Senin, 23 Februari 2015

Kerinci

Perubahan nyata yang kami rasakan saat mengunjungi Kerinci kali ini adalah akses jalan yang sudah baik. Sebelumnya, tahun 2013, saat pertama kali berkunjung ke Kerinci untuk pelaksanaan sosialisasi UKBI, jalan lintas yang dilewati sangat sangat parah tingkat kerusakannya. Kerusakan ini sangat terlihat di sepanjang daerah Muaraemat, perbatasan antara Merangin dan Kerinci. Jalan yang berlubang, berdebu, dan berkelok, mengakibatkan tidak adanya kenyamanan dalam perjalanan. Aku mual, pusing, letih, dan kapok. Akan tetapi, keletihan itu memang terbayar setelah melihat panorama Kerinci yang menawan.

Hamparan persawahan

Bukit Khayangan
Perkebunan Teh Kayu Aro


Tahun 2014 kami kembali ditugasi kantor untuk mengadakan riset di Kerinci. Akses jalan masih rusak. Parahnya, mobil travel yang kami tumpangi terjebak longsor, persis di tengah-tengah tebing dan jurang di daerah perbatasan. Mengerikan memang, tapi itu jadi pengalaman yang meyenangkan. Yang lebih menyenangkan lagi, kami berhasil merekam beberapa tradisi lisan Kerinci, seperti tari Asek, Tupai Jenjang, dan Lukah Gilo.
Perlengkapan Tari Asek

Perlengkapan Tupai Jenjang
Perlengkapan Lukah Gilo

Kini, di bulan Februari 2015, kami kembali lagi ke Kerinci. Kali ini mengadakan riset tentang berbagai cerita rakyat yang ada di daerah tersebut. Tahap pertama ini kami hanya melaksanakan survei sehingga hanya satu hari berada di Kerinci. Tanpa diduga, akses jalan sudah bagus dan mulus. Perjalanan jadi lebih aman dan nyaman. Waktu yang ditempuh juga lebih cepat dan singkat. Sebagai daerah yang memiliki aset wisata yang potensial, Kerinci wajib dan harus memiliki akses jalan yang baik.

Setibanya di Kerinci, setelah beristirahat beberapa jam di Hotel Mahkota, kami menemui Iskandar Zakaria, pegiat sastra dan budaya Kerinci. Beliau merupakan salah seorang yang peduli akan pewarisan sastra dan budaya Kerinci. Sekitar 90-an cerita rakyat sudah beliau inventarisasikan. Belum lagi berbagai artefak dan benda-benda budaya Kerinci plus tradisi, tarian, dan nyanyian Kerinci. Atas jerih payahnya tersebut, berbagai penghargaan dari pemerintah telah diterimanya.

Bersama Iskandar Zakaria dan salah satu koleksinya:
telur ayam yang berusia puluhan tahun
Batu peninggalan zaman Belanda koleksi Iskandar Zakaria

Kami berkesempatan juga mengunjungi "Telun Berasap", air terjun yang terletak di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, tepatnya di desa Telun Berasap Kecamatan Kayu Aro. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Dinamakan Telun Berasap karena lokasi di sekitar air terjun diselimuti kabut air yang menyerupai asap putih akibat derasnya air yang terhempas ke batu dan menguap. Untuk bisa mencapai air terjun, kita harus menuruni puluhan anak tangga. Menuruni puluhan anak tangga adalah pekerjaan mudah, tetapi saat menaikinya kembali (untuk kembali ke tempat pakir kendaraan) sangat melelahkan, terutama untuk orang gendut seperti aku!!!!

Telun Berasap

Puluhan anak tangga sebagai akses ke air terjun

Panorama di sekitar lokasi air terjun

Bagaimanapun, Kerinci selalu menarik untuk didatangi. Mengundang rasa penasaran untuk dijelajahi. Apalagi dengan kondisi jalan yang bagus, tentu keinginan untuk kembali semakin besar. Sekitar bulan April kami akan kembali lagi ke sana. Mudah-mudahan, selain memeroleh data riset yang memadai, kami juga berkesempatan mengunjungi objek wisatanya yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer