Minggu, 11 Oktober 2015

MAGIC HANDS


Sabtu, 10/10/15 adalah hari yang ta'kan kulupakan...

Saat itu, seperti biasa, aku menjemput putri kecilku pulang dari sekolah. Padatnya tempat parkir memaksaku untuk parkir di pinggir jalan saja, tepatnya di tepi got yang dindingnya dilapisi beton dari batu. Jalan di tepi got tersebut tidak rata dengan aspal sehingga cukup menyulitkan bagi pengendara sepeda motor amatiran seperti aku. Firasat bahwa aku akan mengalami kesulitan parkir di tempat itu sebenarnya sudah ada. Tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Benar saja. Sesaat setelah anakku tiba di tempat aku parkir, aku segera menyalakan sepeda motor. Motor langsung bergerak dan aku kehilangan keseimbangan. Motor oleng ke kiri tanpa kakiku sempat menahannya. Kami pun terjatuh. Naas bagiku, aku langsung jatuh ke got setelah sebelumnya pelipis kiriku terbentur dinding beton got yang terbuat dari bebatuan tak rata.

Darah langsung mengucur deras membasahi wajahku. Seruan Allahuakbar dan Astaghfirullah keluar dari mulutku. Beberapa orang tua murid yang ada di lokasi kejadian segera menolongku. Mengangkat tubuhku, mengangkat sepeda motor yang menindih kakiku, menempelkan jilbabku ke pelipis guna menahan derasnya darah yang mengucur di wajahku.

Magic hands.... Yah, tangan-tangan ajaib yang tak aku kenal serta-merta terulur padaku saat itu. Menolongku mengamankan sepeda motor, membawaku ke klinik terdekat, menyelamatkan aku dari kesulitan.

Di klinik, magic hands kembali menghampiriku. Petugas kesehatan dengan sigap dan trampil membersihkan luka di pelipisku. Menjahitnya dengan rapi, memberiku obat dan kata-kata yang menenangkan.

Magic hands juga hadir di lingkungan tempat aku tinggal. Bagaimana tetangga dan teman menolongku dengan tulus. Membawaku ke tukang urut karena kaki kiriku bengkak akibat tertimpa motor. Membawakan makanan agar aku bertenaga kembali. Membawakan doa dan harapan agar aku segera pulih.

Magic hands yang paling magic kutemukan di keluargaku.... Si sulung dan si bungsu bergantian memapahku kalau aku butuh ke kamar kecil. Ciuman penyemangat tak henti mendarat di pipi dan keningku (Alhamdulillah putri kecilku tidak mengalami luka sedikit pun. Dia baik-baik saja meskipun terlihat sedikit syok). Belum lagi suamiku yang siaga setiap waktu. Suami yang bertanggung jawab, yang bisa menggantikan posisiku di rumah tangga saat kesakitan menderaku. Tak pernah ada keluhan atau pancaran kelelahan yang kulihat selama ia merawatku.

Puji syukur kepada Allah, aku masih dikelilingi orang-orang yang perhatian kepadaku. Semoga Allah membalas kebaikan semua orang yang telah menolongku tanpa pamrih. Sungguh, aku tidak akan melupakan magic hands itu....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer