Selasa, 17 Maret 2015

Cinderella

"have a courage and be kind"

Putri kecilku yang berusia enam tahun, tentu tidak memahami quote di film Cinderella yang barusan ditontonnya itu. Yang dia pahami, Cinderella itu princess yang baik hati dan cantik, memakai gaun pesta yang bagus, serta memiliki sepatu kaca.

Fenomenal memang. Aku sendiri telah mendengar dan menonton dongeng klasik ini semenjak kecil. Karakter Cinderella beserta ibu tiri dan kakak tirinya, bahkan tikus-tikus kecil sahabatnya, serasa akrab di telinga dan lekat di ingatan. Tetapi aku baru tahu, melalui remake film ini, kalau nama asli Cinderella itu adalah Ella. Kata cinder ditambahkan oleh kakak tirinya ketika melihat wajah Ella yang menghitam, akibat sisa pembakaran (arang) melekat di wajah Ella yag tertidur di dekat perapian dapur. Jadilah dia dijuluki Cinderella: Ella yang berabu (dalam bahasa Indonesia: Upik Abu).

Aku juga -sepertinya- bisa memahami mengapa ibu tiri Cinderella begitu kejam. Seorang janda beranak dua yang ditinggal suami dalam keadaan terlilit utang!!! Keadaan seperti ini dapat membuat seseorang stres dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dia tidak terima dengan kecantikan Cinderella yang melampaui kecantikan putri-putrinya. Cinderella juga pintar dan rajin sehingga dapat membuat lelaki mana pun jatuh hati. Ini tentu berdampak buruk pada masa depan kedua putrinya yang pemalas dan tidak memiliki kepandaian dan ketrampilan apa-apa. Sebenarnya, ketika mengetahui pangeran berniat menikahi gadis misterius pemilik sepatu kaca, ibu tiri tidak menghalangi. Dia mengizinkan Cinderella menikah dengan pangeran, dengan syarat ibu tiri dijadikan penasihat kerumahtanggaan istana dan anak-anaknya dinikahkan dengan bangsawan. Karena Cinderella menolak persyaratan itu, ibu tiri kembali memusuhinya.

Putri kecilku tentu tidak memahami apa yang aku pahami. Yang dia pahami, Cinderella harus ditonton karena cuplikannya bolak-balik muncul di Disney Channel favoritnya. Itu membuatnya penasaran. Rasa penasaran itu juga yang (mungkin) menghampiri semua penonton cilik yang memenuhi kursi bioskop. Rasa penasaran yang menguras isi kantong orang tua!!


Terlepas dari itu, ada rasa bahagia terpancar di wajah putri kecilku saat duduk di bangku bioskop. Semakin bahagia dia ketika diberikan bonus film pendek "Frozen Fever" sebelum Cinderella ditayangkan. Tawa dan ocehan penonton cilik memenuhi ruangan melihat aksi Olaf dan kawan-kawan. Tawa bening yang tidak ternilai harganya.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer