Kamis, 10 November 2016

Lelaki yang tak kusebut namanya*


Aku mengenalnya saat akan mengadakan kegiatan penyuluhan kebahasaan di kota tempat dia berdomisili. Dia merupakan narahubung kami dalam mempersiapkan peserta dan tempat kegiatan. Beberapa teman yang sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya, mengatakan bahwa dia -lelaki yang tak kusebut namanya- kurang bersahabat. Dengan kata lain, ga asyik diajak kerja sama. Mungkin karena dia masih tergolong pejabat di kantornya sehingga agak jaim dengan kami yang staf biasa ini.

Awalnya aku terpengaruh dengan opini teman-teman mengenai dia. Saat pertama kali menghubunginya lewat ponsel, gambaran mengenai kejaiman itu memang terasa. Suaranya berat, sedikit parau, dan terkesan kurang bersahabat. Setiap kutanya, jawabannya to the point. No basa no basi. Persis pejabat yang baru naik daun.

Ketika akan bertemu secara langsung di lokasi kegiatan, aku ketar-ketir juga. Tidak nyaman karena bakal berhadapan dengan pejabat yang bossy seperti dia. Apalagi aku bukan tipe orang yang suka berdekat-dekat ria atau bermanis wajah ria dengan para pejabat model begitu. Duh, pasti membosankan!!!

Dan apa yang kubayangkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan!!!

Lelaki itu -yang tak kusebut namanya- jauh dari perkiraan. Perawakannya memang gemuk, parasnya dingin berwibawa, mirip pejabat kantoran yang memandang remeh bawahan. Akan tetapi, dia ramah sekali. Bicaranya santai dan penuh rasa humor. Seketika itu juga aku merasa sudah lama kenal dengannya. Perasaan ketar-ketir langsung mencair. Kami berbincang akrab seperti kawan dekat. Kerja sama pun berjalan lancar sampai kegiatan selesai.

Dan dia membawakan kami oleh-oleh sebelum kembali ke tempat asal. Terima kasih ya, Pak...

*eksotis kali judulnya, tak seperti ceritanya, hehehe...

Ibuku, Pahlawanku


Aku akan ceritakan ibuku apa adanya...

Meskipun dikenal cerewet, ibu adalah panutanku. Anak-anaknya bisa seperti sekarang karena buah dari kecerewetannya. Ibu memang tidak kenal basa-basi dalam bertutur. Apa yang tidak dia sukai, akan dicetuskannya langsung. Apa yang dia kagumi, tak kan disanjung-sanjung. Orang yang baru mengenalnya pasti memandang negatif. Namun orang yang sudah tahu wataknya, akan rindu untuk bertemu. Begitulah ibu. Tak sempurna. Apa adanya, tetapi sangat bersahaja.

Ibu tempat kami bertanya. Tempat kami berkeluh kesah. Tempat berbagi tawa. Selalu ada yang kurang bila ibu tak ada. Selalu ada yang hilang. Kecerewetan itu... Yah, kecerewetan itu dirindu saat tak bertemu ibu.
 
Tepat pada hari ini, Hari Pahlawan, ibu genap berusia 64 tahun. Masih ada sisa kecerewetannya. Di balik sifat cerewet itu, kata-kata bijak tetap mengalir dari mulutnya. Nasihat dan teguran, tak pernah lepas dari ucapannya. Doa-doa indah terus dipanjatkan untuk anak cucunya.

Selamat ulang tahun, Ibu...


Jumat, 16 September 2016

Rest in Peace


Hujan. Mendung.

Ya. Jumat keempat di September ini cuaca benar-benar bersahabat. Tiada panas, tiada peluh. Semoga begini sampai sore. Semoga begini. 

Ruangan kerja yang tidak memiliki pendingin udara (rusak karena usianya yang sudah sangat sepuh), memaksaku untuk berharap agar cuaca mendung sampai sore. Biasanya, kalau hari panas, aku akan mengungsi ke perpustakaan atau ruangan teman yang pendingin udaranya masih bisa diandalkan. Bisa dibayangkan bagaimana lecek, lusuh, dan loyonya aku kalau tidak mengungsi. Benar-benar menyedihkan!!!

Baiklah, akan aku ceritakan sedikit kronologis "kematian" pendingin udara yang sepuh ini. Si pendingin udara, sebut saja namanya Changhong, dibeli sekitar tahun 2005, saat kantor kami baru berdiri di Tanah Pilih ini. Kehadirannya disambut dengan selebrasi (halah!) karena barang berbentuk pendingin udara sudah lama dinanti-nantikan.

Singkat cerita, Changhong setia menemani kami sampai kantor berpindah ke tempat yang lebih layak pada tahun 2006. Sial bagi Changhong, kedudukannya digantikan dengan pendingin udara yang lebih baik, lebih canggih, dan lebih irit. Sial juga bagiku karena Changhong ditempatkan di ruanganku, di lantai dua. Di awal kepindahan, dia baik-baik saja. Tahun berikutnya, mulai batuk-batuk. Kadar pendinginnya mulai berkurang. Dia mulai diservis. Selalu always diservis, dibersihkan, dan dibongkar mesinnya. Masih bisa dipakai, kata si tukang servis. Memang benar, pendingin ruangan yang setia itu hidup lagi, berfungsi lagi. Begitulah seterusnya.

Sampai pada akhirnya, dia tak tahan lagi. Tiba-tiba mengerang. Tiba-tiba batuk. Tiba-tiba mati. Tukang servis dipanggil. Berpeluh dia mereparasi. Berkerut kening tanda tak pasti. Si tukang servis meletakkan peralatannya ke lantai. Membuka topi dan menggeleng lesu. Lalu menunduk. Sudah tidak bisa lagi, harus diganti, katanya.

Dan pendingin udara sepuh yang setia, melekat kaku di dinding ruangan, menanti penggantinya datang.

RIP Changhong (2005--2016)...





Senin, 08 Agustus 2016

Masih, agustus

Tulisan ini tak sengaja terbaca di mojok.co. Langsung saja aku copas karena masih berkaitan dengan postinganku tanggal 3 Agustus kemarin. Untuk sekadar lucu-lucuan sembari mengingat para mantan agustus yang entah di mana rimbanya kini.....Hahahaaha.



Diam-diam Mengenang Mantan: Catatan Kecil di Bulan Agustus
Diposkan pada 7 August 2016

Agustus adalah bulan yang paling ditunggu oleh penyandang nama Agus di seluruh dunia.

Sembari melingkari satu tanggal dan menyilang yang lain di almanak, masing-masing dari mereka menyiapkan pelbagai perayaan sesuai kadar rasa syukur dan statusnya; Agus yang telah berpasangan dan sentosa hidupnya akan mengunjungi segala yayasan untuk berderma sebelum dilanjutkan dengan candle light dinner di sudut temaram restoran. Sementara Agus yang menjomblo dan tertekan batinnya bakal meniup lilin bersama teman sependeritaan, lalu melewatkan sisa malam dengan berbagi kepedihan, terkadang sambil berpelukan.

Seperti Agus yang jomblo, bulan Agustus juga menjadi bulan yang berat untuk saya lalui meski saya lahir di bulan Juni dan tak menjomblo lagi. Penyebabnya adalah beberapa mantan lahir di bulan ini, dan mereka adalah mantan-mantan terbaik sebab menorehkan perih yang terlampau dalam. Dan seperti pahlawan, mantan semacam itu layak untuk dikenang.

Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, saya mengenang mereka dengan upacara tabur bunga. Foto-foto manis mereka saya jajarkan di bawah kamboja sebelum saya tangisi dengan khidmat dan menaburinya dengan melati dan rajangan mawar. Namun, tahun ini saya bosan dengan ritual begitu. Lagi pula, tak baik menangisi mantan di depan istri sendiri—Anda boleh mencobanya bila tak percaya.

Beruntung sekali, seorang teman mengirimi video mengenai cara-cara romantis mengenang mantan. Beberapa cara agak janggal untuk saya lakukan, yang meliputi menggedor rumah mantan demi memberinya sebuket bunga, membuat puisi sekelas Kahlil Gibran untuk ditempelkan di jendela luar kamar tidurnya, hingga upaya nekat menculiknya lalu hidup bahagia sebagai pasangan kawin lari.

Namun, ada satu video yang membuat saya terinspirasi. Video itu ia dapat dari vidio.com, yang memuat enam lagu musisi dunia untuk mantannya. Malam itu juga, setelah yakin kalau istri sungguh-sungguh lelap, saya putar video itu ditemani deretan foto mantan.

Justin Bieber muncul kali pertama. Ia melantunkan Sorry dengan kepedihan yang tak dibuat-buat, seperti pesakitan yang merindu sekaligus merasa bersalah. Selena Gomez pastilah menangis geru-geru dibuatnya, meskipun waktu membuktikan bahwa mereka tak pernah bersatu kembali. Sayang sekali.

Lagu itu membuat saya menghabiskan tujuh belas helai tisu. Justin Bieber, sedikit banyak, mengingatkan saya pada diri saya di masa muda—tidak usah sirik begitu. Dan Selena Gomez benar-benar mengingatkan saya pada mantan pertama, terutama lingkar pinggangnya. Mantan pertama, Anda tentu sepakat, selalu pahit untuk dikenang.

Lagu kedua dan ketiga saya percepat pemutarannya. Saya tak begitu suka dengan One Direction dan boyband manapun, dan saya tak kenal Ed Sheeran. Lagu Perfect memang merdu dinyanyikan oleh Niall Horan dan para sekondannya itu, begitu pun dengan Don’t yang ditembangkan Ed Sheeran,tetapi selera menentukan segalanya, bukan?



Katy Perry hadir di urutan ketiga, melambungkan ingatan saya pada mantan semasa SMP yang amat mirip dirinya walau volume betis dan lengan dan perut menjadi pembeda. Mantan saya itu selalu manis dan baik, dan matanya bulat lentik mirip mata Katy Perry. Dan ia penolong yang baik saat masa-masa sulit ujian sekolah.

Lagu yang dibawakan Katy Perry itu berjudul Part of Me, yang ia dedikasikan untuk mantan suaminya, Russel Brand. Aransemen sempurna digabung dengan suara khas Katy Perry—adakah horor yang lebih buruk bagi Russel Brand ketimbang dikenang dengan cara tersebut?


Dear John didendangkan di urutan berikutnya oleh Taylor Swift. Sekadar informasi untuk Anda, penyanyi jelita ini selalu saya tunggu dengan dada berdebar di televisi, di iklan es krim yang dia bintangi. Gerak bibirnya saat bertutur, gestur tubuhnya kala berlenggok, dan suara merdunya yang mampu membius pria terwaras manapun, amat mirip dengan mantan saya yang fotonya raib ditelan banjir tahun lalu. Mantan saya yang itu memang berambut pirang seperti Taylor Swift. Maklum saja, di tubuhnya mengalir separuh darah Sunda dan tiga per empat darah Belanda dan dua per tiga darah Norwegia—tak usah Anda pusingkan matematika tersebut.

Intinya, dia sungguh jelita, juga lembut hatinya. Dan kelembutan hatinya itu terbukti saat meminta putus dari saya dengan cara yang takzim dan sopan, mirip mempelai yang memohon restu orangtua saat prosesi sungkeman.

Sudahlah, mari kita mendengarkan Cry Me a River yang dibawakan oleh Justin Timberlake. Lagu ini ia persembahkan untuk Britney Spears, teman masa kecil yang kemudian ia pacari dan akhirnya bubar seperti yang sudah diharapkan pria-pria sirik di penjuru dunia.

Akibat terlalu menghayati kenangan di lagunya itu, yang memang bakal dilakukan oleh pria normal manapun bila kehilangan pasangan seperti Britney, ia memenangi nominasi lagu terbaik untuk vokalis pria di ajang Grammy Award pada tahun 2004.


Tidak, kali ini tidak ada mantan saya yang mirip dengan Britney Spears. Namun, bila dilihat dengan cara pandang tertentu dan dengan sudut kemiringan yang tepat, Britney amat mirip dengan istri saya. Dan citra itu tidak akan hilang meski bertahun-tahun kelak, asal saya mampu memintanya untuk tidak bernyanyi.


Sebenarnya, enam lagu itu tak cukup merepresentasikan kenangan saya akan deretan mantan berbulan lahir Agustus yang berjumlah selusin. Namun, tak masalah. Saya sudah mendapat inspirasi untuk mengenang sisanya dengan alunan lagu Gugur Bunga atau Hari Merdeka atau lagu perjuangan lainnya—toh, mereka lahir berbarengan dengan lahirnya Indonesia.

Begitulah, Kawan, cara yang saya lakukan di tahun ini untuk mengenang mantan di bulan Agustus, dan Anda bisa meneladani sikap saya tersebut dengan beberapa penyesuaian.

Anda yang tak piawai berbahasa asing, misalnya, bisa memutar lagu Rhoma Irama yang berjudul Ani sambil mendekap foto mantan dan mengabaikan namanya yang asli. Sementara Anda yang ingin mengenang mantan dengan cara-cara agamis, bisa melantunkan lagu Suasana di Kota Santri atau Malam Kudus. Lebih afdal bila Anda melakukannya di sepertiga malam terakhir di hari Minggu.

Dan Anda yang tak memiliki satupun mantan kekasih untuk dikenang, ya ampun, bisa memutar lagu-lagu ciptaan Pak SBY selama beliau menjabat. Presiden yang senang membuat lagu dan menyanyikannya kala upacara Agustusan di Istana itu langka, amat langka, sehingga cukup manusiawi untuk Anda rindukan dan kenang sepanjang hayat.

Btw, situ penasaran video yang saya lihat tadi seperti apa? Nyoooooohhhh…




Rabu, 03 Agustus 2016

Kekasihku, Agustus


banyak kulalui agustus
     hanya satu yang berkesan
karena cinta bukan untuk 
ditaklukkan
cinta untuk disebarkan
     untuk kebaikan
         untuk keikhlasan
sebagaimana cinta paripurna yang
kau tawarkan

Rabu, 13 Juli 2016

Idulfitri Istimewa


Seorang teman pernah berkata: Idulfitri itu bukan dirayakan dengan berlimpahnya kue kering, bertambahnya baju baru, dan segala yang berhubungan dengan nafsu duniawi. Idulfitri itu cukup diisi dengan salat Id dua rakaat, mendengarkan khotbah, lalu mensyukuri nikmat Allah melalui peningkatan amal ibadah sebagaimana yang dilakukan pada bulan Ramadan.

Teman yang lain juga mengatakan: Idulfitri bukan hari kemenangan untuk semua umat Islam. Catat ya, BUKAN UNTUK SEMUA umat Islam! Idulfitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadan. Kemudian ibadah yang sungguh-sungguh tadi, tetap dijalankan meskipun Ramadan sudah berakhir. Itulah arti Idulfitri yang sesungguhnya! Itulah arti kemenangan yang sesungguhnya!

Coba bayangkan, berapa juta umat Islam di Indonesia yang merayakan Idulfitri. Tetapi berapa gelintirlah yang benar-benar dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah di bulan Ramadan dan tetap konsisten menjaga amal ibadah tersebut di luar Ramadan. Idulfitri inilah kemenangan bagi orang yang konsisten tersebut. Kemenangan bagi orang yang menjaga hawa nafsunya. Kemenangan bagi orang yang syukur nikmat.

Oleh karena itu, Idulfitri tahun ini terasa istimewa bagiku. Istimewa karena aku bersilaturahmi ke rumah orang-orang yang "menang". Orang-orang yang menjaga ibadahnya. Takkan kau temui deretan stoples berisi aneka kue kering di atas meja tamu mereka. Apalagi lusinan minuman kaleng berbagai merek. Takkan ada itu! Kau justru akan mendapatkan pengetahuan singkat dan padat tentang agama, tentang cara beribadah Rasul, tentang etika makan dan minum, plus keprihatinan akan kondisi umat Islam saat ini. Dan kau akan pulang dengan wajah berseri karena batinmu sejuk mendapat siraman rohani. Kau juga berjanji akan datang kembali meski tidak di Idulfitri.

Masalah kue kering dan minuman kaleng, itu cuma tradisi.

Jumat, 01 Juli 2016

Rindu Pulang

"Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas" 
                                       (Eka Kurniawan)


Dan rindu yang mendendam itu harus terpendam di dada. Ritual mudik yang biasa dilakoni para perantau, tak menyapanya tahun ini. Dia harus menahan keinginan mudik karena alasan tertentu. Menahan kerinduan terhadap uban di kumis dan alis ayahnya, serta gelak khas ibunya.

Bahwa pulang kampung dapat dilakukan kapan saja, itu benar. Akan tetapi, Idulfitri tanpa mudik ibarat sayur tanpa garam. Terasa hambar. Idulfitri merupakan momen yang paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Berbagi cerita, berbagi bahagia, apalagi bagi perantau seperti dirinya. Ayah dan ibu memang tak pernah memaksanya untuk mudik setiap tahun. Kalau ada rezeki berlebih saja, demikian kata beliau berdua. Tetapi anak seperti apalah dia kalau dalam 1250 jam pekerjaan yang dilakoninya setiap tahun, tak bisa diberikannya sebagian untuk bertemu kedua orang tuanya!!!

Tahun ini mungkin tidak. Dan dia sudah bertekad. Tahun depan, tahun depannya lagi, dan tahun-tahun berikutnya, tidak lagi ada alasan untuk tidak pulang kampung. Tidak lagi ada alasan mendendam rindu. Dia harus pulang. Karena sejauh apapun dia mengembara, pulang adalah tempatnya kembali.

Rabu, 29 Juni 2016

OMA*

Oma, perempuan tangguh berusia 69 tahun, tinggal sendiri di rumahnya yang teduh. Anaknya yang sulung tinggal di Bandung. Semenjak menikah, hanya dua kali berkunjung. Anak kedua tinggal di sebuah desa kecil di Muarojambi, datang seminggu sekali. Anak bungsu, satu-satunya perempuan dan satu-satunya belum menikah, tinggal di Jakarta. Bekerja di sebuah bank ternama. Belum tentu datang saat hari raya, karena kesibukannya bekerja.

Oma hidup berbahagia. Tinggal di antara tetangga yang perhatian kepadanya. Setiap pagi, saat ke warung, selalu menyapa tetangga yang berpapasan dengannya. Tidak lupa menitipkan rekening listrik, air, dan gas kepada tetangga yang berbaik hati membayarkan ke loketnya. Tidak pula lupa menyisihkan uang jajan untuk anak tetangga yang telah membayarkan tagihan listrik, air, dan gasnya itu. Sore sepulang dari gereja, Oma tak absen memberikan permen kepada anak-anak yang sedang bermain di sepanjang lorong rumahnya. Dan Oma akan pulang dengan senyum di matanya diiringi ucapan terima kasih anak-anak tetangga. 

Pagi di pertengahan Ramadan, Oma tak lagi menjadi Oma. Wajahnya kelihatan begitu tua. Mata sipitnya semakin sipit memandangi anak-anak yang kebetulan bermain di depan rumahnya. "Kamu Tuhan Yesus, ya? Kamu Tuhan Yesus??" Begitu Oma menyapa sambil menunjuk anak-anak yang bermainnya tak lagi khusyuk. Oma terus menanyakan pertanyaan serupa sampai hampir tak bersuara. Mendadak Oma tak sadarkan diri. Tetangga segera mengantisipasi. Membawa Oma ke rumah sakit di dekat bandara Jambi. Hasil diagnosa dokter dinanti, anak-anak Oma dihubungi.

Oma adalah orang yang religius. Dalam ketaksadarannya, dia selalu menyebut nama Yesus. Oma mungkin rindu. Rindu pada Tuhannya, pada almarhum suaminya, pada anak-anaknya. Oma yang malang. Untung anak-anaknya segera datang. Mengecup Oma dengan sayang. Merawat Oma malam dan siang...

Oma sekarang sudah sembuh, sudah kembali ke rumahnya yang teduh. Tapi Oma tak lagi selincah dulu. Oma sering duduk termangu. "Mama segera sembuh ya, karena aku sebentar lagi menikah," demikian kata si Bungsu.


*inspired by a true story

Puasa Full

Alhamdulillah....

Memasuki hari ke-24 Ramadan, putri kecilku masih tangguh berpuasa. Belum ada bolongnya, padahal ini kali yang pertama dia belajar berpuasa full. Tahun lalu hanya kuat setengah hari, itu pun harus sering-sering dibujuk dan dirayu. Ada saja alasannya supaya berbuka dengan segera. Hauslah, sakit perutlah, pusinglah.... Tapi syukurlah, tahun ini dia kuat berpuasa sehari penuh tanpa harus dipaksa. Dibangunin sahur juga tidak banyak bertingkah. Cukup berbisik lembut di telinganya, dia akan segera terjaga. Dia (pun abangnya) juga tak pernah absen mengikuti kegiatan tahfiz yang digelar di masjid dekat rumah setiap selesai salat Asar. Puji syukur kepada Allah karena kemudahan yang diberikan kepada kami dalam mengajak anak-anak beribadah sejak dini.

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak...

Harus ada reward yang diberikan sebagai bentuk apresiasi atas ketangguhannya berpuasa. Entah berbentuk apa pun itu, yang pasti akan membuat dia semakin bersemangat dalam berpuasa. Dan reward itu dijanjikan diberikan saat akhir Ramadan nanti. Semakin dekat penghujung Ramadan, semakin semangat dia berpuasa. Sudah tak sabar lagi untuk menagih janji....



Kamis, 10 Maret 2016

GMT


Sedangkan matahari dan bulan pun tunduk kepada Allah, mengapa kita tidak???

Gerhana matahari total yang terjadi pada Rabu, 9 Maret 2016 kemarin merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah. Sebagai manusia, tidak ada yang bisa kita perbuat selain mensyukuri dan menundukkan diri atas kekuasaan tersebut. Apalagi Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersujud saat gerhana terjadi (QS. Fushshilat:37). Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak zikir dan sedekah pada momen itu.

Dan demikianlah. Tumpah ruah manusia yang ingin melaksanakan salat khusuf terlihat di setiap masjid yang menggelar salat sunat gerhana. Isak tangis terdengar di saat khatib membacakan khotbah tentang betapa kecilnya manusia di hadapan Allah. Betapa tidak berdayanya kita sebagai manusia tanpa pertolongan-Nya. Dan betapa sombongnya kita dengan segala keterbatasan itu.

Ini adalah kali kedua aku melaksanakan salat gerhana. Tahun lalu, saat gerhana bulan terjadi pada 4 April 2015, aku masih sesak napas mengerjakan salat sunah gerhana saking panjangnya ayat-ayat yang dibaca imam dalam salat itu. Alhamdulillah, sesak napas itu tak lagi menghampiri saat kembali melakukan ibadah yang sama. Kemudahan itu semata-mata datang dari Allah yang berkuasa menaklukkan segala kesulitan yang dihadapi umat-Nya. 

Semoga fenomena langka GMT bukan dijadikan euforia sesaat, tetapi dijadikan sebagai momen penebalan ketakwaan kita kepada Allah SWT.



Kamis, 03 Maret 2016

14 TAHUN


Empat belas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Maret 2002, engkau merengkuhku menjadi bagian dari dirimu. Engkau menguatkan saat aku lemah. Engkau mengangkatku saat ku terjatuh. Engkau menetapkan pandanganmu padaku. Engkau tersenyum saat senyumku tiada. Engkau diam saat ku murka. Engkau penyembuh saat ku terluka.

Dan sampai detik ini, tak pernah kudengar keluhmu tentang betapa cerewetnya istrimu, betapa mengesalkan istrimu, bahkan betapa gendutnya istrimu!

Aku ingin empat belas tahun berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi, engkau masih seperti itu. Sebagaimana aku juga seperti itu. Padamu.


Poelang Kampoeng


Sambil menyelam minum air. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untukku. Yah, kesempatanku untuk menjejakkan kaki ke kota kelahiran datang tanpa disangka. Aku ditugasi kantor untuk mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan tupoksi di kota kelahiranku . Siapa yang tidak senang? Siapa yang tidak bersemangat? Kembali ke kota ini berarti bisa melepas rindu pada orang tua, pada kakak, pada adik, teman, dan kerabat.

Belum lagi bertemu teman-teman dari berbagai kota di Indonesia yang menjadi peserta pelatihan ini. Ada teman yang baru bertemu pas di kegiatan ini, ada pula teman lama yang sebelumnya sudah bertemu pada pelatihan/kegiatan terdahulu. Salah satunya Yeni, teman sekamarku saat pelatihan di ibukota tahun 2006. Kami bertemu lagi di sini dan kembali menjadi teman satu kamar. Haduuh, senangnya...

Dan yang paling membuat aku bersemangat adalah ketika panitia pelaksana pelatihan mengajak kami, para peserta, makan malam di kawasan Titi Bobrok, sebuah tempat kuliner yang sudah terkenal sejak lama. Tempat kuliner yang sejak aku lahir dan besar di kota ini, tak pernah aku datangi. Setelah itu kami diajak makan duren di salah satu pusat penjualan duren terkenal di kota ini. Tempat yang juga tak pernah aku datangi saat masih berdomisili di sini.

Luar biasa memang, kepulanganku ke tanah kelahiran kali ini. Selain temu kangen dengan keluarga dan teman-teman, aku juga memeroleh ilmu baru di bidang perkamusan, bidang yang sempat aku tangani selama sekitar tujuh tahun di kantor. Bidang yang membuatku betah berlama-lama memelototi kata demi kata dalam bahasa daerah dan mendefinisikannya ke dalam bahasa Indonesia. Bidang yang sekarang telah memiliki aplikasi canggih untuk mempermudah para pekamus dalam mengumpulkan dan mendefinisikan entri sesuai dengan semantik domainnya. Sebuah pekerjaan yang menyenangkan!

Memang sangat menyenangkan dinas di kota kelahiran sendiri. Apalagi kalau gratis!!!!


Selasa, 23 Februari 2016

Padanan Kata dan Ungkapan Asing-Indonesia

Ini adalah sebagian kecil kata dan ungkapan asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Semoga menambah pengetahuan kita, ya....
(sumber: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/content/padanan-kata-dan-ungkapan-asing-indonesia)

airport tax > pajak bandara
appetizer > penyelera
audience > khalayak
award > anugerah; hadiah
awning > bidai
backhand drive > pukulan balik
backless dress > gaun tanpunggung
back pack > tas punggung
bakery > usaha roti; bakeri
ballroom > balai riung
banquet > andrawina; bangket
by-pass > jalan bentar
cake > keik
capuccino > kapucino
check-in > lapor masuk
check-out > lapor keluar
coffee break > rehat minum kopi
crane > derek
creamer > krim bubuk
crepe > kue dadar
crispy > renyah
deadline > tenggat
dessert > hidangan penutup; deser
door prize > hadiah lawang
download > unduh
dubbing > sulih suara
entertain > menjamu
eye shadow > perona mata
flight attendant > pramuterbang
gadget > gawai; acang
handy talkie > portofon
hotline > salur(an) siaga
laundry > penatu; dobi
lotion > calir; losion
offline > luring (luar jaringan)
online > daring (dalam jaringan)
scanner > pemindai
scanning > memindai
slam dunk > hunjaman
standby > tunggu muat
surfing > berselancar
upload > unggah

Rabu, 17 Februari 2016

POST SCRIPTUM


Ingin aku tulis
sajak porno sehingga
kata mentah tidak diubah
jadi indah, pokoknya
tidak perlu kiasan lagi
misalnya payudara jadi bukit,
tubuh wanita = alam hangat
senggama = pelukan yang akrab

yang sudah jelas
tulis sajak itu
antara menyingkap dan sembunyi
antara munafik dan jati diri.
                                               
                                   (Toeti Heraty)

Kamis, 11 Februari 2016

SOEMPAH




Soempah! Aku sebenarnya tidak ingin jadi mahasiswa abadi di kampus ini. Bangkotan, demikian ejek salah seorang juniorku yang durhaka. Tidak tahu malu, gurau teman-teman seangkatanku yang konon jadi pengangguran setelah tamat. Bosan, gerutu para dosen yang jemu melihatku mondar-mandir di kampus. Menghabiskan uang saja, hardik ayahku yang menderita rematik karena terus-terusan banting tulang demi membiayai kuliahku.

Soempah! Aku pun sebenarnya jemu mendengar tudingan-tudingan yang tertuju pada diriku. Tapi aku sudah kebal dengan semua itu, kecuali kebal politik! Untuk menghindar dari rasa malu, aku terpaksa menebalkan mukaku, meski tak setebal bibirku. Aku juga berusaha menutup kuat-kuat telingaku bila sindiran terus datang silih berganti (tapi aku tak berniat menutup pintu hatiku bila ada dewi kampus yang ingin berkunjung sementara, kalau bisa menetap!). Aku sadar sepenuhnya, gunjingan dan tuduhan telah menjamur di seantero kampus. Juniorku yang durhaka mnyebarkan fitnah bahwa aku adalah manusia paling goblok di kampus. Tapi yang lain membantah dengan mengatakan bahwa aku masih care about kampus yang telah membesarkan jiwa ragaku (ah, aku suka sanjungan itu!). Teman-teman ada yang lancang mengatakan bahwa aku belum mendapatkan pendamping yang pantas untuk wisuda nanti (bah, klise itu!). Sementara junior lain berpendapat bahwa keputusanku untuk lama tamat adalah tepat, mengingat tenaga dan ideku masih dibutuhkan di kampus. Padahal, pihak dekanat sudah memberi lampu kuning dan orang tuaku terus menghardik: menghabiskan uang saja!

Soempah! Aku tidak mau dicap munafik dengan mengatakan bahwa semua tuduhan itu bohong. Terus terang kuakui, tudingan-tudingan itu benar, kecuali fitnah yang disebarkan junior durhaka itu! Aku memang masih care about kampus, tapi bukan berarti aku goblok! Aku juga (hi...hi...hi) belum mendapatkan pendamping yang pantas untuk wisuda, tapi bukan berarti goblokkan? Tenaga dan ideku masih diharapkan di kampus ini, dan ini semakin membuktikan bahwa aku lama tamat bukan berarti goblok! Di kampus, aku cukup eksis kok! Kepribadian dan –tentu saja- usiaku membuat para junior segan kepadaku. Tapi aku berusaha tidak membuat jarak dengan mereka. Aku berusaha menampung keluhan mereka, memberi informasi tentang dosen anu, meminjamkan buku-buku, menyumbangkan advice yang dibutuhkan, menjadi donatur dalam setiap kegiatan, pokoknya siplah!

Soempah! Aku memang tidak ingin menyandang predikat MA (mahasiswa abadi) ini. Tapi ada segi-segi lain dalam kehidupan kampus yang membuatku sayang untuk meninggalkannya. Itu lho, setiap tahun kok ya makin banyak “bunga mawar” tumbuh di kampus. Kampus yang dulu suram pada masaku, sekarang makin semarak dengan hadirnya mahasiswi baru yang cantik, penuh vitalitas, dan berdedikasi tinggi. Mahasiswa barunya pun penuh bakat terpendam dan perlu sentuhan tangan dingin milikku untuk “menelurkan” bakat mereka. Sayang, sayang sekali kalau ditinggalkan.

Soempah! Alasan lain yang membuatku betah di kampus adalah tuntutan keluarga yang memuakkan. Ayah selalu berpromosi pada orang-orang tentang gelar sarjana yang bakal kusandang. Gelar itu untuk menakut-nakuti calon besan, demikian prinsip ayah. Bah, apa gunanya sejuta gelar kalau hidup tidak bahagia, demikian pula aku membantah ayah.

“Orang tua mana yang tidak bangga, bila di undangan perkawinan ada gelar sarjana di belakang nama anaknya,” ayahku terus berkhayal. Aku semakin (soempah) berat meninggalkan kampus kalau ayah terus berprinsip seperti itu. Pikiran kolot itu tak menggairahkanku untuk merampungkan skripsi yang sengaja kutunda. Pikir ayah, jadi sarjana itu gampang. Beban mental yang ditanggungnya bukan ringan. Banyak sarjana yang pengangguran sehingga menjadi cemoohan masyarakat: percumalah jadi sarjana! Dan sebagian sarjana yang memperoleh pekerjaan layak akan dipandang biasa oleh masyarakat: wajar tokh, namanya juga sarjana...

Soempah! Aku ingin sekali memenuhi obsesi orang tua, calon mertua, dosen, junior, istri, anak, bos, dan diri sendiri. Artinya menjadi anak yang sarjana, calon menantu yang sarjana, mahasiswa yang sarjana, senior yang sarjana, suami yang sarjana, ayah yang sarjana, pegawai yang sarjana, dan pribadi yang sarjana. Entah kapan itu terwujud. Mungkin nanti, mungkin besok, mungkin...

“Soempah!”

Aku terlonjak kaget. Hardikan ayah terdengar jelas di telingaku.

“Soempah! Kapan kau tamat, kapan jadi sarjana? Bah, menghabiskan uang saja kau!”

                                                                                                                                                                          (Medan, 9 Agustus 1996)

Jumat, 29 Januari 2016

S U A P




         Lelaki berambut karatan itu, apakah dia sudah cukup sakti untuk menyembuhkan penyakitku? Ketika melihat papan nama di halaman rumahnya saja, hatiku sudah diliputi keraguan:

Mbah Kartak (Kareh Utak)
Dukun Serba Bisa
Menyembuhkan segala jenis penyakit :
wasir, diabetes, kanker, lambat jodoh...

        Dia bohong, pikirku. Katanya dia bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, tapi nyatanya, penyakit yang kuderita tidak tercantum di papan tersebut. Aku semakin ragu untuk melangkah tetapi seperti ada dorongan dalam hatiku untuk tetap menemui lelaki berambut karatan itu.
       "Masuklah!" ujarnya dengan suara yang sama sekali tidak dibuat-buat. Dia duduk bersila sambil mencongkel-congkel giginya. Mungkin baru selesai makan siang.
         Aku melangkah masuk dan ikut bersila persis di hadapannya. Yang membatasi kami hanyalah meja kecil yang lebih pantas disebut susunan papan yang terbuat dari papan bekas, lembab, dan terkesan lapuk. Di atas meja tersebut terletak sebuah piring sisa makanannya, sebuah apel merah yang dipenuhi bekas gigitan, segelas air yang entah putih entah cokelat warnanya. Kemudian bermacam bunga dikumpulkan dalam satu wadah.
           "Menilik dari penampilanmu, kau adalah seorang mahasiswa," lelaki berambut karatan, yang ternyata Mbah Kartak, bertanya dengan mata yang disipitkan.
            "Wah, hebat! Dari mana Mbah tahu?" tanyaku penuh kekaguman.
            Dia tersenyum mengejek, "jaketmu yang memberi tahu aku!"
          Aku terhenyak. Baru kusadari bahwa aku memang memakai jaket kebanggaan kampus. Biasalah, mahasiswa menjelang KKN selalu bergaya dengan jaket kampusnya meskipun kedodoran.
          Aku tersipu. Biasanya kalau tersipu, aku selalu malu, tetapi sekarang tersipu dongkol. Entah bagaimana itu bentuknya!
            "Penyakit apa yang kau derita, Nak?" dia bertanya penuh wibawa ibarat seorang dosen.
          "Lho, mengapa Mbah bertanya?" aku protes, "bukankah Mbah seorang dukun, yang mengetahui segala sesuatu, mengetahui yang tersirat dan tersurat, mengetahui yang tampak dan tersembunyi, meng..."
            "Anak muda,” dia memotong celotehku, "Anda seorang mahasiswa tetapi Anda kurang tanggap dengan eksistensi saya sebagai dukun!"
            Aku terpelongo. Bah, bicara apa dia?
         "Saya hanya bisa menyembuhkan segala jenis penyakit! Ingat, menyembuhkan! Sekali lagi saya tekankan, me-nyem-buh-kan! Dan kau harus menggarisbawahi bahwa makna menyembuhkan jauh berbeda dengan makna mengetahui! Cure is different from knowing! Kalau kau kurang yakin, kau bisa melihatnya di kamus !"
          Sekali lagi aku terpelongo, kali ini ditambah dengan terbelalak. Pintar juga dia bersilat lidah, persis pejabat tinggi negara yang menyatakan bahwa tenggelamnya KMP Gurita karena faktor alam semata, bukan karena sarat muatan! Dan banyak juga perbendaharaan katanya, persis sastrawan. Aku yang terlalu bodoh, atau memang dia yang pintar?
            "Jelek-jelek begini, saya pernah ngrasai jadi mahasiswa," dia menjawab segala keterpelongoan dan keterbelalakanku.
            "Apa iya Mbah? Di mana? Kapan?" sebagai seorang mahasiswa yang berminat menjadi wartawan, aku mutlak mengajukan beribu pertanyaan.
          "Kau tidak perlu bertanya tentang hal itu!" dia membentak, "yang perlu adalah pertanyaanku: apa penyakitmu? Kalau pertanyaan dibalas dengan pertanyaan, tidak akan menghasilkan jawaban! Karena sesungguhnya, pertanyaan hanya memiliki sperma, harus disatukan dengan sel telur yang dimiliki jawaban! Apabila keduanya bersatu, akan terjadi pembuahan yang menghasilkan kesimpulan!"
           Ah, teori! pikirku. Sepintas aku melihat gayanya bicara, persis sahabat dekatku yang berprofesi sebagai tentor!
            "Tapi sudahlah,"dia mengalah, "daripada berpanjang kalam, ada baiknya kau segera menjawab pertanyaanku, karena kolom buat kita terbatas!"
            Aku membenarkan pendapatnya meskipun tak seratus persen benar. Aku sebenarnya ingin berlama-lama berdebat dengannya.
            "Saya punya penyakit yang aneh, Mbah," aku memulai cerita, kali ini lebih santai. "Saya suka sekali menyuap!"
            Gantian dia yang terpelongo. Kerutan di dahinya menunjukkan kebingungan yang luar biasa.
        "Menyuap, mbah, menyuap...,” aku memberi isyarat dengan gerakan tangan seperti hendak memasukkan sesuatu ke mulut.
            "Menyuap," dia berpikir, "menyuap berarti me-N + suap. Jadi kata dasarnya suap!"
            Dia terdiam sejenak. "Sebentar!" ujarnya dan bangkit dari duduknya, masuk ke dalam ruangan yang bertirai, mungkin kamar. Selang beberapa menit, dia kembali lagi dengan kamus bahasa Indonesia di tangannya, edisi terakhir!
          "Seorang karyawan di toko buku memberikan kamus ini padaku sebagai ganti uang berobat," jelasnya tanpa kuminta.
            "Menurut kamus ini, menyuap berarti makan dengan tangan," dia menatapku.
         "Betul sekali Mbah, cuma bedanya, saya menyuap dengan uang, bukan dengan nasi!" aku menjelaskan.
            Dia terbelalak dan perlahan-lahan menyeringai. "Oo...suap...suap...," dia terkekeh.
            "Persis!" aku menjentikkan jari, "Mbah tahu, dalam setiap detak nafas, saya selalu menyuap. Saya tidak bisa melepaskan diri dari suap, saya takut, sepanjang umur hanya dihabiskan untuk menyuap. Saya takut mati dalam penyuapan, Mbah!"
            Lelaki berambut karatan itu betul-betul pendengar yang baik. Dia tidak memberikan komentar sebelum aku menyelesaikan storiku.
            "Mbah tahu, indeks prestasi saya selalu di atas 2,5, padahal saya tidak terlalu pintar. Beberapa mata kuliah yang tidak lulus dapat saya sulap menjadi lulus. Teman-teman banyak yang heran tapi saya tidak heran...ya, karena itu tadi..."
            "...suap," lelaki berambut karatan melanjutkan kalimatku yang tergantung.
            "Benar sekali Mbah! Dan Mbah harus tahu, saya berhasil masuk di perguruan tinggi tempat saya kuliah sekarang karena..."
            "..suap!"
            "Sekali waktu saya pergi ke diskotek. Tiba-tiba ada razia dan saya tertangkap karena sedang on. Daripada diberitakan media dan reputasi bapak saya tercemar, terpaksalah saya..."
            "...suap!"
            "Bahkan sewaktu hendak kemari, saya tertangkap saat operasi zebra karena ketahuan plat mobil sudah habis masa berlakunya. Tapi saya bisa berdamai dengan polisi lalin yang menangkap saya karena..."
            "...suap!"
            Aku berhenti bicara. Dia pun berhenti memotong pembicaraanku.
            "Saya ingin mati Mbah, guna menghindari suap, tapi saya takut mati sia-sia. Kalau saya hidup terus, saya takut generasi saya ikutan suap!"
            Lelaki yang disebut Mbah Kartak ini tersenyum. Lumayan bijaklah! Dia meneguk habis air di hadapannya. Padahal kupikir, dia tidak haus. Justru aku yang kehausan karena bicara panjang lebar.
            "Anak muda, kau tidak sakit!" katanya tenang, "kau justru sehat sekali, jasmani dan rohani! Kau bahkan jenius, gambaran masyarakat modern! Kalau pun kau anggap sakit maka itu bukan penyakitmu sendiri, melainkan penyakit masyarakat kita, penyakit budaya! Perlu kau ketahui, sewaktu mahasiswa, aku tidak pernah menyuap. Sekarang kau lihat hasilnya! Bertahun-tahun aku kuliah dengan harapan menjadi seorang dokter tapi cuma predikat dukun yang kusandang! Sekarang baru kumengerti taktik kehidupan. S – U – A – P ! Empat huruf inilah yang menjalankan roda kehidupan kita. Empat huruf yang sakti, lebih sakti daripada pendekar mana pun, lebih adil daripada hakim mana pun, lebih jenius daripada profesor mana pun, bahkan lebih nafsu daripada hidung belang mana pun!"
            "Jangan khawatir. Sebagai manusia normal, sah-sah saja kau membudayakan suap. Demikian juga orang yang disuap, sah-sah saja menerima suap. Namanya manusia normal! Penting juga kau ketahui, izin praktikku sebenarnya tidak ada, tapi berkat empat huruf sakti itu, aku bebas beroperasi. Ingatlah, tidak berubah nasib seseorang bila dia tidak mengubahnya, dan tidak haram sesuatu hal bila kita menghalalkannya, iya toh!"
            Untuk pertama kalinya dalam obrolan panjang ini, aku mengakui bahwa Mbah Kartak adalah dukun yang serba bisa!
                                                                                                    (Medan, 31 Jan 1996)

Entri Populer