Setiap kali berpapasan dengannya di
pintu masuk kompleks perumahan, dia melemparkan senyum padaku. Entah apa
maksudnya. Tapi aku sendiri tidak nyaman dengan perlakuan tersebut. SKSD betul
dia, kupikir. Teman bukan, sodara
bukan, sok akrab bener. Jadi tak
pernah kubalas senyumannya itu. Aku pura-pura tidak melihat saja. Dan dia tak
jera. Tak pernah jera. Selalu mengulangi hal yang sama. Setiap hari. Setiap
pagi, saat kami berpapasan.
Dia
tukang ojek. Setiap hari mangkal di depan kompleks perumahan. Perawakannya
sedang. Tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk. Tidak terlalu tinggi, tidak
terlalu pendek. Jenggotnya tebal dan panjang. Di dahinya ada tanda hitam yang -kata
orang-orang- menunjukkan dia rajin beribadah. Celananya ngatung, di atas mata kaki. Rompi birunya setia menemani.
Setiap
pagi, saat ke kantor, selalu kulewati dia. Sepeda motor memang selalu
kupelankan lajunya saat keluar dari kompleks. Dan bertepatan dengan itulah,
mataku senantiasa tak sengaja tertumbuk padanya. Dia juga menatap. Melemparkan
senyum. Tapi tak kubalas karena kuanggap dia iseng semata.
Suatu
kali, saat pulang dari kantor, aku mendapati tiga helai jilbab syar’i terletak
di atas tempat tidur. Ini contoh barang, kata suami, sekiranya Bunda ingin
memakai jilbab syar’i. Aku yang memang sudah punya niatan ingin hijrah,
langsung bersemangat mencoba jilbab-jilbab tersebut. Aku tertarik dan meminta
suami membawakan contoh yang lebih banyak lagi. Suamiku menelepon seseorang dan
membuat janji. Nanti malam teman Ayah yang jualan jilbab datang, katanya.
Lelaki
berjenggot itu tersenyum padaku. Dua buah bungkusan besar diletakkannya di atas
meja tamu. Ini teman pengajian Ayah, kata suami, istrinya yang berjualan
jilbab-jilbab ini. Aku terpana. Terpana dengan senyum yang familiar itu.
Terpana dengan jilbab-jilbab yang menggoda hati. Terpana dengan apa yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar