Rabu, 25 Januari 2017

Sedemikian butakah cinta itu?


Dia menangis saat menelepon.
Aku dipukuli lagi, katanya. Pipiku perih dan badanku sakit semua.

Aduh, aku ngeri membayangkan keadaannya. Pastilah dia sembunyi-sembunyi menelepon aku. Menunggu suaminya berangkat ke kantor terlebih dahulu. Kemudian dengan mata sembab, pipi merah, dan tubuh membiru, dia menghubungiku.Terbata-bata dia bercerita.

Kemudian, seperti biasa, aku akan memarahinya. Mendesak dia untuk meninggalkan rumah itu, meninggalkan suaminya. Meninggalkan segala kemewahan semu yang dimilikinya. Dan seperti biasa pula ia akan mengiyakan. Memastikan padaku bahwa tekadnya sudah bulat untuk berpisah. Memastikan padaku bahwa anak-anak sudah menyetujui keputusannya.

Beberapa hari kemudian, aku menanyakan kabarnya. Berharap dia sudah melaksanakan keputusannya. Tetapi, lagi-lagi aku kecele. Dia menjawab teleponku dengan nada suara yang riang gembira. Menceritakan bahwa sang suami sudah berlutut meminta maaf, berjanji tak akan mengulangi perbuatannya. Tak ada rasa tertekan dalam suaranya. Seolah-olah dia tidak pernah mengalami penderitaan. Aku akan baik-baik saja, katanya. Lagi.

Cerita kembali berulang. Aku di rumah sakit, katanya saat menelepon. Si bungsu sakit dan harus dirawat. Aku akan menemuimu beberapa hari lagi, kataku. Aku diizinkan cuti. Dia sangat senang mendengar aku akan datang. Kami menyusun rencana untuk bertemu. Bagaimana suamimu, tanyaku. Masih seperti itu, katanya. Kadang-kadang normal, kadang-kadang kumat. Aku pasrah saja, sudah biasa, katanya lagi. Aku geleng-geleng kepala.

Dua minggu setelah itu, saat aku sudah berada di kota kelahiran, aku menerima panggilannya. Aku dicekik, katanya dengan suara serak. Dicekik pakai kabel shower di kamar mandi. Aku juga ditonjok, aku tak kuat lagi. Aku menyerah. aku ingin membuat pengaduan.

Kami janji bertemu di kafe langganan saat SMA dulu. Hatiku risau tak karuan menanti kedatangannya. Kerisauan itu berubah menjadi keharuan saat kulihat dia, sahabatku, datang dengan wajah lebam. Mata dan bibirnya bengkak. Tapi senyum khas itu tak lekang dari wajahnya. Aku memeluknya erat sambil menangis. Dia malah menyabarkan.

Aku antar dia ke kantor polisi terdekat. Aku temani dia membuat laporan. Aku yakin seyakin-yakinnya, ini adalah kali terakhir dia menderita. Ibu harus divisum, kata pak polisi. Tetapi karena hari sudah malam, petugasnya sudah pulang. Kami sarankan ibu datang Senin pagi. Mengapa menunggu Senin Pak, besok kan bisa, protesku. Besok hari Minggu, petugas tidak ada, pak polisi menjawab enteng. Aku menggeram. Karena baru pertama kali membuat pengaduan ke polisi, aku tak mengerti alurnya. Aku hanya bisa menggeram.

Hari Minggu aku meneleponnya. Mengingatkan untuk ke kantor polisi hari Senin. Jawaban yang kuterima sungguh di luar dugaan.
"Tidak jadi say... si mas sudah sadar kok, sudah minta maaf. Dia janji ga akan mengulangi. Lagi pula kasihan anak-anak kalau kami bercerai. Si sulung akan dibelikan mobil baru dan si bungsu minta liburan ke luar negeri. Ga apa-apa kok say, aku pasti baik-baik saja."

Aku terduduk lemas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer