Tiba-tiba
aku merasa takut pada tua! T-U-A. Tiga huruf yang mengerikan. Selalu membayangi
hari-hariku. Mengikuti setiap gerakku dan tidak mau berkompromi denganku.
Apa
sih, sebenarnya tua itu?
"Tua berarti loyo,
kehilangan kecantikan, kehilangan energi, kekurangan nafsu biologis,
berkerutnya setiap sendi kulit, pokoknya menakutkanlah!" itu pendapat salah
seorang kerabatku yang gemar mempercantik diri ke salon.
"Semakin tua
seseorang, semakin matanglah jiwanya!" bantah yang lain.
"Tua berarti
kematian!" kerabatku meneruskan. "Tua berarti kesunyian, kesendirian, aah...pokoknya bencana!"
Tidak,
aku tidak akan membiarkan tua mendatangiku, mengetuk relung hatiku, mengubah
penampilanku. Tapi yang namanya tua tidak pernah mau mengerti. Dia datang juga
saat pesta ulang tahunku, padahal aku tidak merasa memberinya undangan.
"Selamat ulang tahun," tegurnya.
"Siapa kau? Rasanya
kau mirip denganku tapi aku tidak mengenalimu."
"Aku tua."
"Tua?"
"Ya, tua. Aku sengaja
datang ke pesta ulang tahunmu."
"Untuk apa?"
"Yah, sekadar ingin
tahu. Apakah kau sudah cukup tua atau belum."
Aku
memandanginya. Sosoknya mirip denganku, cuma garis-garis wajahnya lebih jelas. Aku tertawa
tanpa suara. "Pergilah," usirku,"aku tidak menginginkanmu di sini. Biarkan aku sendiri!"
"Sepertinya kau
mengusir aku."
"Sepertinya begitu."
Dia
tersenyum. "Baiklah. Tapi aku akan datang lagi nanti, percayalah!"
Itu
perkenalan pertamaku dengannya.
Kini
dia datang lagi. Tepat setelah lima tahun pertemuan itu. Waktu itu aku sedang
asyik berolah raga, mengencangkan otot yang kendor.
"Halo, selamat pagi," tegurnya.
"Pagi."
"Masih ingat aku?"
Aku memandanginya.
Sosoknya persis denganku. Berkulit kunimg langsat, rambut bergelombang, leher
jenjang, dan kaki menjulang.
Tapi
tidak, dia tidak persis aku. Kulitnya memang kuning langsat, tapi bersisik dan
penuh keriput. Rambut gelombangnya tipis dengan warna putih di sana-sini.
Lehernya jenjang namun banyak garis kehitaman.
Dan
kakinya...lebih mengerikan! Kelihatan rapuh dan ringkih. Berdirinya juga tidak
tegak, seolah-olah dalam tubuhnya terjadi gempa bumi yang hebat.
"Siapa kau?"
"Lupa ya?" dia terkekeh.
Tawanya sangat menyakitkan telinga.
"Aku tua."
"Tua?"
"Ya, tua. Aku datang
menjengukmu."
Kupandangi
mulutnya yang bergerak. Gusinya menghitam dan giginya tak lagi selengkap
gigiku. Bibir tipisnya mengerut, dihiasi kerak di kedua ujungnya. Dan dadanya, ya Tuhan,
sangat memalukan!
"Buat apa kau datang
lagi?"
"Bukankah aku sudah
berjanji akan datang kembali?"
"Tapi...tapi jangan
sekarang!"
"Mengapa?"
"Aku tidak mau.
Sungguh, jangan datangi aku lagi. Biarkanlah aku seperti ini. Muda, enerjik,
cantik..."
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa?"
"Semua orang akan
tua."
"Tapi aku tidak!" bentakku. Dia terkejut. Aku bergegas
menutup pintu. Brak! Biar dia mengerti kalau aku tidak menyukai dan tidak
menginginkannya.
Itu
pertemuan keduaku dengannya.
Selang
beberapa tahun, dia datang lagi. Tapi bukan saat aku joging, bukan pula saat
pesta ulang tahun. Dia datang saat aku bercermin, baca koran, bahkan saat
tidur. Aku merasakan kehadirannya. Dia begitu dekat, sangat dekat. Aku
merasakannya di mata, leher, bibir, dada, perut, hingga ujung jari. Mataku
sudah kurang awas. Untuk membaca saja aku sudah tidak bisa berlama-lama.
Dan
kulit di leherku, serasa bisa ditarik-tarik. Bibirku sudah mulai mengerut dan
mengering, dan dadaku...ya Tuhan, sangat memalukan!
Seluruh
tubuhku gemetar merasakannya, kakiku seakan tak kuasa menahan berat tubuhku. Rapuh.
Ringkih.
Sekali
lagi aku
menarik kulit leherku. Terasa lembut. Oh bukan, terasa lembek seperti kulit
sapi.
Kutarik terus...terus...sampai
emosiku memuncak. Aku menggelinjang kegelian, kesakitan, dan beribu rasa yang tak pernah aku alami.
Ahli
jiwa itu memandangi ulah pasiennya. Kasihan dia, pikirnya, masih muda tapi sudah
merasa tua!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar