Kamis, 09 Agustus 2018

Pakde

Entah mengapa dia dipanggil Pakde. Mungkin karena dia orang Jawa dan usianya sudah lebih tua daripada rekan-rekan kerjanya. Atau juga sebagai bentuk penghormatan karena dia sudah berpengalaman merasakan asam garam kehidupan.

Pakde tak pernah marah, padahal sering dirundung oleh beberapa rekan kerja. Pakde baik dan ramah, padahal rekan kerja tak membalas kebaikannya. Pakde ringan tangan, suka membantu rekan yang kesusahan.  Laptop rekan tak terkoneksi wifi, Pakde bantu sambungkan. Laporan pekerjaan rekan mendekati tenggat, Pakde bantu selesaikan. Bensin motor rekan habis, Pakde bantu belikan. Rekan ingin minum kopi, Pakde bantu buatkan. Rekan kehabiasan uang, Pakde bantu pinjamkan. Pakde bantu ini. Pakde bantu itu. Pakde bantu semua yang dia mampu.

Pakde tak harap imbalan atas jasa yang ia berikan. Pakde yang sederhana, tak silau akan harta. Andai semua yang disebut "Pakde" seperti Pakde, tentu kita sering ditraktir makan sate.... (hehehe).

Seminggu setelah lebaran, Pakde mengundang rekan makan-makan. Istri Pakde menyiapkan hidangan sedehana menggugah selera. Pindang patin, tumis pare, goreng tahu/tempe/ikan asin, lalap timun, sambal terasi, plus kerupuk ikan. Disediakan pula jeruk manis sebagai pencuci mulut. Rekan-rekan yang datang kelaparan, makan dengan lahap. Pindang disikat. Pare dihajar. Gorengan dikeroyok. Lalapan diserang. Sambal dihantam. Hanya kerupuk dan jeruk yang tersisa. 

Setelah semua hidangan di meja makan bersih, rekan-rekan mengucapkan terima kasih, sambil melirik istri Pakde yang putih.

Besoknya di kantor, Pakde dirundung lagi 😕


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer