Sabtu, 19 September 2015

B E L L A


Namanya Bella. Umurnya sekitar enam tahun tapi perawakannya kecil kurus serupa anak tiga tahun kekurangan gizi. Pembawaannya ramah, lincah, dan ceria. Selalu menyapa para tetangga yang lewat di depan rumahnya. Memberikan senyum manis sembari memamerkan gusi hitamnya yang ditumbuhi deretan gigi yang tak karuan bentuknya. Kegemarannya berceloteh, tak peduli dinihari atau tengah malam. Dia hanya diam kalau sudah tertidur.

Rambutnya keriting pendek dan kasar. Berwarna kemerahan serupa karat besi yang menempel di paku. Kulitnya hitam, kering, bersisik, dan dipenuhi oleh bentolan kecil yang selalu menimbulkan rasa gatal. Tak heran bila gadis kecil itu doyan menggaruki sekujur tubuh kurusnya.

Pertama melihat perawakannya itu, orang akan segera jatuh kasihan. Orang akan berpikiran bahwa gadis kecil itu penyakitan, lemah, dan kurang gizi. Tapi hei...don't judge a book by its cover!!! Gadis itu memang kurus. Gadis itu memang kecil. Sering menggaruki bentolan-bentolan kecil di tubuhnya. Rambutnya kering berkarat. Giginya tak sempurna. Penampilannya memang seperti itu tapi jangan ditanya staminanya... Dia lincah. Lincah sekali. Berlarian mengitari rumahnya sepanjang hari (orang tuanya memang tidak pernah mengizinkannya keluar rumah). Memanjat pagar rumah dan berjalan di kisi-kisi pagar itu, sambil menggaruk-garuk tubuhnya tentu. Daya tahan matanya juga luar biasa. Kalau anak-anak tetangga biasanya tidur malam paling lambat pukul 23.00, dia masih melek dan mengoceh tentang apa saja. Mengoceh tanpa lawan bicara. Mengoceh sendirian karena kedua orang tuanya sudah tertidur terlebih dahulu, tak sanggup lagi melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Bella. Mengapa gadis secantik dan selincah dirimu bisa tumbuh seperti itu. Orang tuamu pernah bercerita bahwa kau sama seperti anak normal lainnya saat dilahirkan hingga berusia dua tahun. Memasuki tahun ketiga, kau terserang demam tinggi dan dibawa ke dokter. Setelah mengonsumsi obat-obatan dokter itulah pertumbuhanmu terhambat. Badanmu tak bertambah tinggi. Gigimu keropos habis. Bentolan kecil mulai tumbuh di sekitar kaki, tangan, dan leher. Bentolan yang membuatmu menangis karena rasa gatal yang tak tertahankan.

Orang tuamu sudah berulang membawamu ke dokter dan tak juga ada perubahan pada dirimu. Mereka mengaku pasrah dengan keadaanmu. Berusaha nrimo dengan kondisimu. Tak tahu harus menuntut dan menyalahkan siapa. Kami hanya rakyat kecil dan bodoh, kata mereka. Tak pantas bermimpi terlalu tinggi.

Dan kau Bella, pada akhirnya pun terbiasa dengan keadaanmu. Menikmati gatal-gatal di sekujur tubuhmu. Tak sungkan memamerkan gusi hitammu. Toh kau lincah melebihi anak yang normal sekalipun. Kau sehat seperti teman-teman sebayamu.

Tumbuhlah menjadi gadis cantik yang penuh percaya diri, Bella.

Minggu, 13 September 2015

ULANG TAHUN


dia sudah menandai tanggal kelahirannya itu di kalender sejak enam bulan yang lalu dengan tinta merah.

dia berharap dapat merayakan ulang tahun seperti teman-teman sekolahnya. mengundang teman-teman ke rumah, potong kue dan tiup lilin, memakai gaun yang indah, menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan membagikan bingkisan ulang tahun kepada setiap tamu yang datang. pasti akan sangat mengasyikkan karena dia akan mendapatkan kado sebanyak tamu yang datang.

pernah pula seorang teman merayakan ulang tahun di sebuah restoran siap saji. sangat meriah. ada badut, balon, makanan dan minuman yang enak, serta bingkisan berisi jajanan dan paket ayam goreng. semua anak bergembira. semua memakai pakaian bagus, apalagi yang berulang tahun. pakaiannya serupa dengan yang dipakai putri elsa di film frozen. cantik sekali.

tapi dia tahu ibunya tidak akan mengabulkan keinginannya. ibunya pernah mengatakan bahwa ulang tahun itu dirayakan dengan keluarga saja. dan kita harus berdoa, berterima kasih kepada Allah karena sudah diberikan umur dan kesehatan. sebenarnya dia tidak terlalu memahami mengapa ritual ulang tahun yang dilaluinya berbeda dengan teman-teman sekolahnya. tapi dia tidak pernah protes karena kata-kata ibu plus pelukan hangatnya membuatnya merasa tak perlu menyampaikan pertanyaan "kenapa" lagi.

jadi begitulah. saat ulang tahunnya datang lagi tahun ini, ritual itu kembali dilakukan. kecupan ibunya di pagi hari membangunkannya. ucapan selamat ulang tahun diterimanya dengan senang hati. lalu ibunya mengajaknya salat subuh dan berdoa mengucap syukur atas umur dan kesehatan yang diberikan Allah. setelah mandi dan sarapan, mereka akan memotong kue ulang tahun sederhana yang dibeli ibunya di toko kue. tanpa tiup lilin, tanpa gaun indah, tanpa nyanyian selamat ulang tahun, tanpa pesta.

tapi begitu pun dia sudah bahagia.


Senin, 07 September 2015

ÅŘŤ ATTACĶ

Dia tak akan melewatkan acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi berbayar itu. Acara yang menyajikan keterampilan melukis dan mewarnai: art attack. Saking fanatiknya, dia selalu menyetel alarm di televisi yang bertujuan untuk mengingatkannya kalau acara tersebut telah dimulai.

Acara itu sangat menyita perhatiannya. Model krayon yang bermacam-macam, cat air dan beragam bentuk kuasnya, perpaduan warna yang cerah, membuatnya betah berlama-lama memelototi televisi. Belum lagi kelucuan si pembawa acara yang kadang membuatnya tergelak. Ditambah hasil prakarya yang ditampilkan di acara itu, membuatnya berdecak kagum.

Bukan tanpa alasan dia seperti itu. Sejak berusia tiga tahun sudah kelihatan bakat "art attack"nya. Selalu mengikuti berbagai even lomba mewarnai, baik yang diselenggarakan oleh paudnya maupun pihak lain. Memang belum pernah meraih gelar juara tetapi gairah untuk bereksperimen dengan beragam warnalah yang membuatnya bersemangat.

Pernah ibunya mendaftarkannya ke sebuah sanggar lukis dengan harapan bakatnya dapat terasah lebih baik lagi. Sayang, pertemuan pertama di sanggar tersebut kurang mengena di hatinya sehingga dia terlanjur ilfeel dan tidak mau datang lagi ke sanggar itu. Alhasil dia belajar sendiri saja di rumah. Bersama program kesayangannya, art attack.




Kamis, 03 September 2015

KABUT ASAP

Kabut asap berarti liburan, yaaayy!!!!

Itu yang terbersit di benak dua sahabat karib itu. Yah, kabut asap yang rutin menyelimuti kota mereka setiap tahunnya, membawa kebahagiaan tersendiri bagi bocah-bocah yang masih berstatus pelajar sltp itu. Tidak mereka hiraukan dampak kabut asap bagi kesehatan mereka. Tidak, mereka tidak peduli itu! Yang mereka tahu, sekolah akan diliburkan setiap musim kabut asap datang.

Dan pada tahun ini, sekolah kembali diliburkan akibat kabut asap yang semakin menebal. Libur kali ini bahkan lebih panjang daripada libur kabut asap tahun lalu. Ini artinya waktu untuk menonton televisi, bermain game, atau bermedia sosial, juga akan lebih panjang. Apalagi orang tua mereka bekerja, tidak ikutan libur, berarti bebas dari pengawasan orang tua yang kadang-kadang nyinyir dan cerewet mengurusi mereka. Duh, seandainya kabut asap bisa terjadi sepanjang tahun....alangkah nikmatnya!!!

Apa yang menyebabkan kabut asap ini? Mengapa tiap tahun terjadi? Mengapa tak bisa ditanggulangi? Siapa yang harus bertanggung jawab? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentulah tidak muncul di benak mereka. Tentulah tidak paham mereka dengan ISPU dan ISPA. Tak peduli mereka apabila ISPU sudah mencapai angka tertentu, seseorang akan menderita ISPA. Tak urusan mereka itu, tak kerjaan mereka itu.

Salahkah bocah-bocah itu???


Entri Populer