Aku baru sadar kalau bayanganku telah lenyap.
Padahal dua hari yang lalu dia masih melekat di bawah kakiku. Kami memang
sempat bertengkar waktu itu. Biasalah, perbedaan prinsip. Katanya dia bosan
menjadi bayanganku dan sesekali ingin menjadi bayangan orang lain. Dia sudah
tidak tahan dengan kemiskinan yang kerap aku tawarkan. Aku berang waktu itu dan
kukatakan dia tidak pandai bersyukur. Bagaimanapun, aku yang membesarkannya,
aku yang menghidupinya, dan dia harus berterima kasih untuk itu. Dia harus
loyal kepadaku.
Sekarang bayanganku hilang!
Aku memandang berkeliling, siapa tahu
bayanganku terselip di antara orang yang lalu lalang di jalan ini. Aku juga
mencarinya di antara bayangan mereka, mungkin saja dia asyik ngobrol dengan
kenalan barunya. Bayanganku memang mudah beradaptasi dengan bayangan siapa
saja. Tak peduli apakah itu bayangan rakyat kecil atau konglomerat sekalipun!
Keluwesannya bergaul membuat dia populer di kalangan para bayangan.
Tetapi sekarang dia lenyap, entah kemana. Aku
tergagap. Apa jadinya kalau aku tidak punya bayangan? Bisa saja aku
ditertawakan orang dan tidak diterima dalam pergaulan. Aku akan tersingkir,
terasing, dan dianggap aneh. Bagaimana tidak? Kalau bayanganku hilang, akulah satu-satunya
ciptaan Tuhan yang tidak mempunyai bayangan! Setiap makhluk Tuhan pasti punya
satu bayangan, bahkan ada yang memiliki tiga bayangan sekaligus!
Bangsat! Bayanganku betul-betul menghilang!
Aku menyusuri jalan yang pernah kami lewati,
siapa tahu dia tercecer di sana. Hasilnya nihil. Aku melongok ke tong sampah,
mungkin dia ngumpet di situ. Aku
melirik ke dalam tas seorang gadis yang kebetulan lewat, mencari di balik
dompet, merogoh ke celana dalam, tapi nothing!
Dia betul-betul lenyap! Bangsat, bangsaaat...
Di tengah makianku, kulihat orang berkerumun di
seberang jalan. Dadaku berdebar, jangan-jangan bayanganku dalam bahaya.
Jangan-jangan dia terlibat perkelahian dengan bayangan seorang preman pasar, atau kedapatan
mencolek bayangan seorang gadis. Aku bergegas ke sana dengan beribu dugaan
buruk di kepala.
“Ada apa?” aku bertanya kepada seorang lelaki
yang berdiri di sudut jalan.
“Walikota
inspeksi mendadak hari ini?”
“Siapa?”
“Walikota”
“Oh.”
Aku tiba-tiba berhasrat ingin melihat wajah Pak
Wali lebih dekat. Kata orang, wajahnya putih bersih, tidak pernah berdebu.
Pipinya kencang dan rahangnya bagus. Karena penasaran, segera saja aku menerobos masuk.
Tak kupedulikan makian orang-orang. Seorang perempuan hamil menjerit karena
bayangan perutnya yang buncit kuinjak tanpa sengaja. Aku buru-buru minta maaf.
Tiba di depan, aku terpana. Bukan, bukan karena
halus atau bersihnya wajah Pak Wali. Bukan karena rahangnya yang bagus. Bukan karena itu. Aku justru terpana melihat
bayangannya. Bayangannya sangat indah, sesuai dengan karakter walikotaku itu. Pokoknya perfect. Tapi, sepertinya aku pernah
melihatnya, di mana ya? Busyet, itu kan bayanganku!
Bayangan itu terkejut.
Sekonyong-konyong dia menyeringai lebar.
“Apa
kau tidak lihat? Aku jadi bayangan walikota sekarang!”
“Tapi
kamu kan masih milikku. Kamu tidak berhak menjadi bayangan orang lain tanpa
seizinku!”
“Siapa
bilang? Sekarang kan era reformasi, aku berhak menentukan pilihanku! Lagipula,
sekali-kali aku ingin menjadi bayangan orang gedongan. Makanan cukup, fasilitas
memadai, pokoknya siplah! Terus-terusan jadi bayangan kamu bikin aku muak!”
“Ternyata
kamu sudah berani menghina aku!”
“Ah,
siapa bilang? Aku cuma muak berada di bawah terus, diinjak-injak terus. Aku ingin posisi kami, para bayangan,
pindah ke atas. Dijunjung, dihormati, bukan diinjak-injak!”
“Tapi
Pak Wali juga menginjak-injak kamu!”
“Tidak,
dia justru menyayangi aku. Walau aku berada di bawah, dia membiarkan aku
berkembang. Lihatlah, badanku lebih besar daripadanya!”
Memang
betul, bayangan Pak Wali kelihatan semakin besar. Bahkan bertambah besar. Dan
tiba-tiba saja dia menarikku, melahapku sekali telan. Hap! Mampus aku! Sekarang
aku menjadi bayangan bayanganku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar