Rabu, 10 Desember 2014

Saat Kematian Begitu Dekat

Bermula pada tanggal 4 Agustus 2014.
Seorang tetanggaku -kami memanggilnya Bapak Iyan- tiba-tiba dipanggil oleh Sang Khalik. Padahal, siang itu beliau baru saja memanaskan mesin mobilnya. Bertegur sapa dengan para tetangga. Entah bagaimana, beliau tiba-tiba terjatuh di depan teras rumahnya, memanggil lirih istrinya, dan...

Tanggal 4 September 2014.
Tetanggaku yang lain -Mak Wo- baru selesai berkunjung ke rumah alm. Bapak Iyan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Telepon dari saudaranya di kampung halamannya di Sumatera Barat mengabarkan bahwa menantu laki-lakinya meninggal dunia. Mak Wo pun bergegas pulang kampung, padahal dia baru seminggu kembali ke Jambi setelah berlebaran dengan anak dan menantunya di kampung halaman.

Tanggal 4 Oktober 2014 (pagi).
Tetanggaku yang tinggal persis di depan rumah, mendapatkan kabar tak terduga dari keluarga. Abang kandungnya yang tinggal di Jakarta mendadak jatuh di kamar mandi dan tak sadarkan diri. Nyawa beliau tak tertolong lagi. Saat lebaran kemarin, si Abang memang sempat berkirim kabar dan mohon didoakan agar segala kesalahannya yang terdahulu dimaafkan...

Tanggal 4 Oktober 2014 (malam).
Sayup-sayup aku mendengar suara perempuan menangis. Saat itu pukul 21.30. Aku membangunkan suami yang sudah terlelap seusai isya. Berdua kami keluar rumah dan mendapati suara tangis itu berasal dari rumah tetangga sebelah. Saat suara tangis itu semakin keras, kami segera menuju rumah tetangga sebelah. Ternyata Oma, -tetangga sebelah itu- mendapat kabar duka cita. Anaknya yang di Bogor mengalami kecelakaan. Dia ditabrak sepeda motor saat hendak menyeberang jalan dan seketika itu juga meninggal di tempat. Padahal, siang tadi anaknya baru saja menelepon Oma dan berjanji akan ke Jambi saat Natalan nanti...

Allah Mahabesar. Allah Mahatahu. Hanya Dia yang punya kuasa untuk menguak rahasia yang tak satu pun manusia bisa menerjemahkannya!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer