Hujan. Mendung.
Ya. Jumat keempat di September ini cuaca benar-benar bersahabat. Tiada panas, tiada peluh. Semoga begini sampai sore. Semoga begini.
Ruangan kerja yang tidak memiliki pendingin udara (rusak karena usianya yang sudah sangat sepuh), memaksaku untuk berharap agar cuaca mendung sampai sore. Biasanya, kalau hari panas, aku akan mengungsi ke perpustakaan atau ruangan teman yang pendingin udaranya masih bisa diandalkan. Bisa dibayangkan bagaimana lecek, lusuh, dan loyonya aku kalau tidak mengungsi. Benar-benar menyedihkan!!!
Baiklah, akan aku ceritakan sedikit kronologis "kematian" pendingin udara yang sepuh ini. Si pendingin udara, sebut saja namanya Changhong, dibeli sekitar tahun 2005, saat kantor kami baru berdiri di Tanah Pilih ini. Kehadirannya disambut dengan selebrasi (halah!) karena barang berbentuk pendingin udara sudah lama dinanti-nantikan.
Singkat cerita, Changhong setia menemani kami sampai kantor berpindah ke tempat yang lebih layak pada tahun 2006. Sial bagi Changhong, kedudukannya digantikan dengan pendingin udara yang lebih baik, lebih canggih, dan lebih irit. Sial juga bagiku karena Changhong ditempatkan di ruanganku, di lantai dua. Di awal kepindahan, dia baik-baik saja. Tahun berikutnya, mulai batuk-batuk. Kadar pendinginnya mulai berkurang. Dia mulai diservis. Selalu always diservis, dibersihkan, dan dibongkar mesinnya. Masih bisa dipakai, kata si tukang servis. Memang benar, pendingin ruangan yang setia itu hidup lagi, berfungsi lagi. Begitulah seterusnya.
Sampai pada akhirnya, dia tak tahan lagi. Tiba-tiba mengerang. Tiba-tiba batuk. Tiba-tiba mati. Tukang servis dipanggil. Berpeluh dia mereparasi. Berkerut kening tanda tak pasti. Si tukang servis meletakkan peralatannya ke lantai. Membuka topi dan menggeleng lesu. Lalu menunduk. Sudah tidak bisa lagi, harus diganti, katanya.
Dan pendingin udara sepuh yang setia, melekat kaku di dinding ruangan, menanti penggantinya datang.
RIP Changhong (2005--2016)...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar