Perempuan berperawakan kecil, kurus, dan selalu menyeret sandal jepitnya saat berjalan. Berjalan dari pintu ke pintu. Menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dia lakukan pada hari itu kepada si empunya pintu. Pekerjaan seperti mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Kalau beruntung, dia akan mendapat dua atau tiga pekerjaan sekaligus dengan imbalan yang lumayan. Imbalan yang cukup untuk mengasapi dapurnya hari itu.
Perempuan berperawakan kecil dan kurus. Kalau dia berjalan, orang sudah bisa menebak kehadirannya. Bunyi sandal jepit yang diseret adalah bukti keberadaannya. Tubuhnya memang kecil tetapi tenaganya jauh lebih besar. Makannya banyak tetapi entah kenapa badannya tetap kurus. Mungkin karena setiap hari dia bekerja. Memasak, mencuci, menyetrika, dari pintu ke pintu. Asupan yang diterima tubuhnya tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Tapi dia kelihatan sehat dan baik-baik saja. Padahal usianya sudah memasuki angka 70.
Perempuan berperawakan kecil dan kurus. Bunyi sandal jepit yang diseret "sret...sret...sret" adalah tanda kehadirannya. Rambut putihnya yang sepanjang pinggang dibiarkan tergerai. Jarinya sibuk menari-nari di sepanjang rambutnya, sekadar mencari seekor atau dua ekor kutu yang menjajah di rambut putih itu. Itu kalau di rumah. Kalau datang ke pintu-pintu, dia akan menutupi rambut kutuannya dengan jilbab sekenanya. Orang-orang sebenarnya enggan memakai tenaganya untuk bekerja. Ya, karena kebersihan diri yang kurang terjamin itu. Namun orang-orang iba. Iba dengan kehidupan perempuan gaek yang kurus dan kecil itu. Bagaimana tidak. Sangatlah tidak pantas dia membanting tulang untuk menghidupi dua anaknya yang sudah dewasa dan berpostur tegap pula. Dua anak dewasa yang marah-marah apabila makanannya belum terhidang di meja.
Konon, menurut cerita, kehidupannya dulu tidak seperti itu. Saat suaminya masih hidup, kehidupan mereka cukup mapan. Suaminya dulu bekerja di kapal asing. Berlayar berbulan-bulan dan kerap mengirimi uang berlebih untuk kebutuhan anak istrinya. Anak-anak dimanjakan. Tidak diizinkan menyentuh pekerjaan apapun. Segala keinginan dipenuhi. Tidak boleh kekurangan.
Roda berputar. Suami yang pekerja keras itu jatuh sakit. Harta terkuras untuk biaya berobat. Anak-anak semakin besar. Kebutuhan semakin membengkak. Ayah yang dibanggakan semakin lemah. Yangkuasa punya kuasa. Memanggil ayah saat kehidupan semakin rumit. Tinggallah rumah sebagai satu-satunya pusaka. Dan anak-anak yang semakin dewasa tak punya pegangan. Tak ada keterampilan. Tak ada kemauan. Tak ada pengertian. Ibulah yang diandalkan.
Perempuan berperawakan kecil dan kurus. Orang-orang iba melihatnya. Bekerja di usia renta. Menyeret-nyeret sandal jepitnya. Menggaruk-garuk kepalanya. Orang-orang iba, tapi dia bahagia dengan keadaannya. Dia bahagia bekerja dari pintu ke pintu. Bahagia memeroleh imbalan untuk mengasapi dapurnya. Bahagia melayani anak-anak dewasanya.
#inspired by a true story
Tidak ada komentar:
Posting Komentar