“Apanya?”
“Rencana kita”
“Rencana yang
mana?”
“Ah masa kamu
lupa. Nanti malam katanya…”
“Oo, itu ya?”
“Iya. Bagaimana?”
“Mm…bagaimana ya?
Aku bingung nih!”
“Kenapa harus
bingung?”
“Anu, harus gelap
ya?”
“Iya dong! Masa
terang benderang, bisa ketangkap hansip nanti!”
“Aku takut gelap
nih!”
“Kenapa takut?
Nggak bakalan keliatan sama orang!”
“Janji?”
“Janji.”
“Aku masih ragu”.
“Kenapa?”
“Aku tidak biasa”.
“Mulai sekarang
harus biasa”.
“Mana mungkin? Aku
berasal dari keluarga baik-baik, tidak pernah diajarkan hal-hal yang menyimpang
dari aturan…”
“Pengecut kamu!”
“Pengecut kamu!”
“Bukan begitu,
maksudku…”
“Ah, sudahlah! Aku
cari yang lain saja!”
(pergi)
“Eh, tunggu Bang!”
“Apa lagi?”
“Maafkan aku, aku
tidak bermaksud…”
“Kamu mau tidak?”
“Ya mau sih, tapi…”
”Mau tidak?”
”Mau tidak?”
(berpikir)
“Bagaimana?”
“Iya deh!”
“Nah, gitu dong!
Kata orang, sekali mencoba pasti ketagihan!”
“Tapi aku tidak
tahu caranya, aku belum pernah mencoba!”
“Gampang,
nanti kuberi tahu. Kalau soal begini tidak perlu dipelajari, yang penting ada
keberanian dan kemauan!”
“Kamu sudah
pengalaman ya?”
“Hus, sembarangan
kamu ngomong!”
“Lantas, kamu tahu
dari mana?”
“Sudah
kukatakan, dalam melakukan hal ini hanya diperlukan keberanian dan kemauan.
Pengalaman tidak penting. Dari mana aku tahu, itu juga tidak penting!”
“Ya sudah, jangan
marah! Ngomong-ngomong, posisinya bagaimana?”
“Aku jongkok, kamu berdiri”.
“Berdiri? Yang
benar saja!Jadi, kamu di bawah aku, begitu?”
“Iya, pakai alat bantu, nanti akulah yang masukin ke lobangnya!”
“Lama tidak?”
“Lama? Gila kamu.
Santai saja!”
“Setelah itu?”
“Setelah itu?
Ya…lihat saja nanti! Kamu kok cerewet amat sih?”
“Maaf deh, soalnya
aku gugup sekali. Jujur saja, ini pengalaman pertamaku!”
“Aku
juga, tapi aku berusaha tenang karena yang kita lakukan sudah sering dilakukan
oleh orang-orang sebelum kita. Kamu percaya?”
“Apanya?”
“Bahwa kita bukan
orang pertama yang melakukannya!”
“Aku percaya!”
“Kalau begitu,
tidak ada masalah lagi kan ?”
“Tidak!”
“Ya sudah, sampai
nanti malam, oke?”
(malam)
“Kamu sudah siap?”
”Mungkin”.
“Lho, kok
mungkin?”
(tertawa)
“Entahlah, gantian
aku yang gugup”.
“Alatnya mana?”
“Ini, di balik
celana!”
“Keluarkan dong!
Ayo cepat!”
“Ugh, susah amat!
Nah, ini dia!”
“Busyet, sebesar
ini muat dalam celanamu?”
“Brengsek! Diam
kamu!”
“Sst…dengar!”
“Apa?”
“Suara apa itu?”
“Lho, itu kan suara…”
“Guk…guk…”
(anjing
menggonggong)
“Lariii….!!!”
(terdengar
teriakan)
“Hooy…maliiing!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar