Sinyo, Kohai, dan Babe (baca: beib),
tiga sahabat tak terpisahkan.
Sama-sama menjadi buruh di sebuah perusahaan kayu, membuat ketiganya akrab
dengan debu dan serbuk kayu. Sinyo merupakan operator forklift, memindahkan tumpukan kayu, baik bahan baku maupun bahan
jadi, dari satu gudang ke gudang lain. Kohai adm di gudang KD (baca: kedi), mencatat berapa banyak
kayu basah yang masuk ke gudang dan berapa jumlah kayu yang sudah dikeringkan.
Babe adm di bagian finger joint,
mencatat jumlah bal kayu join yang diproduksi dan distuffing selama delapan jam kerja yang diberlakukan di pabrik
tersebut.
Sinyo, Kohai, dan Babe,
pernah diam-diam
"ngendon" di dalam pabrik saat jam istirahat. Padahal, jam istirahat
merupakan waktu yang terlarang bagi para buruh berada di dalam pabrik. Biasanya
satpam akan berkeliling pabrik, mengecek apakah masih ada pekerja yang berada di lokasi. Untungnya, mereka luput
dari pengawasan satpam sehingga mereka bisa beristirahat di dalam pabrik. Istirahat
selama satu jam itu mereka pergunakan untuk makan sekaligus foto-foto. Sinyo
bergaya di atas forklift tunggangannya,
Kohai pura-pura mengetam kayu, dan Babe bergelantungan di pintu salah satu peti
kemas yang terparkir di belakang gudang molding.
Mereka tertawa-tawa tertahan, membayangkan amarah big boss pemilik pabrik bila mengetahui aksi tersebut.
Sinyo, Kohai, dan Babe,
menjadi buruh adalah suatu
ketidaksengajaan. Sinyo yang tamatan SLTA, awalnya bekerja di kantor pengacara.
Memakai setelan rapi dan berdasi. Bekerja di ruangan ber-AC sehingga bebas dari
debu. Gaji yang sedikit serta pekerjaan yang tidak menantang membuat Sinyo
mengundurkan diri dan mengais rezeki di pabrik ini. Kohai lulusan D-3 Bahasa
Jepang. Kemampuannya berbahasa Jepang dan menulis dalam huruf kanji tidak
diragukan. Kohai baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan. Bekerja di pabrik merupakan
batu loncatannya ke pekerjaan yang lebih baik. Babe seorang sarjana sastra.
Mungkin satu-satunya sarjana yang menjadi buruh di pabrik itu. Babe pernah
menjadi guru di berbagai sekolah, mulai SD, SMP, hingga Bimbingan Belajar. Tak
satu pun yang dinikmatinya. Babe merasa tidak punya passion di bidang pengajaran sehingga dia merasa sia-sia melakukan
pekerjaan itu. Ketika seorang kenalannya menawarkan pekerjaan di pabrik, Babe
merasa tidak ada salahnya mencoba. Daripada tak punya pekerjaan.
Sinyo, Kohai, dan Babe,
jadilah mereka bertemu dan
bersahabat di pabrik itu. Saking akrabnya, mereka punya panggilan khusus:
Sinyo, Kohai, Babe. Sinyo, satu-satunya pria, berkulit hitam dengan deretan
gigi putih bersih, mengingatkan mereka pada Ambon manise, padahal Sinyo Jawa
tulen. Jadilah dia dijuluki Sinyo, seolah-olah dia keturunan Belanda dan Ambon
yang tercebur dalam genangan ter! Kohai, dalam Bahasa Jepang berarti junior,
cocok untuk Kohai yang berusia paling muda di antara mereka. Matanya yang sipit
dan gayanya yang cenderung kekanak-kanakan semakin mengukuhkan julukan itu.
Babe, yang paling tua sekaligus paling lemah. Dia seperti mutiara yang harus
dijaga erat-erat, disayangi, dilindungi. Jadilah dia Babe, kesayangan Sinyo dan
Kohai.
Itu sekitar 15 tahun yang lalu.
Sekarang, ketiganya masih
bersahabat dalam konteks yang berbeda. Sinyo dan Babe menjadi suami istri, hidup
sederhana dengan sepasang anaknya di sebuah kota kecil. Kohai sedang getol-getolnya
mengurus usaha konfeksi bersama suami dan kedua anaknya. Mereka jauh terpisah
sekarang tapi mereka (pasti) masih mengenang momen kebersamaan di pabrik kayu
yang penuh debu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar