Sabtu, 03 Juni 2017

Dilema Pasar Beduk

Setiap tahun, setiap Ramadan, selalu ada keramaian. Pasar beduk adalah salah satunya. Pasar yang dipenuhi pedagang yang menjajakan makanan untuk berbuka puasa, mulai makanan kecil sampai makanan berat. Pasar yang selalu dinantikan oleh perempuan pekerja seperti aku.

Sebenarnya banyak teman yang menyarankan untuk tidak membeli makanan di pasar beduk. Kata mereka, makanannya terkadang sudah tidak segar lagi. Makanan yang tidak laku dijual pada hari sebelumnya, akan dipanaskan dan dijual kembali keesokan harinya. Belum lagi harganya yang selangit. Kebersihan dan bahan-bahan yang digunakan juga kurang terjamin. Aku memang menyadari hal itu. Namun, dengan mengatasnamakan tidak punya waktu memasak setelah pulang kantor, aku tetap memilih pasar beduk sebagai tempat mencari menu berbuka puasa.

Seperti sore itu, aku kembali mengunjungi pasar beduk. Menghampiri salah satu meja yang dipenuhi beragam hidangan penggugah selera. Ada gulai ayam, malbi, urap, tempoyak, pindang, dan sebagainya. Semuanya menarik perhatian. Semuanya meminta untuk dibeli.

Mataku tertumbuk pada menu cumi saus asam manis, salah satu menu favorit anakku. Sebagai konsumen yang selektif, aku harus memastikan makanan tersebut masih segar dan baik. Oleh karena itu, tanpa ragu, aku menyendok kuah makanan tersebut dan membauinya.

"Maaf ya, Bu, ini baru dimasak toh?" ujarku.
"Masih barulah. Semua masakan yang kami jual ini baru, dak do yang dipanasin," si ibu pedagang menjawab dengan nada agak tinggi. Wajahnya terlihat gusar, mungkin tersinggung dengan tindakan yang aku lakukan. 
"Maaf Bu, saya cuma memastikan. Soalnya kemarin saya beli di sebelah sana, masakannya sudah gak segar lagi," aku menjawab sambil tersenyum, mencoba menenangkan si ibu pedagang.
"Kalu sayo yang jualan dijaminlah masih baru. Dak do dak kami nak bohong. Awak nak beli berapo porsi, sayo kasi sepuluh ribu be seporsi," dia menyendok cumi asam manis, wajahnya masih tak sedap dipandang.
"Satu porsi saja, Bu. Minta urapnya juga satu porsi," aku merasa tidak enak hati.

Beberapa pembeli berdatangan. Dia kelihatan kewalahan meladeninya.

"Buk, ini pepes apa?" seorang laki-laki berpenampilan necis menunjuk makanan yang dibungkus dengan daun pisang.
"Ikan baung. Nak beli berapo bungkus, Pak?" tanya si ibu sembari membungkus pesananku.
"Betul ini baung ya Buk? Kemarin saya beli di sini katanya pepes baung, eh pas dibuka di rumah ternyata pepes patin," si lelaki berkata tanpa perasaan. Aku melirik ke si ibu yang kembali memerah wajahnya.
"Bapak buko be dulu bungkusnyo biar dak salah," dia menyerahkan pesananku lalu mengambil sebungkus pepes patin dan membukanya dengan agak kasar. Aku buru-buru membayar pesananku, tak ingin melihat adegan selanjutnya.

Aku kembali menyusuri pasar beduk. Mencari-cari mana tahu ada makanan yang menarik minat untuk dibeli. Semua hidangan kelihatan sama. Semua wajah pedagang pun kelihatan serupa seperti si ibu pedagang cumi saus asam manis. Aku tiba-tiba kehilangan selera...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer