Gadis kecilku takjub melihatnya. Takjub melihat puluhan anak ayam berbulu warna-warni yang dijual di sudut pasar bedug ini. Suara ciapan anak ayam semakin membuatnya tertarik. Gadis kecilku memandang penuh harap ke arahku. Berharap dibelikan seekor anak ayam berbulu ungu.
Aku mengecup keningnya, menolak secara halus. Kasihan anak ayam itu, kataku. Kalau kamu membelinya, dia pasti akan berpisah dengan saudara-saudaranya, dengan temannya, dengan keluarganya. Dia akan kesepian dan ketakutan.
Gadis kecil belum puas dengan penjelasanku. Dia mengatakan bahwa anak ayam itu lucu, warnanya ungu, suaranya merdu. Tahukah kamu? Aku kembali menatapnya. Suara itu bukan berarti nyanyian, bukan berarti riangan. Suara itu mungkin kesedihan, karena dia merindukan orang tuanya. Atau karena bulu yang dicat warna-warni itu membuatnya kesakitan...
Gadis kecilku mengangguk tanda mengerti. Tak lagi merengek minta dibelikan anak ayam warna-warni. Dia pun pulang dengan senang hati. Sampai di rumah, dia kaget tak mengerti. Seekor anak ayam berwarna pink wara-wiri. Ternyata itu anak ayam milik temannya yang tinggal tidak jauh dari rumah kami. Anak ayam itu sendiri, menciap-ciap sepanjang hari. Mencari-cari, mungkin mencari induknya, atau saudaranya, atau temannya...
Gadis kecilku memandang anak ayam itu dengan iba. Entah apa yang ada dalam pikirannya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar