Rabu, 08 April 2015

Salat Sunat Gerhana


Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah keduanya menjadi tanda dari tanda-tanda keagungan Allah, terjadinya dua gerhana (matahari dan bulan), bukan karena mati dan hidupnya seseorang. Maka apabila kamu menyaksikan gerhana matahari atau bulan, hendaklah kamu berdoa kepada Allah dan salatlah sampai gerhana selesai."

Demikianlah. Ketika gerhana bulan terjadi pada senja tanggal 4 April 2015 yang lalu, kami sekeluarga melaksanakan salat sunat gerhana untuk pertama kali. Selama ini kami hanya mengetahui tentang cara pelaksanaan salat ini melalui buku atau bacaan lain yang berkenaan dengan itu. Salatnya memang dua rakaat tapi jangan ditanya panjang surat yang dibaca. Rukuk dan sujud dilakukan empat kali dengan bacaan yang panjang pula. Bahkan, putra sulungku yang bersekolah di SMP Islam Terpadu mengatakan bahwa di zaman Rasul pernah ada jemaah yang pingsan saking lamanya pelaksanaan salat gerhana ini!! Wallahua'lam.

Rasa penasaran itu juga yang membawaku untuk ikut melaksanakan salat sunat ini. Ketika pihak masjid tempat anakku bersekolah mengedarkan undangan untuk mengikuti salat sunat gerhana, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dari sore aku sudah mempersiapkan diri, termasuk membawa bekal untuk si bungsuku yang berusia enam tahun apabila ia lelah dan bosan saat salat berlangsung.

Subhanallah!!! Aku kaget saat tiba di masjid. Jemaah membludak, persis saat melaksanakan salat tarawih di awal-awal Ramadan. Dadaku bergetar menyaksikan itu, menyaksikan bahwa di tengah zaman yang super edan ini, masih banyak umat muslim yang tergerak hatinya untuk melaksanakan ibadah yang langka ini.

Salat sunat gerhana dilaksanakan selesai salat Magrib. Benar. Pada rakaat pertama, setelah membaca Surat Al-Fatihah, imam membaca surat yang sangat panjang, yang aku tak tahu surat apa itu. Dilanjutkan dengan rukuk pertama yang aku rasakan sangat lama. Berdiri dan membaca Al-Fatihah lagi dan diikuti dengan surat yang panjang juga. Rukuk lagi. Lama. Iktidal, lama. Sujud juga lama sampai berdiri kembali untuk rakaat kedua dan mengulangi hal yang sama seperti rakaat pertama.

Sesak napas. Itu yang aku rasakan, terutama saat rukuk dan sujud. Sebagai perempuan yang cukup subur badannya, rasa sesak napas memang tak bisa aku hindarkan. Dan aku malu. Betapa selama ini ibadah salat yang aku laksanakan tak sebanding dengan kenikmatan hidup yang aku terima. Bahwa selama ini aku salat ala kadarnya, membaca surat yang ala kadarnya, sehingga ketika melaksanakan salat yang panjang seperti salat gerhana ini, aku megap-megap.

Astaghfirullah, ampun ya Allah. Tak ada yang Kau ciptakan itu sia-sia. Kalau tadinya aku sekadar ingin tahu gimana sih salat gerhana itu, sekarang aku jadinya berniat untuk memperbaiki salatku. Ingin menghapal kembali surat-surat yang agak panjang. Semoga masih ada kesempatan yang diberikan kepadaku. Pelan-pelan tapi rutin. Terima kasih ya, Allah...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer