Jumat, 28 April 2017

Kursi*


          Kursi itu melintang dengan tenangnya di perempatan jalan sehingga arus lalu lintas menjadi macet pada pagi yang terpanggang matahari. Suara klakson yang bersahutan dan makian para supir angkutan menambah panas suasana. Penumpang-penumpang di bis kota mulai gelisah. Ada yang celingak-celinguk ingin tahu, ada yang bolak-balik melirik arloji, ada pula yang pura-pura baca buku untuk menutupi kegelisahannya. Seorang gadis cantik sibuk melap keringatnya yang terus-menerus mengucur di dahi, di puncak hidung, di atas bibir, di leher, di pangkal lengan, dan selangkangan. Sementara pemuda yang duduk persis di sebelahnya, menekan hidung kuat-kuat. Rupanya keringat gadis itu menebarkan aroma kurang sedap.

          Lain di bis, lain pula di mobil pribadi. Kemacetan seperti ini tidak terlalu mempengaruhi pemilik mobil mewah, terutama dari segi produksi keringat. Mereka dapat menghidupkan AC mobil, mendengarkan musik, buka baju seenaknya, dan bercinta dengan bebas. Kesempatan yang ada memang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Agaknya demikian pula prinsip yang dipakai oleh dua orang polisi lalu lintas yang bertugas pagi itu. Mereka tidak terpengaruh sama sekali dengan keributan dan kekacauan yang terjadi. Mereka justru lebih tertarik dengan kursi yang menyebabkan kemacetan tersebut.
           "Kursi siapa?"
            "Tidak tahu! Seseorang pasti telah melakukan sabotase dengan meletakkan kursi di sini!"
            Kedua polisi mulai kelihatan sibuk mencatat. Mereka mengamat-amati setiap lekukan pada kursi. Apabila ada sesuatu yang mencurigakan, mereka pun buru-buru mencatat. Kedua polisi itu sepakat tidak akan menyentuh kursi itu supaya tidak meninggalkan sidik jari. Bagaimanapun, kursi itu kelihatan sangat berharga dan pemiliknya pasti bukan orang sembarangan. Keadaannya memang sudah tua, terbukti dengan warna catnya yang memudar dan terkelupas. Akan tetapi joknya masih empuk, masih padat. Dan sepertinya, orang akan lupa berdiri kalau sudah duduk di kursi itu.
            Suasana semakin panas. Orang-orang mulai berkerumun di perempatan, mengelilingi kursi yang kelihatan bangga menjadi pusat perhatian masyarakat.
            "Ada apa?"
            "Ada kursi yang ditinggalkan pemiliknya di tengah jalan!"
            "Tega sekali!"
            "Mungkin juga pemiliknya tak sengaja meninggalkan kursi itu!"
            "Kursinya lumayan bagus!"
            "Kursi itu pasti melarikan diri dari pemiliknya!"
            "Seseorang pasti sangat kehilangan kursinya!"
            "Mungkin kursi tukang warung di pojok sana!"
            "Rupanya kursi ini yang menyebabkan kemacetan!"
            Berbagai komentar mengenai keberadaan kursi itu tumpah ruah di perempatan. Masyarakat agaknya lupa dengan kemacetan yang terjadi. Kursi tua itu lebih menarik untuk dibicarakan daripada berkutat dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai.
            Tiba-tiba seseorang menyeruak kerumunan masyarakat dengan paksa. Orang-orang tentu saja mengomel panjang pendek. Bahkan ada yang memaki. Akan tetapi, seseorang itu tak peduli. Dia terus saja menerobos sampai akhirnya tiba di dekat kursi yang semakin gagah memamerkan joknya yang empuk.
            "Hei, apa-apaan ini?"
            "Bangsat, tak tahu aturan! Pelan-pelan dong!"
            "Kau ingin digebuk ya?"
            "Itu kursiku!"
           Mendadak orang-orang terdiam saat mendengar pengakuan seseorang itu. Mereka memandang ke arah seseorang itu dan ke arah kursi secara bergantian. Tak ada kemiripan sama sekali. Kursi itu malah mencibir tak percaya.
            "Itu kursiku, sumpah!"
            "Tak mungkin, potonganmu tak pantas menjadi pemilik kursi itu!"
            "Tapi aku bersumpah, itu memang kursiku!"
            "Bohong, aku tak percaya! Kau hanya mengarang-ngarang cerita supaya bisa memiliki kursi itu. Akulah pemilik kursi yang sah!"
            Masyarakat kembali tercengang. Sekarang sudah dua orang yang mengaku sebagai pemilik kursi. Kedua polisi sibuk mencatat segala kejadian yang berlangsung di TKP. Mereka berusaha keras mencari kemiripan kursi itu dengan dua orang yang mengaku-aku sebagai pemiliknya.
         "Apakah kau punya bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa kursi itu memang kepunyaanmu?"
            "Ya. Aku punya bukti!"
            "Apa?"
            "Kursi itu! Aku akan memaksanya bicara supaya dia mengaku memang aku pemiliknya!"
           Orang itu mendekati kursi yang semakin menantang. Joknya yang empuk ibarat pantat bahenol seorang gadis yang baru datang bulan. Begitu menggiurkan, begitu merangsang. Orang itu berusaha menjangkau kursi. Anehnya, kursi terasa jauh dari jangkauan. Semakin dekat orang itu dengan kursi, semakin jauh pula kursi itu berada.
            "Anjing! Penipu!"
            "Sudah kuduga, dia seorang pembohong!"
            "Sumpah mati, itu memang kursiku!"
         Dor! Orang itu terkapar sebelum sempat meraih kursi. Sebuah peluru bersarang tepat di dadanya.
            "Jadi benarkan, kursi itu milikku!"
            "Kau juga ingin mampus ya?"
            "Aku tak ingin mampus, aku cuma ingin kursi itu!"
            "Jangan salah, akulah pemiliknya!"
            "Bohong! Kursi itu milikku!"
            "Asu buntung! Itu milikku!"
            Orang-orang semakin riuh. Kali ini semua mengaku sebagai pemilik kursi. Tak ketinggalan kedua polisi itu. Bersama masyarakat, mereka berebut kursi. Tapi sungguh ajaib, kursi itu tak terjangkau. Seakan-akan ia hanya bayangan, hanya fatamorgana. Yang bersentuhan justru tangan orang-orang yang saling berebut. Mereka saling genggam, saling cakar, saling remas, saling rampas. Kursi itu tenang-tenang saja di tempatnya sementara orang saling membunuh demi jok empuk yang ditawarkan kursi itu.
            Matahari semakin tinggi. Hari semakin terik. Suasana semakin panas. Korban berjatuhan, lalu lintas semakin total macetnya. Mobil-mobil dilempari, rumah-rumah dibakari, anak-anak disodomi, semua demi kursi. Masyarakat menjadi beringas, saling berteriak bahwa kursi itu miliknya.
            Raungan sirene menghentikan keributan massal itu. Masyarakat kembali tertib saat bupati terjun langsung ke lokasi keributan. Seratus tangan yang melekat di tubuhnya mampu meredam gejolak yang terjadi. Masyarakat memang sangat menghormati pejabat daerah yang satu ini karena beliau terkenal dekat dengan masyarakat.
            "Kursi yang bagus!"
            "Saya yang punya, Pak!"
            "Bohong, itu punya saya!"
            "Bukan, sayalah pemiliknya!"
            "Jangan mimpi, sayalah yang berhak atas kursi itu!"
            Masyarakat kontan terdiam setelah bupati menjatuhkan vonisnya. Mereka memang melihat kemiripan antara bupati dan kursi yang diperebutkan itu. Mereka tak berkata apa-apa lagi saat beliau duduk di jok empuk yang sangat pas dengan ukuran pinggulnya. Beliau ada di atas bersama kursinya.
            Lalu lintas kembali normal. 


  *Terbit di Harian Waspada Medan, Agustus 1999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer