Kamis, 02 April 2015

Sinyo, Kohai, dan Babe


Sinyo, Kohai, dan Babe (baca: beib),

tiga sahabat tak terpisahkan. Sama-sama menjadi buruh di sebuah perusahaan kayu, membuat ketiganya akrab dengan debu dan serbuk kayu. Sinyo merupakan operator forklift, memindahkan tumpukan kayu, baik bahan baku maupun bahan jadi, dari satu gudang ke gudang lain. Kohai adm di gudang KD (baca: kedi), mencatat berapa banyak kayu basah yang masuk ke gudang dan berapa jumlah kayu yang sudah dikeringkan. Babe adm di bagian finger joint, mencatat jumlah bal kayu join yang diproduksi dan distuffing selama delapan jam kerja yang diberlakukan di pabrik tersebut.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

pernah diam-diam "ngendon" di dalam pabrik saat jam istirahat. Padahal, jam istirahat merupakan waktu yang terlarang bagi para buruh berada di dalam pabrik. Biasanya satpam akan berkeliling pabrik, mengecek apakah masih ada pekerja yang  berada di lokasi. Untungnya, mereka luput dari pengawasan satpam sehingga mereka bisa beristirahat di dalam pabrik. Istirahat selama satu jam itu mereka pergunakan untuk makan sekaligus foto-foto. Sinyo bergaya di atas forklift tunggangannya, Kohai pura-pura mengetam kayu, dan Babe bergelantungan di pintu salah satu peti kemas yang terparkir di belakang gudang molding. Mereka tertawa-tawa tertahan, membayangkan amarah big boss pemilik pabrik bila mengetahui aksi tersebut.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

menjadi buruh adalah suatu ketidaksengajaan. Sinyo yang tamatan SLTA, awalnya bekerja di kantor pengacara. Memakai setelan rapi dan berdasi. Bekerja di ruangan ber-AC sehingga bebas dari debu. Gaji yang sedikit serta pekerjaan yang tidak menantang membuat Sinyo mengundurkan diri dan mengais rezeki di pabrik ini. Kohai lulusan D-3 Bahasa Jepang. Kemampuannya berbahasa Jepang dan menulis dalam huruf kanji tidak diragukan. Kohai baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan. Bekerja di pabrik merupakan batu loncatannya ke pekerjaan yang lebih baik. Babe seorang sarjana sastra. Mungkin satu-satunya sarjana yang menjadi buruh di pabrik itu. Babe pernah menjadi guru di berbagai sekolah, mulai SD, SMP, hingga Bimbingan Belajar. Tak satu pun yang dinikmatinya. Babe merasa tidak punya passion di bidang pengajaran sehingga dia merasa sia-sia melakukan pekerjaan itu. Ketika seorang kenalannya menawarkan pekerjaan di pabrik, Babe merasa tidak ada salahnya mencoba. Daripada tak punya pekerjaan.

Sinyo, Kohai, dan Babe,

jadilah mereka bertemu dan bersahabat di pabrik itu. Saking akrabnya, mereka punya panggilan khusus: Sinyo, Kohai, Babe. Sinyo, satu-satunya pria, berkulit hitam dengan deretan gigi putih bersih, mengingatkan mereka pada Ambon manise, padahal Sinyo Jawa tulen. Jadilah dia dijuluki Sinyo, seolah-olah dia keturunan Belanda dan Ambon yang tercebur dalam genangan ter! Kohai, dalam Bahasa Jepang berarti junior, cocok untuk Kohai yang berusia paling muda di antara mereka. Matanya yang sipit dan gayanya yang cenderung kekanak-kanakan semakin mengukuhkan julukan itu. Babe, yang paling tua sekaligus paling lemah. Dia seperti mutiara yang harus dijaga erat-erat, disayangi, dilindungi. Jadilah dia Babe, kesayangan Sinyo dan Kohai.

Itu sekitar 15 tahun yang lalu.


Sekarang, ketiganya masih bersahabat dalam konteks yang berbeda. Sinyo dan Babe menjadi suami istri, hidup sederhana dengan sepasang anaknya di sebuah kota kecil. Kohai sedang getol-getolnya mengurus usaha konfeksi bersama suami dan kedua anaknya. Mereka jauh terpisah sekarang tapi mereka (pasti) masih mengenang momen kebersamaan di pabrik kayu yang penuh debu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer