Senin, 18 Januari 2016

BAYANGAN




Aku baru sadar kalau bayanganku telah lenyap. Padahal dua hari yang lalu dia masih melekat di bawah kakiku. Kami memang sempat bertengkar waktu itu. Biasalah, perbedaan prinsip. Katanya dia bosan menjadi bayanganku dan sesekali ingin menjadi bayangan orang lain. Dia sudah tidak tahan dengan kemiskinan yang kerap aku tawarkan. Aku berang waktu itu dan kukatakan dia tidak pandai bersyukur. Bagaimanapun, aku yang membesarkannya, aku yang menghidupinya, dan dia harus berterima kasih untuk itu. Dia harus loyal kepadaku.

Sekarang bayanganku hilang!

Aku memandang berkeliling, siapa tahu bayanganku terselip di antara orang yang lalu lalang di jalan ini. Aku juga mencarinya di antara bayangan mereka, mungkin saja dia asyik ngobrol dengan kenalan barunya. Bayanganku memang mudah beradaptasi dengan bayangan siapa saja. Tak peduli apakah itu bayangan rakyat kecil atau konglomerat sekalipun! Keluwesannya bergaul membuat dia populer di kalangan para bayangan.

Tetapi sekarang dia lenyap, entah kemana. Aku tergagap. Apa jadinya kalau aku tidak punya bayangan? Bisa saja aku ditertawakan orang dan tidak diterima dalam pergaulan. Aku akan tersingkir, terasing, dan dianggap aneh. Bagaimana tidak? Kalau bayanganku hilang, akulah satu-satunya ciptaan Tuhan yang tidak mempunyai bayangan! Setiap makhluk Tuhan pasti punya satu bayangan, bahkan ada yang memiliki tiga bayangan sekaligus!

Bangsat! Bayanganku betul-betul menghilang!

Aku menyusuri jalan yang pernah kami lewati, siapa tahu dia tercecer di sana. Hasilnya nihil. Aku melongok ke tong sampah, mungkin dia ngumpet di situ. Aku melirik ke dalam tas seorang gadis yang kebetulan lewat, mencari di balik dompet, merogoh ke celana dalam, tapi nothing! Dia betul-betul lenyap! Bangsat, bangsaaat...

Di tengah makianku, kulihat orang berkerumun di seberang jalan. Dadaku berdebar, jangan-jangan bayanganku dalam bahaya. Jangan-jangan dia terlibat perkelahian dengan bayangan seorang preman pasar, atau kedapatan mencolek bayangan seorang gadis. Aku bergegas ke sana dengan beribu dugaan buruk di kepala.

“Ada apa?” aku bertanya kepada seorang lelaki yang berdiri di sudut jalan.
“Walikota inspeksi mendadak hari ini?”
“Siapa?”
“Walikota”
 “Oh.”

Aku tiba-tiba berhasrat ingin melihat wajah Pak Wali lebih dekat. Kata orang, wajahnya putih bersih, tidak pernah berdebu. Pipinya kencang dan rahangnya bagus. Karena penasaran, segera saja aku menerobos masuk. Tak kupedulikan makian orang-orang. Seorang perempuan hamil menjerit karena bayangan perutnya yang buncit kuinjak tanpa sengaja. Aku buru-buru minta maaf.

Tiba di depan, aku terpana. Bukan, bukan karena halus atau bersihnya wajah Pak Wali. Bukan karena rahangnya yang bagus. Bukan karena itu. Aku justru terpana melihat bayangannya. Bayangannya sangat indah, sesuai dengan karakter walikotaku itu. Pokoknya perfect. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya, di mana ya? Busyet, itu kan bayanganku!

“Hai, ngapain kamu di situ?”
 
 Bayangan itu terkejut. Sekonyong-konyong dia menyeringai lebar.

 “Apa kau tidak lihat? Aku jadi bayangan walikota sekarang!”
 “Tapi kamu kan masih milikku. Kamu tidak berhak menjadi bayangan orang lain tanpa seizinku!”
 “Siapa bilang? Sekarang kan era reformasi, aku berhak menentukan pilihanku! Lagipula, sekali-kali aku ingin menjadi bayangan orang gedongan. Makanan cukup, fasilitas memadai, pokoknya siplah! Terus-terusan jadi bayangan kamu bikin aku muak!”
“Ternyata kamu sudah berani menghina aku!”
“Ah, siapa bilang? Aku cuma muak berada di bawah terus, diinjak-injak terus. Aku ingin posisi kami, para bayangan, pindah ke atas. Dijunjung, dihormati, bukan diinjak-injak!”
“Tapi Pak Wali juga menginjak-injak kamu!”
“Tidak, dia justru menyayangi aku. Walau aku berada di bawah, dia membiarkan aku berkembang. Lihatlah, badanku lebih besar daripadanya!”

Memang betul, bayangan Pak Wali kelihatan semakin besar. Bahkan bertambah besar. Dan tiba-tiba saja dia menarikku, melahapku sekali telan. Hap! Mampus aku! Sekarang aku menjadi bayangan bayanganku!
                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer