Postingan itu tak sengaja dibacanya. Postingan yang membuat geram.
"Hal Sederhana, tapi Bisa Membuat Istri Bahagia"
1. Cium keningnya saat berangkat dan pulang kerja.
2. Jangan terlalu lama membalas pesannya.
3. Katakan ungkapan sayang dan cinta kepadanya setiap hari walaupun hanya melalui pesan.
4. Sekali-kali, ajaklah ia kencan. Nikmati romantisme berdua.
5. Berilah bantuan dalam mengurus rumah tangga.
6. Ambilkan juga untuk dia walaupun hanya segelas air putih.
7. Beri dia pijatan.
8. Temani dia berbelanja.
Delapan hal sederhana itu telah dilakukan pasangannya, jauh sebelum postingan itu terbaca. Tapi tetap ada yang membuatnya geram. Kegeraman yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Jumat, 18 Agustus 2017
Selasa, 01 Agustus 2017
Pertanda
Pagi.
Lalu lintas ramai. Kendaraan silih berganti menguasai jalanan, ingin secepatnya sampai ke tujuan. Di pertigaan sempit, kendaran berhenti. Barisan mobil mengular, terhambat tak bisa jalan. Ada apa, seorang pengendara mobil bertanya pada seseorang yang datang dari arah berlawanan. Ada yang jatuh dari motor, jawab yang ditanya.
Seorang anak SMP yang membonceng adiknya yang berseragam SD, jatuh dari sepeda motor karena mencoba menyalip kendaraan di depannya. Aku tahu persis kejadian itu karena terjadi di depan mataku!
Siang.
Lalu lintas tak seramai pagi sehingga kendaraan leluasa bergegas. Jalanan yang lengang membuat sebagian pengendara seenaknya melaju kencang. Kalau tak hati-hati, nyawa bisa melayang. Dan apa yang ditakutkan, menjadi kenyataan. Decitan ban mengagetkan semua orang dan menghentikan laju kendaraan. Ada apa, seorang pengendara mobil bertanya pada seseorang yang datang dari arah berlawanan. Ada yang jatuh dari motor, jawab yang ditanya.
Seorang lelaki berbadan tegap jatuh dari motor dan nyungsep ke dalam got karena mencoba menyalip kendaraan di depannya. Aku tahu persis kejadian itu karena terjadi di depan mataku!
Sore.
Lalu lintas lebih ramai daripada pagi. Orang-orang ingin segera pulang dan membasuh diri. Lalu menghirup teh hangat yang disediakan istri. Berkendara seperti orang lupa diri. Tak lihat kanan tak lihat kiri. Lupa dengan yang namanya hati-hati. Di jalanan yang sedang diperbaiki, laju kendaraan mendadak terhenti. Ada apa, seorang pengendara mobil bertanya pada seseorang yang datang
dari arah berlawanan. Ada yang jatuh dari motor, jawab yang ditanya.
Perempuan gugup yang mengendarai motor matic itu jatuh karena mencoba menyalip kendaraan di depannya. Berdalih tak konsentrasi karena memikirkan anaknya yang sakit, ia jadi korban kelalaiannya sendiri. Aku tahu persis kejadian itu karena aku sendiri yang mengalaminya!
Padahal pertanda itu sudah ada πππ
Kamis, 27 Juli 2017
Putih Abu-Abu
Anak laki-laki itu
tak hendak bangun kesiangan
khawatir nanti ketinggalan
ojek langganan
Anak laki-laki itu
senyumnya mengembang
bila berpamitan
dengan orang-orang kesayangan
Sudah habis dilahap tadi malam
buku bacaan
agar pagi ini
bisa menjawab
setiap pertanyaan
yang diajukan
Penuh keyakinan
masa depan di genggaman
anak laki-laki
melangkah tanpa ragu
dibalut putih abu-abu
ππ
tak hendak bangun kesiangan
khawatir nanti ketinggalan
ojek langganan
Anak laki-laki itu
senyumnya mengembang
bila berpamitan
dengan orang-orang kesayangan
Sudah habis dilahap tadi malam
buku bacaan
agar pagi ini
bisa menjawab
setiap pertanyaan
yang diajukan
Penuh keyakinan
masa depan di genggaman
anak laki-laki
melangkah tanpa ragu
dibalut putih abu-abu
ππ
Senin, 19 Juni 2017
PAPA
Papa jatuh dari sepeda motor, sekarang dirawat di rumah sakit!!!
Berita yang kuterima dari kakak sulungku itu tentu saja mengagetkanku, padahal baru beberapa menit yang lalu aku menelepon ibu, menanyakan kabar beliau berdua, dan ibu tidak bercerita apa-apa tentang kejadian yang menimpa ayahku. Ibu ternyata merahasiakan kejadian tersebut, khawatir kalau aku jadi kepikiran. Dirahasiakan atau tidak, tentu saja aku tetap memikirkan keadaan orang tuaku. Sebagai satu-satunya anak yang jauh dari orang tua, aku kudu harus tahu keadaan kedua orang tuaku di seberang sana!
Siang kemarin, ayah mengendarai sepeda motor di jalan raya yang biasa dilaluinya. Entah karena ayah kurang konsentrasi, entah karena ngebut, entah karena matanya kurang awas, motor ayah tiba-tiba membentur lubang besar yang ada di jalan raya tersebut. Ayah langsung tersungkur, wajahnya membentur aspal. Darah mengucur dari pelipis, pipi dan tangannya luka, gigi depannya patah. Untunglah warga sekitar cepat tanggap. Mereka segera membawa beliau ke rumah sakit terdekat. Sepeda motor dititipkan di pasar swalayan yang ada di daerah itu. Seorang tukang becak, yang sempat melihat KTP ayah, berbaik hati mengabarkan kejadian itu ke rumah.
Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ayah tidak boleh lagi mengendarai motor sendirian, apalagi usia beliau sudah kepala tujuh. Pandangan, pendengaran, serta kemampuan berkendara tentu sudah berkurang sehingga potensi terjadinya kecelakaan cukup besar.
Aku, yang sudah memesan tiket untuk mudik lebaran, berencana mempercepat jadwal mudik. Namun, ibu melarang. Papa tidak apa-apa, kata beliau. Insya Allah H-2 sudah kembali ke rumah. Doakan saja.
Hanya itulah yang bisa kulakukan. Mendoakan agar ayah segera pulih. Mendoakan agar stamina ibu juga tetap fit. Mendoakan agar kami bisa berkumpul di lebaran nanti.
Selasa, 06 Juni 2017
Pindah Malam
Selama aku tinggal di perumahan tersebut, setidaknya sudah tiga orang tetanggaku yang pindah malam. Pindah malam? Iya, pindah malam. Pindah malam maksudnya adalah pindah rumah pada malam hari. Bermacam alasan yang menyebabkan mereka pindah malam. Dan alasan tersebut biasanya berhubungan dengan "sesuatu" yang tak pantas diketahui khalayak.
Eh, puasa-puasa kok bergunjing ya???
Bukaaan, ini bukan bergunjing. Ini sekadar berbagi cerita tentang pindah malam. Aneh aja, gitu, hehehe... (ngeles.com)
Tapi beneran kok. Tetangga yang pertama tuh pindah malam sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu. Awalnya aku melihat banyak orang datang ke rumah tersebut mencari bapak yang empunya rumah. Beberapa hari kemudian, rumah tersebut sepi, tak kelihatan satu orang pun di sana. Selidik punya selidik (baca: kepo), si bapak ternyata melakukan penipuan dengan modus menjanjikan orang-orang menjadi PNS. Yang berminat diharuskan menyetor uang sekian puluh juta rupiah dan dipastikan langsung dapat NIP. Alih-alih jadi PNS, malah jadi korban penipuan. Uang yang disetor hilang melayang. Jadilah si bapak masuk daftar pencarian orang.
Tetangga kedua yang pindah malam, lain lagi ceritanya. Tak ada angin tak ada hujan, raib aja tuh orang. Padahal, paginya masih kelihatan sarapan pakai ketan. (Hahaha, ini mah lebay). Beberapa hari kemudian, ramai orang berdatangan. Ternyata penagih utang (bahasa bulenya debt collector). Selidik punya selidik (masih dibaca: kepo), tetangga kedua punya utang di menong-menong dan tidak mampu lagi membayar.
Tetangga ketiga baruuu aja pindah malam kemarin. Dan alasannya tak patut aku paparkan di sini karena agak sensitif gitu (bah, curang...hahaha). Intinya, bila ada tetangga kamu, saudara kamu, atau kenalan kamu pindah malam, perlu dikepoi. Jangan-jangan ada sesuatu di balik kepindahan itu.
Ah, intuisi bergunjingku memang tinggi..... π
Sabtu, 03 Juni 2017
Dilema Pasar Beduk
Setiap tahun, setiap Ramadan, selalu ada keramaian. Pasar beduk adalah salah satunya. Pasar yang dipenuhi pedagang yang menjajakan makanan untuk berbuka puasa, mulai makanan kecil sampai makanan berat. Pasar yang selalu dinantikan oleh perempuan pekerja seperti aku.
Sebenarnya banyak teman yang menyarankan untuk tidak membeli makanan di pasar beduk. Kata mereka, makanannya terkadang sudah tidak segar lagi. Makanan yang tidak laku dijual pada hari sebelumnya, akan dipanaskan dan dijual kembali keesokan harinya. Belum lagi harganya yang selangit. Kebersihan dan bahan-bahan yang digunakan juga kurang terjamin. Aku memang menyadari hal itu. Namun, dengan mengatasnamakan tidak punya waktu memasak setelah pulang kantor, aku tetap memilih pasar beduk sebagai tempat mencari menu berbuka puasa.
Seperti sore itu, aku kembali mengunjungi pasar beduk. Menghampiri salah satu meja yang dipenuhi beragam hidangan penggugah selera. Ada gulai ayam, malbi, urap, tempoyak, pindang, dan sebagainya. Semuanya menarik perhatian. Semuanya meminta untuk dibeli.
Mataku tertumbuk pada menu cumi saus asam manis, salah satu menu favorit anakku. Sebagai konsumen yang selektif, aku harus memastikan makanan tersebut masih segar dan baik. Oleh karena itu, tanpa ragu, aku menyendok kuah makanan tersebut dan membauinya.
"Maaf ya, Bu, ini baru dimasak toh?" ujarku.
"Masih barulah. Semua masakan yang kami jual ini baru, dak do yang dipanasin," si ibu pedagang menjawab dengan nada agak tinggi. Wajahnya terlihat gusar, mungkin tersinggung dengan tindakan yang aku lakukan.
"Maaf Bu, saya cuma memastikan. Soalnya kemarin saya beli di sebelah sana, masakannya sudah gak segar lagi," aku menjawab sambil tersenyum, mencoba menenangkan si ibu pedagang.
"Kalu sayo yang jualan dijaminlah masih baru. Dak do dak kami nak bohong. Awak nak beli berapo porsi, sayo kasi sepuluh ribu be seporsi," dia menyendok cumi asam manis, wajahnya masih tak sedap dipandang.
"Satu porsi saja, Bu. Minta urapnya juga satu porsi," aku merasa tidak enak hati.
Beberapa pembeli berdatangan. Dia kelihatan kewalahan meladeninya.
"Buk, ini pepes apa?" seorang laki-laki berpenampilan necis menunjuk makanan yang dibungkus dengan daun pisang.
"Ikan baung. Nak beli berapo bungkus, Pak?" tanya si ibu sembari membungkus pesananku.
"Betul ini baung ya Buk? Kemarin saya beli di sini katanya pepes baung, eh pas dibuka di rumah ternyata pepes patin," si lelaki berkata tanpa perasaan. Aku melirik ke si ibu yang kembali memerah wajahnya.
"Bapak buko be dulu bungkusnyo biar dak salah," dia menyerahkan pesananku lalu mengambil sebungkus pepes patin dan membukanya dengan agak kasar. Aku buru-buru membayar pesananku, tak ingin melihat adegan selanjutnya.
Aku kembali menyusuri pasar beduk. Mencari-cari mana tahu ada makanan yang menarik minat untuk dibeli. Semua hidangan kelihatan sama. Semua wajah pedagang pun kelihatan serupa seperti si ibu pedagang cumi saus asam manis. Aku tiba-tiba kehilangan selera...
Minggu, 21 Mei 2017
PUNGLI
Yang namanya pungli, bagaimana pun bentuknya, susah untuk dihapuskan di negeri ini. Memungut bayaran di luar aturan yang ditetapkan, itu yang kupahami sebagai pungli. Parahnya lagi, kita sebagai mayarakat juga mendukung praktik pungli tersebut dengan alasan agar urusan lancar dan tidak ribet. Seperti yang aku alami saat memperpanjang SIM C di mobil SIM keliling yang biasa ngetem di sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Ini adalah pengalaman pertamaku memperpanjang SIM. Jadi wajar kalau aku tidak mengerti prosedur yang harus dilalui dan biaya yang harus dikeluarkan (salahku juga sih, karena kurang update).
Prosedur pertama yang harus dijalani adalah mengisi formulir permohonan perpanjangan SIM. Setelah mengisi formulir sebanyak dua halaman tersebut, aku mengantre lagi, menunggu giliran pemeriksaan kesehatan. Dari bisik-bisik orang yang mengantre, aku mendengar kalau biaya resmi perpanjangan SIM tidak sampai 100 ribu. Ternyata tidak terlalu mahal, pikirku.
Sesaat kemudian, aku mendengar namaku dipanggil. Aku bergegas mendatangi dua orang petugas yang duduk di bawah payung besar yang disediakan di tempat itu. Petugas perempuan memeriksa tekanan darah, menanyakan berat dan tinggi badan, serta menuliskan hasilnya di formulir pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, petugas laki-laki sibuk menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil.
"Ibu, ini kami berikan kartu asuransi. Biayanya 30 ribu ditambah periksa kesehatan 30 ribu. Jadi totalnya 60 ribu," petugas laki-laki menyerahkan sebuah kartu kecil berwarna biru. Asuransi kecelakaan, demikian tulisan yang tertera pada kartu itu.
Aku mengangguk. Ternyata benar, biayanya tidak sampai 100 ribu, pikirku senang. Selanjutnya aku dipersilakan naik ke mobil SIM keliling untuk difoto. Di dalam mobil sudah antre pula beberapa perempuan. Ada dua petugas laki-laki di dalam mobil. Yang satu sibuk mengetik data yang tertera di formulir permohonan, satunya lagi bertugas memanggil dan memfoto pemohon.
"Ibu-ibu mau menyetorkan sendiri biayanya ke bank atau kami yang menyetorkannya ke bank?" tanya laki-laki yang bertugas sebagai tukang foto.
Lho, ternyata di dalam sini masih ada biaya toh, pikirku. Kirain sudah selesai di luar sana.
"Emang biayanya berapa, Pak?" seorang perempuan bertanya.
"Kalau menyetor langsung 75 ribu tapi kalau kami yang menyetorkan 100 ribu," si petugas menjawab enteng. "Kita kan juga perlu membayar orang untuk antre, Bu", dalihnya.
"Kalau bayar di sini langsung dapat SIM ya, Pak?" tanya yang lain.
"Iya Bu, langsung dapat. Kalau Ibu yang bayar ke bank, harus menunjukkan bukti pembayaran barulah SIM-nya kami berikan," jelas si petugas.
Daripada capek pergi ke bank, antre, banyak memakan waktu, mending bayar di sini, demikian kata setan di kepalaku.
Jadi begitulah. Hari itu aku mengeluarkan biaya 160 ribu untuk perpanjangan SIM. Hari itu juga aku turut mendukung praktik pungli perpanjangan SIM. Tololnya aku!!!!
Sabtu, 13 Mei 2017
Tukang Parkir
Ketika keluar dari pelataran parkir toko perlengkapan rumah tangga itu, perasaanku sudah tidak enak. Bukan karena barang yang kubeli hanya satu item (murah pula harganya!).... bukan, bukan karena itu. Bukan pula karena penampilanku yang saat itu gak karuan (sandal jepit, kaos pudar, wajah keringatan tanpa bedak). Jalan menuju jalan raya yang ada di depan pelataran parkir toko inilah yang membuatku ketar-ketir. Bagaimana tidak, jalannya lebih tinggi daripada jalan raya di sekitarnya. Bergelombang pula. Tentu menyusahkan bagi pengendara motor amatir dan berkaki pendek sepertiku. Apalagi aku akan menuju ke seberang jalan. Aku berani bertaruh, aku akan jatuh saat keluar dari pelataran parkir. Atau meluncur langsung ke jalan raya tanpa bisa mengendalikan laju sepeda motor saking gugupnya.
Sepanjang pengalamanku berkendara (aku belajar naik motor tahun 2012 dan masih amatir menurutku), sudah beberapa kali aku jatuh karena tidak bisa mengendalikan kendaraan di jalan yang tinggi atau bergelombang. Aku tipe orang yang mudah gugup dan panik. Sudah lima tahun mengendarai motor, tetap saja kegugupan dan kepanikan itu melanda. Apalagi kalau menyaksikan kecelakaan di jalan raya, aku fobia. Pake banget!!!
Jadi beginilah aku. Terpaku di jalan tinggi dan bergelombang yang membatasi pelataran parkir dan jalan raya. Di depanku, kendaraan lalu lalang tiada berkesudahan. Aku bermaksud akan melaju saat jalan benar-benar sepi. Tapi tampaknya jalan itu tak akan sepi dari kendaraan.
"Ibu mau menyeberang?"
Aku menoleh. Tukang parkir yang tadi mengutip uang parkir di toko perlengkapan rumah tangga memandangku.
"Iya, tapi tunggu sepi dulu...," jawabku sambil nyengir.
"Ayo, Bu. Biar saya tahan kendaraan yang dari sana supaya Ibu bisa menyeberang," katanya. Dia meletakkan peluit di mulutnya. Tangannya mengambil ancang-ancang hendak menahan laju kendaraan dari sebelah kanan jalan.
"Gak berani ah...," aku menolak. "Takut jatuh. Inikan jalannya tinggi. Kalau langsung jalan, saya bisa jatuh. Saya udah sering jatuh di jalan beginian...," aku malah curhat.
Tukang parkir tersenyum. Dia menawarkan bantuan untuk mengendarai motor dan membawanya ke seberang jalan. Tanpa banyak berpikir, aku mengiyakan. Kami bersiap menyeberang. Dia mengendarai motor, aku berjalan di sebelahnya. Sial bagiku, aku ketinggalan saat menyeberang. Kupandangi dia yang sudah berada di seberang dengan motor matic kesayangan. Pikiran buruk segera melintas. Bagaimana kalau dia tidak menungguku sampai ke seberang? Bagaimana kalau dia terus melaju dan kabur dengan motorku? Alamak....
Segera kutepis pikiran buruk itu. Aku menyeberang setelah ada kesempatan. Dia memberikan motor sambil tersenyum sabar.
"Terima kasih, ya...," suaraku terdengar serak.
"Sama-sama. Hati-hati ya, Bu...," suaranya terdengar ikhlas.
Aku segera melaju. Dalam hati kudoakan tukang parkir itu murah rezeki.
Jumat, 28 April 2017
Kursi*
Kursi itu melintang
dengan tenangnya di perempatan jalan sehingga arus lalu lintas menjadi macet
pada pagi yang terpanggang matahari. Suara klakson yang bersahutan dan makian
para supir angkutan menambah panas suasana. Penumpang-penumpang di bis kota
mulai gelisah. Ada yang celingak-celinguk ingin tahu, ada yang bolak-balik
melirik arloji, ada pula yang pura-pura baca buku untuk menutupi
kegelisahannya. Seorang gadis cantik sibuk melap keringatnya yang terus-menerus
mengucur di dahi, di puncak hidung, di atas bibir, di leher, di pangkal lengan,
dan selangkangan. Sementara pemuda yang duduk persis di sebelahnya, menekan
hidung kuat-kuat. Rupanya keringat gadis itu menebarkan aroma kurang sedap.
Lain di bis, lain pula di mobil pribadi.
Kemacetan seperti ini tidak terlalu mempengaruhi pemilik mobil mewah, terutama
dari segi produksi keringat. Mereka dapat menghidupkan AC mobil, mendengarkan
musik, buka baju seenaknya, dan bercinta dengan bebas. Kesempatan yang ada
memang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Agaknya demikian pula prinsip yang
dipakai oleh dua orang polisi lalu lintas yang bertugas pagi itu. Mereka tidak
terpengaruh sama sekali dengan keributan dan kekacauan yang terjadi. Mereka
justru lebih tertarik dengan kursi yang menyebabkan kemacetan tersebut.
"Kursi siapa?"
"Tidak tahu!
Seseorang pasti telah melakukan sabotase dengan meletakkan kursi di sini!"
Kedua
polisi mulai kelihatan sibuk mencatat. Mereka mengamat-amati setiap lekukan
pada kursi. Apabila ada sesuatu yang mencurigakan, mereka pun buru-buru
mencatat. Kedua polisi itu sepakat tidak akan menyentuh kursi itu supaya tidak
meninggalkan sidik jari. Bagaimanapun, kursi itu kelihatan sangat berharga dan
pemiliknya pasti bukan orang sembarangan. Keadaannya memang sudah tua, terbukti
dengan warna catnya yang memudar dan terkelupas. Akan tetapi joknya masih empuk, masih padat. Dan
sepertinya, orang akan lupa berdiri kalau sudah duduk di kursi itu.
Suasana
semakin panas. Orang-orang mulai berkerumun di perempatan, mengelilingi kursi
yang kelihatan bangga menjadi pusat perhatian masyarakat.
"Ada apa?"
"Ada kursi yang
ditinggalkan pemiliknya di tengah jalan!"
"Tega sekali!"
"Mungkin juga
pemiliknya tak sengaja meninggalkan kursi itu!"
"Kursinya lumayan
bagus!"
"Kursi itu pasti melarikan
diri dari pemiliknya!"
"Seseorang pasti
sangat kehilangan kursinya!"
"Mungkin kursi tukang
warung di pojok sana!"
"Rupanya kursi ini
yang menyebabkan kemacetan!"
Berbagai
komentar mengenai keberadaan kursi itu tumpah ruah di perempatan. Masyarakat
agaknya lupa dengan kemacetan yang terjadi. Kursi tua itu lebih menarik untuk
dibicarakan daripada berkutat dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai.
Tiba-tiba
seseorang menyeruak kerumunan masyarakat dengan paksa. Orang-orang tentu saja
mengomel panjang pendek. Bahkan ada yang memaki. Akan tetapi, seseorang itu tak
peduli. Dia terus saja menerobos sampai akhirnya tiba di dekat kursi yang
semakin gagah memamerkan joknya yang empuk.
"Hei, apa-apaan ini?"
"Bangsat, tak tahu
aturan! Pelan-pelan dong!"
"Kau ingin digebuk
ya?"
"Itu kursiku!"
Mendadak
orang-orang terdiam saat mendengar pengakuan seseorang itu. Mereka memandang ke
arah seseorang itu dan ke arah kursi secara bergantian. Tak ada kemiripan sama
sekali. Kursi itu malah mencibir tak percaya.
"Itu kursiku, sumpah!"
"Tak mungkin,
potonganmu tak pantas menjadi pemilik kursi itu!"
"Tapi aku bersumpah,
itu memang kursiku!"
"Bohong, aku tak
percaya! Kau hanya mengarang-ngarang cerita supaya bisa memiliki kursi itu.
Akulah pemilik kursi yang sah!"
Masyarakat
kembali tercengang. Sekarang sudah dua orang yang mengaku sebagai pemilik
kursi. Kedua polisi sibuk mencatat segala kejadian yang berlangsung di TKP.
Mereka berusaha keras mencari kemiripan kursi itu dengan dua orang yang
mengaku-aku sebagai pemiliknya.
"Apakah kau punya
bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa kursi itu memang kepunyaanmu?"
"Ya. Aku punya bukti!"
"Apa?"
"Kursi itu! Aku akan
memaksanya bicara supaya dia mengaku memang aku pemiliknya!"
Orang
itu mendekati kursi yang semakin menantang. Joknya yang empuk ibarat pantat
bahenol seorang gadis yang baru datang bulan. Begitu menggiurkan, begitu
merangsang. Orang itu berusaha menjangkau kursi. Anehnya, kursi terasa jauh
dari jangkauan. Semakin dekat orang itu dengan kursi, semakin jauh pula kursi
itu berada.
"Anjing! Penipu!"
"Sudah kuduga, dia
seorang pembohong!"
"Sumpah mati, itu
memang kursiku!"
Dor!
Orang itu terkapar sebelum sempat meraih kursi. Sebuah peluru bersarang tepat
di dadanya.
"Jadi benarkan, kursi
itu milikku!"
"Kau juga ingin
mampus ya?"
"Aku tak ingin mampus,
aku cuma ingin kursi itu!"
"Jangan salah, akulah
pemiliknya!"
"Bohong! Kursi itu
milikku!"
"Asu buntung! Itu
milikku!"
Orang-orang
semakin riuh. Kali ini semua mengaku sebagai pemilik kursi. Tak ketinggalan
kedua polisi itu. Bersama masyarakat, mereka berebut kursi. Tapi sungguh ajaib,
kursi itu tak terjangkau. Seakan-akan ia hanya bayangan, hanya fatamorgana.
Yang bersentuhan justru tangan orang-orang yang saling berebut. Mereka saling
genggam, saling cakar, saling remas, saling rampas. Kursi itu tenang-tenang
saja di tempatnya sementara orang saling membunuh demi jok empuk yang
ditawarkan kursi itu.
Matahari
semakin tinggi. Hari semakin terik. Suasana semakin panas. Korban berjatuhan,
lalu lintas semakin total macetnya. Mobil-mobil dilempari, rumah-rumah dibakari, anak-anak disodomi,
semua demi kursi. Masyarakat menjadi beringas, saling berteriak bahwa kursi itu
miliknya.
Raungan
sirene
menghentikan keributan massal itu. Masyarakat kembali tertib saat bupati terjun langsung ke
lokasi keributan. Seratus tangan yang melekat di tubuhnya mampu meredam gejolak
yang terjadi. Masyarakat memang sangat menghormati pejabat daerah yang satu ini
karena beliau terkenal dekat dengan masyarakat.
"Kursi yang bagus!"
"Saya yang punya,
Pak!"
"Bohong, itu punya
saya!"
"Bukan, sayalah
pemiliknya!"
"Jangan mimpi, sayalah
yang berhak atas kursi itu!"
Masyarakat
kontan terdiam setelah bupati menjatuhkan vonisnya. Mereka memang melihat kemiripan antara bupati dan kursi yang
diperebutkan itu. Mereka tak berkata apa-apa lagi saat beliau duduk di jok
empuk yang sangat pas dengan ukuran pinggulnya. Beliau ada di atas bersama
kursinya.
Lalu
lintas kembali normal.
Kamis, 27 April 2017
Strukturalisme Goldmann
![]() |
| Lucien Goldmann |
Goldmann memandang karya sastra sebagai
produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan
destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang
bersangkutan. Teori Goldmann ini ditopang oleh seperangkat kategori sehingga
membentuk apa yang disebutnya sebagai strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut
adalah strukturasi, fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia, serta
pemahaman dan penjelasan.
Strukturasi merupakan pemahaman terhadap keseluruhan antarberbagai
isi dalam struktur karya sastra yang koheren dan terpadu. Sebagaimana terungkap
dalam eseinya, The Epistemology of Socioloy (1981), Goldmann memandang
karya sastra sebagai ekspresi pandangan dunia secara imajiner dan untuk
mengekspresikan pandangan dunia itu, pengarang menciptakan tokoh-tokoh, objek-objek,
dan relasi-relasi secara imajiner. Oleh karena itu, konsep struktur Goldmann bersifat
tematik dengan pusat perhatian relasi antartokoh dan tokoh dengan objek
sekitarnya. Goldmann menggunakan konsep struktur (keseluruhan hubungan
antarberbagai unsur isi), mengkhususkan hipotesisnya yang lebih umum, dan
menyatakan bahwa ada homologi antara struktur novel klasik dan struktur
pertukaran dalam perekonomian bebas.
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktivitas atau
perilaku manusia, baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami
oleh ilmu pengetahuan. Fakta kemanusiaan dapat berbentuk fakta individual dan fakta sosial. Fakta
individual merupakan perilaku libinal sedangkan fakta sosial mempunyai peranan
dalam sejarah. Fakta tersebut merupakan
hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya
dengan dunia sekitar. Di dalam hal ini, Goldmann sejalan dengan teori psikologi
Pieget yang menyatakan, ”Manusia dan lingkungan sekitarnya selalu berada dalam
proses strukturasi timbal-balik yang saling bertentangan tetapi sekaligus
saling isi-mengisi.” Akan tetapi, dalam usaha mencapai keseimbangan pada psoses
asimilasi dan akomodasi tersebut dapat mencapai kegagalan apabila berhadapan
dengan rintangan. Goldmann mengidentifikasi tiga rintangan berikut ini: (i)
kenyataan bahwa sektor kehidupan tertentu tidak menyandarkan dirinya secara
integratif dalam struktur yang dielaborasikan; (ii) semakin lama penstrukturan
dunia eksternal semakin sukar bahkan semakin tidak mungkin dilakukan; dan (iii)
individu-individu dalam kelompok yang bertanggung jawab bagi lahirnya proses
keseimbangan telah mentransformasikan lingkungan sosial dan fisiknya sehingga
mengganggu keseimbangan dalam proses strukturasi itu.
Subjek kolektif merupakan subjek fakta kemanusiaan
yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu subjek individual sebagai subjek fakta
individual dan subjek kolektif sebagai subjek fakta sosial. Goldmann
berpandangan bahwa yang melaksanakan fakta kemanusiaan bukan subjek individual
melainkan subjek transindividual. “Subjek trans-individual adalah subjek yang
mengatasi individu, yang di dalamnya individu hanya merupakan bagian. Subjek
trans-individual bukanlah kumpulan individu-individu yang berdiri
sendiri-sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas”.
Pandangan dunia merupakan inti dari teori strukturalisme genetik.
Goldmann percaya adanya homologi antara struktur karya sastra dengan struktur
masyarakat karena keduanya merupakan produk dari aktivitas strukturasi yang
sama. Akan tetapi, Goldmann tidak percaya kepada hubungan langsung (=one-to-one-correspondence)
antara unsur dalam novel dan unsur dalam realitas sosial. Hubungan yang ada ialah antara
pandangan dunia dalam novel dengan pandangan dunia dalam realitas. Pandangan
dunia dalam novel hanya dilihat melalui penyelidikan struktural dan ini
dihubungkan secara dialektik dengan pandangan dunia dalam realitas. Pandangan
dunia memiliki makna menyeluruh dari gagasan-gagasan, inspirasi-inspirasi, dan
perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu
kelompok sosial tertentu dan mempertanyakannya dengan kelompok sosial lain.
Pandangan dunia dalam strukturalisme genetik dapat berkembang sebagai suatu
hasil dari situasi sosial ekonomi yang dihadapi oleh subjek kolektif yang
memilikinya. Goldmann menyatakan dalam Pour une sociologie du roman (Paris,
1964) bahwa, di sini ia mengandaikan adanya hubungan langsung antara sistem
ekonomi dan bentuk sastra. Bahkan, Goldmann mengkhususkan hipotesisnya yang
lebih umum dan menekankan bahwa ada homologi antara struktur novel klasik dan
pertukaran dalam perekonomian bebas. Pandangan dunia itu sendiri merupakan
kesadaran yang mungkin yang tidak setiap orang dapat memahaminya. Kesadaran
yang mungkin adalah kesadaran yang menyatakan suatu kecenderungan kelompok ke
arah suatu koherensi menyeluruh, perspektif yang koheren dan terpadu mengenai
hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. Kesadaran yang
mungkin ini berbeda dengan kesadaran yang nyata karena kesadaran yang nyata
adalah kesadaran yang dimiliki oleh individu-individu yang ada dalam
masyarakat.
Dialektika pemahaman-penjelasan merupakan bagian akhir dari analisis
strukturalisme genetik. “Yang dimaksud dengan pemahaman adalah usaha
pendeskripsian struktur objek yang dipelajari.” Sebaliknya, ”Penjelasan adalah
usaha menggabungkannya ke dalam struktur yang lebih besar.” Dengan kata lain,
“Pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian, sedangkan penjelasan
adalah usaha untuk mengerti makna bagian itu dengan menempatkannya dalam
keseluruhan yang lebih besar”. Dengan demikian, pemahaman bertujuan untuk
mendeskripsikan realitas fiksi sedangkan penjelasan bertujuan untuk menempatkan
realitas fiksi pada realitas faktual dalam konteks historis.
Sumber:
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress.
Faruk. 1994. Pengantar
Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna,
Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi
Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rosliani.
2009. ”Novel Karya Bokor Hutasuhut: Pendekatan Hermeneutika Historis”. Tesis.
Medan: Sekolah Pascasarjana USU
Sikana,
Mana. 2009. Teori Sastera Kontemporari.
Selangor: Pustaka Karya.
Langganan:
Komentar (Atom)
Entri Populer
-
Man. Begitu dia sering dipanggil. Orangnya ramah, murah senyum, pada tetangga tak pernah usil. Rambutnya gondrong, rapi dikuncir dengan ...
-
Dia tak akan melewatkan acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi berbayar itu. Acara yang menyajikan keterampilan melukis dan mewarna...

