat saya naik pitam dan naik darah. Saya harus melakukan sesuatu agar tangan kanan saya ini berhenti melakukan tindakan tidak senonoh.
Akhirnya, ketika tindakannya semakin di luar batas, saya betul-betul tidak bisa menahan diri.
            "Bangsat! Saya sudah menduga kalau kamu tidak bisa dipercaya, Priya!"

Dan crass...!! Kapak yang diayunkan Ledi membabat Priya sampai putus. Saya tersenyum puas!




Senin, 23 Februari 2015

Kerinci

Perubahan nyata yang kami rasakan saat mengunjungi Kerinci kali ini adalah akses jalan yang sudah baik. Sebelumnya, tahun 2013, saat pertama kali berkunjung ke Kerinci untuk pelaksanaan sosialisasi UKBI, jalan lintas yang dilewati sangat sangat parah tingkat kerusakannya. Kerusakan ini sangat terlihat di sepanjang daerah Muaraemat, perbatasan antara Merangin dan Kerinci. Jalan yang berlubang, berdebu, dan berkelok, mengakibatkan tidak adanya kenyamanan dalam perjalanan. Aku mual, pusing, letih, dan kapok. Akan tetapi, keletihan itu memang terbayar setelah melihat panorama Kerinci yang menawan.

Hamparan persawahan

Bukit Khayangan
Perkebunan Teh Kayu Aro


Tahun 2014 kami kembali ditugasi kantor untuk mengadakan riset di Kerinci. Akses jalan masih rusak. Parahnya, mobil travel yang kami tumpangi terjebak longsor, persis di tengah-tengah tebing dan jurang di daerah perbatasan. Mengerikan memang, tapi itu jadi pengalaman yang meyenangkan. Yang lebih menyenangkan lagi, kami berhasil merekam beberapa tradisi lisan Kerinci, seperti tari Asek, Tupai Jenjang, dan Lukah Gilo.
Perlengkapan Tari Asek

Perlengkapan Tupai Jenjang
Perlengkapan Lukah Gilo

Kini, di bulan Februari 2015, kami kembali lagi ke Kerinci. Kali ini mengadakan riset tentang berbagai cerita rakyat yang ada di daerah tersebut. Tahap pertama ini kami hanya melaksanakan survei sehingga hanya satu hari berada di Kerinci. Tanpa diduga, akses jalan sudah bagus dan mulus. Perjalanan jadi lebih aman dan nyaman. Waktu yang ditempuh juga lebih cepat dan singkat. Sebagai daerah yang memiliki aset wisata yang potensial, Kerinci wajib dan harus memiliki akses jalan yang baik.

Setibanya di Kerinci, setelah beristirahat beberapa jam di Hotel Mahkota, kami menemui Iskandar Zakaria, pegiat sastra dan budaya Kerinci. Beliau merupakan salah seorang yang peduli akan pewarisan sastra dan budaya Kerinci. Sekitar 90-an cerita rakyat sudah beliau inventarisasikan. Belum lagi berbagai artefak dan benda-benda budaya Kerinci plus tradisi, tarian, dan nyanyian Kerinci. Atas jerih payahnya tersebut, berbagai penghargaan dari pemerintah telah diterimanya.

Bersama Iskandar Zakaria dan salah satu koleksinya:
telur ayam yang berusia puluhan tahun
Batu peninggalan zaman Belanda koleksi Iskandar Zakaria

Kami berkesempatan juga mengunjungi "Telun Berasap", air terjun yang terletak di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, tepatnya di desa Telun Berasap Kecamatan Kayu Aro. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Dinamakan Telun Berasap karena lokasi di sekitar air terjun diselimuti kabut air yang menyerupai asap putih akibat derasnya air yang terhempas ke batu dan menguap. Untuk bisa mencapai air terjun, kita harus menuruni puluhan anak tangga. Menuruni puluhan anak tangga adalah pekerjaan mudah, tetapi saat menaikinya kembali (untuk kembali ke tempat pakir kendaraan) sangat melelahkan, terutama untuk orang gendut seperti aku!!!!

Telun Berasap

Puluhan anak tangga sebagai akses ke air terjun

Panorama di sekitar lokasi air terjun

Bagaimanapun, Kerinci selalu menarik untuk didatangi. Mengundang rasa penasaran untuk dijelajahi. Apalagi dengan kondisi jalan yang bagus, tentu keinginan untuk kembali semakin besar. Sekitar bulan April kami akan kembali lagi ke sana. Mudah-mudahan, selain memeroleh data riset yang memadai, kami juga berkesempatan mengunjungi objek wisatanya yang lain.

Selasa, 10 Februari 2015

L E P A Y

Temanku yang orang Minang mengatakan lepay itu artinya lemah. Teman yang lain, asli orang Jambi, mengatakan bahwa selain lemah, lepay juga berarti lemas atau tidak berdaya. Seseorang dikatakan lepay apabila memiliki kelainan fisik sejak lahir sehingga tidak segesit orang normal atau juga karena kelelahan setelah melakukan sesuatu.

Secara kebetulan, ada salah seorang warga di kompleks perumahan kami bernama Lepay. Perawakannya kurus, ceking, dan kelihatan tidak berdaya. Kalau menilik dari perawakannya, dia memang cocok dinamakan Lepay. Entah orang tuanya yang sengaja menamakannya demikian, entah warga sekitar yang menjulukinya, aku juga tidak begitu paham. Secara fisik, dia memang jauh dari normal. Ada yang bilang dia dilahirkan dalam keadaan "kurbul" (kurang bulan). Ada pula yang mengatakan dia sakit-sakitan terus semenjak dilahirkan. Oleh karena itu, dia menjadi -maaf- tunawicara sehingga tidak bisa berkomunikasi secara normal.

Tapi Lepay tidaklah selepay yang orang kira. Setiap hari dia bekerja mengangkut sampah yang ada di rumah warga, Dari pagi sampai sore, dia berkeliling kompleks sambil mendorong gerobak sampahnya. Berhenti di salah satu rumah dan memindahkan sampah yang ada di tong sampah ke dalam gerobaknya. Kemudian dia berpindah ke rumah yang lain dan melakukan hal yang sama. Ketika gerobak sampahnya telah penuh, dia membuangnya ke tempat pembuangan sampah yang ada di ujung kompleks. Demikianlah yang dia lakukan. Setiap pagi. Setiap sore. Setiap hari.

Ya, Lepay "The Garbageman".
Bukankah pekerjaan seperti itu membutuhkan fisik yang kuat? Stamina yang prima? Mental yang kuat? Tentu bukan orang sembarangan yang bisa dan mau melakukan itu. Dan Lepay bukan orang sembarangan. Dalam keterbatasan fisik, dia mampu melakukannya. Dalam keterbatasan berkomunikasi, dia mampu mengais rupiah. Dia tidak mau hanya menadahkan tangan, mengharap belas kasihan orang. Dia bekerja. Dia berusaha. Dia gembira. Dan dia dibutuhkan. Kehadirannya dinantikan.

(Aku salah seorang yang menantikan kehadirannya).

Lepay. Biarlah nama atau julukan itu tetap melekat pada dirinya. Tak peduli apa artinya. Yang pasti, Lepay yang kami kenal adalah Lepay yang tak lepay.

Kamis, 05 Februari 2015

Kisah Seorang Anak (part 2)

ini cerita kilas balik
tentang seorang anak perempuan

saat beberapa minggu dalam kandungan
ibunya dalam kepayahan
mual muntah sepanjang hari
diikuti bercak merah tiada henti

ayah yang cemas
dengan susah payah mengumpulkan rupiah
agar ibu dibawa ke dokter spesialis kandungan
dokter senior
dokter yang paling top
dokter yang tak bisa dihitung dengan jari jam terbangnya
dengan harapan ibu dan bayi terselamatkan
sedini mungkin

dokter kandungan itu
dokter senior itu
dokter top itu
dengan bantuan usg
memeriksa dengan cermat
mendiagnosa dengan akurat
tak ada denyut nadi si janin
tak ada tanda-tanda kehidupan
kandungan harus digugurkan
kalaupun tetap diteruskan
si bayi akan lahir cacat

ibu pucat
ayah berusaha tenang
menggenggam tangan ibu yang sedingin es
lima tahun mereka menunggu sang buah hati
tetapi pilihan yang diberikan menusuk hati

dokter senior
yang berpraktik di rumah sakit terkemuka di kota itu
menyodorkan surat persetujuan
yang harus ayah tandatangani
agar tindak dilatasi
dilakukan hari itu juga

ayah dan ibu menggeleng
memilih pulang dulu ke rumah
menjernihkan pikiran dan menenangkan diri

seorang teman baik
menganjurkan mencari opini kedua
dari dokter kandungan yang lain

anjuran diikuti
malamnya mendatangi dokter kandungan lain
keluhan disampaikan
unek-unek dikeluarkan
dokter kandungan itu memeriksa hasil usg
tersenyum kebapakan
kandungan baik-baik saja
tidak ada yang perlu dicemaskan
dokter meresepkan obat
ibu disuruh banyak istirahat

janin itu
yang awalnya harus digugurkan
sekarang sudah berusia enam tahun
sehat wal afiat
tak kurang satu apapun


(inspired by a true story)


Kisah Seorang Anak (part 1)

akan aku ceritakan kisah seorang anak lelaki
anak lelaki yang sedikit nakal
sedikit usil
tak pula tampan
pun tak terlalu pintar

saat kelas satu sekolah dasar
guru kelasnya mengajarkan pengenalan abjad
gurunya mengajarkan a-be-se
padahal di rumah ibunya mengajarkan a-be-ce
anak lelaki tidak terima
tidak pula mau belajar a-be-se
sang guru merah wajahnya menahan marah
tetapi membenarkan ajaran ibu anak lelaki di dalam hati

pulang sekolah pernah dia menangis
punggungnya sakit dipukul ibu guru
padahal saat itu ada bisul di punggungnya
ibu membujuk dengan sayang
punggung dielus dan diobati
sambil membisikkan kata-kata yang menyejukkan

pernah pula ibunya dipanggil kepala sekolah
anak lelaki katanya membuat gambar porno
ibu terkejut bukan kepalang
meminta bukti gambar porno
sudah dirobek, kata kepala sekolah
ibu tak puas hati
di rumah ditanyakannya pada anak lelaki
anak lelaki menggambar di kertas sebagaimana yang digambarnya di sekolah
seorang ayah berjalan dengan anak lelakinya yang masih kecil
saat dewasa, si anak menikah dan si ayah meninggal
anak yang menikah mempunyai anak
anaknya dewasa, ayahnya meninggal
anaknya menikah dan mempunyai anak lagi
lahir, dewasa, menikah, dan meninggal
bukan gambar porno, pikir ibunya
tapi siklus kehidupan
anak lelaki dikecup dahinya
dan diberi petuah bijak

menjelang ujian akhir sekolah
anak lelaki belajar giat
ingin lulus sekolah dasar dengan nilai baik
hasilnya tidak sia-sia
nilai un-nya tertinggi di sekolah
dan berhak mendaftar di smp favorit mana pun

tapi tak ada apresiasi
tak ada pujian
dari guru-gurunya
anak lelaki tetap dikenang sebagai
anak yang usil
tak tampan
tak pula pintar

tapi dia istimewa
di mata ibunya


(inspired by a true story)

Entri Populer