Rabu, 25 Maret 2015

T U A


Tiba-tiba aku merasa takut pada tua! T-U-A. Tiga huruf yang mengerikan. Selalu membayangi hari-hariku. Mengikuti setiap gerakku dan tidak mau berkompromi denganku.

Apa sih, sebenarnya tua itu?

"Tua berarti loyo, kehilangan kecantikan, kehilangan energi, kekurangan nafsu biologis, berkerutnya setiap sendi kulit, pokoknya menakutkanlah!" itu pendapat salah seorang kerabatku yang gemar mempercantik diri ke salon.

"Semakin tua seseorang, semakin matanglah jiwanya!" bantah yang lain.
"Tua berarti kematian!" kerabatku meneruskan. "Tua berarti kesunyian, kesendirian, aah...pokoknya bencana!"

Tidak, aku tidak akan membiarkan tua mendatangiku, mengetuk relung hatiku, mengubah penampilanku. Tapi yang namanya tua tidak pernah mau mengerti. Dia datang juga saat pesta ulang tahunku, padahal aku tidak merasa memberinya undangan.

"Selamat ulang tahun," tegurnya.
"Siapa kau? Rasanya kau mirip denganku tapi aku tidak mengenalimu."
"Aku tua."
"Tua?"
"Ya, tua. Aku sengaja datang ke pesta ulang tahunmu."
"Untuk apa?"
"Yah, sekadar ingin tahu. Apakah kau sudah cukup tua atau belum."

Aku memandanginya. Sosoknya mirip denganku, cuma garis-garis wajahnya lebih jelas. Aku tertawa tanpa suara. "Pergilah," usirku,"aku tidak menginginkanmu di sini. Biarkan aku sendiri!"
"Sepertinya kau mengusir aku."
"Sepertinya begitu."
Dia tersenyum. "Baiklah. Tapi aku akan datang lagi nanti, percayalah!"

Itu perkenalan pertamaku dengannya.

Kini dia datang lagi. Tepat setelah lima tahun pertemuan itu. Waktu itu aku sedang asyik berolah raga, mengencangkan otot yang kendor.
"Halo, selamat pagi," tegurnya.
"Pagi."
"Masih ingat aku?"
Aku memandanginya. Sosoknya persis denganku. Berkulit kunimg langsat, rambut bergelombang, leher jenjang, dan kaki menjulang.

Tapi tidak, dia tidak persis aku. Kulitnya memang kuning langsat, tapi bersisik dan penuh keriput. Rambut gelombangnya tipis dengan warna putih di sana-sini. Lehernya jenjang namun banyak garis kehitaman.
Dan kakinya...lebih mengerikan! Kelihatan rapuh dan ringkih. Berdirinya juga tidak tegak, seolah-olah dalam tubuhnya terjadi gempa bumi yang hebat.
"Siapa kau?"
"Lupa ya?" dia terkekeh. Tawanya sangat menyakitkan telinga. "Aku tua."
"Tua?"
"Ya, tua. Aku datang menjengukmu."

Kupandangi mulutnya yang bergerak. Gusinya menghitam dan giginya tak lagi selengkap gigiku. Bibir tipisnya mengerut, dihiasi kerak di kedua ujungnya. Dan dadanya, ya Tuhan, sangat memalukan!
"Buat apa kau datang lagi?"
"Bukankah aku sudah berjanji akan datang kembali?"
"Tapi...tapi jangan sekarang!"
"Mengapa?"
"Aku tidak mau. Sungguh, jangan datangi aku lagi. Biarkanlah aku seperti ini. Muda, enerjik, cantik..."
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa?"
"Semua orang akan tua."
"Tapi aku tidak!" bentakku. Dia terkejut. Aku bergegas menutup pintu. Brak! Biar dia mengerti kalau aku tidak menyukai dan tidak menginginkannya.

Itu pertemuan keduaku dengannya.

Selang beberapa tahun, dia datang lagi. Tapi bukan saat aku joging, bukan pula saat pesta ulang tahun. Dia datang saat aku bercermin, baca koran, bahkan saat tidur. Aku merasakan kehadirannya. Dia begitu dekat, sangat dekat. Aku merasakannya di mata, leher, bibir, dada, perut, hingga ujung jari. Mataku sudah kurang awas. Untuk membaca saja aku sudah tidak bisa berlama-lama.
Dan kulit di leherku, serasa bisa ditarik-tarik. Bibirku sudah mulai mengerut dan mengering, dan dadaku...ya Tuhan, sangat memalukan!
Seluruh tubuhku gemetar merasakannya, kakiku seakan tak kuasa menahan berat tubuhku. Rapuh. Ringkih.
Sekali lagi aku menarik kulit leherku. Terasa lembut. Oh bukan, terasa lembek seperti kulit sapi.
Kutarik terus...terus...sampai emosiku memuncak. Aku menggelinjang kegelian, kesakitan, dan beribu rasa yang tak pernah aku alami.

Ahli jiwa itu memandangi ulah pasiennya. Kasihan dia, pikirnya, masih muda tapi sudah merasa tua!
                                                












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer