Sabtu, 25 April 2015

AYYUM

Gadis kecil yang cantik. Rambutnya ikal, hitam, lebat, dan panjang. Matanya bening, hidungnya mancung, bibirnya lekuk sempurna. Perawakannya juga bagus. Postur tubuh yang tinggi, melebihi tinggi anak-anak seusianya plus padat berisi. Aku bayangkan dia sepuluh tahun ke depan. Mungkin dia bisa jadi anggota paskibra di sekolah, masuk klub basket, atau wara-wiri di atas catwalk.

Tak ada yang menyangkal kalau dia gadis kecil yang ramah. Saat bertemu orang yang lebih tua, dia akan menyapa dengan senyumnya. Saat berpapasan dengan teman sebaya, dia menegur ceria. Kalau ditanya, dia akan menjawab dengan bahasa yang sempurna. Siapa pun gemas melihatnya. Siapa pun ingin merangkulnya. Siapa pun ingin menjadi ibunya.

Tapi Ayyum, gadis kecil itu... Hidupnya tak secantik wajahnya.  Masa kecilnya tak sesempurna lekuk bibirnya. Masa depannya tak sebening matanya.

Ayah dan ibunya kerap bertengkar. Melontarkan caci maki dan sumpah serapah di hadapannya. Menendang bokongnya kalau dia merengek menginginkan sesuatu. Memaki-makinya kalau dia tidak menurut.

Belum lagi nenek yang cerewet. Selalu mengomel kalau dia tidak duduk diam di rumah. Menyeretnya pulang kalau kebetulan dia bertandang ke rumah tetangga. Menggebuk punggungnya kalau dia melawan. Mencubit pipinya kalau dia menangis.

Anak sekecil itu. Anak secantik itu. Anak sepolos itu. Mengapa tak redam kemarahan orang tuanya melihat mata bening itu. Mengapa tak luluh hati orang tuanya melihat lekuk sempurna itu. Mengapa...Mengapa???

Aku membayangkan Ayyum sepuluh tahun lagi. Apa yang akan terjadi dengannya???


Rabu, 08 April 2015

Salat Sunat Gerhana


Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah keduanya menjadi tanda dari tanda-tanda keagungan Allah, terjadinya dua gerhana (matahari dan bulan), bukan karena mati dan hidupnya seseorang. Maka apabila kamu menyaksikan gerhana matahari atau bulan, hendaklah kamu berdoa kepada Allah dan salatlah sampai gerhana selesai."

Demikianlah. Ketika gerhana bulan terjadi pada senja tanggal 4 April 2015 yang lalu, kami sekeluarga melaksanakan salat sunat gerhana untuk pertama kali. Selama ini kami hanya mengetahui tentang cara pelaksanaan salat ini melalui buku atau bacaan lain yang berkenaan dengan itu. Salatnya memang dua rakaat tapi jangan ditanya panjang surat yang dibaca. Rukuk dan sujud dilakukan empat kali dengan bacaan yang panjang pula. Bahkan, putra sulungku yang bersekolah di SMP Islam Terpadu mengatakan bahwa di zaman Rasul pernah ada jemaah yang pingsan saking lamanya pelaksanaan salat gerhana ini!! Wallahua'lam.

Rasa penasaran itu juga yang membawaku untuk ikut melaksanakan salat sunat ini. Ketika pihak masjid tempat anakku bersekolah mengedarkan undangan untuk mengikuti salat sunat gerhana, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dari sore aku sudah mempersiapkan diri, termasuk membawa bekal untuk si bungsuku yang berusia enam tahun apabila ia lelah dan bosan saat salat berlangsung.

Subhanallah!!! Aku kaget saat tiba di masjid. Jemaah membludak, persis saat melaksanakan salat tarawih di awal-awal Ramadan. Dadaku bergetar menyaksikan itu, menyaksikan bahwa di tengah zaman yang super edan ini, masih banyak umat muslim yang tergerak hatinya untuk melaksanakan ibadah yang langka ini.

Salat sunat gerhana dilaksanakan selesai salat Magrib. Benar. Pada rakaat pertama, setelah membaca Surat Al-Fatihah, imam membaca surat yang sangat panjang, yang aku tak tahu surat apa itu. Dilanjutkan dengan rukuk pertama yang aku rasakan sangat lama. Berdiri dan membaca Al-Fatihah lagi dan diikuti dengan surat yang panjang juga. Rukuk lagi. Lama. Iktidal, lama. Sujud juga lama sampai berdiri kembali untuk rakaat kedua dan mengulangi hal yang sama seperti rakaat pertama.

Sesak napas. Itu yang aku rasakan, terutama saat rukuk dan sujud. Sebagai perempuan yang cukup subur badannya, rasa sesak napas memang tak bisa aku hindarkan. Dan aku malu. Betapa selama ini ibadah salat yang aku laksanakan tak sebanding dengan kenikmatan hidup yang aku terima. Bahwa selama ini aku salat ala kadarnya, membaca surat yang ala kadarnya, sehingga ketika melaksanakan salat yang panjang seperti salat gerhana ini, aku megap-megap.

Astaghfirullah, ampun ya Allah. Tak ada yang Kau ciptakan itu sia-sia. Kalau tadinya aku sekadar ingin tahu gimana sih salat gerhana itu, sekarang aku jadinya berniat untuk memperbaiki salatku. Ingin menghapal kembali surat-surat yang agak panjang. Semoga masih ada kesempatan yang diberikan kepadaku. Pelan-pelan tapi rutin. Terima kasih ya, Allah...



Kamis, 02 April 2015

Sinyo, Kohai, dan Babe


Sinyo, Kohai, dan Babe (baca: beib),

tiga sahabat tak terpisahkan. Sama-sama menjadi buruh di sebuah perusahaan kayu, membuat ketiganya akrab dengan debu dan serbuk kayu. Sinyo merupakan operator forklift, memindahkan tumpukan kayu, baik bahan baku maupun bahan jadi, dari satu gudang ke gudang lain. Kohai adm di gudang KD (baca: kedi), mencatat berapa banyak kayu basah yang masuk ke gudang dan berapa jumlah kayu yang sudah dikeringkan. Babe adm di bagian finger joint, mencatat jumlah bal kayu join yang diproduksi dan distuffing selama delapan jam kerja yang diberlakukan di pabrik tersebut.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

pernah diam-diam "ngendon" di dalam pabrik saat jam istirahat. Padahal, jam istirahat merupakan waktu yang terlarang bagi para buruh berada di dalam pabrik. Biasanya satpam akan berkeliling pabrik, mengecek apakah masih ada pekerja yang  berada di lokasi. Untungnya, mereka luput dari pengawasan satpam sehingga mereka bisa beristirahat di dalam pabrik. Istirahat selama satu jam itu mereka pergunakan untuk makan sekaligus foto-foto. Sinyo bergaya di atas forklift tunggangannya, Kohai pura-pura mengetam kayu, dan Babe bergelantungan di pintu salah satu peti kemas yang terparkir di belakang gudang molding. Mereka tertawa-tawa tertahan, membayangkan amarah big boss pemilik pabrik bila mengetahui aksi tersebut.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

menjadi buruh adalah suatu ketidaksengajaan. Sinyo yang tamatan SLTA, awalnya bekerja di kantor pengacara. Memakai setelan rapi dan berdasi. Bekerja di ruangan ber-AC sehingga bebas dari debu. Gaji yang sedikit serta pekerjaan yang tidak menantang membuat Sinyo mengundurkan diri dan mengais rezeki di pabrik ini. Kohai lulusan D-3 Bahasa Jepang. Kemampuannya berbahasa Jepang dan menulis dalam huruf kanji tidak diragukan. Kohai baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan. Bekerja di pabrik merupakan batu loncatannya ke pekerjaan yang lebih baik. Babe seorang sarjana sastra. Mungkin satu-satunya sarjana yang menjadi buruh di pabrik itu. Babe pernah menjadi guru di berbagai sekolah, mulai SD, SMP, hingga Bimbingan Belajar. Tak satu pun yang dinikmatinya. Babe merasa tidak punya passion di bidang pengajaran sehingga dia merasa sia-sia melakukan pekerjaan itu. Ketika seorang kenalannya menawarkan pekerjaan di pabrik, Babe merasa tidak ada salahnya mencoba. Daripada tak punya pekerjaan.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

jadilah mereka bertemu dan bersahabat di pabrik itu. Saking akrabnya, mereka punya panggilan khusus: Sinyo, Kohai, Babe. Sinyo, satu-satunya pria, berkulit hitam dengan deretan gigi putih bersih, mengingatkan mereka pada Ambon manise, padahal Sinyo Jawa tulen. Jadilah dia dijuluki Sinyo, seolah-olah dia keturunan Belanda dan Ambon yang tercebur dalam genangan ter! Kohai, dalam Bahasa Jepang berarti junior, cocok untuk Kohai yang berusia paling muda di antara mereka. Matanya yang sipit dan gayanya yang cenderung kekanak-kanakan semakin mengukuhkan julukan itu. Babe, yang paling tua sekaligus paling lemah. Dia seperti mutiara yang harus dijaga erat-erat, disayangi, dilindungi. Jadilah dia Babe, kesayangan Sinyo dan Kohai.

Itu sekitar 15 tahun yang lalu.


Sekarang, ketiganya masih bersahabat dalam konteks yang berbeda. Sinyo dan Babe menjadi suami istri, hidup sederhana dengan sepasang anaknya di sebuah kota kecil. Kohai sedang getol-getolnya mengurus usaha konfeksi bersama suami dan kedua anaknya. Mereka jauh terpisah sekarang tapi mereka (pasti) masih mengenang momen kebersamaan di pabrik kayu yang penuh debu.

Entri Populer