"tidak semua pekerjaan kita harus
dihargai dengan uang"
Itu prinsip yang diajarkan orang tuanya yang
tetap dia terapkan sampai saat ini. Mengerjakan dan melakukan sesuatu harus dibarengi
dengan keikhlasan. Pun ketika menolong dan membagikan ilmu kepada orang lain,
harus tanpa pamrih. Dan dia meyakini,
balasan pertolongan yang telah dia berikan kepada seseorang, tidak harus
dibalas oleh orang yang bersangkutan. Balasan itu bisa datang dari siapa pun.
Melalui jalan mana pun. Yang tak pernah dia bayangkan sekali pun. Karena dia percaya,
Tuhan tidak tidur dan tidak berpaling dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Oleh sebab itulah, ketika suatu sore, seorang
rekan kerja tiba-tiba mendatanginya dan menyodorkan amplop putih, seraya
berbisik "ini tanda ucapan terima kasih atas pertolonganmu dalam acara
kami kemarin", dia tersinggung. Tersinggung bukan karena ketulusan teman
yang memberikan ucapan terima kasih itu. Dia tersinggung karena budaya kolot
orang-orang di lingkungan kerjanya yang mengukur segala sesuatu dengan uang! Dia
tak menafikan bahwa dia juga butuh uang, tapi bukan uang yang menjadi prioritasnya
setelah mengerahkan tenaga dan pikiran ketika membantu orang lain.
Kepuasan batinlah yang dia harapkan.
Melihat rekan-rekan kerjanya sukses –dan dia memiliki "sedikit" andil
dalam kesuksesan itu, cukuplah membuatnya senang. Bahwa kesuksesan sebagian
rekan kerjanya telah melampaui dirinya, tak membuatnya berkecil hati. Bahwa
sebagian rekan kerja menganggapnya pecundang, taklah berarti dia orang yang
kalah. Dia justru menjadi pemenang, mengalahkan budaya kolot yang mendewakan
materi.
it's funny how a lot of people do the opposite:
asking for the right first before doin' the work
@gnezmo's quote
Tak ada yang lebih dia harapkan saat
ini, selain bisa juga menerapkan prinsip yang sama kepada anak-anaknya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar