Jumat, 01 Juli 2016

Rindu Pulang

"Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas" 
                                       (Eka Kurniawan)


Dan rindu yang mendendam itu harus terpendam di dada. Ritual mudik yang biasa dilakoni para perantau, tak menyapanya tahun ini. Dia harus menahan keinginan mudik karena alasan tertentu. Menahan kerinduan terhadap uban di kumis dan alis ayahnya, serta gelak khas ibunya.

Bahwa pulang kampung dapat dilakukan kapan saja, itu benar. Akan tetapi, Idulfitri tanpa mudik ibarat sayur tanpa garam. Terasa hambar. Idulfitri merupakan momen yang paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Berbagi cerita, berbagi bahagia, apalagi bagi perantau seperti dirinya. Ayah dan ibu memang tak pernah memaksanya untuk mudik setiap tahun. Kalau ada rezeki berlebih saja, demikian kata beliau berdua. Tetapi anak seperti apalah dia kalau dalam 1250 jam pekerjaan yang dilakoninya setiap tahun, tak bisa diberikannya sebagian untuk bertemu kedua orang tuanya!!!

Tahun ini mungkin tidak. Dan dia sudah bertekad. Tahun depan, tahun depannya lagi, dan tahun-tahun berikutnya, tidak lagi ada alasan untuk tidak pulang kampung. Tidak lagi ada alasan mendendam rindu. Dia harus pulang. Karena sejauh apapun dia mengembara, pulang adalah tempatnya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer