Soempah!
Aku sebenarnya tidak ingin jadi mahasiswa abadi di kampus ini. Bangkotan,
demikian ejek salah seorang juniorku yang durhaka. Tidak tahu malu, gurau
teman-teman seangkatanku yang konon jadi pengangguran setelah tamat. Bosan,
gerutu para dosen yang jemu melihatku mondar-mandir di kampus. Menghabiskan uang saja, hardik ayahku yang menderita rematik karena terus-terusan banting tulang
demi membiayai kuliahku.
Soempah!
Aku pun
sebenarnya jemu mendengar tudingan-tudingan yang tertuju pada diriku. Tapi aku
sudah kebal dengan semua itu, kecuali kebal politik! Untuk menghindar dari rasa
malu, aku terpaksa menebalkan mukaku, meski tak setebal bibirku. Aku juga
berusaha menutup kuat-kuat telingaku bila sindiran terus datang silih berganti
(tapi aku tak berniat menutup pintu hatiku bila ada dewi kampus yang ingin
berkunjung sementara, kalau bisa menetap!). Aku sadar sepenuhnya, gunjingan dan tuduhan telah
menjamur di seantero kampus. Juniorku yang durhaka mnyebarkan fitnah bahwa aku
adalah manusia paling goblok di kampus. Tapi yang lain membantah dengan
mengatakan bahwa aku masih care about
kampus yang telah membesarkan jiwa ragaku (ah, aku suka sanjungan itu!). Teman-teman ada yang
lancang mengatakan bahwa aku belum mendapatkan pendamping yang pantas untuk wisuda nanti (bah, klise itu!).
Sementara
junior lain berpendapat bahwa keputusanku untuk lama tamat adalah tepat,
mengingat tenaga dan ideku masih dibutuhkan di kampus. Padahal, pihak dekanat sudah
memberi lampu kuning dan orang tuaku terus menghardik: menghabiskan uang saja!
Soempah!
Aku tidak mau dicap munafik dengan mengatakan bahwa semua tuduhan itu bohong.
Terus terang kuakui, tudingan-tudingan itu benar, kecuali fitnah yang
disebarkan junior durhaka itu! Aku memang masih care about kampus, tapi bukan berarti aku goblok! Aku juga (hi...hi...hi) belum
mendapatkan pendamping yang pantas untuk wisuda, tapi bukan berarti goblokkan?
Tenaga dan ideku masih diharapkan di kampus ini, dan ini semakin membuktikan
bahwa aku lama tamat bukan berarti goblok! Di kampus, aku cukup eksis kok! Kepribadian dan –tentu saja-
usiaku membuat para junior segan kepadaku. Tapi aku berusaha tidak membuat
jarak dengan mereka. Aku berusaha menampung keluhan mereka, memberi informasi
tentang dosen anu, meminjamkan buku-buku, menyumbangkan advice yang dibutuhkan, menjadi donatur dalam setiap kegiatan,
pokoknya siplah!
Soempah!
Aku memang tidak ingin menyandang predikat MA (mahasiswa abadi) ini. Tapi ada
segi-segi lain dalam kehidupan kampus yang membuatku sayang untuk meninggalkannya.
Itu lho, setiap tahun kok ya makin banyak “bunga mawar” tumbuh di kampus.
Kampus yang dulu suram pada masaku, sekarang makin semarak dengan hadirnya
mahasiswi baru yang cantik, penuh vitalitas, dan berdedikasi tinggi. Mahasiswa
barunya pun penuh bakat terpendam dan perlu sentuhan tangan dingin milikku
untuk “menelurkan” bakat mereka. Sayang, sayang sekali kalau ditinggalkan.
Soempah!
Alasan lain yang membuatku betah di kampus adalah tuntutan keluarga yang
memuakkan. Ayah selalu berpromosi pada orang-orang tentang gelar sarjana yang bakal
kusandang. Gelar itu untuk menakut-nakuti calon besan, demikian prinsip ayah.
Bah, apa gunanya sejuta gelar kalau hidup tidak bahagia, demikian pula aku
membantah ayah.
“Orang
tua mana yang tidak bangga, bila di undangan perkawinan ada gelar sarjana di
belakang nama anaknya,” ayahku terus berkhayal. Aku semakin (soempah) berat
meninggalkan kampus kalau ayah terus berprinsip seperti itu. Pikiran kolot itu
tak menggairahkanku untuk merampungkan skripsi yang sengaja kutunda. Pikir
ayah, jadi sarjana itu gampang. Beban mental yang ditanggungnya bukan ringan.
Banyak sarjana yang pengangguran sehingga menjadi cemoohan masyarakat: percumalah jadi sarjana! Dan sebagian
sarjana yang memperoleh pekerjaan layak akan dipandang biasa oleh masyarakat: wajar tokh, namanya juga sarjana...
Soempah! Aku ingin sekali
memenuhi obsesi orang tua, calon mertua, dosen, junior, istri, anak, bos, dan
diri sendiri. Artinya menjadi anak yang sarjana, calon menantu yang sarjana,
mahasiswa yang sarjana, senior yang sarjana, suami yang sarjana, ayah yang
sarjana, pegawai yang sarjana, dan pribadi yang sarjana. Entah kapan itu
terwujud. Mungkin nanti, mungkin besok, mungkin...
“Soempah!”
Aku
terlonjak kaget. Hardikan ayah terdengar jelas di telingaku.
“Soempah!
Kapan kau tamat, kapan jadi sarjana? Bah, menghabiskan uang saja kau!”
(Medan, 9 Agustus 1996)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar