Sabtu, 28 Maret 2015

#pricetag

"tidak semua pekerjaan kita harus dihargai dengan uang"

Itu prinsip yang diajarkan orang tuanya yang tetap dia terapkan sampai saat ini. Mengerjakan dan melakukan sesuatu harus dibarengi dengan keikhlasan. Pun ketika menolong dan membagikan ilmu kepada orang lain, harus tanpa pamrih.  Dan dia meyakini, balasan pertolongan yang telah dia berikan kepada seseorang, tidak harus dibalas oleh orang yang bersangkutan. Balasan itu bisa datang dari siapa pun. Melalui jalan mana pun. Yang tak pernah dia bayangkan sekali pun. Karena dia percaya, Tuhan tidak tidur dan tidak berpaling dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Oleh sebab itulah, ketika suatu sore, seorang rekan kerja tiba-tiba mendatanginya dan menyodorkan amplop putih, seraya berbisik "ini tanda ucapan terima kasih atas pertolonganmu dalam acara kami kemarin", dia tersinggung. Tersinggung bukan karena ketulusan teman yang memberikan ucapan terima kasih itu. Dia tersinggung karena budaya kolot orang-orang di lingkungan kerjanya yang mengukur segala sesuatu dengan uang! Dia tak menafikan bahwa dia juga butuh uang, tapi bukan uang yang menjadi prioritasnya setelah mengerahkan tenaga dan pikiran ketika membantu orang lain.

Kepuasan batinlah yang dia harapkan. Melihat rekan-rekan kerjanya sukses –dan dia memiliki "sedikit" andil dalam kesuksesan itu, cukuplah membuatnya senang. Bahwa kesuksesan sebagian rekan kerjanya telah melampaui dirinya, tak membuatnya berkecil hati. Bahwa sebagian rekan kerja menganggapnya pecundang, taklah berarti dia orang yang kalah. Dia justru menjadi pemenang, mengalahkan budaya kolot yang mendewakan materi.
it's funny how a lot of people do the opposite:
asking for the right first before doin' the work 
                         @gnezmo's quote 
Tak ada yang lebih dia harapkan saat ini, selain bisa juga menerapkan prinsip yang sama kepada anak-anaknya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer